Pemuda itu mondar mandir didalam ruangannya. Raut gelisah dan kesal terlihat diwajah tegasnya. Ia kembali duduk sambil memijat pelipisnya. Ia masih tak tenang dengan apa yang telah ia lihat sebelum ia pergi ke kantornya. Berbagai macam pertanyaan terlintas dibenaknya. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa? Sejak kapan?
Dylan Hadinata, pemuda itu mengusap kasar wajah tampannya itu lalu kembali menatap layar didepannya. Berharap dengan bekerja pikirannya bisa teralihkan. Memang benar, tak lama setelah itu ia tenggelam dengan pekerjaannya.
Sebuah suara ketukan dipintu ruangannya mengintrupsi kegiatan Dylan. Ia mengalihkan pandangannya kearah pintu sebelum mengatakan "masuk!"
Sosok cantik nan anggun masuk keruangan itu sambil tersenyum kearah Dylan. Dylan membalas senyum itu lalu berjalan kearah sosok itu dan memeluk sosok itu dengan erat.
Sosok itu mengeryitkan keningnya bingung namun tetap membalas pelukan Dylan yang menurutnya tak seperti biasanya. Pelukan ini terasa sangat posesif baginya.
"Kau kenapa,heum?" Tanya sosok itu mengusap sayang punggung Dylan yang memeluknya. Dylan menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya merindukanmu." ucapnya kemudian. Sosok itu terkekeh pelan.
"Kita baru bertemu tadi pagi dan kau sudah merindukan ku sekarang. Kau sangat mencintaiku rupanya,heum?"
Dylan melepaskan pelukannya. Kedua tangannya diletakkannya disisi kanan dan kiri pundak sosok itu. Ia menatap sendu kedalam mata indah sosok itu. Mata yang selalu saja bisa membuat seorang Dylan Hadinata jatuh berkali-kali kedalam jurang yang bernama cinta.
"Aku memang sangat sangat mencintaimu Clara Hadinata." Ujar Dylan dengan nada yang sangat serius.
"Ya!! Dylan Hadinata yang terhormat, berani-beraninya kau mengubah marga ku begitu saja." Ucap Clara memukul pelan kepala Dylan.
"Aww... Sakit Clara..." ringis Dylan memegang kepalanya.
"Salahmu sendiri karna seenak jidatmu mengubah marga orang. Marga ku itu masih Bamantara, tuan Hadinata." ucap Clara mempoutkan bibirnya.
"Tak lama lagi juga akan berubah." Ucap Dylan memamerkan senyum kotaknya.
"Dylan..." ucap Clara lirih.
"Heum?"
"Tak apa." Clara menggelengkan kepalanya. "Kau sudah makan?" Tanya Clara kemudian.
"Belum. Mau makan bersama?"
"Ayo!!!!" Ujar Clara
"Tapi tunggu sebentar ya? Ada beberapa berkas yang harus ku tanda tangani dulu. Setelah itu kita makan diluar." Kata Dylan. Clara hanya mengangguk, ia menuju sofa yang ada diruangan Dylan sedangkan Dylan menuju meja kerjanya.
Clara menunggu Dylan yang menyelesaikan pekerjaannya sambil memainkan ponselnya. Sesekali bibirnya membentuk seulas senyum manis. Entah apa yang membuatnya tersenyum sangat manis saat ini.
Dylan melirik melalui ekor matanya kearah Clara. Ia melihat senyum bahagia diwajah wanita itu. Ini pertama kalinya Dylan melihat senyum Clara sebahagia itu. Senyum yang tak pernah Clara tunjukkan saat bersama Dylan.
Perasaan aneh itu kembali muncul dibenak Dylan. Ia takut pada perasaannya sendiri. Ia menggeleng kuat mengenyahkan pikiran negatif dari kepalanya. Ia menyakini semuanya akan baik-baik saja saat ini.
"Clara.." Panggil Dylan
"Ya?" Jawab Clara menoleh kearah Dylan. "Kau sudah selesai?" Tanya Clara melihat Dylan membereskan mejanya.
"Ya. Ayo kita pergi." Ajak Dylan.
Dylan merangkul Clara sepanjang koridor kantornya. Semua staff kantor berdecak kagum pada pimpinan mereka. Dylan dan Clara adalah pasangan paling serasi bagi semua orang. Tampan dan cantik. Berasal dari keluarga yang terpandang. Dylan selalu memperlakukan Clara dengan manis dan romantis. Dan yang paling penting mereka saling mencintai menurut semua orang.
Saat ini mereka berada di restaurant disebuah mall. Sesekali mereka bercanda saat makan. Tawa bahagia terukir diwajah mereka. Ditengah-tengah kebahagiaan itu tiba-tiba Dylan menatap intens kearah Clara. Tangannya terulur menyapu bibir Clara yang terdapat sisa ice cream yang Clara makan.
Clara tersentak kaget mendapat perlakuan tiba-tiba itu. Ia menggenggam tangan Dylan berada tepat didepan wajahnya. Menatap Dylan dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Dylan.
"Ada sisa ice cream dibibir mu." Kata Dylan menarik kembali tangannya.
"Terima kasih." Ucap Clara menunduk.
Clara mengangkat wajahnya kembali saat sebuah getaran berasal dari ponselnya. Ia mengambil ponselnya lalu membaca sebuah pesan dari ponselnya. Ia tersenyum.
Deg!
Senyum itu, entah kenapa membuat dada Dylan terasa sesak. Senyum itu lagi. Ia meremas dada kirinya. Ia tersenyum kecut karna saat ini Clara malah sibuk berkutat dengan ponselnya.
"Ekhem!" Dylan berdehem membuat perhatian Clara teralih kepadanya.
"Kau chatting dengan siapa sampai membuat kau melupakan aku begini?" Ucap Dylan mempoutkan bibir.
"Maafkan aku." Kata Clara meletakkan kembali ponselnya kedalam tas. Ia menangkup wajah Dylan dengan kedua tangannya.
"Kau tidak marah kan? Aku hanya chatting dengan teman lama. Kami sudah lama tak berkomunikasi dan karna keasikan aku melupakanmu. Maafkan aku ya?"
"Teman lama? Siapa?"
"Euh? I..itu Calithea. Teman SMA ku dulu. Kau tak mengenalnya karna dia tidak satu kampus dengan kita."
Ya, Dylan dan Clara kenal sejak mereka masuk di kampus yang sama. Mereka satu kelompok saat ospek dan lama kelamaan hubungan pertemanan mereka berkembang menjadi hubungan sepasang kekasih karna mereka merasa nyaman satu sama lain. Dan 3 bulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan mereka.
Acara pernikahan mereka telah diketahui seluruh negeri mengingat Dylan adalah pengusaha besar dan sukses baik didalam negeri ataupun luar negri. Dan Clara adalah artis terkenal saat ini.
Hari ini tepat dua minggu sejak perasaan aneh yang terus mengelayut dibenak Dylan. Ia bahkan hampir tak bisa tidur. Dirinya sudah beberapa kali melihat Clara bersama orang itu. Orang yang Dylan kenal melalui pemberitaan media. Orang itu berprofesi sama dengan Clara. Seorang penyanyi sekaligus aktor, Marven Dhananjaya.
Dylan menatap layar laptop didepannya dengan sorot mata kecewa. Pagi-pagi sekali, saat dia mendapat notif dari media berita online langganannya dia sudah disuguhi berita yang membuat dadanya terasa diremas-remas.
"Aktor sekaligus penyanyi Marven Dhananjayakedapatan sedang berkencan dengan Aktris Clara Bamantara."
Begitulah kira-kira headline berita tersebut. Dylan ingin sekali membanting laptop dihadapannya melihat komentar-komentar negatif netizen yang ditujukan kepada orang yang dicintainya itu.
+457 -apa-apaan si Clara itu, bukankah dia akan menikah dengan Dylan si pengusaha itu. Kenapa dia berkencan diam-diam dengan Marven. Ugh, dasar jalang!
+986 - hah? Dasar wanita ular! Bisa-bisanya dia selingkuh dari si pengusaha tampan itu.
Dan berbagai macam komentar makian lainnya.
Dylan tiba-tiba khawatir dengan keadaan Clara saat ini. Gadis itu pasti sangat stres dengan pemberitaan ini. Tangan Dylan terulur ingin mengambil ponselnya namun terhenti saat sebuah ketukan terdengar didepan pintu kantornya, tanpa Dylan bersuara pintu itu sudah terbuka menampilkan sosok yang saat ini sangat Dylan khawatirkan.
Sosok itu terengah-engah dengan wajah memerah dan matanya sembab. Tubuhnya jatuh begitu saja saat masuk kedalam ruangan Dylan. Kakinya terasa sangat lemas, tubuhnya bergetar sambil sesenggukan.
Dylan segera menghampiri sosok rapuh itu dan memeluknya erat. Memberikan kekuatan pada sosok yang sangat dicintainya itu. Sosok itu semakin keras menangis dalam dekapan Dylan.
Posisi mereka saat ini duduk dilantai sambil berpelukan. Dylan mengelus sayang rambut Clara, ya sosok itu adalah Clara. Setelah dikiranya Clara cukup tenang, ia ajak Clara untuk duduk di sofa.
Didudukkannya Clara di sofa dan Dylan berlutut didepan Clara. Ia selipkan rambut panjang Clara yang menutupi wajah manis Clara dibalik telinga. Ibu jarinya mengusap pipi Clara yang dipenuhi air mata.
Clara menatap Dylan dengan mata sembabnya. Ia dapat melihat sorot mata terluka dibalik mata ceria milik Dylan. Pemuda itu masih tersenyum manis kearahnya walaupun tatapannya penuh luka.
"Sudah. Jangan menangis lagi, okey?" Ucap Dylan.
"Maafkan aku." Ucap Clara dengan suara serak.
"Tak apa. Semua akan baik-baik saja." Ujar Dylan mengelus rambut Clara lagi.
Clara benar-benar merasa bersalah kepada sosok tampan didepannya saat ini. Ia telah melukai hatinya tapi pemuda ini malah mengatakan semuanya baik-baik saja. Ia tau sendiri pemuda ini pasti juga kewalahan gara-gara skandal dirinya. Bisa dia lihat saat ia akan masuk keruangan Dylan, asisten Dylan menerima banyak telpon yang sudah pasti dari media yang minta konfirmasi dari pihak Dylan.
"Dylan,,, aku.." Ucapan Clara terpotong saat jari telunjuk Dylan mendarat dibibirnya.
"Tenangkan dirimu dulu setelah itu baru bercerita. Aku ada rapat sebentar. Setelah aku selesai kita akan makan diluar." Ucap Dylan berdiri membenarkan tata kemejanya. Lalu ia menunduk lagi mencium puncak kepala Clara. Kemudian ia keluar dari ruangan itu meninggalkan Clara yang masik terisak itu sendirian.
Disinilah mereka. Direstaurant favorit keduanya saat makan siang. Seandainya tak ada skandal yang mencuat pagi itu mungkin saat ini meja mereka akan dipenuhi dengan canda tawa dari keduanya. Namun saat ini hanya hening yang mereka ciptakan. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Makanan dihadapan merekapun tak tersentuh sama sekali.
"Sayang..." Panggil Dylan lembut, yang dipanggil menoleh dengan raut wajah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Clara tak habis pikir bagaimana pemuda itu masih bisa bersikap lembut kepada orang yang menyakitinya.
"Makanannya tidak enak, aku jadi tak selera makan." Ucap Dylan mendorong piringnya. Makanan itu bahkan tak Dylan sentuh sama sekali tapi dia bilang tidak enak.
"P..punya ku juga." Ujar Clara. Clara memang tak punya selera makan sejak berita tentang dirinya menyeruak kepermukaan khalayak luas.
"Dylan... Aku akan menjelaskan semuanya." Ucap Clara lirih. Namun masih bisa didengar Dylan. Clara menunduk. Dylan tersenyum pahit menatap Clara yang tertunduk.
Sungguh, Dylan masih belum siap dengan semua kebenarannya. Ia sudah tau semuanya tanpa perlu Clara jelaskan. Siapa Marven Dhananjaya bagi seorang Clara Bamantara?
"Apa kau bahagia?" Tanya Dylan tiba-tiba membuat Clara yang menunduk mengangkat kepalanya menatap Dylan yang saat ini juga menatapnya.
"Eh?" gumam Clara bingung.
"Apa kau selama ini bahagia? Apa kau bahagia saat bersamaku? Apa yang kau pikirkan tentang aku? Apa aku bagimu?"
Sederet pertanyaan Dylan membuat Clara terdiam. Ia bingung harus menjawab apa.
Apa ia bahagia bersama Dylan? Ia merasa nyaman dan aman bersama Dylan.
Apa yang ia pikirkan tentang Dylan? Dylan sosok yang begitu perhatian dan sangat melindungi dirinya.
Apa Dylan bagi dirinya? Dylan seperti sosok seorang kakak yang selalu melindunginya dari segala ancaman dan itu membuatnya nyaman bersama Dylan.
"Aku sudah tau semua nya. Siapa Marven Dhananjaya itu bagi hidup mu. Dari Caspian." Ucap Dylan. Caspian Pramudya, sepupu Clara sekaligus sahabat Dylan.
Saat Dylan bilang dia ada rapat sebenarnya ia harus bertemu dengan Caspian. Caspian orang yang mengetahui kehidupan Clara sebelum Dylan hadir dihidup Clara. Ia menceritakan semuanya tentang sosok Marven Dhananjaya yang membuat Claranya berubah saat ini.
Clara menatap Dylan sekali lagi. Pemuda itu tersenyum. Namun senyum itu adalah senyum terluka dari seorang Dylan Hadinata. Ingin rasanya Clara memanah dirinya sendiri karna telah menyakiti pemuda tampan nan baik ini.
"Maaf.." Ucap Clara lirih.
"Aku begitu bodoh. Kenapa baru menyadarinya sekarang. Akhirnya aku tahu alasan kenapa kau selalu marah saat aku mengganti margamu dengan margaku." Ujar Dylan tersenyum pahit.
"Tidak, bukan itu maksudku..." sahut Clara gelagapan.
"Tak perlu khawatir Clara... Aku tak marah." kata Dylan menggapai tangan Clara. Mengusap tangan Clara untuk menenangkan gadis itu.
"Dylan. ." Ucap Clara lirih, matanya mulai berkaca-kaca dan memerah.
"Yah... Awalnya aku memang marah melihat mu tertawa begitu bahagia saat bersama Marven atau saat menerima pesan darinya..."
"Dylan kau.."
"Aku pernah melihatmu bersamanya beberapa kali dan chatting bersamanya. Saat itu aku baru menyadari senyummu bahkan lebih indah saat kau bersamanya dan kau terlihat sangat bahagia. Pipimu selalu merona saat bersamanya. Sikap malu-malu yang tak pernah kau tunjukan padaku kau lakukan padanya. Kau membiarkannya membersihkan bekas ice cream dibibirmu tanpa mencegat tangan itu. Matamu menatapnya penuh cinta."
"Apa kau bahagia bersamaku? Pertanyaan itu selalu berputar-putar dipikiranku. Selama beberapa tahun ini apa aku tak pernah bisa membuatmu bahagia? Apa aku bagi hidupmu? Seharusnya kau tidak perlu berbohong saat membalas ucapan ku saat aku mengucapkan aku mencintaimu. Saat itu aku sangat senang. Aku pikir kita memang saling mencintai. Selama bertahun-tahun aku mempunyai ragamu tapi tidak dengan hatimu. Kita memperlihatkan cinta kita pada semua orang. Namun yang kita perlihatkan hanyalah sebuah kebohongan. Aku benar-benar marah pada orang yang bernama Marven Dhananjaya itu. Ia memiliki apa yang ku pikir milikku selama bertahun-tahun ini. Tapi kenyataannya dari awal itu bukan milikku. Hatimu bukan milikku. Hati itu telah menjadi milik seorang Marven Dhananjaya sejak lama. Aku hanya orang yang tiba-tiba datang dan memintanya dengan sesuka ku tanpa mengetahui bahwa hati itu telah menjadi milik orang lain." Dylan menghentikan ucapannya tenggorokannya terasa kering karna terlalu panjang berbicara.
Sedangkan Clara didepannya menangis tersendu-sendu. Mata Dylan memanas melihat orang yang dicintainya itu menangis seperti ini. Setetes cairan bening mengalir dari kelopak matanya.
Dylan merupakan sosok yang harus terlihat tegar didepan semua orang. Namun kali ini, sosok itu tak bisa lagi tegar. Hatinya benar-benar terasa tercabik-cabik. Sangat sakit. Mengetahui orang yang dicintainya selama ini ternyata tak bisa membalas perasaannya. Mengetahui orang yang selama ini bersamanya ternyata masih mengharapkan orang dimasa lalunya. Mengetahui sosok dihadapannya saat ini menangis karna dirinya.
Dylan menghampiri kursi Clara depannya, duduk disamping Clara dan memeluk Clara mencoba menenangkan Clara. Namun ternyata tindakan itu malah membuat Clara semakin histeris.
"Maafkan aku Dylan..." lafal itu berulang-ulang keluar dari bibir Clara.
"Berhentilah menangis. Kau tahu sendiri aku tak tahan bila melihat mu menangis. Ku mohon berhentilah menangis. Maafkan aku bila aku menyakitimu." Ucap Dylan mengelus sayang punggung bergetar Clara.
Clara menggeleng dalam pelukan Dylan. Kenapa harus Dylan yang minta maaf. Dirinya yang telah menyakiti Dylan. Meskipun beribu kata maaf pun tak mungkin bisa mengobati hati Dylan yang terluka saat ini.
Clara yang bodoh disini. Salahkan dirinya yang tak bisa melupakan Marven. Cinta pertamanya. Orang yang pertama kali mampu menghangatkan hati Clara yang dingin. Orang pertama menggandeng tangan Clara dan mengajaknya melangkah bersama. Orang pertama yang mengambil hati Clara dan tak mengembalikannya saat orang itu pergi ke Amerika untuk karirnya. Berjanji akan kembali membawa hati Clara yang telah dia bawa. Menyakinkan Clara kalau perasaannya akan tetap sama saat dia kembali.
Saat Marven pergi dan tak ada kabar, Dylan datang denga sejuta perhatian dan kebaikannya. Mengisi hari-hari kosong Clara. Saat Dylan mengatakan cinta padanya Clara menerima begitu saja cinta Dylan karna dia pikir dia juga mencintai Dylan. Dia selalu merasa nyaman dan aman saat bersama Dylan.
Clara salah selama ini, rasa yang ia kira cinta itu ternyata hanya rasa cinta seorang adik ke kakaknya yang selalu melindunginya. Karena buktinya saat Marven kembali ia kembali merasakan debar-debar yang tak pernah ia rasakan saat bersama Dylan.
"Aku akan melepaskanmu." Ucap Dylan. Saat ini ia sudah kembali duduk dihadapan Clara. Dan Clara juga sudah mulai tenang.
"Maksudmu?"
"Bila dia adalah kebahagiaanmu, aku rela kau bersamanya."
Clara menatap tak percaya pada Dylan. Bagaimana bisa pemuda ini dengan gampangnya bilang akan melepaskan dirinya. Clara bukan ingin Dylan mempertahankan atau mengejarnya. Bukan, bukan seperti itu.
Pernikahan. Pernikahan mereka akan dilaksanakan sebentar lagi. Ini bukan masalah gampang karna seluruh negri sudah mengetahui mereka akan menikah bulan depan.
"Tapi pernikahan ki-"
"Tak usah mengkhawatirkan itu. Aku akan mengurus semuanya. Dan untuk masalah orang tua kita, aku yang akan menghadapi mereka. Satu lagi untuk masalah skandal kau dan Marven, aku sudah membereskan semuanya. Tak akan ada lagi pemberitaan tentang kalian berdua." Ucap Dylan lalu menyodorkan sebuah amplop kepada Clara.
Clara membuka amplop tersebut. Sedetik kemudian ia kembali menatap Dylan. Dylan hanya tersenyum, ia mengenggam tangan Clara dan mengusapnya lembut dengan ibu jarinya.
"Pergilah. Marven sudah menunggumu di bandara. Kembalilah saat semua baik-baik saja." Kata Dylan.
"Dylan... Aku..." Clara tak tahu harus berkata apa. Matanya mulai berkaca-kaca bersiap akan menangis.
"Jangan menangis lagi. Cepatlah pergi kau tak ingin Marven menunggumu dan pergi meninggalkanmu kan?"
Clara bangkit dari duduknya berjalan kearah Dylan dan memeluk erat pemuda itu.
"Terima kasih dan maaf atas semuanya. Kuharap kau menemukan gadis yang benar-benar mencintaimu." bisik Clara.
Dylan mengangguk. Ia melepaskan pelukan Clara dan tersenyum. Menatap lekat wajah gadis yang ia dicintai selama ini. Ini terakhir kalinya ia bisa melihat wajah Clara sedekat ini. Setelah ini, Clara bukan miliknya lagi.
Clara pergi setengah berlari meninggalkan Dylan yang sedang terduduk lemah. Kepalanya menunduk. Sebuah isakan keluar dari mulutnya.
"Lemah." Gumam Dylan.
"Kau lemah Dylan Hadinata. Bagaimana bisa kau menangis hanya karna masalah ini? Kau tampan,pintar dan kaya. Kau bisa melewati ini semua tanpa dia lagi. Kau bisa bahagia dengan atau tanpa dia." Ucap Dylan menguatkan dirinya sendiri.
Dylan beranjak dari kursinya dan meninggalkan tempat yang mempunyai banyak cerita dirinya dan Clara. Melangkah dengan mantap dan tak akan menatap kebelakang.
...The End...