Aku bernama Uci, aku tinggal di desa yang asri yaitu desa Banjaratma. Bapak saya bernama Tarjono, mengajar di SD Negeri Banjaratma 05. Ibu saya bernama Ruaeti, seorang ibu rumah tangga yang mempunyai 3 anak kandung. Saya anak kedua dari 3 bersaudara.
Aku teringat sebuah nama, “Samtono”, ku sebut dia. Dia sahabat kecil ku sejak SD, biasa dipanggil Sam. Samtono lahir dari keluarga sederhana,ibunya bernama Darsem dan bapaknya bernama Dawud.
Sam anak yang pintar dan sholeh, dia adik kelas ku waktu SD. Sam sangat rajin, dia memelihara kambing di samping rumahnya.
Setiap pulang sekolah, Sam mencari rumput untuk memberi makan kambing-kambingnya. Dia tidak kenal lelah, bahkan hampir setiap pagi dia pegi ke sawah membantu orang tuanya bercocok tanam.
Aku dan teman-teman ku, banyak yang mengagumi sifatnya yang sopan dan sederhana. Dia baik dan suka menolong orang lain.
Aku teringat kala dulu aku dan teman-teman bermain kelereng dekat rumah Ulfi teman sekelas Sam waktu SD.
Sam pun datang dan ikut permainan kelereng, dia sangat handal dan sering menang dengan memperoleh kelereng paling banyak dengan Teknik permainan kelereng yang dia miliki.
Waktu itu sudah menunjukkan pukul 18.00, saatnya adzan sholat maghrib dikumandangkan. Aku dan teman-teman segera menuju musholah untuk melaksanakan kewajiban sholat maghrib berjamaah di musholah Baitul Mu’minin pimpinan bapak Maktub.
“Subhanallah, suara adzan terlantun sangat merdu, siapa yang adzan Ul?” (tanya ku sama Ulfi). “Sam yang adzan Ci” (Jawab Ulfi sambil senyum-senyum). “Bagus banget suara Sam. Jadi semakin kagum aku sama dia!"
“Apa kamu bilang Ci?” (Tanya Ulfi dengan nada kaget).
“He he he. Aku juga lupa tadi bilang apa? Aku keceplosan Ul"
“Hm!"(Ulfi menggeram). “Ya, sudahlah! ayo kita ambil air wudu, biar ngga ketinggalan sholat berjamaah." (Ajak Ulfi sambil merangkul pundak ku).
Puji-pujian sholawatanpun dilantunkan oleh Sam, dengan suranya yang lembut dan adem didengar. Dilanjut iqomaht dan sholat maghrib segera dilaksanakan dan diimami Bapak Maktub, yang tidak lain adalah Bapaknya Ulfi, sahabat karibku.
Ibadah sholat maghrib sudah dilaksanakan dengan kusyu, jamaah sholat maghrib segera pulang ke rumah masing-masing.
“Ul, sini? duduk samping aku”. “Siap!" (Sahut Ulfi penuh semangat). “Hmmmmmm? Ada apa nih Uci menatap ku begitu?” (ujar Ulfi). “Ngga kenapa-napa Ul” (jawab ku lirih). “Aku mau pulang dulu ya! Perut terasa lapar."
“Okay! sampai jumpa besok Ci” (jawab Ulfi).
Sepanjang jalan pulang, aku terngiang suara adzan dan puji-pujian sholawatan yang dilantunkan sama Sam. Benakku berkata “aku mengaguminya, namun ku masih kecil untuk mengenal arti cinta”
Setelah aku sampai di rumah, aku menyalami Bapak dan Ibu. Aku segera masuk dan ambil makanan di meja makan, ditemani kakak dan adik bungsu. Setelah makan malam selesai, aku bergegas ke kamar sambil menunggu waktu sholat isa.
Hanya sebentar aku berbaring di tempat tidur, adzan sholat isa telah berkumandang dan itu suara Sam lagi. Aku ngga berangkat ke musholah, dan sholat isa di rumah berjamaah sama Bapak.
Waktu telah menunjukkan pukul 20.00, mata mulai terasa ngantuk dan aku pun beranjak tidur.
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah dan berangkat bareng sama Ulfi. Ternyata di jalan kami bertemu Sam, akhirnya kami berangkat sekolah bertiga jalan kaki sambil bercanda.
Setibanya di sekolah, ternyata kelas 5 pelajaran olahraga. Ulfi dan Sam masuk kelas mereka dan berganti seragam olag raga. Sedangkan aku masuk ke kelas sendiri, yaitu kelas 6.
Ternyata guru kelas 6, hari ini ngga berangkat. Jadi aku bisa melihat kelas 5 yang sedang olahraga depan halaman sekolah, yaitu olahraga loncat tinggi.
Saat aku keluar kelas dan duduk depan kelas 6, ternyata gilirannya Sam yang dipanggil Pa Guru untuk penilaian loncat tinggi, aku pun segera mendekat melihat dia mau loncat tinggi.
Dengan kencang Sam lari dan meloncati bambu pembatas dan ngga nempel, Dia pun mencoba untuk beberapa kali, ternyata dia memang pandai dalam cabang olahraga ini. Semua teman-teman berteriak memberikan semangat sambil tepuk tangan yang gemuruh.
“Selamat ya Sam……” (ujar ku sambil mendekati dia). “Selamat untuk apa?” (tanya Sam dengan wajah bingung). “Selamat sudah bisa meloncati bambu pembatas tanpa nempel kaki kamu."
“Oh, Iya! terimakasih Ci” (Jawab Sam dengan nada riang). “Emmmmmmm okeylah aku masuk kelas ku dulu yaaa….” (ujar ku gugup). “Ya! silakan Ci” (sahut Sam).
Ternyata Sam anak yang ramah, dan ngga sombong. Dia mau berteman dengan siapa saja, tanpa memandang apapun.
Selain dia rajin, dia juga pandai dalam beberapa cabang olahraga. Seperti loncat tinggi, lompat jauh, bulu tangkis, dan sepak bola. Dia punya banyak bakat, suaranya juga bagus dan sejuk didengar. Sungguh bahagia, aku mengenal dia.
Bel berbunyi, tanda anak sekolah boleh pulang. Aku menunggu Ulfi untuk pulang bareng, Ulfi keluar kelas dan kami langsung berpelukan.
Seperti biasa, sebelum pulang kami beli jajanan dulu depan halaman sekolah. Sambil santai dan nyanyi-nyanyi. Aku sangat menikmati masa-masa itu, masa dimana aku belum tau harga beras.
Masa dimana aku belum bergelut dengan dunia luar yang penuh dengan hiruk pikuk kehidupan. Indahnya masa-masa itu, bersama teman masa kecil.
Setelah aku lulus SD, aku melanjutkan ke jenjang SMP. Mulai saat itu, aku dan Ulfi jarang bertemu karna sudah beda sekolahan. Aku pun jarang bertemu dengan Sam, karna aku berangkat sholat berjamaahnya di musholah lain. Tapi walaupun kami jarang bertemu, kami tetap solid.
Ketika Sam dan Ulfi melanjutkan ke jenjang SMP, kami lebih jarang komunikasi karna kami sudah sibuk dengan tugas-tugas di SMP. Jadi aku mengurangi waktu untuk bermain, dan memperbanyak waktu untuk belajar bersama teman-teman baruku di SMP.
Setelah beberapa tahun terlewati, kami jarang bertemu.
Ternyata Sam tinggal di Semarang, entah dia ikut dengan siapa disana?. Dia melanjutkan SMA dan kuliah di Semarang, itupun aku dengar kabar dari kakaknya. Lama tidak bertemu dengannya, rasa rindupun muncul.
Namun pada saat itu aku ngga punya nomer ponselnya, tapi aku berusaha mencari tau tanya sama kakaknya. Setelah ku dapat nomer ponselnya, aku langsung menghubunginya. Dia jadi orang sibuk di Semarang, syukurlah kalua dia bahagia tinggal disana.
Seringkali aku terngiang suara adzan dan puji-pujian sholawatan yang yang dia lantunkan, namun jarak kami sangat jauh. Pernah suatu hari Sam berkunjung ke kos-kosan saat aku kuliah di Tegal. Entah dia tau dari siapa, rumah kos ku.
Disana kami berbagi pengalaman kuliah, dan dia minta agar aku mengantar dia ke Samsat Tegal. Akupun bersedia mengantar dia, dengan menggunakan becak. Dalam perjalanan menuju Samsat Tegal, Sam menunjukkan buku yang berjudul “Menegement Bisnis"
Ternyata Sam kuliah ambil jurusan Sarjana Ekonomi, syukurlah….. kalau dia ingin mendalami ilmu ekonomi. Dia bercerita kalau dia kerja di Samsat, disana dia tinggal bersama bos nya yaitu Pa Bambang (TNI).
Hari berganti-hari, kami lalui dengan sering mengirimkan pesan hanya sekedar menanyakan kabar. Namun entah kenapa semakin hari dia semakin benci sama aku,dia mengirim SMS yang isinya “Aku tidak akan menghubungi kamu lagi dik, cam kan ucapan mas Sam!"
Akupun kaget dan bingung mau membalas dengan kata-kata apa?. Keesokan harinya aku mencoba kirim SMS, namun ngga dibalas olehnya. Aku kirim pesan berulang kali, ngga dibalas juga. Akhirnya kamipun hilang kontek, karna dia ganti nomer ponsel.
Suatu hari Bapak ku mengikuti pelatihan di Semarang dan Bapak sakit disana, tempat pelatihannya dekat dengan tempat tinggal Sam.
Aku segera cari tau nomer ponsel Sam untuk yang kedua kalinya, setelah ku dapatkan nomer ponselnya. Langsung aku hubungi dia, untuk minta tolong agar dia mau membelikan obat untuk Bapak ku yang sedang sakit di tempat pelatihan.
Syukur alhamdulillah, dia mau membantu membelikan dan mengantarkan obat ke tempat pelatihan Bapak ku. Setelah itu, kami hilang kontek lagi. Karna Sam ganti nomer ponsel lagi.
Sejak itu aku menyerah dan ngga mencoba mencari tau tentang dia apapun alasannya, karna dia telah membenciku tanpa sebab yang aku ketahui. Mungkin tiada jodoh diantara kami, semua takdir Allah Swt harus aku terima dengan lapang dada.