Kaisar dan permaisuri…
Ayah kaisar?? Ibu permaisuri??
Hehe, ayah dan ibu ya…
Seorang gadis kecil terkurung di ruang gelap dengan cahaya lilin yang menerangi sudut ruangan. Dia diikat dengan rantai dan kakinya tidak bisa digerakan. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya, tak ada teriakan yang terlontar dari bibirnya. Semuanya terkunci di tenggorokannya, dan rasa sakit melebihi kematian tertahan di dalam tubuhnya.
Racun menggerogoti tubuhnya, dan bau busuk menguar dari tubuhnya. Tak ada yang merasa kasihan, maupun merasa bersalah. Mereka menonton dari jauh, untuk menghindari bau busuknya. Sambil mendengar suara tetesan minyak mendidih yang mendarat di tangannya.
Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap mata mereka dalam, dan tersenyum simpul. Senyuman yang mereka tidak dapat lupakan. Senyuman lembut yang mereka terima setiap hari, saat menyiksa dan menghina gadis itu.
Mereka tidak dapat menahan rasa terkejutnya. Gadis kecil yang mereka buang dan sebut sampah kekaisaran, tersenyum manis terhadap mereka. Dan tatapan matanya, menunjukan rasa kasihan. Mereka tidak terima dengan tatapan itu. Ingin sekali mereka memaki dan meludahinya, kemudian melempar tubuhnya untuk dijadikan makanan anjing.
“Kasihan sekali.”
Kalimat tak terduga masuk melalui telinga mereka dan tidak dapat dimengerti otak mereka. Seharusnya gadis itu yang disebut kasihan dan menyedihkan. Mengapa gadis lemah itu menyebut mereka kasihan… Mereka sama sekali tidak terima!
“Kalian menyiksa dan membuangku, tapi tidak dapat bahagia,” kata-kata sarkasme itu mendidihkan darah mereka.
“Kalian membuang waktu kalian untuk mengurusi sampah, daripada menghabiskan uang untuk beli pakaian mahal dan membeli wanita pelacur… sungguh menyedihkan.”
Gadis itu menundukan kepalanya dan melanjutkan, “Tanpa kau lakukan apapun padaku, pada akhirnya aku akan mati menyedihkan, tapi kau tetap bersedia mengotori tangan kalian untukku… ah~ aku sangat tersanjung.”
Gadis itu memberi jeda, kemudian mengubah senyumannya menjadi seringaian iblis. Sisi jahat yang terkubur di tubuhnya menerobos keluar, mengambil alih tubuh bermandikan darah dari gadis itu, bahkan hidungnya sudah kebal dengan bau gosong dari tangannya.
“Jika aku mati tanpa ulah kalian, aku tak akan menaruh dendam pada kalian, namun kalian sendiri yang menanamkan kebencian dihatiku… jadi janganlah menyesal jika aku menghantui masing-masing kalian. Hehe.”
Tawa cekikikan terdengar di telinga mereka. Tawa mengerikan yang membuat bulu kuduk mereka naik. Jantung mereka berpacu cepat, seakan nyawa mereka ada di tangan dewa kematian. Tawa yang membuat mereka merasa hidup mereka ada di ujung tanduk. Tubuh mereka bergetar takut, namu gengsi mereka lebih tinggi daripada ketakutan kehilangan nyawa.
“Kalian akan menyesal telah membuangku…”
“Kalian akan menyesal…”
Tubuh gadis itu roboh di depan mereka. Tidak bergerak. Mereka tetap diam di tempat. Pikiran mereka melayang-layang. Jiwa mereka tidak dalam raga mereka. Mereka mati, mati tanpa aba-aba. Mati tanpa penyakit. Jantung mereka sehat, tubuh mereka tidak terluka. Tubuh mereka roboh juga, mereka mati.
Jiwa mereka dikutuk oleh gadis itu. Mereka tidak akan memiliki keturunan lagi. Seluruh silsilah keluarganya mati, mati tanpa sebab. Itulah akibat dari mengusik anak Raja Iblis.
Iblis di dalam tubuh itu tersegel, segel yang dapat menahan 1000 iblis sekaligus. Namun segel itu hilang, segel itu terlepas. Iblis itu mengambil alih tubuh itu. Gadis itu masih hidup. Hidup dengan jiwa iblis.
Luka-lukanya sembuh, racunnya menyatu dengan tubuhnya, dan wajah polos itu menjadi wajah ratu kematian. Tubuh kecilnya lebih besar, Sudah lama iblis itu tersegel. Ia akan keluar. Keluar mengacaukan dunia. Sudah waktunya ia menghacurkan ayahnya, ayah yang membuangnya untuk dijadikan anak angkat kaisar.
Ia tidak akan mengampuninya. Tidak akan…