Tik...
Tik...
Tik...
Bunyi jam terus berdenting hari ini adalah hari dimana kelulusan ku tiba, ya aku akan menyelesaikan pendidikan menengah ku, statusku yang sebentar lagi akan berubah menjadi mahasiswa.
Aku sudah mempersiapkan semuanya, sampai dimana saat itu aku menabraknya ketika baru saja turun dari taksi yang mengantarku.
Dia disana....
Sosok laki laki yang untuk pertama kalinya membuat jantungku berdebar, pipi ku memanas saat melihat matanya.
Jantungku dipaksa untuk bekerja lebih kencang saat dia maju dan mengulurkan tangan nya untuk membantu ku bangun.
"Kau terluka?" Tanya nya, oh tuhan suaranya membuat diriku seketika merinding.
Aku hanya menggelengkan kepala pelan lalu menundukkan kepala. Setelah menyiapkan hati yang lebih kuat aku kembali menatapnya.
"Kau bersekolah disini?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir tipisnya.
"Iya." Hanya satu kata yang terucap dari bibirku yang sekarang bergetar ntah kenapa.
"Benarkah? kalau begitu mau kah kau menemaniku kedalam?" Tanya laki laki itu, angin bertiup pelan mengibaskan helaian rambutnya yang halus.
Sebegitu sempurna nya manusia di depan ku ini, apakah dia sebenarnya malaikat yang menyamar ke bumi untuk menunjuk kan betapa masih ada ciptaan Tuhan yang belum kami lihat.
"Kenapa kau mau ikut ke dalam sekolah?" Pertanyaan yang tadinya bersarang di kepalaku akhirnya meluncur bebas, aku menatapnya gugup bercampur terpana.
"Aku mempunyai suatu urusan dengan petinggi sekolah, karena kau siswi disini kau pasti tau letak ruangan ruangan sekolah bukan?" Tanya nya masuk akal.
Aku pun mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam sekolah diikuti dia dan juga tatapan siswa yang ntah kenapa tiba tiba serentak mereka menatapku.
Oh aku lupa sedang berjalan di depan seorang laki laki yang memiliki ketampanan tidak wajar itu.
Setelah mengantarnya, aku pun pamit dan segera pergi ke kelas ku sendiri, para siswi yang tadinya hanya diam saja seketika menghampiri diriku lalu melontarkan banyak pertanyaan.
Aku hanya menjawab bahwa aku tidak sengaja bertemu dirinya di depan gerbang sekolah. Mereka akhirnya tidak bertanya lebih jauh.
Aku hanya sibuk dengan pikiran ku sendiri sampai tiba tiba suara pistol berbunyi keras, semua siswa berteriak saat mendengar itu.
Mereka memberanikan keluar mencari sumber suara disana, aku sendiri hanya tetap berdiam di kelas, aku sendirian disana.
Sampai pada akhirnya ada suara langkah kaki mendekat, rupanya laki laki tadi, tapi kali ini penampilan nya membuat mataku membulat, pakaian nya dilumuri darah.
Sontak aku berdiri, tubuhku bergetar dari ujung kepala sampai kaki, tanganku mengepal ketakutan melihatnya.
Ketika hanya beberapa meter jaraknya dari ku dia berhenti sejenak lalu berlari dan tiba tiba aku merasa ada yang masuk ke dalam tubuhku, ya dia membiusku.
Pandanganku perlahan mulai melemah dan seketika aku terjatuh dan tidak sadar lagi, aku tidak tau apa yang dia lakukan setelah itu, aku hanya melihat senyum kemenangan yang dia tunjuk kan sebelum aku benar benar menutup mata.
***
Saat mataku terbuka, aku melihat diriku sudah berada di sebuah kamar berinterior gaya Eropa, seketika aku panik dan langsung beranjak dari ranjang.
Aku mencoba membuka pintu itu, namun ternyata pintu itu terkunci, aku mencoba mengingat ingat kejadian dimana aku bertemu dengan nya.
Ya, bodohnya aku tidak menyadari bahwa sebenernya saat dia mengulurkan tangan nya padaku, dia juga sedang memegang pistol di tangan nya, namun dia langsung menyembunyikan nya.
Tiba tiba pintu terbuka. Dia, laki laki yang tadinya aku tatap penuh kekaguman berubah menjadi laki laki yang mengerikan di mataku.
Kini Aku berharap semua ini hanya khayalan bodohku yang biasanya terlintas di hadapan ku, aku mencoba mencubit lenganku sendiri berharap aku bisa tersadar.
Namun ntah sepertinya dia mengetahui isi pikiran ku ini, dia langsung memeluk ku dan mengusap kepalaku, tubuhku menegang saat dia mengucapkan sesuatu.
"Tenang Queen, ini bukan khayalan semata." what!!!dia mengetahui nama ku juga.
Sepertinya aku harus bersiap karena menyadari ini tidaklah mudah....