Lahir ke dunia adalah salah satu dari banyaknya peristiwa mutlak di dunia ini. Mendapatkan keluarga, teman, dan pasangan hidup pun membuat sebuah kelahiran bergerak seperti roda satu arah. Dan kehidupan, layaknya sebuah video yang terus diputar berulang kali dalam waktu yang lama. Tanpa jeda sebagaimana keluargaku hidup.
Keluarga yang harmonis dan selalu bercanda tawa bersama, tiada keluh kesah di dalamnya. Hidup rukun dan damai, bahagia, itulah kehidupanku yang berputar sehari-hari.
Memiliki sosok ayah yang pekerja keras dan selalu memberikan waktu luang ke keluarganya. Senyuman ketika pulang bekerja di malam hari, itulah yang membuatku senang melihatnya. Datang lalu mencium kening ibuku kemudian mengangkat badanku dengan mencium keningku juga. Ayah tak pernah mengeluh dengan pekerjaannya dan tak pernah terlihat lelah di depan keluarganya, itulah sosok ayahku yang selalu kusayangi.
Ibuku juga adalah sosok yang paling kucintai, ia selalu mengajariku tentang dunia ini. Bagaimana cara berbicara, berjalan, bersikap, dan banyak hal lagi. Aku yang masih berumur tujuh tahun pastilah memiliki banyak pengetahuan karenanya. Ibu memang sosok yang paling kucintai, karenanya juga aku selalu merasakan kasih sayangnya kepadaku melebihi dari siapapun.
Sungguh inilah kehidupan yang aku cintai, kebahagiaan dalam duniaku yang tiada bandingnya hingga awal balonpun menjadikan sebuah kenangan yang masih terukir. Kamu tahukan apa itu balon. Iya, balon adalah benda yang biasa diinginkan oleh anak-anak, sama sepertiku yang juga menginginkan balon saat pergi ke pasar malam.
Pasar malam yang penuh dengan keramaian dan keceriaan. Di sekeliling banyak orang yang saling menukarkan uang menjadi suatu barang dan makanan, ada juga yang menukarkannya menjadi sebuah hiburan.
Aku sendiri membuka malam keceriaan ini dengan meminta untuk membelikan balon kepada kedua orang tuaku. Dan, lantas saja Ayahku tersenyum dan menggendongku naik ke bahunya. Ia lalu berseru kepada Ibu. "Bu, Sasa mau balon. Ayo beli tiga, biar sama-sama punya balon, hehehe." Itulah Ayahku yang Ibu selalu mengatakan bahwa Ayah kekanakan, tetapi Ayah membalasnya hanya dengan senyum pepsodent.
Ayah bilang kalau balon ini adalah tanda keluarga kita yang bahagia dan selalu bersama. Mendengar kata Ayah, Ibu tersenyum dan mencium pipi ayah. ya, namanya juga orang tuaku ini masih muda, romantisnya minta ampun. Aku sendiri kadang cemburu melihatnya dan ingin ikut ke keromantisan Ayah dan ibu.
Tapi rasa itu semua menjadi hilang, kecemburuanku langsung hilang saat aku dibawa pergi ke tempat yang seperti surga di mataku. Itu adalah tempat yang paling dinantikan oleh anak-anak seumuranku, tempat yang seperti festival dan karnaval dimana wahana permainan anak-anak ada di mana-mana.
Di temani dengan kedua orang tuaku aku menaiki semua wahana permainan ini dan jatuh pada akhirnya ke sebuah gondola atau kerapnya komidi putar saat kami akan pulang.
Dengan menaiki komidi putar itu, aku dapat melihat indahnya langit malam yang dihamburi oleh bintang yang bersinar dan luasnya pasar malam yang kulihat dari ketinggian. Pandanganku yang jatuh ke bawah ternyata lebih luas dan jauh, ini adalah kali pertamaku melihat pemandangan indah nan permai seperti ini. Dan, ini pula yang menjadi awal dari perginya salah satu balon yang hilang menyusuri langit.
Sebuah telepon yang berbunyi tepat saat komidi putar berada di ketinggian yang paling atas. Telepon itu berasal dari ayahku, ayah melihat telepon tersebut lalu mengangkatnya. Aku yang berada di pangkuan ayah lantas menurunkanku karena ia ingin berdiri sambil menelepon.
Aku yang di turunkan lantas kepinggir ingin melihat pasar malam yang berada di bawahku, ibuku yang berada di sampingku menemaniku duduk melihat ke bawah.
Di saat aku dan ibu mulai menikmati pemandangan manusia yang terlihat kecil, ayah berteriak "apa" dengan suara yang cukup lantang dan terkejut. Itu membuat kami ikut terkejut memegang dada.
Ayah yang sadar akan suaranya, lantas langsung mematikan telponnya dan langsung duduk di samping ibu dan aku sembari meminta maaf memegang tangan ibu. Ibu juga bertanya kepada ayah, tapi ayah hanya bilang tidak ada apa-apa.
***
Esok yang telah menantipun tiba, pagi sekali entah apa Ayah tidak pergi bekerja, sepertinya ia meminta izin seperti biasa untuk pergi ke rumah sakit bersama ibu. Aku sendiri pergi ke sekolah. Sekaligus pergi ke rumah sakit, ayah mengantarku dengan mengendarai motor matic kesayangannya, dengan ibu di belakang dan aku di depan.
Aku tak pernah mengetahui untuk apa ayah dan ibu pergi ke rumah sakit. Kerap kali ketika aku menanyakannya, ayah dan ibu hanya menjawab pergi untuk berperiksa lanjutnya aku tidak menanyakannya lebih. Dan inilah hari dimana inti dari balonku yang terbang kemarin, ayah dan ibu masih belum pulang ke rumah sakit.
Pulang dari sekolah, sampai di rumah, aku mulai panik. Biasanya ayah dan ibu sudah berada di rumah, tetapi ini sudah petang, ayah dan ibu tidak kunjung pulang. Dengan kegelisahan aku mulai mencari telepon rumah mencoba mengingat nomor telpon ayah dan meneleponnya. Namun, alhasil semua nihil tidak ada yang tersambung.
Air mataku mulai menetes, aku takut mereka tak kunjung pulang hari ini. Di saat aku menuju pintu keluar rumah dengan air mata yang terus menetes kecil di pipiku, aku dikejutkan oleh ayahku yang baru saja pulang. Terlihat di depan rumah, ayahku mulai datang kemari dengan motornya yang di simpan di luar pekarangan.
Air mataku mulai berhenti, tapi tiba-tiba mengalir lagi secara spontan karena melihat ayah yang menangis terisak-isak. Kulihat ke belakang ayah, ibu tidak ada. Kubertanya, "Ayah, dimana ibu?".
Ayah menjawab, "maafkan ayah Sa, maafkan ayah, ibu meninggal." Air mata ayah terus mengalir sambil memelukku erat.
Hatiku yang masih belum siap menerimanya, langsung memeluk erat ayahku, rasa sedih yang begitu tak tertahankan, rasa perih yang sangat mendalam. Ini terlalu tiba-tiba aku terus menangis sambil mengatakan "ibu dimana?".
Sejak awal seharusnya aku mengetahui, ibu sering memegang dadanya dan napasnya terlihat berat. Seharusnya aku tahu bahwa ibu sedang sakit. Tapi apa daya aku hanya seorang gadis kecil yang belum memikirkan itu terlalu jauh.
Terlepas dari kejadian ini, hari berlalu dengan cepatnya, ibu sudah dimakamkan. Sisa dua balon yang masih ada tapi perlahan entah mengapa semakin mengempis.
Sebenarnya setelah pemakaman ibu, ayah terlihat begitu keras bekerja daripada yang sebelumnya. Kami juga mulai pindah ke rumah yang lebih dari yang di bilang sederhana. Ayah sekarang pulang petang dengan pakaian yang berbeda dan keringat yang bercucuran.
Sudah setahun. Semakin hari, semakin parah. Kali ini aku tak akan bisa makan tiga kali sehari, sekarang aku hanya bisa makan sehari sekali. Ayah sudah sangat jarang tersenyum, walau ia tersenyum tapi hanya senyum kaku yang dipaksakan yang terlihat.
Hingga pada akhirnya aku mempertanyakan soal pekerjaannya. Ayah terlihat marah ketika aku mempertanyakan itu, dan akhirnya ia tetap mengatakannya yang ternyata ayah sudah ke sana kemari tak mendapatkan pekerjaan. Pekerjaannya yang dulu telah hancur karena di fitnah oleh rekan kerjanya hingga membuat namanya ikut hancur. Sungguh aku merasa bersalah menanyakan ini.
Kedua balon semakin mengempis dan pada akhirnya terbengkalai. Ayah telah terjerumus ke hal yang tidak seharusnya ia lakukan, sebuah pekerjaan yang kotor dan mendapatkan dosa besar. Ayah mulai berjudi dengan uang pinjaman, meminum-minuman dari arak pohon kelapa.
Aku yang bersekolah mulai di ejek oleh teman-temanku, aku dibully sebab perkara ayahku. Jadi aku harus mengalami putus sekolah di usia 12 tahun. Mungurus ayah yang sudah semakin tidak kukenal dengan ayahku dulu.
Hari-hari kelamku mulai berputar seperti roda, menderita kelaparan, sendiri, bahkan keluar mengasongpun aku tak akan bisa melakukannya. Diriku yang dulu sangat dimanjakan, sekarang harus berjuang keras sendiri. Tak ada yang mengurusku bahkan ayahku terus menghiraukanku. Penderitaan dari perutku mulai bergojolak dan pada akhirnya aku hanya bisa mati kelaparan.
Ini semua hanyalah ceritaku saat aku tinggal di muka bumi. Balonku sudah ikut menghilang dan nyatanya balon ayahku juga menghilang dengan mengenaskan.