Malam gelap nan sunyi menghiasi jalan setapak itu. Tempat yang sebelumnya sangat ramai, kini berubah sepi. Bahkan polisi yang tadinya berlalulalang di sana pun sudah tak terlihat batang hidungnya. Namun, wanita itu tetap di sana, tanpa beranjak sedikitpun. Dia terdiam dengan tatapan kosong.
'Am I died?' Kata-kata itu terus berputar dalam lamunannya. Tak lama tetesan hujan pun turun perlahan. Membasahi jalan setapak itu. Wanita itu mengangkat satu tangannya. Mencoba merasakan dinginnya air hujan itu, tapi nihil. Wanita itu tak dapat merasakannya. Seakan ada terpal yang melindunginya dari dinginnya air hujan.
Wanita itu kembali menurunkan tangannya. Dan mulai menatap genangan air di hadapannya. Mencoba melihat cerminan dirinya. Leher dengan garis sobekan melintang, wajah tersayat dari mata kiri hingga rahang, bibir pucat dan mata yang menghitam.
Wanita itu terdiam.
Napasnya sesak.
Dia marah.
"This is too cruel for me."
"It's your destiny, señorita. You can't reject it. Because God already agreed."
Wanita itu menatap pria bersetelan hitam di hadapannya, dan agak tercengang dengan parasnya. Dia mencoba membuka suara. Namun seakan pikirannya terlihat. Pria itu membalas sebelum dia sempat membuka suara.
"Don't ask me who i am, señorita. That's not important. I'll only run my errands."
"Rośe Harlyn Smith. 25 years old. Born in London, January 19, 1970. Died in London, August 25, 1995. At 05:03 p.m. Dead reason, 'Killed by ex-boyfriend'. Is that correct, señorita?"
Pria itu mengangkat sebelah alisnya.
"Yeah.. I think so... but what happens if I didn't say that it was me? What would you do?"
"I would take you to the hell. Because what? Because I know you're lying. Alright, señorita. Let me take you there."
Pria itu membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauh. Wanita itu menatapnya lalu mulai mengikutinya.
"I thought... I was really dead."