Nenek itu terlihat seperti orang biasa saja tapi akhirnya aku mempercayai rumor itu
***
Bruk
"Maaf nenek"
Anak itu bangkit berdiri dan membantu wanita renta itu
"Nenek tidak apa apa?"
"Nenek baik baik saja nak" wanita itu tersenyum dan pergi meninggalkan anak kecil itu
Esoknya
"Hei apa kau tahu ada rumor yang mengatakan kalau ada nenek tua yang sering membunuh anak kecil untuk tumbal?"
"Zaman sekarang masih ada yah hal yang seperti itu"
"Katanya nenek tua itu mengincar anak kecil yang mudah ditipu untuk tumbal kecantikannya"
"Aku tidak percaya takhayul"
"Lihat ada kerumunan di sana"
"Ayo kita lihat"
"Nenek?"
Kedua anak kecil itu membantu wanita itu dengan barang belanjaan nya yang jatuh berserakan
"Kau kenal dengan nenek cantik itu?"
"Aku pernah bertemu dengan nenek ini saat aku tidak sengaja menabrak nenek ini."
"Bukankah terlalu cantik untuk ukuran nenek nenek?"
"Fokus saja membantu barang nenek ini"
"Terimakasih nak sudah membantu nenek" wanita itu tersenyum
"Sama sama nenek"
"Bisakah kalian berdua mengantar nenek pulang ke rumah?"
"Nenek tidak bisa pulang sendiri?"
"Barang nenek terlalu banyak nenek tidak bisa membawa semuanya" wanita renta itu tersenyum
Kedua anak kecil itu mengangguk. Mengiyakan ajakan nenek itu dengan cepat serasa mereka terhipnotis
Hari mulai sore dan jalan mulai setapak
"Rumah nenek ini jauh sekali"
"Mungkin sebentar lagi akan sampai"
"Tapi ini sudah jauh dari kota"
"Ini rumah nenek, tidak besar karena nenek hanya tinggal sendiri. Ayo masuk"
Wanita itu membuka pintu rumah kayu itu dan mempersilahkan kedua anak kecil itu masuk
"Kalian duduk saja disini, nenek akan menghidangkan sesuatu yang menarik" wanita itu tersenyum dan menghilang dari balik pintu
"Rumah nenek ini lumayan seram"
"Ayo kita duduk saja di kursi kayu itu"
Krekk
"Aku takut duduk disini, kursi ini sepertinya tidak kokoh dan jendela ini berdebu"
Sadar hari akan mulai berganti malam mereka ingin pamit pulang ke rumah mereka, melihat mereka akan dicari oleh orang tua mereka
"Sebentar lagi malam, ayo kita pulang. Nenek itu juga dari tadi tidak kunjung datang dari dapur"
"Baik aku akan menemuinya dan pamit. Kau tunggu disini"
Salah satu anak itu pergi menemui nenek tua itu sementara anak yang satu lagi sibuk melihat jam tangannya
"Nek, nenek kau dimana?"
Anak itu menyusuri tiap ruangan. Langkah nya terhenti saat dia menemukan sebuah ruangan yang agak gelap dan sedikit bau. Ruangan itu memiliki aura yang sangat tidak enak dan sedikit menakutkan. Ingin hati anak tersebut untuk melihat ruangan itu. Tapi dia teringat hari yang mulai malam. Ia kembali menyusuri tiap ruangan yang dimana dinding rumah kayu itu dihiasi oleh sarang laba-laba.
"Nenek kau dimana?" suara anak itu bergetar mulai merasa takut
Anak itu mendengar sedikit suara dari ruangan sebelah selatan. Anak itu pun mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Anak itu terkejut melihat nenek bungkuk tadi bisa berdiri tegap. Sambil mengasah pisau, anak itu fokus pada wadah keramik besar yang berisi air panas dan bunga bunga an. Ruangan itu sangat amis. Anak itu teringat pada ucapan temannya yang mengatakan kalau biasanya nenek tua itu akan membuat tumbalnya dengan cara memasaknya dengan berbagai macam bunga bunga an yang bau dan aneh. Anak itu mundur pelan pelan sebisa mungkin untuk tidak menghasilkan suara.
Sampai pada ruangan gelap tadi, ia berniat untuk memasukinya tetapi kakinya sudah bergetar tangannya berkeringat. Akhirnya ia memberanikan diri. Mataku terbelalak saat melihat ruangan gelap dan bau busuk itu.
"Anak kecil, ya, disini banyak tengkorak dan tulang belulang dari anak kecil. Berarti nenek yang dirumorkan itu adalah nenek yang telah kami bantu ini?" anak kecil itu bergumam
Anak kecil itu berniat untuk membocorkan rahasia ini. Mengambil Handphone dari sakunya dan mengambil beberapa foto sebagai bukti. Saat hendak keluar dan menutup kembali pintu itu...
Ngeongg..
Anak kecil itu kaget dan sontak melihat ke belakang. Berpikir akan ketahuan oleh nenek itu, ia mendapati seekor kucing belang berwarna hitam dan kuning dengan warna mata yang berbeda. Kucing itu menatapnya lama, membuat anak kecil itu bergidik.
Kucing itu kemudian berlari dengan cepat ke arah dapur. Anak itu berpikir kalau kucing itu akan memberitahu kepada majikannya. Anak itu berlari ke arah utara, ke ruang tamu.
"Ayo lari. Cepat!!"
"Kenap? Kenapa kita lari?" ucap anak tadi yang kaget akan kedatangannya
"Pokoknya lari" anak itu menarik tangan temannya
Mereka berdua mendobrak pintu kayu itu sama sama. Lari secepat yang mereka bisa.
"Kenap kita lari?"
"Nenek... nenek itu ingin menumbalkan kita"
"Apa maksudmu?"
"Nenek bungkuk itu, ingin membuat kita berdua jadi tumbal!"
"Jangan bilang kalau..."
"Iya, makanya cepat berlari"
"Baik"
"Kita bersembunyi dulu, aku seperti mendengar suara langkah kaki dan suara kucing dari belakang kita"
Bingung ingin bersembunyi dimana, mereka berdua akhirnya bersembunyi di balik semak berduri yang rimbun. Tidak sedikit kulit mereka berdarah karena duri.
Tak lama setelah mereka meninggalkan tempat itu, datang lah nenek itu berlari dengan tegap di ikuti oleh kucing nya.
Membawa pisau berkarat di tangannya, wajah wanita itu hitam menyeramkan.
"Tahan nafas mu" bisiknya pada temannya
Anak kecil itu mengangguk
Panik melanda saat kucing itu mulai mendekati ke arah mereka. Keringat mulai tampak, kucing itu pun semakin mendekat. Kucing itu mengeong ke arah semak berduri itu. Seperti memberitahu kepada majikannya, wanita itu pun datang mendapati kucing belang itu.
Anak itu memberi aba-aba. Mereka berdua saling bertatapan dan mengangguk.
Wanita itu menebas semak itu dengan pisaunya.
Ok!!
Anak kecil itu melempar kan pasir ke mata wanita itu. Otomatis wanita itu melepaskan pisaunya, anak itu mengambil pisau dan membuang ke jurang di belakang mereka tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi. Sedangkan anak yang satu lagi menangkap kucing itu dan melemparkannya ke jurang.
Wanita itu murka, mencoba untuk berdiri dengan benar walaupun terhuyung-huyung. Kedua anak tersebut mengangguk.
Anak itu berlari ke arah jurang, wanita itu pun pergi mengejarnya. Seraya mengalihkan perhatian anak yang satu lagi datang dan menyambar kaki wanita itu. Dengan cekatan anak itu membelokkan diri ke samping. Wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke jurang itu bersama dengan kucing nya.
"Bukankah kita seperti pahlawan seperti yang ada di film?"
"Kurasa juga begitu"
"Ini sudah sangat malam, kita harus pulang"
"Baiklah ayo kita pulang"
"Oh iya bagaimana kau tahu kalau nenek ini adalah nenek suka menumbalkan anak kecil"
"Diperjalanan nanti akan ku ceritakan"
***