Jasmin: “Mak, dapat sayur bayam dari mana itu?”
Mamak: “Dari luar pagar yang di samping. Banyak tumbuh liar di situ!”
Jasmin: “Wah, asyik kali, Mak! Dapat sayur gratis, dan segar pula!”
Mamak: “Iya! Besok mamak rapikan tanah di situ, dan semai lagi agar bertumbuh lebih banyak.”
Jasmin: “Wah, kalau di luar pagar, akan diambil orang-orang, lah, Mak!”
Mamak: “Nggak apa-apa! Itu sedekah mamak!”
Jasmin: “Sedekah bagaimana? Mamak capek-capek menanam, menyemai dan merawatnya, eh, orang lain yang menikmati hasilnya?”
Mamak: “Tidak apa-apa, Jasmin! Ikhlas itu tidak ada sia-sianya. Allah yang membalas.”
(Setelah sekitar 1 bulan sayur bayam mamak telah siap dipanen, tapi mamak hanya sedikit mendapatkan hasilnya, karena sebagiannya telah dipetik entah siapa. Mungkin karena tanamannya bagus dan letaknya di luar pagar orang mengambilnya dengan gampang saja).
Jasmin: “Tuh, kan, Mak! Karena mamak tanam di luar, orang mengambilnya saja tanpa permisi. Coba lihat tanaman mamak yang di halaman, kan, tidak ada yang hilang?”
Mamak: “Tidak apa-apa, Jasmin! Kan, memang tujuannya itu?”
Jasmin: “Aduh, mamak... itu namanya sia-sia! Menanam, tapi tidak jelas hasilnya? Dan, yang mengambil itu namanya mencolong!”
Mamak: “Kok, mencolong? Kan, memang mamak sudah niatkan untuk sedekah?”
Jasmin: “Sedekah bagaimana? Kalau sedekah kita tahulah ke siapa kita sedekahkan barang kita. Ke orang yang berhak, Mak! Lah, ini, kalau tetangga-tetangga kita orang berada juga, kenapa kita harus bersedekah padanya?”
Mamak: “Hush! Jangan menuduh! Kita tidak tahu siapa yang menerima. Dan, itulah prinsip sedekah, ikhlas! Kita tidak perlu tahu siapa yang menerima. Semua karena Allah.”
(Setelah panen berikutnya, mamak juga menerima sedikit hasilnya. Begitu juga bulan berikutnya, tapi mamak tak berhenti terus menyemai tanamannya).
Suara di luar pagar: “Assalamualaikum, Bu!”
Mamak: “Waalaikumsalam! Eh, bu Rihana! Masuk, Bu!”
Bu Rihana: “Tidak usah, Bu! Ini saya mau kasih sedikit mangga dari pohon depan rumah yang baru panen buat ibu.”
Mamak: “Waduh, bagus sekali mangga ibu! Besar-besar, ranum dan wanginya...”
Bu Rihana: “Iya! Dan sekalian mau minta maaf, Bu! Kemarin saya panggil, tapi ibu sepertinya tidak ada. Saya mau minta ijin mengambil sayur bayam di samping rumah. Karena ibu tidak ada, jadi saya petik sendiri, sekarang baru minta ijinnya. Hehehe...”
Mamak: “Oh, nggak apa-apa, Bu! Memang itu sayuran boleh diambil siapa saja!”
Bu Rihana: “Oh, begitu! Terima kasih kalau begitu, Bu! Kapan-kapan saya ikut bantu jugalah, menyemainya!”
Mamak: “Silahkan, Bu! Dengan senang hati, sama-sama kita semai, ya!”
Bu Rihana: “Sip! Ini mangganya semoga Jasmin juga suka ya!”
Mamak: “Oh, pasti, Bu! Dia suka sekali mangga.”
(Jasmin yang dari ruang tamu mendengar, bergegas keluar).
Jasmin: “Makasih banyak, Tante! Aku senang sekali, Tante!”
(Tante Rihana pamit).
Jasmin: “Wah, sedap sekali mangganya, Mak! Besarnyaaa... Aku makan sekarang, ah!”
Mamak: “Lihat, Allah membalas sayuran bayam dengan mangga, kan?”
Jasmin: “Iya, juga, ya, Mak! Tante itu tadi memberi mangga sebagai balasan telah mengambil bayam mamak.”
Mamak: “Begitulah sedekah. Allah akan memberi balasannya, walau tanpa kita minta.”
Jasmin: “Tapi sedekah mamak aneh! Agak capek aku melihatnya.”
Mamak: “Justru mamak suka sedekah mamak yang jenis ini. Selain sedekah dalam bentuk barang, kita juga sedekah pada lingkungan.”
Jasmin: “Sedekah pada lingkungan? Sedekah apa pula itu?”
Mamak: “Sedekah yang bermanfaat bagi lingkungan kita. Membantu lingkungan alam tetap terjaga. Bersih, hijau, rapi dan menghasilkan, baik untuk manusia maupun untuk alam itu sendiri. Kau, bukannya katanya pencinta alam?”
Jasmin: “Hehehe...”
Mamak: “Mencintai alam tidak harus mendaki gunung saja, Jas! Peduli dengan lingkungan sekitarmu sendiri dengan mempercantiknya juga termasuk dari bagian mencintai alam!”
Jasmin: “Siap, Mak! Aku akan ikut sedekah lingkungan juga!”
Mamak: “Gitu, lah! Tapi ingat, jangan mengharapkan balasan manusia, ya! Semua karena Allah! Bukan karena mangga!”
Jasmin: “Owh!!”