Judul Cerpen : Rasisme Kado Ultahku
Tema : Horor
Genre : Teen, Action
Penulis : Yuni Ayu Izma
Di pagi hari, seperti biasanya seorang mahasiswi bernama Izma Gemini melakukan aktivitas membersihkan rumah. Izma mendapat jadwal kuliah daring sore, itupun ia belajar dari rumah.
Sebelum Izma mengambil sapu yang berada di pinggir pintu rumahnya. Ia menghentikan langkah kakinya tepat di depan kalender. Ia menyentuh sebuah angka spesial untuk dirinya.
"Alhamdulillah, Hari ini aku ulang tahun." kata Izma dalam hati.
Izma terus menatap tanggal 04 Juni di kalender rumahnya. Ia tampak bahagia, mengingat, kemarin, ia dibelikan pakaian gamis syar'i oleh mama tersayangnya. Selain itu, ia mendapatkan uang dari ayah dan adiknya.
Setelah puas menghayal tentang kado apalagi yang ia dapatkan, Izma melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah pinggir pintu.
Di setiap harinya, ayah Anzi menyuruh Izma untuk menjaga rumah dan menutup pintu karena ayahnya pergi mengantarkan mama dan adiknya yang sudah masuk sekolah. Sebelum itu, ayah Anzi menyuruh Izma untuk duduk di luar dan menghentikan aktivitas bersih-bersihnya sebentar.
Anzi berdiri di depan Izma dan ia menggeserkan tubuhnya untuk menghadap ke arah orang-orang yang sibuk memanjat pohon kelapa yang letaknya telah mengambil wilayah lapang tanah depan rumahnya. "Kamu tunggu disini saja, lihat mereka karena ada aktivitas yang mencurigakan." Anzi mengarahkan jari telunjuknya menuju ke arah mereka.
Izma mengangguk dan ia melepaskan sapu yang berada di genggaman tangannya. Izma duduk di kursi yang berada di depan rumah, agar ia lebih leluasa melihat gerak-gerik mencurigakan oleh ketiga orang itu. Izma menatap punggung ayahnya yang mulai menjauh dan Izma mengambil ponsel dari saku celananya. Izma memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa bosannya.
Sepuluh menit kemudian, Ayah Anzi telah pulang dan ia memarkirkan motornya tepat di depan rumah. Ia berjalan cepat menuju ke arah Izma, Izma tampak terkejut saat mengetahui sikap kecurigaan terhadap ketiga orang yang memanjat pohon yang mengambil lapang depan rumahnya itu ternyata maling buah kelapanya.
Hal itu, sontak saja membuat siapapun pasti memancing emosi orang karena berani mengambil hak miliknya. Izma langsung memakaikan sendal dan ia berjalan mengikuti Ayah Anzi dari arah belakang. Izma menghentikan langkah kakinya di belakang ayahnya.
"Ini pohon saya, kenapa kamu mengambil buah kelapa saya?" ucap Ayah Anzi yang telah berdiri di depan pohon kelapa.
Bukannya menjawab penuturan dari Anzi, malahan MangLeng membesarkan suaranya untuk berpura-pura bertanya kepada dua orang lelaki suruhannya untuk memanjat pohon milik Anzi.
"Kurang ajar! Turun kalian! Beraninya mengambil buah kelapa saya! Ini milik saya dan kenapa kamu ambil buah kelapa saya, MangLeng?" tutur Anzi dengan suara yang keras dan MangLeng berjalan mendekati ke arahnya.
"Ini pohon saya dan saya menanamnya." sahut MangLeng yang seenak jidatnya mengaku pohon milik Anzi.
"Bohong kamu! Mana mungkin kamu yang menanamnya. Sudah jelas saya yang menanamnya. Turun kalian turun! Saya tidak ikhlas kalian mengambil buah kelapa saya!" titah Anzi seraya menggoyang-goyangkan pohon kelapa.
"Oke, turunlah." celetuk MangLeng yang terlihat ketakutan tapi tetap mempertahankan ucapannya.
Izma yang diam di tempat, ia tampak Devaju melihat semua adegan drama yang ditampilkan sikap bejat MangLeng di hadapannya. Izma memposisikan dirinya agar di sebelah ayahnya.
"Denger Om, lain kali, kalo gak tahu harus tanya dulu. Jangan seenaknya ngambil hak milik orang lain." Izma menjauhkan dirinya saat ayah Anzi mulai mengangkut beberapa buah kelapa yang ingin dimaling oleh MangLeng.
Izma membalikkan tubuhnya dan ia mulai berjalan untuk mengikuti langkah kaki ayahnya dari arah belakang. Namun, suasana yang mulai kondusif kini berubah menjadi kacau balau saat anak laki-laki Mangleng yang menyandang status duda berjalan menuju ke arah Izma dan Ayah Anzi. Langkah kaki Izma terhenti saat Ayah Anzi melepaskan kelapanya di atas rumput.
Izma dan Ayah Anzi melihat kedatangan anak laki-laki bernama Bedo yang menyandang status duda tengah berjalan mendekatinya.
Bedo menghentikan langkah kakinya tepat di depan Anzi. "Om, baru 20 tahun tinggal disini dan pohon ini milk kami," ucap Bedo dengan suara kerasnya seraya mengarahkan jari telunjuknya di depan Anzi.
Anzi yang tak terima dengan perlakuan tidak sopan dari Bedo. Anzi mulai menceritakan Yang sebenarnya. "Kamu jangan asal bicara, saya sendiri yang menanam pohon kelapa ini." sahut Anzi dengan suara lantangnya dan tidak lupa menunjuk jari manis di depan Bedo.
"Dengar itu om, jangan sembarangan mengaku kalo bukan milikmu." celetuk Izma dengan benar.
Bedo menoleh ke arah Izma dan Bedo langsung menyerang ke arah Izma. "Diam kamu anak kecil tidak usah ikut campur!" ucap Bedo seraya menunjuk ke arah Izma.
Deg!
Tiba-tiba jantung Izma serasa berhenti sejenak dan ia diam sesaat saat melihat Bedo yang menyerang Ayah Anzi melalui mulut kotornya.
"Rasanya berbeda, tidak seperti saat aku ulang tahun sebelumnya yang selalu diberikan dengan kata manis dan banyak kado. Tetapi, aku sekarang diberikan Rasisme kado ulang tahunku. Bukankah, Indonesia mengajarkan agar kita menanamkan Bhineka tunggal Ika, yang berarti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Dasar pria tua sialan, aku yang seumuran dengan anaknya dan bisa dibilang aku pangkat anaknya masih saja diajak berkelahi. Hadeh... 20 tahun sudah lama keleus kok dibilang baru sih? Dasar gak punya otak itu orang. Puyeng deh jadinya kepala dedek syantik." kata Izma dalam hati.
"Aku memang anak kecil tetapi aku tahu mana yang hak milikku atau bukan milikku. Bukan seperti kamu yang seenak jidatnya saja mengaku pohon kelapa ini milikmu. Sadar diri woy! Sadar diri!" balas Izma dengan santay.
Pertengkaran mulut masih dilakukan oleh Izma membantu ayahnya untuk berbicara yang sebenarnya. Hingga datanglah, Bi Rukyah yang membela kebejatan suami dan anaknya. Ia terus berbicara ambur ladur. Mulai dari mengaku pohon kelapa itu, penebangan pohon alpukat hingga pembatasan tanah milik pemerintah pun mereka perebutkan. Sadar diri uy, tanah milik pemerintah, sesama masyarakat yang menumpang tanah itu sebagai tanamannya harus wajib tahu diri kalau menanam tanaman itu ada batas tanahnya. Sudah tahu ada pembatasan sesuai dengan berdirinya rumah masing-masing. Namun, masih saja menanam pohon kelapa di tengah tanah kami. Mau maling batas tanah kami ya? Kalo maling tetaplah maling? Buah kelapa milik Izma dan ayah Anzi pun habis diambil. Bukankah ada peraturan perundangan-undangan tentang maling hak milik orang lain. Keluarga Anzi bukanlah keluarga kejam. Anzi tetap berbicara sesopan mungkin demi menghargai sesama tetangga. Tapi, kok yang dihargai malah maling buah kelapa Anzi sih? Gak sadar diri kan namanya.
Izma berusaha meleraikan perdebatan mulut itu hingga ponsel yang dipegang oleh Izma terjatuh di atas rumput. Bi Rukyah terdiam dan ia melihat Izma sedang berjongkok dan mengambil ponsel miliknya.
Izma memposisikan dirinya berdiri dan ia memeriksa ponselnya.
"Untung saja ponselku jatuh di atas rumput kalau retak dan hancur ganti kaleeean." Kata Izma dalam hati.
Izma melihat ke arah ketiga keluarga tidak tahu diri itu yang terus menyerang ayahnya. Izma membantu berbicara dan mengatakan yang sebenarnya.
Akhirnya, Izma membuka kunci keamanan ponselnya. Ia menekan tombol kamera untuk merekam video antara perdebatan Anzi dan Bedo. Di dalam video tampak lucu karena Bedo mengaku batas lapang tanah di depan rumah yang tidak adil dan ia berusaha sok menang. Padahal kan mereka kalah di mata hukum kalau itu tanah milik negara. Ayah Anzi menjelaskan ini tanah negara dan kita hanya meminjam dan bijaklah dalam menanam tanaman di lapang tanah yang sebenarnya.
"Kamu gak perlu video-video! Mentang-mentang ayah kamu mau jadi calon dewan dan merekam ini dengan..." ucapan Bi Rukyah terhenti saat Ayah Anzi menghadang Izma dan Bi Rukyah.
"Terserah saya, saya mau video juga itu bukan hakmu untuk melarang saya! Orang gak sadar diri Seperti dirimu, merebut hak milik orang lain, selalu ingin menang sendiri." celetuk Izma.
BI Rukyah Berdiri di depan Izma dan Izma mulai menjelaskan materi yang harus diketahui.
"Kita ini hidup di Indonesia, tahu gak Indonesia mengajarkan kita agar hidup dengan menganut Bhinneka tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu," ucap Izma mantap.
"Semua perbuatan kalian tidak benar mengambil hak milik orang lain." lanjut Izma.
"Pulang kalian semua! Pulang!" usir Izma dan Om MangLeng, Bedo dan Ni Rukyah pulang ke arah rumahnya.
"Kamu itu masih kecil dan berani menginjak. Tidak tahu..." ucapan Bedo langsung dipotong Izma.
"Iya, aku memang anak kecil dan kamu itu pangkatnya seperti orang tua aku. Aku sebagai anak yang baik harus memperingatkan kepada orang tuanya agar tidak melakukan kesalahan yang fatal dan dapat merugikan orang lain." sahut Izma dengan menekankan suaranya di akhir kalimat.
Bayangkan, jika kalian sedang ulang tahun yang seharusnya diberikan ucapan selamat dan kado yang manis. Namun, fakta yang sebenarnya, kamu menerima kata kasar dan kado ulang tahun Rasisme. Sakit hati, itulah yang Izma rasakan menerima permasalahan yang mereka rancang dan gagal rencana itu oleh kebenaran Izma dan ayahnya.
Izma melanjutkan langkah kaki menuju masuk ke dalam pagar rumahnya dan ia melihat ayah Anzi menaruh buah kelapa di pinggir bagasi mobil. Buah kelapa itu hampir dicuri oleh mereka dan jika tidak cepat oleh Ayah Anzi pasti sudah tinggal pohonnya saja yang tersisa. Berkat kelicikan mereka yang berjalan melewati semak rumput, Izma tidak mengetahui bahwa mereka langsung maling buah kelapanya.
"Cuma satu rumah, dibakar saja biar hangus tanpa sisa." samar suara Bedo terdengar jelas di telinga Izma.
Izma tersenyum penuh arti ke arah rumah mereka itu dan ia mengalihkan pandangannya menuju ke buah kelapa.
"Semoga Tuhan membalas semua kejahatan kalian dan kalian mendapatkan sekumpulan malapeta atas perbuatan kalian disaat hari ulang tahunku karena sikap rasisme kalian. Amin." doa Izma dalam hati dan ia melangkahkan kakinya dengan tegas menuju masuk ke dalam rumahnya.
#Tamat