"Rani, tolong antar Ibu berobat ke akupuntur Losari nanti siang" ucap Ibu meminta tolong kepada Rani, untuk mengantarkan Ibu berobat ke seorang tabib pengobatan herbal.
"Baik, Bu! tapi tunggu sebentar, saya mau sarapan dulu. Apakah Ibu sudah sarapan?" sahut Rani yang masih duduk di depan meja makan, sembari menyendok nasi dan menuangkannya ke dalam piring yang sudah Ibu sediakan.
"Ya, lanjutkan dulu makannya! Ibu sabar menunggu sampai kamu selesai makan." seru Ibu berjalan menuju ruang tamu mengambil sapu.
"Terimakasih, Bu!" jawab Rani, lanjut menghabiskan sarapannya.
Ibu berjalan masuk ke ruang tengah dan membersihkan lantai rumahnya yang terlihat masih ada debu.
Setelah beberapa menit Rani sudah selesai sarapan, dia segera menuntun sepeda motornya keluar dari garasi dan memanggil Ibu dengan dengan suara lemah lembut.
"Bu, Ibu! ayo kita berangkat!" ucap Rani memanggil Ibu yang masih sibuk menyapu lantai.
"Ayo, sebentar Ibu mau ambil tas dulu" sahut Ibu segera mengambil tasnya yang hendak dibawa pergi.
"Pih, saya mau ngantar Ibu dulu ya, ke pengobatan herbal akupuntur" kata Rani meminta ijin kepada Suaminya.
"Ya, silahkan! hati-hati di jalan Mih!" balas Roni mengijinkan istrinya pergi dengan Ibunya.
Dalam perjalanan menuju rumah tabib, Rani selalu terbayang dengan siomay yang pedas. Tidak mengapa rasa itu begitu menggebu, sampai-sampai Rani mengejar-ngejar penjual siomay yang hendak melewati lorong jalan kecil di suatu desa.
"Om, om, berhenti! saya mau beli siomay" teriak Rani mengejar penjual siomay yang ternyata hendak pulang.
"Iya, Mba! saya segera turun!" sahut penjual siomay yang masih duduk di atas jok sepeda motornya.
Setelah siomay sudah Rani dapatkan, Rani melanjutkan perjalanannya ke Losari bersama Ibu.
Selama satu jam, Ibu melakukan pengobatan herbal akupuntur. Pengobatan pun telah selesai dan mereka segera pulang, dalam perjalanan pulang Rani masih saja terbayang dengan siomay yang pedas rasanya. Rani tidak mengetahui tanda-tanda itu adalah dikarenakan dia sedang nyidam yaitu sebenarnya dia sedang hamil muda. Namun dia dan suami belum mengetahui hal bahagia ini, karena Rani belum mempriksakan dirinya ke dokter kandungan.
Sesampainya di rumah, Rani merasa mual dan ingin muntah. Kepalanya pusing dan penginnya macem-macem, dia teringat jika dia belum datang bulan selama dua bulan.
Akhirnya dia membeli tespek di apotek dekat dengan rumahnya, segera dia tes urin dan menunggu hasilnya beberapa menit untuk mengetahui hasil tesnya.
Rani sangat terkejut setelah melihat hasil tes urinnya yang ternyata muncul dua garis merah pada alat tes kehamilan yang telah dia beli di apotek barusan.
"Ibu, Ibu! sini Bu, saya punya kabar bahagia!" Teriak Rani kegirangan sangkin bahagianya, Rani sampai memeluk dan mencium kaki Ibunya. Rani segera mencuci kaki Ibu dan meminum air bekas mencuci kaki Ibunya dan selebihnya air tersebut buat mandi Rani di sore hari.
Ibu pun ikut bahagia mendengar kabar dari Rani yang menyatakan bahwa Rani sedang hamil muda.
Rani segera menelpon suaminya yang masih kerja, dia memberitahu kepada suaminya bahwa ada kabar gembira untuk rumah tangga mereka, yaitu kehamilan anak pertama mereka.
Suami Rani pun segera pulang untuk memastikan kehamilan istrinya ke dokter.
Sesampainya Roni di rumah, dia langsung mengajak Rani pergi ke dokter kandungan untuk mengecek kandungan Rani. Dokter berkata bahwa Rani sudah hamil dan kehamilannya berusia enam bulan.
Rani dan Roni nampak bahagia untuk menyambut kehadiran buat hatinya.