Aku masih sangat muda. Terlalu muda.
“Jadi apa keputusanmu?”
Suara pria tua itu kembali menyadarkanku dimana tempatku berada saat ini. Ruangan kecil dengan teralis besi.
“Ini tawaran yang menguntungkanmu.”
Godaan dari mulut manis pria tua itu mulai mengusikku. Namun, aku masih terdiam. Belum mengambil keputusan apapun. Hanya mempertimbangkan. Tanpa tahu bahwa mempertimbangkan semua yang dikatakannya sama saja dengan diriku telah terjebak perangkapnya. Aku sudah kalah sejak aku mulai memikirkan tawarannya. Sebab itu menjadi kepastian.
Pria tua itu mengetukkan tongkatnya dua kali ke lantai, “Kekayaan. Popularitas. Kekuasaan. Kami bisa memberikan apapun yang kau mau.”
Aku menenggak liurku. Merasa sesak.
“Bahkan keabadian. Kau tinggal mengatakannya,” tambah pria tua itu. “Bukankah ada hal yang sangat ingin kau capai di dunia ini,”
Sesuatu yang ingin kucapai. Pria tua itu mengatakan banyak hal menakjubkan seolah dia juga bisa menghidupkan orang mati. Menggelikan. Menggiurkan.
“Tak ada yang bisa kuberikan,” kataku polos.
Pria tua itu tersenyum lebar hingga hampir mencapai daun telinganya. Terlihat aneh namun juga normal.
“Kau hanya perlu menandatangani perjanjiannya. Sangat mudah. Kau akan mendapatkan yang kau mau, dan kami akan mengurus sisanya.”
Tanpa bayaran. Benarkah?
Pria tua itu mengeluarkan sebuah kertas dokumen dari dalam kopernya. Yang terbuat dari kulit hewan dan berwarna kecoklatan. Dia mengambil pena di saku kemejanya, lalu menulis sesuatu di atas kertas dokumen itu.
Beberapa saat hanya suara gesekan antara pena dengan kertas kulit yang terdengar. Aku diam mengamatinya. Pikiranku mulai mengabur. Rasanya aku bisa mendapatkan apapun hanya dengan menyetujui tawaran itu.
“Apa yang kau inginkan?” Pria tua itu bertanya.
Kutenggak kembali liurku, dengan ragu-ragu aku berkata. “Aku ingin jadi penyanyi terkenal hingga seluruh dunia.” Kataku.
Pria tua itu mencatat keinginanku di kertas dokumen, menandatanganinya, lalu menyodorkannya padaku.
Tanganku agak gemetar menerima dokumen itu. Tulisan-tulisan latin dengan bahasa yang tidak kutahu. Aku melihat ke dokumen dan pria tua itu bergantian. Ragu-ragu.
Pria tua itu menunjuk dengan jari kurusnya ke bagian bawah dokumen. Tepat di bawah tanda tangannya. Ada namaku.
“Tanda tangan disini. Mimpimu pasti akan terwujud.”
Ucapannya nyaris seperti bisikan. Memabukkan.
“Jangan ragu-ragu.” Katanya lagi seraya memberikan pena kepadaku. “Bayangkan saja apa yang akan kau miliki nanti. Kau akan menjadi sangat terkenal di dunia ini.”
Aku mulai membayangkan seberapa tenar diriku. Jemariku memegang erat pena. Mulai bergerak membentuk tanda tangan dia atas kertas kulit itu. Karena terlalu bersemangat, secara tidak sengaja jariku tergores sisi pena lalu darahku menetes ke atas kertas dokumen.
“Awh...” erangku pelan.
Pria tua itu hanya menatapku sembari tersenyum. Dia lekas mengambil kembali dokumen itu dari tanganku. Menyimpannya ke dalam koper.
“Jadi, apa sekarang?” tanyaku memastikan.
“Tunggulah disini. Mereka akan datang menjemputmu.”
Tak.Tak.
Pria tua itu mengetukkan kembali tongkatnya ke lantai. Mengangkat kopernya. Tersenyum padaku sekali. Lalu pergi keluar dari tempat itu. Meninggalkanku sendiri disana. Aku melihat kepergiannya dengan diam.
Tak berselang lama, dua orang pria berjas hitam menghampiriku. Sepertinya mereka orang-orang yang ditugaskan menjemputku.
“Apa ini waktunya?” tanyaku tanpa curiga.
Salah satu dari pria itu mendekat padaku. “Ya. Ini waktunya kau membayar.”
Sebelum aku sempat memikirkan perkataannya. Atau mempertahankan diriku. Aku mendengar suara yang tidak menyenangkan dan rasa yang menyakitkan.
JLEB!
Pria itu menusuk jantungku dengan pisau. Saat itu juga aku jatuh tersungkur di lantai. Aku yakin napasku berhenti dan aku mati seketika.
“Bangunlah nak,”
Kukerjap mata dan mendapati diriku sudah berada di tengah-tengah ruangan berkubah yang sangat luas. Ada begitu banyak orang di sekelilingku. Laki-laki. Perempuan. Tua. Muda. Bahkan ada anak-anak.
“Selamat bergabung dengan kami.”
Aku menoleh ke sumber suara. Seseorang yang terlihat seperti laki-laki sekaligus perempuan sama seperti suaranya. Sebelah mata tanpa warna, dan sebelahnya lagi berwarna merah menyala. Aku sempat menahan napasku.
“Bukankah aku sudah mati?” tanyaku.
Seseorang itu tersenyum menakutkan, “Ya. Kau baru saja terlahir kembali. Sebagai orang yang baru.”
Sulit bagiku mencerna kata-katanya dengan rasional. Anehnya, aku bisa menerimanya begitu saja. Seseorang itu mengangkat gelas kaca yang berisi wine merah, mungkin. Semua orang yang ada di rungan itu mengikutinya. Mengangkat gelas-gelas kaca mereka.
“Untuk saudara kita yang baru.” Ucap seseorang itu.
Aku menerima gelas kacaku dari salah seorang pria berjas hitam yang tadi menjemputku. Pria yang tadi menusuk jantungku. Aku menerima gelas kaca itu tanpa merasakan kebencian padanya. Keanehan lain yang kurasakan.
“UNTUK SAUDARA KITA!!!”
Kata-kata dari seluruh orang menggema.
Aku ikut mengangkat gelasku, “Untuk kita semua.” Lalu menghabiskan wine merah pekat itu yang terasa manis.
Suara riuh tepuk tangan dan pujian mengarah padaku. Aku menerima historia itu dengan bahagia. Tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya sudah aku lakukan.
Aku masihlah terlalu muda. Untuk tahu bahwa aku telah menjual jiwaku. Untuk sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu berarti.
Aku masih sangat muda.
# # # #
Tamat.