Di tengah boomingnya berita penculikan, kenapa bosku kejam memberi lembur?!
Judul : Psychopath Malam
Genre : Misteri, Gore
Penulis : Sya Yunjie
(13/04/2018)
.
Ceklek ... Kriett ....
Kubuka pintu rumah kontrakan lama ini. Pandangan langsung menuju arah jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas malam. Sudah larut juga.
Bekerja lembur memang melelahkan. Terlebih lagi jam segini sudah tidak ada kendaraan untuk menjadi tumpangan menuju rumah. Sangat berat harus berjalan kaki malam-malam melewati gang sepi daerah kompleks perumahan.
Semua itu tak masalah jika saja tak ada insiden— yang akhir akhir ini sedang banyak diperbincangkan. Marak terjadi penculikan di malam hari, dan kebanyakan korban penculikannya adalah seseorang yang tinggal sendiri entah itu pria maupun wanita, tua ataupun muda.
Banyak rumor yang beredar, adanya seorang psycopath haus darah. Memakan tiap daging manusia yang ia culik, hingga mayatnya tak pernah sekalipun ditemukan.
Kabar itulah yang membuatku, pria matang sekalipun takut untuk pulang sendiri. Walau sebenarnya tubuhku juga lumayan gempal. Bela diri urusan mudah.
Tapi mau bagaimana lagi, takut ya takut!
Ditambah hari ini, mood ku sedang buruk sekali. Sehingga kuputuskan saja untuk mengambil beberapa kaleng alkohol dan camilan dari dapur. Memang akhir-akhir ini moodku selalu berantakan karena pekerjaan kantor yang menumpuk.
Baiknya, aku harus menikmati minuman beralkohol dahulu sebelum beranjak tidur. Yah … supaya tidur pulas. Nikmat ketika bangun ternyata sudah pagi.
Aku pun memilih beberapa camilan dalam kulkas.
"Ugh sialan … bau apa ini?"
Ku tengok arah belakang, mendapati beberapa tikus gembul berlarian menuju gudang sempit samping dapur.
"Tikus sialan! Kau buat bau seisi ruangan bodoh!"
Reflek langsung aku lemparkan sapu ke arahnya.
Setelah tikus itu menghilang, aku pun beranjak menuju kamar membawa minuman dan camilan. Lalu memulai pesta bersama alkohol jenis vodka yang membuat hiruk-pikuk dunia terasa hempas.
Sayup sayup, terdengar percakapan beberapa orang dari luar. Ku singkap gorden putih yang menutup jendela kamar di lantai dua. Setengah mengintip, aku melihat dua pria setelan hitam tengah berbincang di teras rumahku.
Keduanya mengenakan topi yang juga hitam. Salah satu yang berbadan besar menggenggam sebuah rantai— yang di ujungnya mengikat mantap leher seekor anjing. Hewan sangar tipe Belgian Malinois itu menatap arah jendelaku tajam. Mengonggong kemudian berontak hebat.
Segera, mereka berdua mengetuk pintu rumahku kencang.
Aku merinding sekujur tubuh. Pria hitam-hitam itu siapa?
Haruskah aku membuka pintu?
Sedikit mencurigakan menurutku. Tidak hanya sedikit, namun sangat mencurigakan. Langsung saja kututup gorden jendela dan mematikan lampu kamar. Berpura-pura seolah rumah ini kosong.
Jantungku berdetak tak wajar mengalahkan ketukan pintu bawah. Sungguh sial, efek alkohol yang terlalu banyak mulai bereaksi pada tubuh. Rasanya pusing-pusing nikmat, mata semakin berat dan buram. Tubuhku terduduk di sofa kamar. Sayup-sayup dua orang di bawah mulai menggila mengetuk pintu depan.
Namun sayangnya kesadaranku telah terenggut oleh alkohol. Dan ketukan mereka mulai berhenti— setelah suara kayu yang didobrak.
.
Pagi telah tiba. Terkesiap, aku terlonjak dari ranjang kecil yang berantakan. Segera melihat sekeliling, dan menghela nafas lega.
Aku masih di kamar kontrakan.
Yang membuat sedikit terkejut, karena aku terbangun dengan menggenggam beberapa kayu lidi, yang biasa digunakan sebagai tusuk sate. Mungkin bekas camilan semalam.
Tanpa pikir panjang aku langsung membuangnya di tempat sampah dan membereskan kamarku yang sangat berantakan.
Teringat dua orang sangar tadi malam, aku segera melesat ke lantai bawah. Melihat keadaan pintu kontrakan yang kurasa telah didobrak. Namun nyatanya nihil. Tak ada bekas dobrakan. Hanya ada cakaran kecil yang mungkin terjadi karena anjing malam itu mengamuk.
Juga, satu lagi— tusuk lidi bertebaran dimana-mana. Apa-apaan?! Mereka habis merampok sapu lidiku atau bagaimana?!
Sudahlah. Karena tidak melihat barang apapun yang dicuri, lagi-lagi aku tidak mau ambil pusing. Langsung bergegas mandi karena harus pergi ke kantor. Melewati dapur, dan kembali berdecak sebal melihat dapur sudah bagai kapal pecah. Tak kalah berantakan dari kamar tadi.
Entah apalah yang dilakukan tikus semalam.
Juga mengapa begitu banyak kayu lidi berserakan di sini? Terlebih lagi di depan pintu gudang. Menumpuk dan lengket seperti tersiram saus teriyaki.
Bau busuk sangat menyengat saat aku berdiri di depan pintu gudang.
"TIKUS SIALAN!!!"
Langsung saja ku dobrak pintu gudang itu.
Seketika terkejut melihat puluhan tikus gembul memenuhi gudang sempit. Menjijikkan sekali bulu basah mereka menggesek kaki. Semuanya terbirit-birit keluar gudang ketika aku menghentak marah.
Perutku mual. Tangan kasar dan tebal mengepal kuat.
Satu persatu tikus itu enyah dari gudang. Menyisakan tubuhku yang kaku menegang. Mata terbelalak hingga rasanya mau loncat keluar.
Apa yang mereka kerumuni sampai seperti ini?
Bau busuk nan anyir menyengat sangat kuat. Bersumber dari gelimpangan mayat yang sudah dikuliti habis. Hanya tersisa tulang, dengan segumpal daging yang menempel.
Belasan, bahkan puluhan. Tidak mungkin. Aku mengoyak tumpukan mayat di sana. Menggapai sesuatu yang menjuntai panjang, sangat lengket, dan melilit sebuah bola berambut. Aku terkesiap. Tak mungkin ini kepala dan usus.
Di sudut ruang. Tumpukan anyir masih menyengat indra penciuman. Darah masih menetes hangat. Dua pria bertopi hitam sudah limbung tak bernyawa. Dengan perut yang tak utuh menjuntai terikat rantai. Leher tersayat dengan ribuan tusuk sate, berlubang seperti sarang lebah. Berlumuran darah, keduanya dibuat berpose intim menindih seekor anjing. Seolah tengah bercinta.
Kepalaku pening. Menatap bordir menyilaukan dari topi keduanya. Berwarna emas dan terlukis lambang negara.
Jantungku berdetak membabi-buta. Perut mual sangat dahsyat. Langsung saja aku berlari menuju kamar mandi mengeluarkan semua isi perut.
Salah aku fokus pada kedua kakiku yang berlumur dengan darah kering.
Tangan terasa kasar dan tebal karena dilapisi cairan anyir yang juga telah kering.
Kudongakkan kepala menghadap cermin kamar mandi. Melihat wajahku sayu dengan mata yang dihiasi lingkaran hitam kelam.
Menunjukkan bahwa aku belum tidur semalam.
END
.
.
Catatan Penulis :
Em. Perasaan baru kemarin nulis cerita ini. Waktu lagi demen"nya ama cerita psycho, sampe imajinasi aja udah sikopat banget. Padahal kalo ketemu darah juga jungkir balik mau muntah.
Nyatanya waktu aku cek tanggalnya, cerita ini udah 4 taun! Anjimlah! Cepet banget tuh waktu. Dan aku juga masih gini-gini aja kagak berubah.
Pun dari dulu sampai sekarang motivasinya … yang penting nulis aja dulu. Urusan bener salah, ntar belakangan wkwk 🤣
Makanya maaf banget kalo tulisan berantakaan. CMIIW ….