Kau dan aku, telah bersumpah dalam suka dan duka. Tapi aku tak percaya kau telah mengkhianati ku. Membuat ku terjatuh kedalam lubang yang begitu gelap dan dalam.
Pengkhianatan yang kau berikan, membuat hidupku hancur saat itu juga. Melihatmu memeluk wanita lain dan mengecup keningnya dengan penuh kasih. Rasa cemburu di dalam diriku, meronta-ronta mengharapkan apa yang aku lihat sekarang adalah mimpi.
“Tega nya kau melakukan ini padaku,” kataku. Tanpa sadar air mata ini menetes. Merasakan dingin nya tatapan mu kepadaku. Tatapan hangat yang dahulu, kini sudah hilang, berubah dingin seakan sekarang ini aku tengah bersama orang asing.
“Maaf ... aku tidak bisa bohong, aku memang menjalin hubungan dengan nya. Tapi sesungguh nya, aku juga masih mencintaimu, aku tidak menginginkan perceraian dalam pernikahan kita.”
Deg!
Seperti sebuah pisau belati yang kau tusukan ke jantungku. Kata-kata mu itu sangat-sangat menyakiti hatiku. Bagaimana bisa suami yang dulu sangat mencintaiku, kini dengan jujurnya mengatakan bahwa sudah menjalin kasih dengan orang lain.
“Menjijikan!” Tanpa aku sadari kata makian itu keluar dari mulutku. Aku sudah tidak tahan lagi, mau sampai kapan kau terus membohongiku.
“Aku tidak mau bercerai, tolong ingat anak kita. Dia pasti tidak menginginkan perceraian diantara orang tuanya...”
“Jangan bodoh! Tidak ada juga seorang anak yang rela ibunya di khianati oleh ayahnya sendiri."
Aku sudah tidak sanggup. Dari awal menikah ini adalah kali pertama nya aku membentak mu. Seharusnya kau sadar akan hal itu. Bahwa aku sudah muak dan tidak ingin mempertahankan rumah tangga yang bagaikan neraka ini.
“Aku akan membawa Salsa bersama ku, sebaiknya cepat kau urus perceraian kita. Aku tidak mau tetap tinggal, dengan lelaki bajingan seperti mu.”
Aku pergi, membawa harta ku yang paling berharga dari kekayaan didunia ini, yaitu anak ku. Semoga kelak kau akan mendapatkan hidayah atas perbuatan mu.
Ingatlah tidak akan ada wanita yang baik dan lemah lembut, jika suaminya tidak mencerminkan kelembutan juga. Suami adalah cerminan bagi istri. Mungkin ada istri yang bisa terus bersabar dengan suaminya yang terus-menerus berkhianat.
Tapi, kesabaran itu ada batasnya. Suatu hari nanti, kebodohan nya yang terus bersabar dengan pengkhianatan suami, akan terkikis sedikit demi sedikit. Dan menumpuk menjadi luapan amarah yang tertahan selama menjalani pernikahan bak neraka, karena sebuah perselingkuhan.
TAMAT.