Bertahun-tahun lalu, saat aku jatuh, seorang sahabat memberitahu aku sesuatu. Dia mengatakan, "Jika kamu yang jahat tahu memberikan yang baik untuk anak-anakmu, apalagi Tuhan. Dia yang Maha Pengasih akan memberikan yang terbaik untuk mereka yang meminta kepada-Nya. "
Logika yang sangat benar, meski sangat sulit dihayati saat sedang merasa jatuh. Yang bisa dijalani hanya menghadapi hari demi hari sembari mengisi dengan sesuatu yang berguna.
Terus bersabar, dan yakin bahwa pada saatnya Tuhan akan memberikan aku pengertian bahwa Dia tidak pernah membiarkan aku.
Hal ini terjadi padaku sekitar lima tahun yang lalu. Waktu itu aku berpacaran dengan pria yang menurutku sudah memenuhi segala macam kategori idealku. Namanya Mas Satria.
Dari segi fisik dia cakep, bertubuh bagus, sementara dari segi keimanan dia memeluk agama yang sama denganku.
Sifat-sifatnya baik. Dia karena lebih tua beberapa tahun dariku, selalu membimbingku. Dia dengan sabar melayani aku yang manja dan sering maunya sendiri.
Sementara dari segi ekonomi, dia sudah mapan. Usianya terhitung masih sangat muda, tapi dia sudah punya rumah sendiri.
Dia punya pekerjaan yang layak, dan masih pula mengembangkan usahanya. Ideal deh. Dia ini pasti diidamkan calon mertua manapun.
Jika membandingkannya dengan beberapa mantan pacarku, dan beberapa pria yang pernah mencoba mendekati aku, dia unggul. Dia sempurna.
Tetapi, kami akhirnya berpisah.
Suatu saat, dalam keadaan emosional aku memutuskannya. Aku melakukannya karena cemburu.
Aku curiga dia ada main dengan salah seorang kakak kelas yang juga teman dekatku.
Dia kaget mendengar permintaanku, tapi memaklumi keputusanku bahkan menyetujuinya sambil tersenyum.
Mungkin dia pikir kami memang tidak cocok dan tidak bisa memaksakan diri untuk melanjutkan hubungan ini.
Aku terlalu kekanak-kanakan untuknya, sedangkan dia terlalu sabar hingga tak bisa mendidikku.
Tidak lama kemudian aku merasa sangat menyesal. Aku meminta maaf dan memohon untuk kembali, tetapi dia menolak.
Aku beberapa kali meninggalkan harga diri dengan kembali merayunya untuk menjalani hubungan lagi denganku. Hasilnya sama, dia selalu menolak.
Setelah itu, kami tidak hanya terpisah secara status hubungan. Dia pindah tugas ke kota lain.
Sejak itu aku tak mendengar banyak tentang kabarnya. Bisa saja aku mencari tahu lewat beberapa teman, tapi aku tak melakukannya demi melindungi perasaanku.
Akhirnya aku putus asa. Kusadari, memang ini salahku dan aku memang tidak pantas bersamanya.
Dalam keadaan sedih dan putus asa, aku berdoa dengan harapan dia mau kembali. Namun dengan catatan, bukan atas permintaanku.
Aku terus dan terus berdoa, sambil memperhatikan apa yang terjadi padaku. Ternyata tak terjadi apa-apa, kecuali hatiku yang masih berdarah menginginkan dia.
Aku terus berdoa dan berdoa, bahkan dalam liburan ke Eropa sekalipun. Di mana saja, kapan saja, selalu berdoa. Tapi, sekeras apapun aku menangis dia tetap tidak akan kembali.
Tuhan seolah sudah memberi jawaban kepadaku bahwa memang kami bukan jodoh. Aku memahaminya meskipun hati masih bergeliat, aku ingin mendapatkan dia kembali.
Bahkan, sampai saat ini pun dia tidak pernah kembali. Tuhan tidak mengabulkan doaku. Aku sempat sangat sedih dan kecewa.
Aku berpikir keras, mengapa ya Tuhan tidak mengabulkan doaku?
Hatiku tambah hancur waktu aku merasa dia laki-laki yang terbaik dan penuh sesal aku memutuskannya dulu, bodoh sekali!
Apakah aku kelak bisa mendapatkan kekasih sebaik dia? Atau suatu saat dia kembali padaku? Jika tidak, bisakah setidaknya rasa sakit dan cinta ini hilang?
Waktu berlalu. Memang, menyembuhkan sakit di hati itu butuh cukup lama. Aku jatuh bangun menenangkan diri, menegarkan diri bahwa semua ini pasti berlalu. Walaupun, di saat itu aku tidak tahu apa manfaat dari semua ini untukku.
sekarang, semua berbeda. Aku bisa melihat bahwa saat itu Tuhan sesungguhnya telah menyelamatkan aku.
Aku seperti dibukakan matanya oleh Dia bahwa dia ternyata tidaklah sebaik yang aku kira. Aku tidak lagi menyesali perpisahan kami.
Pertama, kalau waktu itu aku masih jadi kekasihnya, aku pasti tidak sedewasa ini sekarang.
Kedua, aku masih berkutat dengan cara hidup yang jauh dari Tuhan.
Ketiga, aku pasti mengecewakan keluargaku karena telah hidup berantakan. Seperti cara dia menjalani hidup sekarang, yang menurutku merugikan banyak orang.
Terakhir kali aku mengetahui mantanku itu berkonflik dengan dua kekasihnya. Bahkan salah satunya minta pertanggungjawaban karena telah mengandung anaknya. Mantanku ternyata memiliki beberapa kekasih sekaligus.
Tak bisa kubayangkan jika sampai saat ini aku masih menjadi kekasihnya. Bisa-bisa diriku menjadi seperti salah seorang di antara mereka.
Bisa jadi aku yang mengiba-iba dan mengejar-ngejar tanggung jawabnya jika memang hal buruk itu menimpaku.
Aku jadi yakin pada nasihat seorang sahabat, "Tuhan pasti menjawab doa-doa kita, walau tak selalu seperti apa yang kita kehendaki. Dijawabnya doa kita seperti yang dikehendaki oleh-Nya, yaitu yang baik menurut-Nya. Tidak semua yang baik menurut kita adalah baik di mata Tuhan! "
Waktu itu sulit bagiku mencerna nasihatnya. Tetapi, jika merenungi perjalananku, aku jadi tersadar.
Ya, aku tak sengaja sering menyetir Tuhan dalam doa-doaku. Kuharap Dia mengabulkan yang aku kehendaki. Misalnya, aku bisa jadian dengan Mas Satria, lantas dia kembali lagi kepadaku, dan seterusnya.
Aku yakin banget kalau pilihanku benar. Aku bersikeras meminta Tuhan mengabulkan doaku.
Padahal, Tuhan tahu yang terbaik untukku, dan Dia tidak mengabulkan doaku. Mungkin Tuhan melihat betapa buruknya aku jika terus bersamanya.
Dulu aku sering menyetir Tuhan untuk mengabulkan doa A sampai Z. Bahkan begitu detail aku berdoa, hingga sekarang aku malu.
Aku merasa sok tahu hingga berdoa semacam itu.
Berpisah darinya membuat aku banyak belajar dan berubah. Aku belajar lagi memandang dan memahami Tuhan dengan berbeda. Aku mengubah isi doa.
Aku tidak lagi memohon dengan detail dari A sampai Z. Aku sering kali hanya mengadu, meskipun aku tahu Dia Maha Tahu.
Aku juga mohon petunjuk-Nya. Dan aku juga menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Biarlah yang terjadi menurut kehendak-Nya. Dengan begitu aku menjadi tidak gelisah dan khawatir lagi apabila Tuhan tidak mengabulkan keinginanku. Air mataku hanya mengalir kepada-Nya, karena hanya Dia yang mampu menghapusnya.
"Orang yang cerdas dan tawakal selalu menikmati semua yang ia alami, termasuk saat ia gagal menemukan cintanya, lalu bangkit setelah mengendapkan diri mencari tahu sumber kegagalannya dengan terus memohon petunjuk-Nya "
~TAMAT~
>Jangan lupa like and follow
>Insyaallah kalau banyak yang like bakalan buat
cerita lebih seru lagi deh... 😊😊