Ini kisah tentang hidupku.
Namaku Salma Faida Margaretha, usiaku 13 tahun. Aku tidak bersekolah karena harus merawat ayahku yang sedang sakit parah dan dokter pun tak bisa membantu.
Hari-hari kujalani dengan rasa pahit manis kehidupan, adakalanya musibah datang beriringan hingga satu persatu orang yang kusayangi pergi menjauh dan meninggalkanku sendirian.
06-Desember-2017, tepat empat tahun terakhir saat aku masih berumur 9 tahun ayahku menyembunyikan penyakit kronisnya dariku dan kakekku. Ibuku sudah lama wafat saat aku masih bayi karena insiden di kantor tempat kerjanya, sejak saat itu keluarga kami perlahan mulai merasakan kekosongan dan hidup dengan suasana lain.
Sedangkan kakekku harus dipindahkan ke panti jompo agar mendapatkan perawatan yang seharusnya, bukan maksud kami untuk mengantarnya ke sana, namun semua itu demi kebaikan bersama. Aku juga tak akan sanggup merawat kakek dan ayahku dalam kurun waktu yang bersamaan sekaligus.
Di sekolah aku tak punya teman, semuanya lari tak ada satupun yang mau berteman denganku. Mereka bilang aku hanya seorang gadis kampung yang tak pantas bergaul dengan mereka.
"Eh liat tuh si Salma dekil banget!"
"Ya namanya aja orang kampung, ya pasti dekil lah, ples kampungan gatau malu!"
Iya bener tuh dasar cewek kampung, pengotor dekil, kumel lagi iywhh"
"Dia ini sumber penyakit ya nggak sih?"
"Hahaaaaa!!!!!......" Semuanya menertawakanku.
Hiks! hikss!...
Aku menangis sendirinya tanpa memerintahkan air mata ini untuk menetes. Kenapa mereka senang sekali menghina dan membullyku seperti ini kenapa? Kenapa Tuhan? Kenapa?....
"Dasar cupu!!"
Kotor, dekil, kumel, cupu, cengeng semua ucapan keji itu mendarat tepat di hadapan wajahku. Membuatku seolah-olah cuma seorang sendiri tak bisa berbuat apa-apa apalagi membalas perlakuan buruk para teman-temanku bahkan aku tak sanggup, karena aku bukan mereka yang suka merendahkan orang kecil seperti diriku.
Aku hanya bisa bersabar dan menunggu keajaiban Tuhan agar senantiasa melindungiku dari jauh walau sebenarnya sangat dekat.
Hidupku terasa sunyi, aku berusaha melawan takdir, tetapi apa dayaku jika Tuhan berkata "Ini takdirmu, kau harus menjalaninya dengan sepenuh hati, jiwa, dan ragamu." Aku harus tabah dan kuat demi ayah tercintaku dan demi masa depanku.
Aku yakin dibalik sebuah kesuksesan yang besar ada sebuah pengorbanan dan perjuangan hebat.
.
.
.
.
.
Aku & Embun Basah
Fajar di cakrawala telah pergi
Embun basah kini membumbuhi tanah tipis ini
Terlarut dalam ketenangan abadi
Di secercah cahaya mentari menanti
Awalnya semua terlihat baik-baik saja
Sayang, senyum lugu mereka tersirat racun berbisa
Pundakku goyang memikul semua derita
Tarikan napas ini apa artinya?
Suci begitu mengesankan
Embun waktumu sangat singkat
Kau terlalu hebat melawan sentuhan musim
Andaikan setiap masa kita selalu bersama
Embun kuyakin kau pasti kembali lagi
Melukis cerita baru yang akan dinanti
Rasa yang hilang mulai berganti
Seiring kasih Tuhan yang memberkati.
TAMAT...
Ini karya murni imajinasi saya, tidak ada hal penjiplakan di dalamnya.
Ig: @andinilrsa