Namanya Kevin.
Setahun yang lalu tepat pada hari ini kami bertemu ditengah keramaian stasiun ini.
Saat aku tengah terburu-buru kekantor karena takut bos-ku akan memarahiku habis-habisan.
Saat itu,
Kulihat seorang pria bertubuh tinggi, tegap menaiki kereta yang sering kutumpangi menuju tempat kerjaku ini.
Dia selalu mengenakan topi, jadi tak ada yang bisa kulihat selain hidung mancung dan bibir pucatnya.
Style-nya seperti anak kuliahan.
Rambut ikalnya juga selalu tersembunyi dibalik topi hitamnya.
Tapi dia pemuda yang baik.
Aku pasti selalu duduk tepat di kursi belakangnya.
Aku sengaja, agar aku dengan leluasa setiap hari memperhatikannya menolong orang lain.
Termasuk pagi ini,
Dia menolong seorang ibu hamil muda yang saat itu kehabisan tempat duduk karena padatnya penumpang.
Kulihat dia berdiri mengalah.
Sambil sesekali tersenyum ke arah ibu hamil muda itu.
Aku jatuh hati padanya sejak melihat kebaikan hatinya disetiap hariku.
Jaman sekarang, menemukan lelaki baik sama seperti mencari emas diantara lumpur, itu kata ibuku.
Kuarahkan pandanganku ke arah jendela.
Kuusap pelan kabut pagi yang menempel dijendela kereta.
Biarlah saat ini cukup mengetahui kebaikan hatinya, tanpa pernah tau bentuk mata dan alisnya.
Soal fisik itu nomor dua.
Namun sepertinya hari itu nasib sedikit berbaik hati padaku.
Seorang anak kecil menabrak tubuhnya.
Entah tertiup angin dari jendela atau apa, tiba-tiba saja topinya terjatuh.
Kali ini aku dapat melihat jelas wajah tampannya dan rambut ikalnya.
Kulihat alis tebal dan mata sipitnya.
Sekejap hatiku seperti melayang-layang ke langit kereta ini.
Aku tersenyum sendiri seperti orang gila.
Tapi kali ini dia melihat ke arahku yang sedang tersenyum bodoh ke arahnya.
Deg..
Astaga malu sekali rasanya.
Kututup wajahku dengan berpura-pura membaca buku novel kesukaanku.
Baju kerjaku mulai kusut karena tingkahku yang tak bisa diam.
Alhasil aku memberanikan diri melihat ke arahnya.
Syukurlah dia tidak disitu lagi.
"Mengintip seperti mata-mata haha" lelaki itu kini duduk tepat disamping kursiku.
Astaga kemana nenek yang duduk disamping kursiku barusan.
"Nenek itu sudah pindah tempat sejak wajahmu kau tutupi buku" ucapnya seperti menebak isi pikiranku.
"Kevin" ucapnya sambil mengulurkan tangan ke arahku.
Kubalas uluran tangannya dengan ragu.
"Citra" ucapku
"Kerja dimana?" Kali ini dia bertanya
"Ehm...pt.gramedia pustaka " ucapku pelan.
"Ouh penerbit buku" ucapnya.
Lima menit kami terdiam.
Aku kini justru tak mampu menanyakan hal-hal bersifat pribadi kepadanya seperti menanyakan apakah dia masih single?,
Sampai akhirnya kereta berhenti dipemberhentian stasiun berikutnya.
"Gue turun duluan, cantik" ucapnya pelan.
Aku tersenyum tersipu malu.
Sebenarnya aku sering dipuji cantik oleh teman sekawananku ditempat kerja.
Tapi bukankah lebih menyenangkan jika dipuji oleh orang yang kita sukai?
Kulihat perlahan tubuhnya menjauh menghilang dari pandanganku.
Hari itu aku tersenyum seharian selama ditempat kerjaku.
Bos-ku mendadak heran dengan tingkah bahagiaku yang berlebihan.
Tapi dia bilang itu lebih baik daripada seharian harus mendengkur sepanjang jam istirahat.
Hari itu seperti seisi dunia berpihak padaku.
06.30
Pagi ini aku sengaja datang cepat menuju stasiun ini sambil menunggu kedatangan Kevin.
Lima menit aku menunggu akhirnya aku lihat dari arah jauh tubuhnya berjalan ke arahku sambil merengkuh ranselnya.
Hatiku girang melihatnya.
Jika bukan karena bapak tua berkumis seperti Raden yang menatapku sinis ini mungkin aku sudah berloncat-locat aneh.
Kereta berhenti tepat dihadapannya.
Aku memasuki cepat kereta itu berharap bisa duduk ditempat kemarin.
Syukurlah tepat duduk ini belum ada yang menempati.
"Boleh duduk disini?" Kudengar suara berat seorang lelaki dari arah sebelahku.
Kulihat kevin tersenyum manis diiring mata sipitnya yang menggemaskan.
Aku mengangguk malu-malu menanggapinya.
"Kursinya dikasih ke ibu hamil yang itu lagi yah?" Tanyaku pelan.
Dia mengangguk meng-iya kan.
"Kenapa suka duduk dijendela?" Tanyanya.
"Gpp, suka aja liat pemandangan dari jendela" ucapku pelan.
"Emang yang disampingnya lagi bukan pemandangan?" Ujarnya.
Aku tertawa pelan lalu disusul oleh tawanya.
Aku tak percaya ini.
Aku fikir dia lelaki cuek.
Tapi nyatanya dia lelaki yang memiliki selera humor tinggi.
Kuarahkan pandanganku menuju wajahnya yang sedang tertawa.
Kulihat mata yang seperti bulan sabit itu kini semakin menghilang.
Aku menyukai tawa lelaki ini.
"Kuliah dimana dulu?" Tanyanya.
"Gak kuliah tapi langsung training, terus lamar kerja eh gak taunya keterima" ucapku sedikit curhat perihal masa silamku saat melamar kerja.
Dia mengangguk paham.
Kami berbincang banyak sepanjang perjalanan dikereta.
Aku menyukai wawasannya yang luas tentang dunia kerja, dia mahasiswa yang pandai dan cerdas.
Seminggu berlalu kami semakin dekat.
Hingga suatu hari dia meminta nomorku dengan alasan ingin lebih dekat soal dunia kerja.
Aku meng-iyakan karena ini yang Kumau.
Setelah penantian panjangku.
Kami semakin dekat.
Kami sering berkencan ke kafe dekat apertemennya.
Bahkan teleponan dan chat-an hingga larut malam.
Beberapa hari setelahnya kami berpacaran.
Tak ada alasanku untuk menolaknya.
Dia terlalu sempurna untukku saat sekarang.
Aku tidak lagi harus malu-malu saat ingin menatapnya dari dekat atau saat bersebelahan duduk di kursi kereta.
Sekarang, setiap harinya dia akan menjemputmu dirumah.
Lalu menuju kereta bersama-sama dan berjalan menikmati udara pagi.
Kevin akan dengan senang hati memberikan pundak lebarnya untukku yang kelelahan setelah pulang dari bekerja.
Saat sepulang dari kerja, Kevin aku mengajakku menuju pasar malam terdekat sambil membeli beberapa cemilan sambil nonoton bioskop kesukaan kami atau sekedar menyantap es krim coklat kesukaannya.
Lalu aku?,
Aku setiap pagi akan dengan senang hati mengubah jadwal bangun tidurku hanya untuk menyiapkan bekal makanan kuliahnya, meski dia menolak pada awalnya.
ia akhirnya menyantap dan memuji masakanku.
Sambil berkata
"Calon istri yang baik" lalu mengusap pelan rambutku.
Kevin lelaki yang baik selama kami berpacaran.
Dia tak pernah berani menyentuh area terlarang pada bagian tubuhku atau bahkan mencium bibirku.
Hanya saja dia pernah tidak sengaja mencium dahiku.
Saat dia sedang sangat bergembira,
Bahwa dia akan menjadi seorang karyawan disebuah perusahaan besar dikota ini jika bisa lulus dengan nilai terbaik.
Saat itu dia lupa bahwa kita belum menikah dan masih berpacaran.
Aku terdiam malu.
Pipiku bersemu merah ditambah lagi suasana menjadi hening.
Namun aku rasanya ingin bersorak gembira dan meloncat saat itu juga dihadapannya.
Kevin bukan lelaki gengsi dan pemalu,
Dia sering menyelamatkan anak kucing yang terbuang ketika kami sedang berjalan diminggu pagi atau bahkan tak segan menggendongku dipunggungnnya saat aku baru saja keluar dari kantor karena lelah bekerja.
Karyawan tempatku bekerja akan mengolok-olok kemesraan kami.
Lalu aku akan memarahinya habis-habisan.
Bagaimana jika bos-ku tahu?,
aku akan dimarahi habis-habisan karena tidak memberi contoh yang baik pada junior-junior diperusahaan.
Dia dengan enteng menjawab
"Kalo dipecat yah gpp, entar kalo sudah nikah gajiku semuanya kasih ke kamu kok" ucapnya bernada sombong seolah-olah ia sudah pasti akan diterima kerja.
Aku akan mencubit pinggang lelaki ini.
Lalu kami, akan tertawa bersama.
Sambil menikmati sepoian angin malam kota ini.
Beberapa bulan setelahnya,
ibu hamil yang sering Kevin tolong sudah melahirkan dan kali ini...,
Dia memberikan hadiah boneka lucu pada Kevin dan memberikan selamat pada kami dikereta karena sudah mengetahui hubungan kami.
Kulihat kevin dengan lihai menggendong bayi kecil berumur dua bulan itu ke pelukannya.
Aku tertawa bahagia sambil mencium pipi gembul bayi itu.
"Kalian pasangan yang berbahagia" ucap ibu itu.
Kali ini Kevin mengangguk lalu menatapku lembut.
Lalu tersenyum penuh makna.
Pagi itu sangat indah,
duniaku sudah hampir sepenuhnya sempurna karena kehadiran Kevin.
Kereta ini punya banyak cerita.
Beberapa bulan setelahnya,
Kevin melamarku, bukan ditempat istemewa tapi di stasiun biasa tempatku menunggu kereta,
Dan gilanya,
Kevin melamarku dihadapan semua orang yang sedang menunggu pemberhentian kereta.
Astaga terharu sekali diriku saat itu,
Apalagi saat dia sudah memasangkan cincin ke jari manisku dan berkata untuk siap melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan.
Hari itu mataku berkaca-kaca.
Tak kupedulikan orang sekitar stasiun yang sorak sorai memaksaku menerima lamaran Kevin.
Aku adalah salah satu wanita yang sangat berbahagia didunia hari ini
Aku mengangguk lalu dengan pelan memeluknya erat.
Momen ini sungguh tak terduga.
Kulihat dengan jelas suara tawanya diiringi mata sipit khas pria ini.
Kekasihku.
Aku harap waktu hanya akan berhenti disaat- saat seperti ini, atau sekedar berjalan lebih lama.
Agar aku dapat menikmati lebih lama momen seperti ini.
Pagi itu kami menyuguhi adegan mesra seperti difilm-film romantis kepada semua orang distasiun.
ini waktu terindahku.
Suatu hari, waktu terburukku akhirnya kembali menyapa.
Pagi itu tidak ada yang aneh.
Aku mempersiapkan segala sesuatu seperti biasa .
Menyiapkan bekal untuk Kevin.
"Yuk naik sayang" ucap Kevin.
Aku tersenyum mendapatinya menungguku sedari tadi didepan rumahku.
Baru saja aku ingin menaiki mobil barunya.
Aku melangkah mundur.
"Ehmm kayaknya lebih bagus naik kereta aja sekalian mengenang hari awal pertemuan kita"
Ucapku tersenyum.
Kevin mengangguk.
"Apa sih yang nggak buat calon istri" ucapnya sambil mencolek hidung mungilku.
Kami bergandengan tangan sambil menikmati udara pagi.
Aku menggenggam erat lengan kekarnya.
Sambil terus bersandar dibahunya.
Kami datang tepat saat kereta berhenti distasiun tempat biasa kami menunggu.
Aku memasuki kereta ini.
Sambil terus tersenyum ke arah penumpang lainnya.
Aku duduk tepat dekat jendela biasa tempatku duduk.
Disampingku Kevin sudah sibuk belajar sambil tangan sebelahnya terus mengusap pelan rambutku.
Lelaki ini tak pernah bermain-main soal perkataannya, bahkan sampai sekarang dia masih belajar hanya demi mendapat pekerjaan itu.
Untuk membiayai hidupku dan juga,
Tabungan menikah kami kelak.
Kucium pelan tangannya.
Dijari manisnya terselip cincin pertunangan kami.
Aku bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan lelaki sepertinya.
Aku hampir tertidur pulas.
Tapi ada yang aneh beberapa menit setelahnya.
Kali ini kulihat hampir setengah penumpang kereta berteriak histeris.
Disampingku, Kevin memelukku erat sekali.
Sambil membisikkan ditelingaku.
"Kita akan segera menikah citra" ucapnya pelan.
Kurasakan kereta api yang setengah bagiannya lagi sudah berbalik kini kepalaku seperti pusing,
Suasana tak lagi se-damai pagi tadi.
Penumpang mulai kocar-kacir,
Sebagian lainnya melafalkan doa-doa kepada Tuhan.
Apa kita akan mati ?,
Kurasakan kecepatan kereta tak lagi teratur.
"Brukkk" kereta tempatku biasa pergi menuju kerja kecelakaan dan terserempet beberapa kali.
Kurasakan pelukan Kevin yang semakin erat berusaha menenangkan ku.
Kereta itu menabrak salah satu kereta lainnya dari arah yang berlawanan.
Penumpang banyak yang tak sadarkan diri lagi.
Sebagian mati ditempat dan ada yang bertahan.
Aku terluka parah.
Akibat kaca jendela yang pecah mengenai wajah dan pundakku.
Disampingku,
Kevin tertindih kursi penumpang didepannya.
Kulihat dia meringis kesakitan.
Aku mencoba membantunya.
Namun dia menepis tanganku.
"Keluarlah cepat jangan menghiraukanku, kereta ini akan meledak" ucapnya.
Nafasnya tersengal-sengal.
Aku menggeleng sambil menangis pilu.
"Kita akan menikah" ucapku lirih.
Dia menggeleng pelan.
"Hidupku tidak lama lagi sayang" ucapnya sambil terus tetap berusaha bernafas.
Aku berteriak kepada setiap penumpang siapa saja yang mendengarnya.
Namun naas hampir seluruh penumpang sudah kehilangan nyawa akibat terhimpit penumpang lain.
Atau terkena kaca tepat dibagian leher.
"Keluar cepat citra lewat jendela itu, kereta akan meledak" ucapnya sambil setengah berteriak.
Aku menggeleng cepat.
Bermaksud tak meninggalkannya sendirian disini.
"Kenapa kamu keras kepala sekali?, Aku bilang keluar, yah keluar cepat. Kamu harus tetap hidup.
Perjalanan hidupmu masih panjang. Sekarang berlarilah citra" ucapnya kasar.
Hari itu pertama kalinya dia membentakku.
Aku mengangguk pelan.
Sambil menangis se-enggukan.
Aku keluar menuju jendela yang sudah berlubang itu, aku menunggunya di luar kereta.
Mengulurkan pelan tanganku.
Kulihat kevin tersenyum.
"Tinggalkan aku, sekarang" ucapnya berdesis lirih.
Aku menggeleng cepat lagi.
"Aku tidak pernah pergi dari dunia ini citra, aku tetap ada.aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu berdiri menunggu kereta.
Terimah kasih sudah menerima cintaku" ucapnya.
Kulihat matanya memerah menahan tangis.
Kuraih pelan tangannya.
Lalu kucium lembut pipinya.
Hari itu untuk pertama kalinya aku mencium wajahnya.
"Berlarilah sejauh mungkin citra dari sini, kereta akan meledak" ucapnya pelan.
Nafasnya hampir habis.
Aku berlari cepat menjauh dari kereta ini.
Sambil terus menyesali kebodohanku yang hari itu mengajaknya untuk menaiki kereta dengan alasan mengenang masa pertemuan pertama kami.
Wanita bodoh.
Andai saja kita tetap mengendarai mobil.
Kita tidak akan mati dan pasti sekarang dia akan menjemputmu sepulang dari kerja.
Hatiku sesak.
Jika mengingat senyum manisnya saat memasangkan cincin dijari manisku, wajahnya yang malu karena tak sengaja mencium dahiku, wajahnya yang berseri saat mengantar dan menjemput ku kerja.
Hingga sekarang beberapa tahun setelahnya,
aku terus tetap mengunjungi stasiun kereta ini.
Berharap menemukan sosoknya.
Sosok Kevin dengan sifat rendah hatinya.
Langit senja semakin jingga,
Bersiap menjemput malam.
Aku tak dapat menemukan sifatnya pada lelaki lain.
Bahkan saat ibu berusaha menjodohkan ku dengan lelaki pilihannya.
Persetan soal ibu,
Yang tak pernah peduli atas diriku sedari kecil.
Hanya Kevin.
Yang mampu membangkitkan semangat hidupku.
Distasiun ini aku sering seperti melihat penumpang lain beraktivitas seperti biasanya.
Namun pada kenyataannya aku hanya sendiri.
Duduk termenung seperti orang bodoh.
Aku sering melihat arwah penasaran yang menangis melewati ku.
Namun aku tak pernah melihat arwahnya.
Arwah Kevin.
Kadang hidupku seperti tak bermakna.
Suatu hari,
Aku bertindak gila.
ingin menyusul kematian Kevin.
Sore ini aku tengah bersiap.
Menabrakkan diriku ke kereta.
Dari arah seberang sana,
Kudengar sayup - sayup suara tawa seperti suara tawa Kevin.
Dari arah yang berlawanan kulihat kembali diriku bersama Kevin yang bergendongan menuju rumahku.
Aku seperti kembali ke masa lalu.
Air mataku berderai.
Kulihat bagaimana kenangan itu kembali ku alami.
Dapat kulihat dengan jelas.
Aku tak menyadari tubuhku yang sedari tadi hampir sepenuhnya menuju jalan rel lintasan.
Sampai akhirnya kereta datang dari arah yang berlawanan.
Dapat kudengar suara klakson yang memekakkan telinga dari kereta itu yang memperingatkanku agar aku segera mundur.
Namun kini tubuhku sudah hancur terlindas kereta itu.
Tubuhku terpotong beberapa bagian.
Aku menyusul kepergian Kevin.
Tanpa pernah tahu bukan ini yang Kevin mau.
Setiap harinya menjelang senja aku akan menjadi arwah penasaran.
Menakut-nakuti orang sekitar stasiun ini.
Namun aku harap tuhan sedikit berbaik hati pada kami.
Meminjamkan waktu terbaiknya pada kami.
Berharap dimasa depan,
Kami akan terlahir kembali.
Sebagai remaja yang tak pernah merasa kehilangan.
Sebegai dua orang yang tak pernah saling kenal.
Lalu kembali menjalin kisah cinta menyenangkan ini.
Lalu saat itu kau dan aku akan menikah.
Memulai hidup baru.
Merintis dari awal mimpi - mimpi kecil kami yang sempat tertunda.
Lalu aku akan menjadi ibu.
Melahirkan anak-anak kita yang lucu.
Lalu kau akan menjadi ayah yang baik.
Kita akan menua bersama.
Menikmati usia senja.
Menyaksikan anak dan cucu kita tumbuh besar dan dewasa.
Aku harap pencipta semesta merestuinya.
Lalu kau dan aku akan menjemput maut bersama.
Aku harap episode hidup ini tetap belanjut dan bersambung disuatu masa.
Episode senja ini terlalu sulit untuk mencari keberadaanmu Kevin, kekasihku.
Aku mencintaimu Kevin dan akan selalu seperti itu.
~The end