- Plot : You lived in a world where monkeys rule and you are the only human to ever existed. (Kamu hidup di dunia dimana monyet memerintah dan kamu adalah satu-satunya manusia yang pernah ada.)
Apa yang kamu rasakan jika hewan berdiri diatasmu?
Pangkat tinggi yang biasanya selalu dikuasai oleh manusia dengan jas hitam, sekarang berada di tangan para monyet.
Ketika kamu menari tepat dibawah kaki mereka, apakah kamu akan merasa malu?
Dan ketika mereka melihatmu dengan tatapan merendahkan, apakah kamu akan kehilangan harga dirimu?
Inilah ceritaku, dan sebuah tragedi yang akan memutarbalikkan otakmu.
Cermin selalu menjadi temanku. Karena, hanya aku dan cermin-lah yang memiliki paras persis. Di dunia yang menjadi panggungku untuk menari, semuanya telah diambil alih oleh monyet-monyet yang seharusnya berada di bawah kakiku. Aku tidak ingin mengakuinya, namun banyak dari kaum monyet yang lebih pintar dariku.
Sehingga aku, selamanya tidak akan pernah bisa menari di panggung yang lebih tinggi dari ini.
"Nona Alter, panggung untuk anda sudah sepenuhnya selesai. Mohon untuk bersiap, karena 5 menit lagi acara akan dimulai." Ucap seorang monyet wanita. Ia adalah managerku, yang tidak kupedulikan namanya walau ia telah bekerja untukku selama 5 tahun lebih.
Aku, Alterize Hyacinth adalah sebuah ikon kecantikan dalam dunia ini. Katakan, aku adalah Aphrodite bagi mereka. Tentu saja, ada beberapa monyet yang kedudukannya lebih tinggi dariku. Namun saat menghadap pada kecantikanku, mereka tidak punya pilihan selain berlutut dan menjilat kakiku.
"Baiklah, aku sudah siap." Dan dengan kalimat itu, tirai panggung terbuka, menampilkan banyak monyet-monyet yang kedudukannya tidak lebih tinggi dariku. Setidaknya, dalam pandanganku.
"Selamat malam semuanya~!" Ceria, aku tersenyum secantik mungkin. Seraya menunjukkan, aku adalah Alterize-!
Sorak-sorai memenuhi ruangan dan telingaku. Aku sangat membencinya ketika mereka meneriakkan namaku.
Karena aku merasa jijik. Jangan sebut namaku, seorang dewi kecantikan dengan mulut kotormu itu.
Tentu saja, senyumku selalu merekah tanpa istirahat. Inilah yang harus kulakukan agar mereka terus berada dibawah kakiku.
Aku bernyanyi, menari, tertawa, dan membentuk imageku yang murni dan mudah untuk dicintai tepat didepan netra mereka. Lantai panggung dimana kakiku berpijak, aku kemudian melambaikan tanganku, lalu berbohong dengan menunjukkan ekspresi seolah-olah aku tidak ingin berpisah dengan mereka.
Bahkan setelah tirai tertutup sepenuhnya, mereka tidak berhentinya meneriakkan namaku, dan terus memanggilku sang dewi.
Terimakasih, tapi aku tidak ingin mendengarnya dari sampah seperti mereka. Namun, tetaplah memujiku, tetaplah bersorak-sorai setelah laguku habis dinyanyikan. Agar mereka tahu, di dunia ini, akulah yang seharusnya menjadi ratu. Agar mereka tidak lupa, bahwa harga diri mereka tidak pernah bisa lebih tinggi dariku.
Aku lelah, sekarang biarkan aku tertidur dikasur lembutku. Besok, aku akan kembali bernyanyi, dan para monyet akan kembali menyembahku.
Jangan pernah lupa, ukirlah namaku ditanganmu. Aku adalah Alterize Hyacinth, atau seorang Aphrodite di manikmu.
Namun dihadapan cermin yang sangat kucintai itu, tiba-tiba hawa dingin menusuk tubuhku, menembus kulit dan sampai pada tulangku.
Aku terbangun dari mimpi indah, dan mulai merasakan mimpi buruk.
Aku, Alterize Hyacinth, kehilangan ekspresi wajahku!!
Senyuman telah sepenuhnya hilang dari wajah cantikku. Aku mencoba menangis, marah, dan tertawa. Namun ekspresiku didepan kaca tetap sama, yaitu ekspresi datar dan tidak bernyawa. Aku sangat panik, darimana semua ini berasal? Apakah karena otot wajahku yang kaku? Atau apakah syaraf di wajahku yang bermasalah?
"Hadapilah."
Apa?
"Lihatlah kembali dirimu didepan kaca. Siapa yang kamu lihat?"
Suara itu menggema di pendengaranku. Aku menjadi sangat takut untuk melihat wajahku sendiri. Karena yang terlihat adalah, aku yang tidak berekspresi.
"Berputar dan lihatlah. Kamu akan terkejut. Sekarang, posisimu bisa menjadi lebih tinggi dari monyet-monyet yang kau benci itu."
...Aku sangat takut... aku tidak ingin melihat wajahku yang tanpa ekspresi-
"Aaaaaah!!!"
Tidak, tidak mungkin!!! Mengapa wajahku.. tubuhku menjadi persis seperti monyet sialan itu dikaca?! Tidak, jangan!!!
Kembalikan wajah porselen dan kulit cantikku!!!
"Nona Alter?! Ada apa?!" Seorang monyet dengan paras khawatir datang mendekatiku.
Jijik! Menjauhlah dariku! Mengapa... pantulan kami terlihat serupa di kaca??! Aku tidak sudi!!
"PERGILAH, MAKHLUK KOTOR!!!" Aku meraih kaca yang terletak di meja riasku, lalu membantingnya tepat diatas kepala sampah hidup itu. Matilah!! Menjauhlah dariku!!
...
..
.
Aku tersentak dalam tidurku, lalu kembali dalam realita secepat kilat.
"Selamat pagi." Seseorang dengan kopi ditangannya datang menyambut pagi hariku. Se..seorang??
Ada manusia selain diriku?!
"Aku telah menolongmu. Jika tidak percaya, bacalah koran hari ini." Ia kemudian melemparkan lembaran koran tebal dengan wajah manusia-ku yang menjadi sorotan di halaman pertama.
'Dewi kecantikan adalah seorang pembunuh??!' Kalimat itu tertulis diatas gambar wajahku.
Semakin mataku tenggelam dalam kalimat yang dirangkai oleh monyet-monyet itu, aku menyadari suatu hal. Semuanya asli, tidak akan ada mimpi indah dalam realita buruk ini.
"Oh, tentu saja ada." Ujarnya seakan-akan membaca pikiranku. Kalau memang ada, katakan apa yang harus kulakukan!
"Kirimlah 8 kepala monyet yang telah dipotong kepadaku. Melalui pos, atau apapun itu. Setiap satu kepala, akan kuberikan kamu satu ekspresi yang hilang darimu." Ujarnya dengan nada serius. Dia memang manusia, tapi apa dengan dia berpikir bahwa ia dari ras yang sama denganku, aku akan menuruti perkataannya begitu saja?!
"Tentu saja, pilihan untuk percaya padaku atau tidak berada di tanganmu. Namun ingatlah satu hal, kamu sudah kehilangan harga dirimu sejak lama, betul?" Kemudian orang itu terkekeh, keberadaanya hilang begitu saja didepan mataku.
Apa... yang baru saja ia katakan?? Aku? Kehilangan harga diri sejak lama? Apa dia bercanda?
Nampaknya manusia itu benar-benar meremehkan diriku. Dengan hoodie hitam yang menutup tubuh dan kepalaku, kali ini aku tidak akan berjalan dengan hak tinggi, namun dengan sebuah pisau dapur yang sedikit berkarat. Dimana kakiku menapak, disitulah arahku untuk mengembalikan ekspresi dan kecantikan wajahku kembali.
Menurutmu, mana yang lebih mudah untuk dibunuh? Seorang pengangguran atau anak kecil dengan permen digenggamannya? Yah, selama mereka itu monyet, aku tidak terlalu memperdulikannya.
"Uwaaah-! Kakak cantik-!!" Monyet kecil itu lompat-lompat kegirangan.
"Sssh. Jangan berisik ya, cantik-!. Nanti kakak akan pergi." Ucapku dengan suara yang dilapisi manisan. Aku telah meyakinkan monyet buruk rupa ini untuk mengikutiku ke sebuah istana, dimana segalanya adalah permen. Seperti cerita dongeng yang bodoh. Namun, monyet kecil itu menatapku dengan segudang harapan. Seakan akan ia sangat percaya atas bualanku.
Itulah mengapa, wajah takutnya terhias sangat jelas di dalam genggamanku. Kepalanya yang terciprat noda darah ini sangat menjijikan. Cukup sulit untuk memotong tulangnya menggunakan pisau yang kumiliki. Namun kini, hal yang kuinginkan sudah didepan mata. Yaitu, senyumanku. Ah, aku memang sangat cantik. Selain tersenyum, tidak ada lagi yang bisa ku ekspresikan. Namun ada berita baik, yaitu wajahku yang kembali normal, layaknya seorang Dewi kecantikan.
Aku sangat puas dengan pekerjaan ini. Korban kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, dan yang terakhir, sangat mudah untuk dimanipulasi. Ketika mereka mencoba berteriak, wajahnya akan kuhantam dengan pisauku. Ketika mereka mencoba berlari, kepalanya akan terhentak lebih dulu terhadap padatnya lantai. Anak kecil sangat rapuh dan mudah untuk digunakan. Oh, anak kecil? Maksudku, sampah. Panggil saja serangga, namun kata hama sepertinya lebih cocok.
"Hahaha-!" Tawaku renyah. Ekspresiku sudah kembali-! Tidak kusangka manusia ini sungguh jujur dengan ucapannya-
"Kotor."
Ya? Maksudmu monyet-monyet itu, kan?
"Tidak. Kamu yang menjijikan."
Hah?
"Kau anggap apa nyawa mereka? Alat? Sadarlah, bodoh. Selain penampilan, kamu tidak ada bedanya dengan mereka."
...
Kau? Menganggapku bodoh dan menyamakan derajatku dengan para hama itu? Jangan bercanda. Tidakkah kamu merasa terlalu puas dengan diri sendiri? Memangnya apa yang membedakanku denganmu?!
"Aku? Author. Kamu? Aktris yang pandai bernyanyi dan menggoyangkan pantat. Bermodalkan penampilanmu, apakah kamu sungguh berpikir para monyet akan menjilati kakimu?"
Konyol! Konyol sekali, author atau siapapun namamu itu. Tentu saja bukan?!! Mereka menjilati kakiku, karena aku memang ditakdirkan untuk berdiri diatas kepala mereka!!
Tiba-tiba, aku dihadapkan pada kaca yang mengelilingiku.
Sialan! Kembalikan wajah cantikku, Author sialan!!
Sialan, sialan, sialan!! Aku memecahkan semua kaca yang seolah olah menatapku semakin dalam. Kaca tersebut seakan-akan melihat jauh kedalam diriku, dan aku membencinya!! Diriku yang sebenarnya, bukanlah monyet berbulu yang buruk rupa seperti ini!!
"Alterize, yang kau lihat adalah kepribadianmu dalam pandanganku. Dan pertarunganmu yang sebenarnya, adalah untuk kembali memulihkan keadaan mentalmu."
"Bagaimana rasanya, ketika harapanmu diambil begitu saja? Aku akan melihat, bagaimana kau akan menari di dalam penjara kaca itu, dengan tali keputus-asaan yang mengikat kakimu."
Uuuuh. Aku lelah. Hentikan.
"Karena selama ini, yang nyata hanyalah kamu. Para monyet, adalah cerminan darimu."
...
Dan itulah, epilog dari kehidupanku yang penuh kepalsuan dan dusta belaka.