Hai semua~ Aku novelis Ichigo. Ini adalah cerpen pertamaku, semoga kalian suka. Semua karyaku selalu berlatar Jepang, karena aku paling terinspirasi ketika mengarang cerita remaja yang bernuansa shoujo manga. Yah, sekian perkenalan sederhana dariku. ☺
Aku mulai cerpenku dulu ya.. Selamat membaca. 🙏
Semenjak kecil hingga SMA, Manabu Aoyagi dan Ume Fukuda adalah sahabat lawan jenis.
Mereka sangat cocok dalam hal berbicara, berbagi keluhan, bahkan candaan mereka juga menyambung. Jarang sekali ada hal yang membuat mereka bertengkar atau merasa bosan kepada satu sama lain.
Suatu hari, Manabu iseng bertanya kepada Ume..
"Ume-chan. Menurutmu, hubungan romantis yang pasti akan berhasil itu yang seperti apa?"
Ditanyai demikian, Ume hanya mengangkat sebelah alis dan menjawab asal;
"Yang seperti itu tentunya akan berhasil jika seorang lelaki dan perempuan saling tertarik pada satu sama lain."
"Begitu ya," gumam Manabu, menyimak.
"Memangnya kenapa?" tanya Ume, sedikit heran pada sifat Manabu yang tidak seperti biasanya.
"Ah, bukan apa-apa. Sebenarnya, aku ingin mencoba.. berpacaran dengan seorang gadis. Lagipula, sekarang kita sudah SMA."
Ume sedikit terkejut mendengar ungkapan Manabu. Entah mengapa, jantung gadis itu sedikit berdegup keras.
(Tidak mungkin.. Gadis itu pasti bukan aku, kan?) batin Ume.
"Ume-chan?"
DEG
"I-iya. Ada apa lagi, Manabu-kun?" respon Ume, masih sedikit melamun karena gugup.
"Jika aku mengatakan sesuatu yang jujur, apakah Ume-chan akan marah?" tanya Manabu lagi.
"Sesuatu yang jujur? Katakan saja," balas Ume spontan.
"Menurutku, Ume-chan sangat manis. Namun, kamu belum tentu tertarik padaku," ujar Manabu, secara tak terduga.
DEG DEG DEG
(Apa katanya barusan? Celaka.. Mengapa jantungku berdebar sekencang ini?!) jerit Ume dalam hati.
"Tuh kan, wajahmu merona sekali. Makanya, aku suka Ume-chan," kata Manabu santai, disertai senyuman tampan dan khasnya.
"Apa..?" ucap Ume pelan dan semakin gugup.
(Tidak! Ini gila.. Mana mungkin Manabu-kun dan aku..) seru Ume dalam hati, sembari berusaha untuk menguasai diri.
"Bagaimana jika kita mencobanya? Ume-chan takkan merasa keberatan atau canggung denganku, bukan? Lagipula, kita sudah lama saling mengenal," usul Manabu.
"Me-mencoba apa?!" sentak Ume, tiba-tiba wajahnya sudah semerah tomat.
"Ini dan itu, jika kita menjadi pasangan," jawab Manabu ringan dan apa adanya.
"Apa katamu?! K-kau..! Dasar mesum!!" sentak Ume lagi, dengan suara yang lebih keras dan galak.
"Hah? Bukan itu maksudku! Ya ampun," protes Manabu, tiba-tiba turut merasa malu.
Baru kali ini, keduanya terdiam selama beberapa menit ketika sedang bersama. Padahal, biasanya mereka akan asyik mengobrol dan menongkrong di suatu tempat berdua hingga hampir lupa waktu.
Beberapa saat kemudian..
"Maaf. Tidak seharusnya aku membahas tentang hal semacam ini. Ume-chan pasti terkejut," ucap Manabu, yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan.
"Ah.. Tidak, aku juga tidak seharusnya memarahimu tanpa alasan yang tepat. Maafkan aku, Manabu-kun," balas Ume, dengan cepat menjadi tenang kembali.
(Benar juga. Sama sepertiku, Manabu-kun pasti juga ingin mempertahankan persahabatan kami. Hubungan ini terlalu indah untuk dirusakkan..) kata Ume dalam hati, sambil sesekali dan diam-diam melirikkan matanya ke arah Manabu yang sedang termenung.
"Ume-chan. Apakah kau menyukai seseorang?"
DEG
Lagi-lagi, pertanyaan Manabu membuat jantung Ume melompat.
"A-aku--"
"Jika benar, maka aku takkan membiarkannya! Ume-chan seharusnya memilihku. Bukankah kau sangat mengenalku? Memangnya, apa yang tidak kau sukai tentang diriku?"
GLEK
Ume jelas-jelas nampak gugup dan kewalahan menjawab pertanyaan beruntun itu, sehingga Manabu hanya dapat mendesahkan nafas, lalu menyentuhkan tangannya yang besar dan kokoh dengan lembut di atas kepala Ume.
"Ya sudah. Saat Ume-chan telah tenang dan mampu merasakan hal yang sama denganku, jangan pernah ragu dan datanglah kepadaku. Ok?"
Dengan sengaja, Manabu membungkukkan tubuhnya yang tinggi agar dapat melihat wajah Ume yang sangat merona.
DEG DEG DEG
"Ja-jangan menatapku!" seru Ume, seraya menutupi wajah dengan kedua tangannya sendiri.
"Eh, kenapa? Kamu manis sekali. Aku jadi ingin menggodamu," ucap Manabu, sembari tertawa kecil.
"Jangan tertawa... Jangan menggodaku!!" sentak Ume kesal, sehingga terpaksa menatap wajah Manabu sejenak dalam kondisi lemahnya itu.
"Ume-chan. Kau benar-benar tidak menyukaiku? Benarkah tidak apa-apa, jika aku mulai berkencan dengan seorang gadis lain?"
DEG DEG DEG
"Ti-tidak adil.. ," ucap Ume pelan dan tidak begitu jelas.
"Hm? Apa katamu barusan, Ume-chan?" tanya Manabu, dengan sedikit mendesak Ume karena mulai penasaran.
"Mengapa Manabu-kun bisa langsung berkata sejujur itu kepadaku? Padahal, aku.. Selama ini, aku selalu berusaha untuk mempertahankan persahabatan kita! Tapi... aku juga senang."
Walau sangat gugup, Ume berhasil memberanikan diri dan menyatakan perasaannya. Wajah gadis itu masih tertunduk dan sangat merona, bahkan tubuhnya sedikit bergetar.
"Hahaha."
Tak disangka, Manabu malah tertawa renyah seketika melihat reaksi Ume.
GLEK
Ume pun langsung merasa kecewa dan sangat malu. Jangan-jangan, pemuda itu hanya berniat untuk mengerjainya?
Dengan tubuh gemetar dan kepalan tangannya, Ume berseru..
"Jangan keterlaluan! Bisa-bisanya, Manabu-kun--"
Namun, sebelum Ume menyelesaikan ucapannya, Manabu telah menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya.
"Ma..nabu-kun.. ," ucap Ume, dengan jantung berdebar dan suara yang terputus-putus.
"Manisnya. Sekarang, aku tahu bahwa Ume-chan juga menginginkanku. Oleh karena itu, aku senang sekali dan langsung tertawa. Kau akan memaafkanku, bukan?" kata Manabu gemas, serta tidak henti-hentinya mengelus rambut belakang Ume yang panjang.
"Tidak tahu..," jawab Ume kacau.
"Hahaha."
"Berisik. Jangan tertawa.. Manabu-kun bodoh!" pekik Ume sekencang mungkin, agar dapat menutupi perasaan malunya.
"Aku sayang padamu, Ume-chan. Jadilah pacarku."
Dalam hitungan detik, tubuh Ume serasa membeku. Gadis itu tidak merespon dan hanya berdiri mematung dalam pelukan Manabu.
"Ume-chan?"
"Manabu-kun.. Apa benar tidak apa-apa?" ucap Ume dengan wajah murung, secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu? Mengapa kamu terlihat khawatir, Ume-chan?" tanya Manabu, dengan sikapnya yang lembut dan cukup sabar.
"Apakah kita boleh berpacaran? Apa Manabu-kun dan aku... dapat terus bersama?" kata Ume, akhirnya mampu berterus terang.
Entah mengapa, setiap perkataan gadis itu terdengar begitu manis dan menggelitik perasaan Manabu.
"Ume-chan. Maafkan aku," kata Manabu singkat.
"Eh--"
Kali ini, Manabu malah hampir melumpuhkan seluruh indera Ume dengan sebuah ciuman yang sangat memikat.
"Ume-chan.. Kau tidak apa-apa?" tanya Manabu sambil cengengesan, beberapa detik kemudian.
"A-aku tidak apa-apa...," jawab Ume semampu mungkin, walau merasa semakin berdebar dan sedikit pusing.
Gadis itu melepaskan diri dari pelukan Manabu, lalu berjalan sempoyongan dan..
BRUUK
Gadis itu pingsan dalam seketika.
"Ume-chaannn!!"
Hal berikutnya yang dirasakan oleh gadis itu dengan setengah tersadar adalah kehangatan punggung Manabu yang dapat menggendongnya dengan sangat mudah.
Pada akhirnya, Ume hanya menutup mata dan terus berpura-pura belum tersadar. Dalam hati kecilnya, gadis itu malah berharap agar waktu dapat berhenti sejenak, sehingga momen itu akan berlangsung selama mungkin.
- Selesai -