Akira, seorang anak SMA yang tidak memiliki teman. Akibat dari bola matanya yang berwarna merah ia diasingkan dan dijauhi oleh teman-teman sekelasnya. Warna merah, melambangkan warna iblis. Oleh karena itu ia sering dijuluki sebagai anak iblis atau pun titisan iblis.
Tidak hanya diasingkan dan dijauhi saja, tetapi akira sering kali mendapat perlakuan yang kejam dari teman-temannya. Dikunci dikamar mandi, diperlakukan seperti binatang, atau bahkan di pukuli, itu sudah menjadi hal wajar yang sering ia alami.
Dirinya sudah muak dengan perlakuan orang-orang tak berhati itu. Ia berjalan keluar kelas dengan tatapan kosong. Hinaan demi hinaan, dia tak memperdulikannya lagi. Karena sebentar lagi ia akan terbebas dari semua belenggu yang mencekamnya.
"Sudah cukup ribuan panah yang kalian tusukkan. Akan kuakhiri sekarang juga!!" Batinnya sambil terus berjalan tak menghiraukan hinaan orang disekelilingnya.
Kini Akira sudah berdiri di atap sekolah. Dia berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Dibalik kilauan cahaya sang mentari akira memandangi sekelilingnya. Ia diam membatu, air matanya berderai sembari mengucapkan salam perpisahan.
"Ayah, Ibu maafkan anakmu yang tidak berguna ini. Maafkan aku yang tak bisa membuat kalian bangga memilikiku. Aku selalu menjadi beban dan menjadi aib keluarga ini. Kini kalian tak perlu khawatir lagi akan semua itu. Beban dan aib itu sebentar lagi akan menghilang bersamaan dengan kepergian diriku. Selamat tinggal Ayah, Ibu. Selamat tinggal kehidupan yang seperti neraka."
Selangkah demi selangkah kakinya mulai menuju tepian. Ia menegarkan hatinya yang tengah bimbang. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Kemudian ia pun melompat dari gedung sekolah itu.
"Akhirnya kehidupan yang seperti di neraka itu pun berakhir juga." , Gumamnya sambil tersenyum menunjukkan ekspresi leganya.
Tetapi tiba-tiba saja seorang menarik tangannya. Seorang laki-laki yang tak lain adalah teman sekelasnya Akira.
"A-apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku", Akira memberontak
"Bodoh. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu."
"Apakah matamu buta?"
"Bukankah kamu sebenarnya takut melakukannya?"
"Tidak, aku tidak takut sedikit pun tidak!!"
"Bohong!! Tanganmu saja gemeteran" , Dengan sigap lelaki itu menarik tangan Akari dan menyelamatkannya.
"Kenapa.... Kenapa.... Kenapa kau menyelamatkan orang sepertiku? Aku bahkan sudah muak hidup di dunia ini, aku sudah muak ditindas oleh mereka, kau tahu?" ,Tanya Akari
"Bukankah kita teman?"
"Hah...teman? Kau sudah gila? Apakah pertemanan seperti ini. Kau bahkan diam saja ketika mereka mengolok-olok dan menindasku. Ketika mereka memukuliku kau tidak berkutik sedikit pun. Dan sekarang kau tiba-tiba mengaku sebagai temanku dan menolongku. Peduli setan dengan pertemanan."
Akari pun pergi meninggalkan Hiro yang telah menggagalkan aksi bunuh dirinya. Sepertinya kehidupan di nerakanya pun akan dimulai kembali ketika ia memasuki kelasnya.