My Thriller Romance
Pernahkah kau bermain peran dengan pasanganmu? Berpura-pura menjadi orang lain atau menggunakan kostum unik yang berbeda dari keseharian biasamu. Mencoba berbagai konsep kencan pasangan yang mendebarkan. Mengunjungi tempat-tempat dengan tema yang jarang dijumpai.
Apa kau sudah mulai tertarik sekarang?
Hmm, bagaimana dengan suster dan pasien? Ruang serta putih yang sangat terang hingga menyilaukan mata. Sebuah ranjang besi untuk satu orang dengan roda di bawahnya. Seprai putih, selimut bergaris-garis, dinginnya stetoskop, hingga aroma desinfektan di udara.
Lalu polisi dan penjahat? Borgol di kedua tangan, peluit kecil, teralis besi, seragam coklat dan seragam hitam putih, serta sebuah papan bertuliskan namamu. Latar temaran dari sebuah lampu bohlam yang berpijar kuning.
Atau kau ingin mencoba diposisiku?
Aku duduk terikat di sebuah kursi kayu. Mata tertutup dan mulut tersumpal sesuatu. Tidak leluasa bergerak ataupun bicara, namun masih bisa jelas mendengar. Suara langkah kaki yang mendekat samar berhenti di hadapanku.
“Apa kau menyukai konsep kali ini?”
Tanya suara lelaki yang kutahu adalah pasanganku. Kami masih belum lama pacaran, baru sebulan, dan dialah yang mengajarkanku cara pacaran unik ini. Dia lantas membuka sumpalan di mulutku agar aku bisa berbicara.
“Apa ini? Konsep penculik dan korban dengan stockholm syndrome?” tebakku.
Kudengar dia tertawa ringan. Tangannya menggenggam lenganku. Bisa kurasakan kalau sekarang wajah kami saling berhadapan sangat dekat.
“Aku menamainya, psychopath dan si korban yang bodoh.” Katanya di telingaku.
Entah kenapa perkataannya terdengar tidak lucu. Aku merasa agak ngeri.
“Baiklah, sekarang lepaskan aku.” Pintaku yang merasa konsep ini sudah tidak menyenangkan lagi.
Dia kembali tertawa kecil. Berjalan sedikit menjauh dariku. Lalu kudengar suara denting besi yang mengganggu. Aku bergidik ngeri.
“Apa yang sedang kau lakukan?” kata-kataku nyaris bergetar.
“Melanjutkan kencannya,” jawabnya dingin seolah itu hal yang wajar untuk dilakukan.
“Ini tidak lucu lagi! Lepaskan aku sekarang! Aku tidak mau kencannya!” Teriakku sembari mencoba melepaskan diri dari ikatan di tubuhku. Tapi ikatannya terlalu kuat hingga bagian yang diikat terasa perih.
“Sssstttt.” Bisiknya pelan. “Ini kencan yang kunantikan. Kau harus menikmatinya sampai akhir.”
Aku mendengar suara gergaji mesin yang menyala beserta suara teriakanku yang menggema. Kemudian semuanya benar-benar menjadi sangat gelap dan sunyi. Kuakui kalau aku memang menyukai konsep pacaran yang mendebarkan. Namun jika tema yang diambil menjadi sangat nyata, itu malah menakutkan.
Sangat samar, aku mendengarnya berkata.
“Saatnya untuk mencari teman kencan yang baru.”
Lalu tubuhku terseret ke tempat lain. Bau anyir menyengat hidungku. Dapat kurasakan bahwa banyak sekali orang disini. Potongan-potongannya.
“Ucapkan salam pada teman-temanmu.” Ucapnya senang sebelum berjalan pergi meninggalkanku.
Jadi, bagaimana?
Apa kau mau menggantikan posisiku? Sebagai teman kencannya yang akan segera menjadi bekas teman kencannya. Pikirkanlah baik-baik, konsep apa yang kau suka.
Aku pasti akan menyambutmu disini bersama yang lain.
# # # #
Tamat.