Dimas itu manusia, bukan patung, bukan pula robot, wajar ia kesal, lumrah ia marah, masuk akal kalau ia kecewa. Kekecewaan itu sudah lama ia pendam, bertumpuk-tumpuk, padahal berawal dari satu persoalan saja, tapi lama kelamaan, merembet ke yang lain-lain, tapi ujung pangkalnya satu: enam belas tahun mengecap bangku sekolahan, belum terhitung masuk taman kanak-kanak dan segala jenis kursus yang pernah diambil; Hasilnya, ZONK...!
Oleh keluarga dan teman-teman sepermainan telah genap sepuluh tahun Dimas dijuluki sebagai Pengacara(Bukan Pengganguran Banyak Acara, tapi, Pengganguran Tiada Acara, alias Ngejogrok di rumah-)