Malam jumat kliwon begitu indah menurutku.
Bintang yang indah bertaburan di langit yang gelap, bulan yang terang memancarkan cahaya keperakan sungguh memukau mata yang memandang.
Akan tetapi, tak selamanya malam indah seperti itu.
Terkadang malam jumat kliwon menjadi malam yang sangat menakutkan, dengan langit malam yang gelap, udara dingin, kemudian suasana yang hening, bahkan terasa bau - bau anyir melati menyelimuti malam yang di iringi suara-suara yang membuat bulu kudung merinding.
Di desaku ini, malam jumat kliwon begitu di sakralkan untuk tidak keluar rumah di malam hari. Karena di malam hari akan ada ritual-ritual suci yang di lakukan oleh ketua suku atau orang yang di tuakan di desaku.
di desaku ini masih banyak sebagian orang yang percaya dengan hal-hal yang mengandung mistis, istilahnya kejawen.
Disetiap sudut rumah banyak berbagai macam bentuk makanan dan minuman yang siap santap, tapi makanan itu bukan untuk di makan manusia, melainkan untuk diberi kan ke makhluk ghaib, istilah jawanya sesajen.
dengan bertaburan bunga-bunga seperti mawar merah, melati, kantil kemudian kemenyan, apalagi di tambah bau-bau anyir Membuat suasana malam jumat kliwon di desaku terasa menyeramkan dan angker.
Dari semua hal yang menyeramkan, tersimpan keeksotisan yang begitu indah desaku. Kenapa tidak, desaku terletak di dataran tinggi, kaliwiro, jawa tengah.
Dengan bentangan pohon pinus di sepanjang jalan menuju desaku. Persawahan yang luas, deretan pohon-pohon yang menjulang tinggi, rumah yang berjejer dan jalan yang seperti ular terlihat indah saat melihatnya dari atas bukut seperti halanya aku, rumahku yang terletak di atas bukut dengan mudah akan melihat pemandangan indah itu di pagi hari yang cerah.
Terlepas dari semua itu, malam tetap lah malam, malam yang gelap, senyap terlebih malam jumat seperti saat ini malam jumat kliwon.
Ditengah rasa sepiku yang duduk di bawah pohon depan rumahku dengan meminum segelas kopi tak lupa dengan sebatang rokok menemaniku, ada sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.
meskipun desa terpencil tapi sinyal sudah masuk walaupun terkadang muncul terkadang lenyap.
"Mar, dangdutan yuk, ke desa sebelah"
"Lo, berani turun?" bales ku, pesan dari doni sahabatku.
"Kenapa takut, lo takut ini malam jumat? Udah dech biarin aja. Cemen lo".
"Ya udah dech,aku meluncur" kemudian aku mengiyakan ajakan doni pergi dangdutan di desa sebelah.
Tanpa buang waktu lagi aku mengambil jaket dan motor ku. aku bergegas menuju desa sebelah, dengan bertemu doni terlebih dahulu.
Dalam perjalanan yang sunyi akhirnya aku dan doni sampai di tempat tujuan ku. Yaitu tempat orang yang hajatan atau pernikahan dengan menanggap orgen tunggal atau dangdutan di peruntukan bagi masyarakat umum.
Disana sudah banyak orang berkumpul dengan suasana yang ramai dengan musik yang bisa membuat badan ingin bergoyang. Penyanyi yang cantik dan sexi menurut ku, dengan suara merdu terus bergoyang membuat suasana benar -benar ramai. Kami semua tampak bahagia.
Waktu terus bergulir, malam pun terus semakin larut. jam menunjukkan pukul 00.30.
Udara dingin kian melejit menelusuri celah-celah pakaian ku.
aku semakin merasa dingin kuputuskan mengajak pulang doni, meski masih ingin menikmati alunan lagu. Tapi apa boleh buat karena besok paginya harus pergi bekerja ke sawah membantu orangtua.
Donipun ikut pulang bersama ku, karena dia tidak membawa motor sendiri. mungkin jika membawa motor sendiri dia belom mau ikut pulang. karena sedang asik-asiknya berjoget ria, Semakin malam semakin asik katanya.
Berat rasanya mau pulang melewati jalan yang sepi menuju desaku. tapi apa boleh buat. karena esok hari harus berangkat kerja dengan ayahku.
Didalam perlajanan tiba-tiba
Suasana mencekam, ya karena tiba-tiba motor yang kami naiki mati mesinya sehingga tidak bisa di naiki, dan harus di dorong.
Aku akhirnya mendorong motor ku dengan rasa berat. di bantu doni mendorong motornya dari arah belakang dengan sekuat tenaga, karena saat mesin mati kami berada di tanjakan yang bisa di bilang agak tinggi, untung saja tidak mundur saat mati mesin tadi.
Angin semakin kencang rasaku, kabut putih menyelimuti pandangan ku.
Bulukudug berdiri menggelitik kulit, semakin mencekam dengan awan hitam merangkak menutupi bulan membuat malam begitu gelap yang akan menandakan hadirnya hujan.
Rintik-rintik hujan berlahan mengguyur dalam kegelapan malam di sertai dengan suara wanita menangis membuat bulukudug kian menjalar.
"Don lebih cepat dorong nya"
"Gue udah dorong mar, lo pikir ngak berat"
Kami beradu mulut untuk menghilangkan keheningan malam, dan dinginya kebasahan diguyur gerimis hujan mencoba melupakan suara rintihan wanita menangis di sepanjang jalan yang kami lewati.
Suara wanita itu dengan samar-samar memanggil mendekat semakin terdengar di belakang kami, saat kami telah sampai di atas tanjakan, yang sedang memperbaiki motor, mencoba membersihkan karburator mesin agar bisa menyala kembali.
"Mas.."
"Mas.."
"Lo denger ngak don"
"Iya gue denger"
Kami berbisik sedang menunduk membersihan apa saja yang bisa membuat motor kembali menyala.
Tiba-tiba
"Mas"
"Hah!!!
Aku terkejut sontak melihat kebelakang karena wanita itu memegang pundak ku.
Wanita dengan wajah pucat pasi dengan rambut panjang lurus terurai berbaju warna putih.
"Si si siapa kamu" jawabku dengan kelu, keringat dingin ku mendadak berjatuhan tercampur dengan eir gerimis yang kian membasahi bajuku.
Doni sudah lari terbirit-birit meninggal kan ku, saat melihat wanita berbaju putih di malam hari bahkan dini hari tepatnya.
"Mas tolong aku"
Pinta wanita itu
Mulut ku terpaku tak bisa menjawab apapun dengan mata melolok kaki gemetar di sertai air mengalir dari dalam celanaku, yang tak ku sadari. aku melihat sesosok wajah hitam di balut kain putih bertali di atasnya di belakang wanita itu.
" PO PO PO PO PO
POOOOCOOONGGGGGGG".....
Aku mencoba lari sekuat tenaga menghindari wanita itu dan Pocong sekaligus, meninggalkan motor di pinggir jalan memilih langkah seribu.
Doni yang lari pun ternyata masih ada di depanku saat aku lari meninggalkan makhluk yang tak ingin ku lihat itu.
Dengan nafas terengah-engah kami bertemu dan mencoba beristirahat mengatur nafas lagi.
"Sial, harusnya gue ngak ikut lo pulang mar" decak doni ke amar yang emosi.
"anjritt lo don, ninggalin gue" dengan mengatur nafasku yang terengah-engah.
"Gila.., tu wanita apaan"
"Gue liat pocong don, Untung mereka ngak ngejar kita"
"Masss,kenapa lari"
"Tolong aku masss,hikz hikz hikz"
Kami terdiam kelu mendengar suara wanita itu menangis.
Kami mencoba beraksi mengambil langkah seribu tapi semua itu sia-sia belaka.
Wanita itu berada di depan kami berdua dengan tatapan mata yang melotot tajam seakan bola mata itu mau keluar dari tempatnya.
Kami histeris
"AGGGGHHHHHH"
aku jatuh tergeletak ketanah tak berdaya tak sadarkan diri.
Orang-orang berkumpul mencoba membangun kan ku, memandikan minyak ke tubuhku yang dingin dan mengelap rambut dan kulitku yang basah terkena hujan tadi malam, mencoba memberi air minum agar aku sadar dari tidurku.
"Amar amar "
Suara terdengar lirih di telingaku samar-samar aku pun terbangun, ku buka mataku perlahan - lahan ,aku melihat ayah dan ibu ku menangis, aku di gerumuni banyak orang ada yang membacakan ayat-ayat suci agar aku terbangun dari tidur yang panjang, yang ternyata aku sudah pingsan selama 3hari.
Aku bertanya tentang perihal doni, ternyata doni meninggal dunia karena kecelakaan tertabrak mobil saat berlari malam itu.
Aku menangis tersedu-sedu merasa menyesal dengan apa yang terjadi malam itu.
Tak terfikirkan olehku bahwa malam itu adalah malam terakhirku bersama doni sahabatku.
Setelah sehat aku mengunjungi rumah peristirahatan doni yang terakhirnya. dan aku putuskan tidak akan keluar malam - malam lagi apa lagi di malam jumat kliwon yang di keramatkan di desaku.