Berdiri di dalam kegelapan membuatku menjadi sesak, sendirian, dan dingin selalu aku rasakan.
Dimana pun aku berada telingaku seperti berdengung sepi, walaupun aku berada di tempat yang sangat ramai dan berisik.
Tolong aku ...
Lelah berlari dan menghindar dari sebuah objek yang membuat aku terkurung dan terkunci.
Bisa tolong aku?
Berusaha membuat kunang-kunang itu tetap hidup dan bercahaya walaupun hujaman pisau sudah mengenai tubuhku saat melindungi kunang-kunang itu agar hidup.
Lelah untuk terus berlari.
Berlari menghindari kegelapan yang terus mengejar, menghantui pikiran dan diriku, mata merah yang selalu mengikuti kemana aku pergi.
Aku lelah ...
Terus berlari tanpa henti hingga napasku terengah-engah dan berhenti di depan sebuah jurang yang sangat curam dan dalam, berbalik dan melihat mata merah itu bersama kegelapan yang semakin mendekat membuat napasku tercekat.
Peluh keringat sudah membasahi tubuh, haruskah aku terjun dan mati atau ... Terus berlari ketika kaki ini sudah lumpuh?
Lagi dan lagi, yang aku dengar hanya dengungan sepi di sini hingga sebuah cahaya terang membuat mata merah dan bayangan hitam itu mundur bersamaan datangnya delapan merpati putih yang menghampiriku dan membuat suara yang membuat aku tenang dan tidak berdengung sepi.
Dan di sanalah aku bisa tersenyum lega ketika jiwaku naik bersamaan dengan delapan merpati putih itu menarik aku untuk terbang bersamanya, mengikuti cahaya yang membuat aku tenang dan damai.
Aku berakhir di sini.