Aku bukanlah gadis yang pintar dalam hal cinta. Dan aku tak mengerti arti kata itu. Tidak sebelum aku menyadari, bahwa aku mencintai seseorang. Orang yang bahkan tak terpikir olehku. Tapi kenapa semua itu terlambat? Inikah yang disebut kualat?
Seorang cowok menghampiri gadis yang duduk sendirian dalam kelas. Mengambil tempat didepannya, hingga sang gadis merasa risih.
“Apaan sih?” ujar Cindy. Dika tersenyum.
“Gak ada apa-apa.”
“Terus ngapain lo senyum-senyum sendiri?”
“Entah ya, mungkin karena liat kamu.” Gurau Dika.
“Emangnya gue badut!” Cindy bangkit meninggalkan Dika.
“Mau kemana?” Cegah Dika memegang ujung baju Cindy.
“Bodo’!” tepis Cindy segera berlalu.
# # #
Cindy melempar ponselnya ke kasur. Menyetel volume cd player keras-keras. Membiarkan tubuhnya bergoyang mengikuti irama musik jazz kesukaannya. Tak dihiraukannya dering ponsel yang menjerit minta diangkat.
Pasti Dika lagi, batinnya.
Beberapa hari ini, Dika memang suka banget mengganggunya. Memori ponselnya sudah penuh oleh pesan Dika. Tau deh tu anak maunya apa. Gak penting dan gak peduli.
# #
“Cindy!”
Cindy tetap berjalan, tak dihiraukannya panggilan Dika. Setengah berlari Dika menyusul Cindy.
“Lo marah ya?”
“Tau’!” ujar Cindy berbelok ke perpustakaan.
“Jangan gitu dong, gue mau bilang sesuatu nih.”
Dika terus membuntuti Cindy yang tak mempedulikan keberadaannya. Karena capek dikacangin, serta merta ditariknya Cindy ke gudang perpustakaan.
“Lo apa-apaan sih Dik!” Omel Cindy. “Sakit tau!”
“Sorry, abisnya lo gak nganggep gue sih!”
“Minggir, gue mau keluar!” Cindy berusaha membuka pintu, sialnya pintu itu gak bisa dibuka dari dalam. “Sialan ni pintu!” umpat Cindy.
“Cin, gue mau bilang sesuatu ma lo.” Ujar Dika. Dibaliknya tubuh Cindy menghadapnya, mereka saling tatap.
“Gue cinta ma lo Cin, lo mau gak jadi cewek gue?” Ungkap Dika.
“Sorry Dik, tapi gue gak ada rasa ma lo.” Tolak Cindy.
“Tapi gue cinta ma lo Cin,”
“Tapi gue enggak!” bentak Cindy.
Tampang Dika berubah serius. Dipegangnya pundak Cindy.
“Mau ngapain lo!” Cindy memberontak. Percuma.
Sebelum Dika sempat mencium Cindy, pintu keburu terbuka. Dengan cepat Cindy menepis tangan Dika dan berlari keluar.
“Cindy!” panggil Dika.
Dikejarnya Cindy. Dengan susah payah Dika berhasil meraih jemari Cindy.
“Sorry Cin, gue khilaf. But, gue beneran cinta ma lo!”
“Cukup dik, gue gak mau denger itu lagi!” pekik Cindy. Air matanya menetes perlahan. “Tolong, jangan ganggu gue....”
“Tapi Cin,”
“CUKUP!”
“Oke. Kalo itu mau lo, gue gak akan masuk ke hidup lo lagi.”
Dilepasnya jemari Cindy. Dika berbalik, menjauh. Satu dua air mata menetes di pipinya. Hatinya sakit. Lebih sakit saat dia tak bisa melihat Cindy lagi.
Sejak kejadian itu, Dika memang gak pernah muncul dihadapan Cindy lagi. Entah kenapa Cindy merasakan kesunyian dalam hatinya. Ada ruang kosong yang menyakitkan. Kini setelah Dika pergi, ia baru menyadari kalau dirinya juga mencintai Dika.
“Rix, lo liat Dika gak?” Tanya Cindy memasuki kelasnya Dika.
“Lo gak tahu Cin, Dika kan udah pindah dari seminggu kemarin.” Sahut Erix.
“Pindah? kemana?”
“Aussie.”
Mendadak tubuh Cindy lemas.
“Cindy!” Erix berlari ke arah Cindy diikuti anak-anak lain. “Lo gak papa?”
Pandangan Cindy kabur, lalu semua mulai gelap.
# # #
Beberapa tahun kemudian.
Tampak seorang gadis duduk sendirian di taman. Jemarinya sibuk memencet huruf-huruf mungil di keyboard. Beberapa saat dia berhenti, menatap langit biru. Hela napasnya terdengar lelah. Hari ini dia datang ke sekolah nya sebagai alumni dalam rangka reunian angkatan. Tentu saja dia berharap dapat bertemu dengan orang yang lama dirindukannya.
Itulah kenapa, gadis itu berdandan sangat cantik.
Tak jauh dari situ, teman-temannya asyik mengobrol ria. Mereka terdiam begitu melihat seorang pemuda menghampiri kerumunan itu. Yang paling depan segera menyambut dengan pelukan.
“Gile, lo makin keren aje bro!”
“Lo kali yang makin ancur, haha....” balas pemuda itu. Tawa pun meledak diantara mereka. “BTW, kok cuma berlima, cewek satu itu mana?”
“Ohh, Cindy maksud lo? Noh, di ujung tuh!” Tunjuk Erix pada seorang cewek yang duduk diam ditaman.
Dika mengamati cewek itu dengan ragu. “Serius lo? Itu cewek kan pake dress? Gak mungkin Cindy pake baju feminin begitu,”
“Emang. Khusus hari ini. Kayaknya sih nunggu orang,” jawab Erix.
“Jangan-jangan lo lagi!” timpal Susi.
“Udah deh, samperin sono!” tambah Aryan.
“Kasihan tuh, waktu tahu lo pindah dia sempat pingsan.” Terang Erix.
“Hah? Yang bener?!” Dika tak percaya.
“Serius! Gue liat sendiri!” Yakin Joy.
Dika merasakan sesuatu dalam dirinya melonjak. Dengan mantap dia mendekati Cindy. Cindy merasakan jemari di pundaknya. Dia berbalik, tertegun. Langsung dipeluknya sosok pemuda yang ada dihadapannya. Rasa rindunya lepas dalam sekejab.
“Aku gak nyangka. Ini bukan mimpi kan?!” pekik Cindy bahagia.
“Kalo gitu aku sedang ada di surga sekarang, karena di hadapanku ada bidadari yang cantik.” Ucap pemuda itu.
“Ya ampun Ka, aku kangen banget sama kamu!” Cindy kembali memeluk cowok itu. Rasa bahagia menyelimuti hatinya.
“Aku juga Cin,” balas Yaka.
Dika mengamati adegan itu dengan pilu. Hatinya teriris kembali.
Ternyata yang ditunggu Cindy adalah orang lain bernama Yaka, bukan gue, bukan Dika! Batin Dika perih. Dengan gontai dia pergi dari situ. Tidak jadi menghampiri Cindy.
“Ka, gak jadi ketemu Cindy?” tanya Susi heran.
Dika tersenyum tipis dan pergi begitu saja. Semua menatap aneh ke arah Dika.
“Kenapa tu anak?” Tanya Erix.
“Eh, liat tuh!” Soya menunjuk ke arah Cindy.
Tahulah mereka bahwa Dika baru saja patah hati. Untuk ke dua kalinya.
# # #
Dika terus berjalan melewati taman belakang sekolahnya. Tempat dia berusaha mengejar Cindy setahun lalu. Langkahnya semakin tak menentu, gontai. Dia memasuki perpustakaan yang sudah kosong. Berhenti di depan gedung perpus, dan masuk. Menyendiri.
Disisi lain di waktu yang sama, Cindy terus berlari. Pandangannya menuju ke segala arah. Menelisir setiap bagian sekolah. Dengan keputusasaan langkahnya berhenti di depan perpustakaan. Masuk. Langkahnya begitu lirih menuju sebuah pintu kayu di ujung ruangan.
Ingatannya berputar.
“Cin, kamu masih ingat Dika?” tanya Yaka hati-hati.
Cindy diam, senyumnya menghilang begitu saja.
“Kami satu pesawat. Dia banyak cerita tentang kamu. Soal hubungan kalian,”
“Cukup Ka, aku gak mau denger nama itu lagi.” Ucap Cindy datar.
Yaka memegang pundak Cindy. “Kamu yakin, gak peduli lagi sama dia?” Tanyanya. “Kalau benar, lalu kenapa kamu menghindari tatapan mataku?”
“Cin, aku kenal kamu dari dulu. Jangan bohongin perasaan kamu sendiri. Selama ini Dika terus bersabar menunggumu. Banyak cewek yang dia tolak, bahkan dia berani menentang orang tuanya yang ingin menjodohkannya. Hanya karena dia cinta sama kamu,” terang Yaka.
Air mata Cindy menetes.
“Aku gak ngerti Ka,” ucap Cindy lirih. “Aku gak pantes buat dia. Aku pernah nyakitin dia,”
“Dia gak akan peduli soal itu, dihatinya hanya ada kamu.” Yaka memeluk Cindy dengan kasih sayang. “Jika kamu juga cinta sama dia, temui dia di sekolah sebelum terlambat.”
Cindy memutar kenop pintu perlahan dan masuk. Tak ada siapa-siapa, semua sunyi. Air mata Cindy kembali berjatuhan. Dari belakang, sebuah pelukan menyambutnya. Cindy kaget. Cepat dia berbalik. Tertegun. Perasaannya campur aduk.
“Sorry Cin, gue....”
“Gue cinta sama lo!” sela Cindy cepat.
Dika kaget. Keheranan. “Apa?”
“Gue cinta sama lo, Dika!” Ucap Cindy sekali lagi.
“Gue gak mimpi kan? Apa ini ilusi?” Ujar Dika gak percaya.
Tanpa komando Cindy mengecup bibir Dika. Dika semakin terpaku. Karena Dika belum sadar-sadar juga, dicubitnya lengan Dika.
“Cindy,” Dika mulai tersadar. “Gue juga cinta sama lo!” Ucapnya kegirangan. Dika kembali memeluk Cindy lalu mengecup bibirnya.
Berapa lama waktu berjalan, tak ada yang peduli. Dan tak akan ada yang mengganggu mereka. Karena perpustakaan kosong. Apalagi didepan pintu tertulis –Dilarang masuk. Sampai jumpa hari senin.- by Erix CS.
# # #
TAMAT.