Sendirian dirumah dengan tiga orang pria tak diundang serasa berat untukku. Ayah bilang tidak apa dengan mereka, karena Ayah kenal dengan mereka yang merupakan anak dari sahabat ayahnya Ayah (anaknya sahabat Kakek).
Ayah mengatakan kalau aku pernah bertemu dengan mereka, tapi mungkin karena umurku yang waktu itu masih tiga tahun membuat ingatanku samar akan mereka.
Saat mereka datang, semua berjalan normal. Tak berapa lama kemudian Ayah berkata akan pergi untuk membeli camilan untuk para tamu. Aku tak masalah dengan itu, tapi rasanya aku tak bisa tenang bila ditinggal sendiri dengan tiga tamu yang keseluruhannya pria, dan mungkin... Usia mereka berada dikepala tiga.
Ayah pun pergi sedangkan aku langsung beranjak menuju kamarku tanpa mempedulikan mereka para tamu. Saat aku duduk dikursi belajar, salah satu dari mereka menghampiri jendela berjeruji besi yang terhubung langsung dengan kamarku.
"Lagi belajar ya?" Tanyanya membuatku terkejut karena posisi kursi dudukku bersebelahan tepat dengan jendela.
"Iya" jawabku spontan.
Tiba-tiba pria itu menyelipkan tangannya dan menyentuh pipiku. Tentunya itu membuatku terperanggah hingga terjatuh dari kursi. Tatapan kami bertemu, dia tersenyum melihatku tapi berbeda denganku yang merasa tertekan akan senyumannya.
'Hati-hati' Kata itu terlintas ditelingaku, terdengar samar, membuat jantungku berdegup kencang, menakutkan.
"Kamu tumbuh dengan baik dan cantik" Ucapnya setelah aku berdiri.
"Manis dan lembut" lanjutnya.
"Hey, jangan begitu, nanti dia bisa ketakutan" kata seorang lagi ikut mampir dijendela bersamaan dengan pintu kamarku yang dibuka oleh pria yang lainnya.
Aku sangat ketakutan sampai tak tahu harus bagaimana. Pria yang membuka pintu kamar menarikku keluar dan langsung mendudukkanku dipangkuannya disofa ruang tamu.
Tubuhku seketika kaku bersamaan dengan mereka yang mulai menyentuh rambut dan wajahku. Pria pertama yang berbicara dari jendela perlahan menyentuh wajahku, pria kedua mengusap dan memainkan rambutku, sedangkan pria terakhir terus memeluk pinggangku sembari menaruh dagunya dibahuku.
"Rileks, santai saja" bisik pria yang memangkuku. Aku mulai ingin menangis dan berharap Ayah cepat datang atau ada orang lain yang mungkin nantinya bisa membantuku.
'Biar aku membantumu' bisik seseorang dengan lirih, sama persis dengan suara samar yang pertama aku dengar.
'Tidak apa, biarkan aku membantumu' bisiknya lagi.
Pikiranku menjadi lepas. Kurasakan tubuhku tiba-tiba meronta sembari mengayunkan pukulan kearah pria-pria itu. Terdengar lirih mereka berencana menahanku. Tapi tanpa bisa aku kendalikan, tanganku meraih sebuah kursi disebelah sofa dan menghantamkannya kearah mereka.
Aku mulai tak bisa merasakan tubuhku, aku hanya melihat bagai menonton film action. Satu persatu pria itu ku baku hantam, bahkan salah satu dari meraka sampai ada yang tersobek telinganya.
Saat aku mulai menikmati setiap pukulan yang aku ayunkan, Ayah tiba dirumah bersama dengan seorang polisi dan dua polwan. Aku tak bisa berfikir kenapa Ayah bisa datang bersama para polisi. Hanya ada rasa kesal kenapa mereka datang disaat aku mulai bersenang-senang.
Dengan panik dan raut wajah tidak percaya, Ayah menghentikan apa yang aku lakukan. Ayah memisahkanku dari pria-pria itu dengan paksa, sedangkan para polisi mengamankan para pria yang sudah berlumuran darah.
"JANGAN SENTUH AKU!" bentakku keras, tapi aku merasa bukan aku yang mengatakannya.
"Aina, tenang nak... Ini bukan kamu" kata Ayah mencoba membuatku tenang.
"DIAM! Jangan mendekat!" Bentakku lagi. Sekali lagi aku merasa bukan itu yang ingin aku ucapkan, yang aku inginkan adalah memeluk Ayah. Tapi tubuhku menolak melakukannya, dan kenyataannya aku seperti dikendalikan oleh orang lain.
"Tenang Dik, tenang... Atur nafasmu... Ya... Tenang, kami ada dipihakmu, kami datang untuk menolongmu" kata seorang polwan perlahan mendekatiku.
Aku mulai tenang, tubuhku perlahan kembali dapat aku rasakan. Berat dan lelah, rasanya aku ingin jatuh tapi dengan cepat polwan itu memegangiku. Saat itulah aku tak bisa mengingat apapun lagi selain kata 'maaf' yang terdengar samar, dan ketika aku bangun, aku sudah terbaring diranjang rumah sakit rehabilitasi mental dan emosional polres setempat.
Setelah kejadian itu, aku selalu takut dan gemetar bila berdekatan dengan lelaki, bahkan bila berbicara dengan Ayah pun aku selalu menjaga jarak aman. Dan untuk bisikan itu, hasil diagnosa dari proses rehabilitasi yang aku jalani adalah...
Lepas kendali karena tekanan emosional.