Setelah sekian lama memilih untuk sendiri akhirnya, Rama, kembali membuka hatinya. Dengan berani mengakui kalau tengah menaruh rasa kepada seorang wanita, di usia yang bisa dibilang tidak lagi muda, meski, masih jauh pula dari kata renta, kurang lebih seratus purnama lagi, Rama, berharap kalau rasa ini tak bertepuk sebelah tangan; Di sore hari yang mendung, terpisah tembok pembatas yang kurang dari satu meter, rasa yang telah lama mati dan telah terlahir kembali itu ia ungkapkan langsung kepada si wanita, Maria, nama wanita itu, yang di awal bulan kemarin telah memberi nafas kehidupan bagi rasa di relung hatinya yang sempat mati, dan telah genap sebulan, kalau diibaratkan dengan pepohonan, rasa itu terus bertumbuh dan membesar. Rasa itu telah bereinkarnasi.
Dan siapa kira ternyata, Maria pun merasakan hal yang sama. Pucuk dicinta ulam pun tiba, semestinya, akan tetapi... seorang lelaki telah lebih dulu mengisi harinya. Iya, harinya tapi tidak hatinya-tidak pikirannya! Sekali lagi cuma hari-harinya; Hari-hari yang sesungguhnya membosankan, hari-hari yang sesungguhnya menjemukan-- Telah sekian lama, sampai akhirnya ia bertemu muka dengan Rama, rasa itu pun terlahir kembali--Rasa yang juga bereinkarnasi--Cinta pada pandangan pertama!