Dalam seminggu ini saja, ini sudah kali yang ketiga, di antara tumpukan sampah yang menggunung, dengan kening yang berlubang, sesosok tubuh ditemukan tidak bernyawa; Jelas, sebuah anak peluru telah menembus dan bersarang di situ.
Semua korban memiliki kemiripan yang sama: berambut gondrong, bertato, dan berbadan besar; Kena tembak pada tempat yang sama, persis di kening; Diperlakukan dengan cara yang sama pula, dibuang di gunungan sampah!
Sampah Masyarakat, begitulah orang-orang menjuluki para korban, dan tak satu pun dari mereka yang berempati atau bersimpati, meski tidak tertawa terbahak-bahak, seulas senyum tersirat di ujung bibir mereka, bisa jadi itu senyum kepuasaan, atau seolah-olah hendak menyatakan rasa syukur yang teramat sangat kepada si pelaku, siapa pun dia.
"Besok pasti giliran si Jarwo," salah seorang dari mereka mengucapkan satu nama seraya mendengus seperti seekor kerbau. Yang mendengar menimpali dengan anggukan kepala, ada juga yang berucap: mudah-mudahan disegerakan ya.
Jarwo? Siapa Jarwo?
Dulunya ia seorang bangsat kecil, cuma preman kelas teri, kelas kampung, tapi sebelum jadi seorang preman kampung, Jarwo itu dikenal sebagai seorang anak langgar. Tak sekali pun hari-harinya dihabiskan dengan cara-cara yang tidak berfaedah, selain membaca kitab, ia kerap rajin membersihkan lingkungan langgar. Bukan cuma langgar yang ia bersihkan, bahkan sampai ke lingkungan sekitar, jalan dan selokan yang mengitari rumah-rumah penduduk tak pernah luput dari pandangan mata dan tangannya, selalu bersih, rapi, dan terawat.
Lalu bagaimana ceritanya seorang Jarwo menjelma menjadi bangsat kecil? Hari itu, di siang terik, ketika dimana Jarwo remaja sedang asyik-asyiknya membaca buku roman Siti Nurbaya karya dari seorang penulis kawakan negeri ini, Marah Rusli, yang ia pinjam dari petugas perpustakaan keliling, setelah lelah bekerja membersihkan sampah di sekitaran Kali Ciliwung yang mengitari kampungnya dan menanam satu dua pepohonan buah, di pos jaga warga di samping kali yang bersih dan terawat itu, seorang datang menghampiri. Sebentar tegur sapa terjadi diantara mereka, sampai pada satu momen dimana seseorang itu sambil mengacungkan telunjuk ke dadanya, yang tujuannya hendak mengancam Jarwo, dengan menggunakan kata-kata yang berbentuk penekanan, yang niatnya membuat ciut nyali Jarwo. Tapi, bukannya gentar, yang ada Jarwo malah tersenyum seadanya, tapi oleh si penggertak senyuman itu diartikan lain, dia pun amuk, dengan intonasi suara yang menggelegar diamuk Jarwo dengan umpatan dan makin, mendengar hal tersebut dari rumah-rumah penduduk yang berjejalan di sisi kiri kali datang orang-orang sekampung, buru-buru keluar mengerubung Jarwo dan tamu tak diundang tersebut.
Salahsatu warga memperkenalkan diri sebagai ketua rukun tetangga di kampung itu, sambil menjulurkan tangan, niatnya bersopan-sopan, tapi oleh si tamu tak diundang, tangan itu ditepis kasar. Karuan warga serempak ribut, begitupun Jarwo bangkit berdiri mendorong dada si tamu tak diundang, kencang, hingga terdorong jatuh.
Amuk, si tamu tak diundang bangkit berdiri, seraya mengancam, mengeluarkan sesuatu dari balik pinggangnya, orang-orang sekampung buru-buru serempak mundur, ketakutan mereka. Sesuatu dari balik pinggang itu dituding-tudingkan ke muka Jarwo.
Tak seperti orang-orang sekampung yang memilih mundur, Jarwo, malah menepis sesuatu yang berasal dari balik pinggang tersebut, sambil cengar-cengir.
Tak urung si tamu tak diundang makin panas hati, sesuatu yang berasal dari balik pinggang itu ia arahkan ke langit, kemudian telunjuknya digerakkan, terdengar suara letusan, tiga kali. Setengah dari orang-orang sekampung memilih balik ke rumah masing-masing, terutama mereka yang berjenis kelamin perempuan dan anak-anak tentunya, yang ditarik paksa oleh orangtuanya.
Sesuatu yang berasal dari balik pinggang, yang tak lain adalah pistol itu, kembali diarahkan ke muka Jarwo. Dengan bibir bergetar orang yang mengaku sebagai sebagai ketua RT di situ mencoba untuk menenangkan si tamu tak diundang. Bukannya tenang, si tamu tak diundang kian meradang, disebabkan oleh muncratan ludah dari si ketua RT ketika berbicara tadi. Tangan si tamu tak diundang, yang memegang pistol, melayang menghajar muka si ketua RT. Tamparan pistol itu melukai pelipis kiri si ketua RT, darah segar mengucur keluar.
Jarwo bereaksi, pistol tersebut ia rebut, dengan lebih dulu menyarangkan pukulan ke lambung dan muka si tamu tak diundang, tiga kali di lambung, dua kali di muka. Pistol lepas dari cengkeraman tangan, jatuh ke tanah, si tamu tak diundang kaget sekaligus marah, terlebih ia dibuat terjungkal jatuh, ia hendak meraih pistol tersebut, tapi Jarwo keburu menendang pistol itu, menjauh dari si tamu tak diundang, bukan cuma pistol yang ditendang, pemilik pistol itu pun terkena hal yang sama, kena tendang di bagian perut, dua kali.
Jarwo menunggu si tamu tak diundang untuk bangkit berdiri, bersiap-siap dengan kuda-kudanya. Si tamu tak diundang bangkit, tangan yang terkepal ia julurkan, mengarah ke muka Jarwo. Jarwo menangkis. Si tamu tak diundang melayangkan sebelah tangan yang lain, di tangkis lagi. Giliran Jarwo yang beraksi, kakinya diangkat dan julurkan, menghantam ke bagian pinggang. Si tamu tak diundang membalas dengan cara yang hampir sama, lagi-lagi kena tangkis. Yang lebih parahnya, Jarwo malah menyarangkan pukulan tepat ke muka ke lambung, disusul dengan pukulan upercut yang menghajar bagian dagu, yang karuan membuat gigi bagian atas dan bawah milik si tamu tak diundang saling beradu, pun si tamu tak terangkat sekian senti, kemudian terhempas jatuh, alias TKO!
***
TKO yang berbuntut panjang. Setelah siuman dan ditolong oleh ketua RT dibawa dan dirawat inap di rumah sakit selama seminggu; Setelah mendapatkan laporan dari korban, tak lama berselang datang segerombolan petugas, hanya untuk menjemput seorang Jarwo yang sudah menunggu di kediaman ketua RT. Jarwo pun diangkut tanpa perlawanan! Tak bisa dipungkiri, selama perjalanan ke kantor satu dua bogem mentah melayang juga ke muka Jarwo.
Jarwo divonis, lima tahun penjara. Dengan tuduhan penganiayaan, terlebih perbuatan tersebut dilakukan terhadap seseorang yang sedang menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai seorang penjaga, pengabdi, dan pengayom masyarakat, pasal tuduhan terhadapnya pun ditambahkan, dengan maksud menghalangi-halangi.
Dua hari dalam penjara, Jarwo menjelma menjadi sosok yang disegani. Bagaimana tidak, sekonyong-konyong berhasil meng-KO-kan seorang petugas yang dikenal sebagai algojonya para petugas. Dan dari hari ke hari Jarwo bukan cuma disegani, tapi juga menjelma menjadi sosok yang ditakuti, gimana ceritanya? Sekian orang yang penasaran dengan kemampuan Kanuragannya menantang untuk bertanding. Awalnya Jarwo menolak, namun, kala dijanjikan uang hadiah yang cukup besar, mau tak mau Jarwo mengiyakan juga. Siapa bilang hidup di penjara itu gratis!? Cuma berak, makan, dan tidur?! Jadi, tak heran kalau Jarwo menerima ajakan bertanding tersebut, dan menganggap itu sebagai sesuatu hal yang wajar saja. Selalu menang dan menang, pantas dia jadi sosok yang ditakuti, sekelompok orang yang dekat dengannya pun karuan mengkultuskan, dan meminta upeti kepada semua orang yang ada di dalam penjara.
Sekeluarnya dari penjara tentulah Jarwo punya nama. Dan dari situ ia kian menjelma menjadi seorang bangsat kecil. Bangsat kecil yang disegani dan ditakuti.
Banyak orang yang menginginkan Jarwo punah dari muka bumi ini, itu sudah pasti! Tapi Jarwo tetaplah Jarwo dengan kepala tegak ia siap melawan teror itu.
"Lagian aku sudah bosan hidup ini," Jarwo cengar-cengir, kala mendengar selentingan yang sebenarnya jamak terdengar akhir-akhir ini, kalau ia menjadi target penembakan selanjutnya.