Tangan kiriku mengarah ke leher. Mencengkramnya erat. Rasa kesemutan yang menjalar di wajah ku saat napas tertahan, memberi sensasi kesenangan yang unik. Ku khayati kenikmatan itu secara mendalam. Lambat laun, rona wajahku memerah. Tanda kurangnya oksigen. Namun, cengkramanku masih disana. Enggan ku hentikan.
Kepalaku mulai menjadi berat.
Kupejamkan mata, lalu menempatkan tangan kananku ke atas tangan kiri. Memberinya tekanan. Semakin kuat sensasi melayang yang kurasakan. Hatiku tertawa.
Setelah beberapa saat kulepas cengkramanku. Rasa mual merasuk dari kerongkongan. Aku muntah.
"Huek!"
Namun, yang keluar hanyalah udara.
"Hahahahha!!"
Tawaku kembali. Merasa bodoh dengan diriku sendiri. Merasa tak berguna menghadapi keadaan yang tidak kunjung berubah.
Semua akan baik-baik saja?
Kalimat yang sering diucapkan orang-orang seakan mereka paham akan segalanya. Justru terdengar menjijikkan.
"Hiks...."
Memang apa yang mereka tahu?!
"Hiks... hiks..."
Memang mereka pernah mengalaminya?!
“Arggggghhh!!!”
Perasaan yang lebih berat dari kata selamat tinggal ini terus mengganjal di dada. Sekalipun aku berteriak, tidak akan mengubah apapun. Lalu aku hanya bisa menangisi ketidakberdayaanku.
Mengulang hari yang sama. Mengulang aktifitas yang sama. Mengalami siksaan yang sama. Tanpa sanggup melawan. Karena dunia memang seperti itu. Sekali lagi melalu hari dengan harapan : lebih baik aku mati.
Tapi aku takut mati.
"Lucu bukan?"
Aku hanyalah remaja biasa. Sedikit baiklah padaku, agar aku bisa merasakan hidup. Aku juga ingin menjadi seperti kalian. Berbaur. Bermain. Bercengkrama. Berteman. Menjadi seseorang yang dianggap ada. Tidak diacuhkan.
"Jangan menolak keberadaanku."
Jangan membuatku menekan leherku sendiri. Atau membuatku menahan napasku ini. Atau mengarahkan langkahku ke sisi tepi, lalu mendorongku jatuh. Mengatakan hal-hal yang kasar, atau membuatku mengingat kenangan buruk. Aku tidak ingin lagi mengalaminya.
Bagimu, mungkin saja semua hanyalah lelucon. Bagiku, seakan berada di ujung tanduk. Dengan ujung pisau yang mengarah padaku. Membuatku mau tidak mau bersikap pasrah. Menerima apa yang terjadi padaku sembari senyum kosong menghiasi lubuk hati.
Sejujurnya, aku menangis.
Tapi aku hanyalah remaja biasa, yang harus terbiasa dengan dunia. Dunia yang bahkan tidak memihak padaku, apalagi memberiku tempat berdiri. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku, sembari mengutuk dalam bisikan.
“Aku juga ingin bahagia.”
Mirisku, sembari memegang erat tali yang telah kuikatkan di langit-langit sejak tadi. Memandang hampa melalui jendela kaca. Menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan eksistensiku pada dunia.
Sekali lagi, aku hanyalah remaja biasa.
# # # #
TAMAT.