"Sial! Aku membunuhnya! Dasar tidak berguna!!" Emosi Alex sambil menunjang mayat yang bersimbah darah di lantai akibat perbuatannya.
Alex merogoh saku jasnya dan mengambil handphone untuk menghubungi seseorang.
"Cepat datang ke gedung A di bagian rooftop dan urus mayat ini. Ingat, jangan sampai kau meninggalkan jejak atau kau yang akan menjadi korban selanjutnya!" Ucap Alex dengan nada dingin dan tegas kemudian mematikan panggilan begitu saja tanpa mendengarkan jawaban dari sang penerima telefon.
Alex duduk di bangku dan melihat miris mayat yang dia bunuh. "Kau pantas menerimanya." Setelah mengatakannya Alex pergi meninggalkan tempat itu.
Kini mobil Bugatti La Voiture Noire milik Alex membelah jalanan Wall Street kota New York. Dia menginjak full pedal gas, tidak peduli dengan keramaian di jalanan begitu pun dengan nyawanya, yang penting dia sampai di tempat tujuan. Ya, begitulah cara Alex menyetir.
Tak lama kemudian dia sampai di tempat tujuannya yaitu mansion mewah miliknya. Para penjaga segera membuka gerbang ketika melihat mobil majikannya sudah pulang. Alex masuk ke halaman mansion miliknya dan memarkirkan mobil mewahnya.
"Wah Alex, kau pulang telat lagi? Kali ini kau pergi kemana? Lupa kalau di rumah istrimu menunggu kehadiranmu?" Tanya Sandra saat melihat suaminya masuk ke dalam rumah.
"Diamlah sayang, aku tidak ingin berdebat. Aku lelah." Ujar Alex kemudian mencium dan melumat bibir istrinya yang terlihat menggoda.
"Ssshh.. Jangan menciumku! Jawab dulu pertanyaanku, kau darimana? Ini sudah jam 12 malam kau tau?!"
"Hah... Aku baru saja membunuh seseorang."
"Apa?! Siapa?!"
"Lia."
"Lia mantanmu itu? Kenapa kau membunuhnya? Apa yang dia lakukan padamu?" Tanya Sandra mengintimidasi suaminya.
"Dia menggodaku, aku tidak suka akhirnya ku bunuh saja dia." Jawab Alex dengan entengnya.
"Menggoda bagaimana? Jelaskan secara rinci Alex! Jangan berbelit-belit!"
"Kau ini galak sekali. Iya-iya nanti aku ceritakan. Sayang, kenapa malam ini kau sexy sekali hm? Kau ingin menggodaku dengan pakaian lingeriemu?" Tanya Alex sambil menatap istrinya itu dari atas sampai bawah dengan tatapan mesumnya.
"Tidak, aku tau kalau aku itu sexy. Berhentilah menatapku seperti itu! Kau membuatku takut."
"Ayo bermain." Bisik Alex menggoda tepat di telinga Sandra.
"Aku lelah, besok saja ya?"
"Kau pasti akan menghukumku di ranjang ketika kau tau ada sebuah kissmark di sini." Ucap Alex sambil menunjuk lehernya sebelah kiri.
"WHAT THE FUCK?! SIAPA YANG MEMBUAT ITU HAH?! BERANI-BERANINYA KAU BERMAIN DI BELAKANGKU ALEX!!" Emosi Sandra sambil melihat kissmark yang terlihat jelek menurutnya.
"Lia yang membuatnya disaat kami bertemu. Dia pandai kan?" Puji Alex untuk memanasi istrinya.
"Pandai?! Pandai apanya?! Ini sangat jelek. Jelek sekali!! Kau, ayo! Akan kuberi kau pelajaran dan setelah itu kau harus menjelaskan semuanya!!" Sandra menarik kasar tangan Alex kemudian mereka menuju ke kamar di lantai 2.
"Ini yang aku tunggu-tunggu sayang. Kau bebas melakukan apapun dengan tubuhku." Ucap Alex dengan senyum bangganya.
Entahlah, yang pasti Alex sangat suka ketika istrinya agresif di ranjang. Apalagi setelah mengetahui Lia membuat kissmark itu, mungkin Sandra akan semakin ganas.
Saat sampai di dalam kamar, Sandra langsung mendorong Alex ke kasur kemudian dia naik dan duduk di perut suaminya. Alex hanya tersenyum lebar dengan perlakuan istrinya.
"Kau akan kuberi pelajaran Lex. Berani-beraninya kau membiarkan dia menciummu!"
"Aku kaget sayang, dia tiba-tiba menciumku dan aku tidak bisa menghindarinya."
"Tidak bisa?! Kenapa tidak bisa hah?! Apa jangan-jangan kau rindu dengan masa lalumu itu makanya kau membiarkan dia menciptakan ciuman jelek ini?! Melihatnya saja sudah membuatku jijik!"
"Bukan begitu sayang... Aku sama sekali tidak rindu dengannya. Hanya kau yang aku cintai."
"Basi!" Sandra langsung membuka jas dan kemeja suaminya dengan kasar sampai kancingnya terlepas dari tempatnya. Sandra mengelus dada bidang suaminya itu dengan sensual sambil tersenyum smirk.
"Kau akan ku hukum baby!" Ucap Sandra dengan nada tegas namun menggoda.
"Of course baby, I will enjoy your game." Balas Alex tak kalah dengan nada menggodanya.
Sandra melakukan pemanasan dengan mencium, melumat, dan menggigit bibir Alex sedikit kasar. Alex ingin mengeluh karena dia merasa sedikit sakit tapi Sandra tidak mengizinkan Alex untuk bicara dan dia pun pasrah saja dengan perlakuan istrinya.
Sandra kembali menatap kissmark jelek itu dan dia menghela nafas kasar. Dia mendekatinya kemudian mencium leher Alex untuk menutupi tanda merah itu. Singkatnya, Sandra ingin kissmark itu berubah menjadi miliknya. Dan untungnya Lia tidak membuatnya terlalu merah jadi sangat mudah untuk Sandra menutupinya.
Alex tahu apa yang dilakukan istrinya tapi dia tetap diam dan menikmati perlakuan Sandra. Percayalah, Sandra sangat ahli membuat kissmark. Siapa lagi yang mengajarinya kalau bukan Alex? Suaminya sendiri.
"Sudah selesai?" Tanya Alex.
"Sudah, kau ingin melihatnya?" Alex berdehem menjawab pertanyaan istrinya.
Sandra bangkit dari atas tubuh Alex kemudian dia berjalan ke arah meja rias dan mengambil cermin kesayangannya yang ukurannya tidak terlalu besar.
"Lihatlah, kau pasti menyukainya." Ucap Sandra kemudian memberikan cermin itu kepada Alex.
Alex menerimanya dan mengamati lehernya "Wah sayang, kau semakin berbakat dalam hal ini. Tapi kenapa warnanya sangat merah keunguan? Tidak kah kau terlalu kuat menghisapnya?"
"Aku sengaja melakukannya karna aku kesal. Kenapa? Kau tidak suka?"
"Aku suka tapi besok aku ke kantor dan bawahanku melihat ini bagaimana? Apalagi besok aku ada meeting, para klien pasti akan melihat tanda ini."
"Bilang saja kalau itu aku yang buat. Lagian aku istrimu Lex, bukan orang lain. Apa kau malu menunjukkan tanda itu? Kalau kau malu hapus saja atau gunakan syal untuk menutupi itu!" Sandra kesal dan akhirnya dia pergi dari kamar. Menghiraukan Alex yang sedari tadi memanggilnya.
"Salah lagi kan? Bukan begitu maksudku sayang! Aarrgghh gagal bercinta malam ini!" Alex bicara sendiri sambil mengacak rambutnya dengan kasar, dia bangkit dari tempat tidur dan memilih menyusul sang istri.
***
Malam hari berlalu begitu saja dan memunculkan matahari dengan sinar yang begitu cerah. Terlihat kedua insan di sebuah kamar masih tidur dengan posisi saling memeluk satu sama lain.
Kring... Kring...
Jam weeker terus berbunyi menandakan pukul 7 pagi. Sandra yang merasa tidurnya terusik dengan bunyi jam itu lantas dia bangun dan mematikannya.
"Euung..." Lenguhnya sambil merilekskan otot-ototnya.
Sandra melihat Alex masih setia tidur dengan memeluk pinggangnya. Walaupun Sandra sudah bangun dan banyak bergerak, Alex tetap nyenyak dengan tidurnya.
"Alex, bangun. Ini sudah jam 7, apa kau tidak ke kantor?" Tanya Sandra sambil menoel pipi kanan Alex untuk membangunkannya tapi Alex hanya berdehem dan mendesis.
"Alex bangunlah, ini sudah siang. Kau bilang hari ini ada meeting penting, kau akan terlambat!" Sandra menggoyangkan lengan suaminya itu tapi tetap saja Alex tak kunjung bangun.
Sandra menghela nafas kasar, bingung harus membangunkan suaminya dengan cara apa. Tapi tiba-tiba sebuah ide gila muncul di pikirannya. Dia menyingkirkan tangan Alex dari pinggangnya dan duduk di kasur.
"Aku yakin, pasti dengan cara ini dia akan bangun. Tapi kalau dia tidak bangun juga, mungkin dia sudah mati." Kata Sandra dengan mudahnya.
Sandra mengambil posisi yang pas dan menarik nafas dalam-dalam, "ALEEEEXXX BANGUUUNNN!! INI SUDAH SIANG BODOOOHHH!!" Teriak Sandra dengan kencangnya tepat di telinga Alex. Spontan Alex yang mendengar pun langsung bangun dan merasa telinganya ingin meledak sekarang juga.
"Bangun juga kau, kukira sudah mati."
Alex melihat istrinya itu duduk dengan melipat kedua tangannya sambil memberikan tatapan tajam.
"Sayang, kenapa kau berteriak sih? Kupingku sampai sakit mendengar suaramu." Kata Alex memegang kupingnya sebelah kanan.
"Hanya dengan cara itu kau baru bisa bangun. Dari tadi aku membangunkanmu susah! Kukira kau sudah mati!" Ketus Sandra.
"Aku mendengarmu tapi mulutku malas menjawabnya."
"Apa kau bilang?! Jadi dari tadi kau mengabaikanku? Iya?!"
Merasa akan terjadi perang dunia di kamar ini, Alex memilih kabur ke kamar mandi dengan berlari secepat kilat. Mengabaikan ocehan Sandra yang tidak ada henti-hentinya.
"Istriku kenapa sih? Sekarang dia mudah sekali emosian, seperti Hulk." Oceh Alex di dalam kamar mandi.
"Aku bisa mendengarmu Alex sialan!" Bentak Sandra. Alex yang mendengarnya pun terkejut dan menutup mulutnya.
"Lihatlah, bahkan telinganya tajam sekali mendengar perkataanku. Matilah aku." Ucapnya dengan nada yang sangat pelan.
Setelah usai membersihkan diri, Sandra dan Alex kini sedang berada di meja makan untuk sarapan. Terlihat para pembantu menyiapkan makanan di atas meja untuk mereka santap, ada juga sebagian pembantu sedang membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan yang lain.
Alex sesekali mencuri pandang ke arah Sandra, ingin memastikan apakah dia masih marah atau tidak.
"Sayang, aku---"
"Jangan bicara. Aku tidak ingin mood sarapanku hilang begitu saja."
Alex menghela nafas dan memilih diam, dia kembali melanjutkan makannya.
10 menit berlalu dan mereka sudah selesai sarapan. Alex bangkit dari tempat duduknya dan mengambil tas kerja.
"Aku pergi dulu sayang, jaga dirimu baik-baik." Kata Alex dan dia menyematkan sebuah ciuman di kening dan bibir Sandra.
"Hmm.. Hati-hati di jalan, jangan pulang telat. Aku menunggumu dirumah." Alex menganggukkan kepalanya dan bersiap pergi, namun langkahnya terhenti.
"Kau tidak marah lagi denganku?" Tanya Alex dengan hati-hati.
Sandra menatap Alex dengan malas, "Tidak, tapi kalau kau mengulang kata-kata itu lagi maka junior yang di balik celanamu akan lenyap hari itu juga."
Alex mengedik ngeri mendengar ucapan istrinya sambil meraba junior kebanggaannya, "Iya sayang, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya. Tadi itu aku hanya keceplosan tanpa sadar."
Sandra berdehem, "Yaudah pergi sana, kau akan terlambat." Alex mengangguk dan pergi meninggalkan Sandra yang masih duduk di tempatnya.
***
Kini Alex sudah sampai di kantor. Dia mendudukan dirinya di kursi besar miliknya. Alex memijat pelipisnya sambil mengeluh pelan. Dia pusing memikirkan sifat Sandra yang berubah dalam satu malam.
"Ada apa dengannya? Apa dia sedang PMS? Tapi setauku bulan ini sudah selesai." Alex masih terus bergumam dengan posisi yang sama sampai suara decitan pintu terdengar jelas di gendang telinganya.
"Alex!" Teriak seorang pria ketika dia sudah masuk ke dalam.
"Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu? Tidak sopan sekali!"
"Hehe.. Sorry dude, haruskah ku ulang?"
"Tidak perlu!" Ketus Alex sambil memalingkan wajahnya.
"Hei, kau kenapa? Raut wajahmu seperti benang kusut." Tanya pria itu saat dia sudah duduk di hadapan Alex.
Alex menghela nafas, "Biasalah." Jawabnya.
"Soal istrimu?" Tebak pria itu dan Alex mengangguk.
"Kenapa dengannya? Apa dia tahu soal kejadian kemarin?"
"Kejadian apa?" Tanya Alex dengan raut wajah bingung.
"Soal kau membunuh Lia."
"Tidak, bukan itu. Bahkan dia tidak marah sama sekali. Tapi soal... Tunggu, darimana kau tahu aku membunuhnya?" Tanya Alex sedikit membentak.
"Apa kau lupa siapa aku? Bahkan apa yang kau lakukan dan siapa yang kau bunuh aku tahu." Jawab pria itu bangga dan Alex hanya mendecih menanggapinya.
"Jadi soal apa, hm?" Tanya pria itu lagi.
Alex menghela nafas pelan, "Aku mengatai Sandra Hulk."
Setelah Alex mengatakan itu, tiba-tiba suara tawa yang begitu kuat terdengar di seluruh penjuru ruangan.
"Apa kau ingin mati? Jika iya aku akan melakukannya sekarang juga."
"Hahaha... Sorry, aku hanya kaget." Ucap pria itu masih dengan tawanya walaupun tidak sekeras tadi.
"Kaget tapi tertawa? Alasan macam apa itu? Kau kira aku bodoh?" Ketus Alex sambil menatap tajam pria yang ada di hadapannya.
"Baiklah-baiklah, aku minta maaf. Lagian kau juga yang salah, kenapa tiba-tiba memanggil Sandra Hulk? Apa kau tidak tahu seperti apa seorang wanita akan mengamuk?"
"Itu dia, padahal aku mengatakannya sangat pelan di kamar mandi tapi dia tetap dengar."
Pria itu cekikikan, "Apa kau sudah minta maaf?"
"Sudah dan dia memaafkanku, tapi tetap saja aku tahu, pasti dia masih marah denganku. Aku hafal betul dengan sifatnya. Tolong bantu aku Sam." Mohon Alex.
Ya, pria itu Sam, sahabat dekatnya Alex sekaligus partnernya. Partner kerja yang tidak sembarang orang melakukannya.
Sam berfikir sejenak, "Aku harus membantu apa? Ini masalah kalian berdua. Aku tidak mau ikut campur."
"Sudahlah, aku akan cari solusi lain."
Sam tahu Alex ngambek dan dia pun mengeluarkan ide cemerlangnya, "Jadilah pria yang romantis."
"Romantis?" Tanya Alex dengan kerutan di keningnya.
Sam mengangguk, "Ajak dia makan malam atau pergi ke suatu tempat yang ingin dia kunjungi."
"Jika aku melakukannya apa kau yakin dia akan memaafkanku?"
"Tentu saja. Semua wanita suka dengan pria yang romantis, dan aku yakin Sandra akan menyukainya."
"Tapi aku tidak suka melakukannya, aku lebih suka menyelesaikan masalah di ranjang."
Sam memukul jidatnya pelan, "Tolong kali ini serius dulu, jadilah pria romantis dan lupakan pikiran mesummu itu."
Alex mendesis, "Baiklah, tapi bagaimana caranya? Aku tidak tahu."
"Kau tenang saja, aku kan ada. Mendekatlah biar ku jelaskan bagaimana caranya."
Alex pun mendekat dan Sam menjelaskan bagaimana caranya. Di sela-sela pembicaraan mereka, Alex terus tersenyum. Entah apa yang membuatnya tersenyum hanya dialah yang tahu.
"Ide yang bagus, aku rasa itu mudah kulakukan." Ucap Alex saat Sam sudah selesai menjelaskan.
"Memang mudah, kau saja yang tidak pernah belajar jadi pria yang romantis. Aku jadi kasian dengan Sandra, apa dia tahan dengan sifat mesummu itu?"
"Tentu saja tahan! Bahkan jika kami bermain dia selalu minta woman on top. Dia juga sering memintaku menambah ronde permainan panas kami. Membayangkan dia ada di bawah kukunganku dan mendengarnya mendesah aku jadi ingin pulang dan bermain dengannya."
Sam memutar bola matanya malas, "Memang susah bicara dengan orang yang mesumnya kelewat dosis."
Alex terkekeh namun tiba-tiba dia teringat sesuatu, "Ada apa kau kemari? Apa ada hal yang penting?" Tanyanya.
"Ah ya! Untung saja kau tanya, aku hampir lupa. Kau tahu bisnis bawah tanah kita yang ada di Boston? Jay mencuri beberapa barang disana dan menjualnya tanpa sepengetahuan kita."
"Jay? Beraninya dia! Tapi darimana kau tahu?"
"Bodyguardku memberitahuku. Sejak awal memang aku sudah curiga dengannya karena setiap pekerja kita menghitung barang selalu saja kurang. Dan ketika mereka mengecek CCTV tidak ada bukti disana. Sepertinya dia yang menyabotasenya, jadi aku menyuruh para bodyguardku untuk mengikutinya dan memantaunya, dan inilah buktinya." Sam menyodorkan map coklat yang dia bawa dan Alex membukanya. Terdapat beberapa foto disana yang memperlihatkan aktivitas Jay menjual narkoba dan aneka senjata api.
"Kau ingin melakukan apa dengannya?" Tanya Sam padahal dia sendiri sudah tahu jawabannya.
"Tentu saja membunuhnya! Malam ini kita pergi ke Boston."
"Tidak bisa, jangan sekarang."
"Kenapa?"
"Apa kau lupa rencanamu dengan Sandra?"
"Jadi kapan? Apa aku tunda saja jadi pria yang romantis? Tanganku gatal ingin membunuhnya."
"Jangan bodoh. Malam ini habiskan waktumu dengan Sandra sesuai rencana dan besok malam kita akan ke Boston. Kau tenang saja, aku akan terus memantaunya dan tidak akan kubiarkan dia melarikan diri."
"Hmm.. Baiklah. Besok malam jemput aku." Sam pun mengangguk.
***
Sejak sore tadi Alex sudah berada di rumah. Dia memilih pulang cepat karena bosan berada di kantor. Melihat banyak berkas yang ingin dia kerjakan membuat kepalanya serasa ingin meledak, apalagi mendengar fakta bahwa Jay melakukan hal busuk di belakangnya. Bahkan dia rela membatalkan meetingnya dengan klien penting hanya karena memikirkan hal itu. Alex tidak menyangka Jay akan melakukan itu. Pasalnya, Alex sudah menganggap Jay seperti adik kandungnya sendiri. Alex merekrut Jay karena dia pernah menolong dirinya saat Alex hampir dibunuh oleh orang yang tidak dikenal. Saat itu, Jay melihat sosok misterius dengan pakaian serba hitam dari atas sampai bawah mengikuti Alex. Disaat sosok misterius itu mengeluarkan pisau tajamnya dan ingin menusuk Alex dari belakang, Jay melihatnya. Tanpa berpikir panjang, Jay langsung memukul dan membunuh sosok itu. Tentu saja Alex terkejut karena orang asing yang sama sekali tidak dia kenal menolongnya. Sejak saat itu Alex mengajak Jay bekerja di bisnis bawah tanahnya dan hubungan mereka cukup dekat seperti saudara kandung layaknya kakak dan adik.
"Apa aku harus membunuhnya? Tapi tidak semudah itu kulakukan. Dia pernah menyelamatkan nyawaku, tidak mungkin aku membunuhnya." Alex mengacak rambutnya frustasi memikirkan hal itu.
"Kau ingin membunuh siapa lagi, hm?" Tanya Sandra tiba-tiba karena tidak sengaja dia mendengar perkataan Alex.
"Sejak kapan kau disitu? Kau menguping ya?"
Sandra mendecih, "Habis tenagaku melakukan itu. Aku tidak sengaja mendengarmu ingin membunuh orang. Siapa dia?"
Alex tersenyum, "Kemarilah, duduk disini." Alex menepuk pelan pahanya agar sang istri duduk di pangkuannya.
Sandra memutar bola matanya malas tapi tetap melakukan apa yang disuruh suaminya itu.
"Cepat katakan, kau ingin bunuh siapa lagi? Aku tidak suka kau jadi pembunuh Lex! Kau harus berubah!"
"Ini pekerjaanku sayang, kalau ada orang yang menghianatiku maka tidak segan-segan aku akan membunuhnya, sekalipun dia teman dekatku." Jelas Alex.
"Kau memang susah di nasehati. Selalu saja begitu!" Sandra memalingkan wajahnya dengan kedua tangannya dilipat dibawah dada.
Alex tersenyum gemas melihat istrinya seperti ini, menurutnya sangat imut.
"Kalau aku membunuh Jay bagaimana? Apa kau setuju?" Tanya Alex.
Sandra kembali melihat suaminya itu tapi dengan wajah terkejut serta bola mata yang melotot.
"Jay? Jay yang pernah menyelamatkan nyawamu itu kan? Jangan gila, Lex! Atas dasar apa kau ingin membunuhnya?!" Bentak Sandra.
"Dia menghianatiku. Dia mencuri barang di Boston dan menjualnya tanpa sepengetahuanku dan Sam." Jelasnya.
"Darimana kau tahu? Sam?" Alex mengangguk. "Apa dia punya buktinya?" Tanya Sandra lagi.
"Ada, ini lihatlah." Alex menyodorkan map cokelat yang Sam berikan kepadanya tadi pagi. Membiarkan Sandra melihatnya.
Sandra menutup mulutnya tidak percaya melihat semua foto-foto itu, "Kau yakin ini Jay? Kenapa dia tega sekali melakukannya? Aku kira dia orang baik-baik, tapi ternyata? Jadi selama ini kebaikan kita hanya dianggap bualan?!"
"Tenangkan dulu dirimu. Seharusnya aku yang emosi tapi kenapa jadi kau?"
"Ini tidak benar, kau jangan membunuhnya sebelum kau tahu apa sebenarnya alasan dia melakukan ini semua. Aku yakin dia punya alasannya."
Alex berfikir sejenak, "Kalau dia berbohong bagaimana?"
"Ajak dia bicara empat mata, bicarakan hal ini baik-baik dengannya. Jangan tersulut emosi dulu."
Alex menghela nafas, "Hmm.. Baiklah, kau memang selalu bisa diandalkan."
Sandra menyibakkan rambut panjangnya ke samping, "Sandra gitu loh." Katanya menyombongkan diri dan Alex tertawa.
"Apa kau masih marah padaku?" Tanya Alex.
"Marah kenapa?"
"Soal tadi pagi."
"Aku tidak marah tapi kesal." Ketus Sandra.
"Jadi kau masih kesal denganku?"
"Tidak lagi, tapi jika kau mengulanginya aku benar-benar akan mematahkan juniormu!"
Alex melirik kearah juniornya yang diduduki Sandra, "Kalau kau patahkan bagaimana kita akan bermain nanti? Aku tidak akan bisa memuaskanmu."
"Tidak masalah, aku bisa mencari pria yang lebih perkasa darimu. Seharusnya yang kau khawatirkan itu dirimu sendiri karena tidak bisa melakukan sex tanpa junior." Sandra tertawa lepas seusai mengejek Alex.
"Berani-beraninya kau mengatakan itu kepada suamimu sendiri! Mau ku hukum kau?"
"Dengan senang hati daddy..."Ucap Sandra dengan nada sensualnya sambil menggesekkan bokongnya ke arah junior Alex.
"Ssshhh... Kau nakal baby."
"Ayo kekamar, aku mau 10 ronde. Kau tahan kan?"
"Tentu saja! Apa yang tidak untukmu." Alex mencium bibir Sandra dan melumatnya sebentar kemudian menggendong Sandra ala bridal style ke kamar.
"Ahh ah.. Hentikan Lex, aku tidak kuat lagi." Keluh Sandra.
"Ini baru 5 ronde sayang, bukannya tadi kau minta 10 ronde?" Tanya Alex sambil menggoyangkan pinggulnya, mengobrak-abrik liang wanitanya.
"Tadinya aku ingin tapi entah kenapa aku mudah lelah sekarang. Aku sudah tidak kuat lagi, hentikanlah aku bisa pingsan nanti."
"Ssshh.. Mmmhh, sebentar sayang, tunggu aku pelepasan baru kuhentikan."
"Cepatlah, jangan kau tahan."
"Iya sayang sebentar, sedikit lagi dia akan keluar." Alex terus menggoyangkan pinggulnya dengan tempo yang sangat cepat sampai-sampai Sandra teriak histeris karena ulah suaminya itu. Dikamar itu penuh dengan desahan mereka berdua, ya desahan yang siapapun mendengarnya akan merinding.
"S-sayang, I'm cum."
"Me too! A-ALEEEEEXXXXXX!!!" Mereka berdua saling berteriak saat pelepasan. Suara desahan sudah tergantikan dengan suara nafas yang memburu seakan mereka kehabisan oksigen dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Alex yang berada di atas Sandra menatap mata sayu istrinya dan menghapus keringat di keningnya, "Kau sangat sexy sayang." Sandra yang kelelahan tidak mampu menjawab perkataan Alex, dia hanya berdehem saja.
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau berhenti di tengah permainan. Apa yang membuatmu lelah seperti ini?"
Sandra menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, sejak tadi pagi aku terus merasa lelah dan bawaannya ingin tidur. Tapi saat aku tidur tubuhku malah terasa makin lelah."
"Apa kau sakit? Kita ke rumah sakit ya?"
"Tidak usah, aku baik-baik saja. Mungkin ini efek yang lainnya."
"Efek apa? Kau kan tidak melakukan apapun dirumah ini dan semua pekerjaan rumah dilakukan pembantu. Atau jangan-jangan...." Alex menggantungkan kalimatnya.
Sandra menatap intens wajah suaminya, "Jangan-jangan apa?"
Alex terdiam sejenak dan bangkit dari atas tubuh Sandra, duduk bersandar di headboard, "Jangan-jangan kau hamil."
Sandra membulatkan matanya, bahkan ingin bicara saja dia tidak bisa seperti ada yang mengganjal di mulutnya.
"Kau kenapa? Ada apa dengan raut wajahmu itu?" Tanya Alex heran.
Sandra memukul lengan suaminya, "Tidak mungkin aku hamil. Aku baru selesai datang bulan. Lagian aku belum siap hamil, Lex."
Alex terkejut, "Kenapa? Kau tidak ingin mengandung anak dariku?"
"Bukan seperti itu, aku siap mengandung jika kau berhenti dari pekerjaan bisnis bawah tanahmu itu. Aku tidak sudi jika anakku mengikuti jejak daddy nya. Aku tidak mau besar nanti dia membunuh orang!" Jelas Sandra. Apa yang dia katakan memang benar, siapa yang ingin anaknya menjadi seorang pembunuh dan bekerja seperti Alex? Tentu saja semua orang tua tidak ingin.
Alex tertawa, "Sayang, bukankah itu keren? Pekerjaan seperti itu justru banyak di gemari orang terutama anak muda zaman sekarang. Menjadi mafia, punya banyak uang, siapa yang tidak mau?"
"Are you crazy?! Jika kau ingin punya anak yang seperti itu, lebih baik kau setubuhi jalang agar dia yang mengandung anakmu!"
"S-sayang, bukan seperti itu maksudku."
"Jadi apa? Kita baru saja baikan tapi kau mengundang amarahku lagi!" Sandra bangkit dari tidurnya dan ingin pergi dari sana tapi Alex menahannya.
"Baiklah, maafkan aku. Aku akan berusaha untuk berhenti dari pekerjaan kotorku demi kau dan anak kita."
Sandra melirik Alex, "Apa kau yakin? Bisa ku pegang janjimu itu?"
Alex menghela nafas, "Iya sayang, kau bisa memegangnya. Saat kau hamil nanti aku akan langsung berhenti dan Sam yang akan mengurusnya, aku cukup memantau saja."
Sandra tersenyum dan memeluk tubuh telanjang Alex, "Terima kasih. Buktikan janjimu itu ketika aku sudah hamil."
Alex membalas pelukan Sandra dengan erat, "Iya, aku janji."
"Sayang, apa kau masih lelah?" Tanya Alex melepaskan pelukannya.
"Iya, masih. Kenapa?"
"Tadinya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, tapi kalau kau masih lelah kita tidak perlu pergi. Lain kali saja."
"Kau ingin mengajakku kemana?" Tanya Sandra bingung.
"Ke tempat yang romantis. Itu kan yang disukai para wanita?"
Sandra tertawa, "Sejak kapan kau jadi pria yang romantis? Kau kan tidak suka hal seperti itu."
"Sam yang mengajariku tadi pagi. Awalnya aku bingung bagaimana caranya agar kau tidak marah lagi denganku dan kebetulan Sam datang ke kantor, yaudah aku minta tolong dengannya."
Sandra tersenyum, "Kau tidak perlu melakukan itu, lagian tanpa kau minta maaf, aku sudah memaafkanmu."
"Benarkah?" Tanya Alex dan Sandra mengangguk.
"Terima kasih sayang. Jadi kau benar tidak ingin pergi malam ini?"
Sandra menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku sangat lelah. Maaf ya?"
Alex tersenyum sambil mengusap rambut Sandra dengan lembut, "Tidak apa, kita bisa pergi lain kali. Kau mandilah setelah itu kita makan malam agar kau bisa langsung istirahat." Sandra mengangguk dan pergi ke kamar mandi tanpa menutup tubuh polosnya itu dengan sehelai benang.
"Sayang!" Sandra berbalik.
"Malam ini aku ingin pergi ke Boston dengan Sam untuk menemui Jay, boleh tidak?"
"Hm.. Pergilah, tapi ingat kata-kataku sore tadi. Jangan tersulut emosi, ajak dia bicara baik-baik maka dia akan memberitahukan alasannya."
"Baiklah, sudah sana masuk. Apa kau ingin menggodaku lagi?" Sandra mengedipkan sebelah matanya dan meremas kedua gunung kembar yang montok itu di depan Alex kemudian berjalan ke arah kamar mandi seperti bak seorang model.
"Dasar wanita nakal."
Seusai mengatakan itu Alex mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, mencari nama Sam dan menghubunginya.
"Ada apa?" Tanya Sam di seberang sana ketika dia sudah mengangkat panggilannya.
"Malam ini jemput aku, kita pergi menemui Jay."
"Bukannya kubilang besok saja? Malam ini habiskan waktumu dengan Sandra."
"Sudah kulakukan, bahkan dia sampai kelelahan."
"Apa maksudmu?"
"Kau tentu tau apa maksudku, tidak usah pura-pura bodoh." Ketus Alex.
"Jadi bagaimana dinnernya? Tidak jadi?"
"Tidak. Dia bilang dia sudah memaafkanku tanpa aku minta maaf padanya. Dia benar- benar wanita idaman Sam."
"Bersyukurlah kau memiliki Sandra, jaga dia."
"Kau tenang saja, tanpa kau suruh aku akan menjaganya sekalipun mempertaruhkan nyawaku."
"Hmm terserahlah."
"Jangan lupa jemput aku, jam 8 kau harus sudah sampai disini."
Sam berdecak, "Kau kira aku supirmu? Berangkat masing-masing!"
"Aku malas menyetir."
"Kau punya supir Lex, buat apa kau memperkerjakan supir kalau kau tidak pakai jasanya?" Di seberang sana Sam sudah emosi bicara dengan Alex.
"Aku tidak percaya dengannya."
"Dasar bodoh!"
"Kau masih ingin hidup atau tidak? Jika masih jemput aku." Setelah Alex mengatakan itu dia mematikan panggilannya secara sepihak, sementara Sam di seberang sana sudah memaki-maki Alex.
***
Terlihat mobil Lamborghini ingin memasuki halaman mansion mewah Alex. Para penjaga yang sudah tahu kepemilikan mobil itu langsung membuka pagar dan mempersilahkan masuk tanpa bertanya apapun.
Kini mobil itu berada di depan mansion Alex dan seorang pria keluar dari dalam mobil, berjalan dengan arogan dan langsung membuka pintu tanpa mengetuk atau memencet bel terlebih dahulu.
"Dimana Alex?" Tanyanya ke salah satu pembantu yang sedang membersihkan vas bunga.
"Tuan Alex ada di atas." Jawab pembantu itu dengan sopan.
"Sandra?" Tanya pria itu lagi.
"Nyonya ada di ruang tengah sedang menonton film." Tanpa menjawab, pria itu berjalan menemui Sandra. Sementara pembantu tadi kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Sandra!" Panggil pria itu saat sudah sampai di ruang tengah.
Nama yang di panggil pun menoleh, "Sam? Sedang apa kau disini?"
"Dimana suamimu?" Tanya Sam tanpa menjawab pertanyaan Sandra.
"Dia di atas, kenapa? Kau kemari ada perlu apa? Mau membicarakan soal pekerjaan?"
"Bukan, aku ingin menjemput suamimu."
"Menjemput? Kalian ingin pergi? Kemana?"
"Ke neraka." Jawab Sam santai.
"Hah? Maksudmu apa sih? Kalau bicara yang jelas." Ucap Sandra yang mulai jengkel.
Sam duduk di sebelah Sandra, "Lagian kau kenapa memaafkan dia? Seharusnya kau lempar saja dia ke sungai Amazon biar dia di makan Anaconda."
Sandra mengernyit bingung, "Kau bicara apa sih?"
"Tidak usah kau dengarkan si keparat itu sayang. Dia kalau bicara memang begitu, tidak pernah jelas!" Ucap Alex sambil menuruni anak tangga.
"Kalian kenapa? Berantam? Apa ada masalah?" Tanya Sandra saat suaminya itu sudah di hadapan mereka berdua.
"Suamimu itu yang punya masalah denganku. Kalian punya supir tapi kenapa harus aku yang menjemputnya?!" Ucap Sam dengan kesal.
Sandra beralih melihat Alex. Dia yang sadar akan tatapan istrinya itu langsung menjawab, "Aku menyuruhnya untuk menjemputku. Aku ingin menemui Jay, apa kau lupa?"
"Tapi kenapa kau menyuruh Sam? Kau kan ada mobil Alex."
"Aku malas menyetir sayang."
"Kita ada supir, dia bisa mengantarmu."
"Tidak mau, aku maunya Sam yang mengantarku."
"Lihat, lihat suamimu itu. Apa dia pikir aku ini babunya?"
"Hei, kau juga sudah setuju ingin menjemputku kan? Kenapa kau jadi kesal?!" Bentak Alex.
"Sejak kapan aku setuju? Saat aku ingin menolak kau bahkan sudah mengancamku duluan!" Bentak Sam juga.
"Tadi pagi saat di kantor, apa kau masih ingin mengelak atau kau pura-pura amnesia?"
Sam kembali mengingat kejadian tadi pagi, "Itu kan besok, bukan hari ini!"
Sandra yang sedari tadi mendengar ocehan kedua lelaki itu, segera dia berteriak dengan lantang, "Bisakah kalian diam?!" Alex dan Sam tentu terkejut dan tidak ada satupun dari mereka mengeluarkan suara.
"Kalian ini seperti anak kecil! Kau juga Alex, kalau kau malas menyetir suruh supir untuk mengantarmu. Jika kau malas menyuruhnya pecat saja dia! Jangan menyuruh orang seenakmu saja tanpa ada persetujuan darinya. Dan kau!" Sandra menunjuk Sam dan melanjutkan pembicaraannya, "Kau mau saja percaya dengan ucapannya. Kau bilang dia mengancammu? Apa ancamannya? Ingin membunuhmu? Apa kau percaya begitu saja? Dia tidak akan membunuhmu!" Sandra mendengus kesal.
Sam memikirkan ucapan Sandra, "Benar juga, kenapa aku percaya begitu saja? Dasar bodoh!" Batin Sam.
"Sayang, bukan seperti itu. Aku hanya bercanda saja, tidak lebih. Iya-iya, aku minta maaf."
Sandra menghela nafas kasar, "Minta maaf pada Sam."
Alex dan Sam melotot, pasalnya Alex tidak pernah minta maaf pada Sam walaupun dia yang salah. Kata maaf hanya keluar dari mulutnya ke orang tertentu saja, Sandra misalnya.
"Cepat!" Pekik Sandra.
"T-tapi sayang--" Ucapan Alex terpotong saat Sandra membelalakkan matanya.
"Huufftt.. Baiklah." Pasrah Alex. Dia melihat Sam yang sedang menahan tawa, ekspresinya langsung merah padam melihat Sam yang sedang mengejeknya seperti itu.
"Maafkan aku." Katanya penuh tekanan.
"Ucapanmu seperti tidak tulus." Goda Sam sengaja.
Alex menggertakkan giginya, menghela nafas mencoba untuk bersabar demi Sandra, "Sam, maafkan aku, ok?" Kali ini tidak ada nada penuh tekanan disana, sudah tergantikan dengan nada lembut selembut sutra.
Alex terkekeh, "Ok, aku memaafkanmu."
"Nah, begitu kan bagus. Mataku tidak sakit lagi melihat kalian bertengkar seperti tadi." Ucap Sandra.
Alex mengangguk, "Kalau begitu kami pergi dulu, jangan menungguku pulang, jika kau ngantuk tidurlah duluan. Mungkin aku pulang agak larut."
"Hm, pergilah. Hati-hati dan ingat perkataanku tadi."
"Iya sayang, aku selalu mengingatnya." Sam mengecup kening dan bibir Sandra, "Kami pergi." Sandra tersenyum sambil mengangguk.
"Kami pergi sayang, jangan merindukanku." Ucap Sam dan Sandra tertawa.
"Apa kau bilang?! Kau tidak tahu sedang bicara dengan siapa?" Tanya Alex dengan kesal.
"Santai bung, aku hanya bercanda. Lihatlah, suamimu ini cemburuan sekali."
Sandra terkekeh, "Sudahlah, sana pergi."
Mereka berdua mengangguk dan pergi dari sana. Dan Sandra pun melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Alex dan Sam kini sedang berada di dalam perjalan. 10 menit dalam keadaan sunyi, hanya terdengar suara musik yang menyala dan suara kendaraan lain berlalu lalang. Tidak ada yang memulai pembicaraan sampai Alex membuka suara.
"Sudah kau lacak dimana keberadaan Jay sekarang?"
Sam menoleh, "Sudah, terakhir aku melacaknya dia berada di markas." Alex mengangguk paham.
"Kau benar-benar ingin membunuhnya?" Tanya Sam dengan ragu.
"Tadinya iya, tapi Sandra bilang jangan. Lebih baik dengarkan dulu alasannya."
Sam kembali menoleh sebentar dan tersenyum, "Aku salut padamu. Kau selalu mendengarkan dan mengikuti apa yang Sandra katakan."
"Tentu saja. Aku akan mengikuti apa yang dia katakan. Dia istriku, istri tercinta dan tersayangku."
Sam memutar bola matanya malas, "Mulai bucinnya."
"Tidak ada salahnya bucin dengan istri sendiri. Daripada kau, bucin dengan jalang."
"Sejak kapan aku bucin dengan jalang?"
"Sejak dulu. Tiap hari kau selalu bermain dengan jalang. Jangan jadi penjahat kelamin Sam."
"Tidak bisa, aku butuh mereka untuk memuaskan nafsuku."
"Cari wanita untuk kau nikahkan dan biarkan istrimu sendiri yang memuaskan nafsumu. Jangan jalang yang sudah longgar kau manfaatkan." Ledek Alex.
"Tidak mudah mencari wanita yang masih virgin di zaman sekarang." Katanya sambil fokus menyetir.
"Selalu saja begitu. Apa perlu aku dan Sandra mencarikan untukmu?"
"Tidak perlu, aku bisa mencarinya sendiri."
"Sampai kapan? Ingat umurmu Sam, kau semakin tua. Nanti tidak ada yang mau denganmu."
"Berhati-hatilah kalau bicara, umur kita hanya beda 2 tahun dan kau yang lebih tua dariku." Ucap Sam tidak terima.
"Terserahmu lah." Setelah Alex mengatakan itu, keadaannya kembali hening. Alex sibuk dengan ponselnya dan Sam fokus menyetir.
***
Mereka sudah sampai di markas 5 menit yang lalu setelah melewati perjalanan kurang lebih 4 jam, tapi tidak satupun dari mereka keluar dari mobil.
"Kau kenapa tidak keluar? Masih ragu?" Tanya Sam. Alex tidak menjawab, dia masih dengan posisinya menatap lurus ke arah pintu markas, seperti menunggu seseorang keluar dari sana.
"Bisakah kau menjawabku? Entah yang sudah keberapa kalinya aku bertanya tapi kau acuhkan." Sam mendenguskan nafasnya.
"Ssstt!" Alex menyatukan jari telunjuknya ke bibir. "Ikuti dia." Kata Alex dengan mata menyorot ke seorang pria yang baru saja keluar dari sana.
"Jay? Mau kemana dia? Apa yang dia bawa?" Tanya Sam bertubi-tubi.
"Tidak usah banyak tanya! Cepat ikuti dia dan kita akan mendapatkan jawabannya."
Sam mendesis, "Iya-iya". Dia kembali menyalakan mobilnya dan mengikuti mobil Jay dengan hati-hati.
Sampai akhirnya mobil Jay berhenti di sebuah tempat yang sangat gelap, hanya ada satu lampu jalan yang menjadi penerangan disana.
"Dia mau menemui siapa di tempat seperti ini?" Gumam Alex.
"Sepertinya dia ingin melakukan transaksi disini." Kata Sam.
Mereka berdua masih memantau Jay dari kejauhan agar tidak ada yang curiga.
"Rekam kejadian ini Sam, videonya akan kujadikan bukti agar dia tidak bisa mengelak dari pertanyaanku." Sam mengangguk. Dia mengambil ponsel dari sakunya dan merekam kejadian itu.
"Mana paketku?" Tanya seorang pria yang kini berada di hadapan Jay.
"Ini." Ucap Jay menyodorkan tas hitam.
Pria itu segera membuka tas dan memeriksa isinya. Setelah merasa semua lengkap, pria itu memberikan tas berisikan uang.
Jay melakukan hal yang sama, dia membuka tasnya dan menghitung jumlah uangnya.
"Baiklah, semuanya pas. Kau boleh pergi." Pria itu mengangguk dan pergi dari tempat itu.
Sam menghentikan aktivitasnya, "Apa kita bisa kesana sekarang? Aku bisa mati penasaran!"
Alex berdehem pertanda iya. Sam segera menyalakan mesin mobil menuju kesana. Jay yang tadi ingin masuk ke dalam mobil mendadak menoleh dan mengernyitkan dahinya melihat sebuah mobil mendekat kearahnya.
Alex dan Sam langsung keluar dari dalam mobil dan betapa terkejutnya Jay.
"Alex?! Sam?!" Pekik Jay.
"Hello dude, how are you?" Tanya Sam sambil melambai.
"K-kalian sedang apa disini?" Tanya Jay dengan gugup.
Alex mendekat, "Seharusnya aku yang bertanya, kau sedang apa di tempat gelap seperti ini? Dan tas apa itu? Tanyanya
Jay gugup, sangat gugup sampai dia berkeringat. Lidahnya keluh, ingin bicara saja dia tidak sanggup.
"Kau kenapa gugup seperti itu? Dia hanya bertanya, jadi santai saja, ok?"
Alex melihat tas yang dia pegang dan langsung merampasnya begitu saja. Alex membuka tas itu dan membelalakkan matanya, "Uang? Uang darimana ini? Apa kau baru saja menjual sesuatu?"
Sam melirik ke tas yang di pegang Alex, "Wah, Jay kita sudah jadi pengusaha ternyata. Kenapa kau diam-diam saja? Apa kami berdua tidak berharga di matamu?"
Jay hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa menjawab berbagai pertanyaan yang mereka lontarkan padanya.
"Bisa kau jelaskan apa maksud ini semua?" Tanya Alex.
Jay masih tetap dengan posisinya dan itu membuat Alex geram. Dia meninju atap mobil dengan kuat dan membuat Jay serta Sam terkejut mendengarnya.
"Maafkan aku. Aku menyesal melakukan ini. Maafkan aku, Lex." Mohon Jay sambil menatap Alex.
"Kata menyesalmu tidak berlaku untukku. Katakan apa alasanmu." Jay ingin menundukkan kepalanya tapi segera Alex menahannya.
"Apa kau bukan seorang pria? Kenapa kau jadi pengecut seperti ini setelah kebusukanmu kuketahui hah?! Apa yang kau sembunyikan selama ini aku sudah tahu semuanya!"
"Baguslah kalau kau sudah tahu, jadi kau tidak ada alasan lain untuk membunuhku!"
"Apa maksudmu?!" Bentak Alex.
"Tidak usah berpura-pura, Lex. Aku tahu alasanmu kenapa kau baik padaku dan merekrutku menjadi pegawaimu. Kau hanya merasa kasihan padaku dan ingin balas budi denganku, iya kan?! Aku tahu semuanya!"
"Kalau iya kenapa? Apa kau keberatan? Kalau iya, kenapa sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Kau bisa menolak ajakanku jika kau tidak suka dengan simpatiku!"
Jay terdiam seribu bahasa. Alex benar, dia bisa menolaknya jika dia tidak suka. Kenapa semua ini harus terjadi?
"Bersyukurlah Alex mau membantu perekonomianmu dan keluargamu. Selain dia ingin balas budi dengan kejadian masa lalu, dia benar-benar tulus melakukannya. Tapi lihatlah yang kau lakukan sekarang, kau malah mengkhianatinya." Ucapan Sam seakan menusuk hati Jay. Dia benar, seharusnya Jay tidak melakukan ini. Seharusnya dia melakukan pekerjaannya dengan baik tanpa mengkhianati Alex seperti ini. Dia harusnya bersyukur kepada Alex karena ketika orang-orang tidak mau membantunya tapi Alex datang menyalurkan tangannya yang sama sekali tidak dia kenal saat itu.
Jay menangis, "Maafkan aku. Aku tidak bisa berfikir jernih. A-aku salah, seharusnya aku tidak melakukan ini. Maafkan aku." Jay berlutut di hadapan Alex dan meminta pengampunan.
Alex menghela nafas dan menatap langit malam yang di hiasi bintang. Dia kembali menatap Jay, "Bangunlah, aku memaafkanmu."
Jay menatap Alex dan segera bangun, "Be-benarkah? Maksudku, kau memaafkanku? Tapi seharusnya kau jangan memaafkanku, lebih baik kau bunuh saja aku."
"Kau mau? Aku bisa melakukannya sekarang." Alex mengeluarkan pistol dari saku belakangnya dan bersiap menarik pelatuknya tapi buru-buru Jay menahannya.
"Aku hanya bercanda." Cengirnya.
Alex memutar bola matanya malas dan kembali memasukkan pistolnya ke saku.
"Jadi kau benar-benar memaafkan dia?" Tanya Sam.
Alex menatap Sam dan beralih ke arah Jay, "Ya, aku memaafkanmu demi Sandra."
"Sandra?" Tanya Jay dengan heran.
"Sandra menyuruhnya untuk tidak membunuhmu jadi dia lakukan demi kau." Jawab Sam.
"Sudah lama aku tidak berjumpa dengannya, apa dia baik-baik saja? Aku ingin berterimakasih dengannya karena berkat dia nyawaku masih ada."
"Dia baik-baik saja, kau bisa kerumah kapan pun kau mau." Jay mengagguk.
"Ok, jadi sekarang masalahnya sudah beres kan? Sekarang uang ini bagaimana?" Tanya Sam
"Uang ini kubawa kerumah, ini untukku." Jawab Alex.
"Hei, mana bisa begitu! Aku juga mau!"
"Yang dia jual barangku jadi ini adalah uangku." Ucap Alex dengan santai.
"Tapi tetap saja aku membantumu. Asal kau tau, aku bisa saja tidak memberitahumu kebusukan dia!"
"Lalu kenapa tidak kau lakukan?" Damn, Sam mati kata sekarang.
"Lihat, bahkan kau tidak bisa menjawab pertanyaanku. Dasar payah!"
Jay yang melihat hanya mampu terkekeh kemudian bersuara, "Uangnya kalian bisa bagi dua, bukan?"
"Nah, benar! Ayolah Lex, kita bagi dua, ok?"
"Tidak. Ayo pulang, aku rindu Sandra. Kau pulanglah Jay, ingat jangan sampai kau ulangi kesalahanmu lagi. Jika kau mengulanginya, aku benar-benar akan membunuhmu."
Jay tersenyum, "Aku berjanji, jika aku mengulanginya kau bisa langsung membunuhku tanpa bertanya."
Alex menepuk bahu Jay, "Jaga dirimu baik-baik, jika kau punya masalah ceritakan saja padaku." Jay mengagguk paham.
"Ayo pulang Sam." Ucap Alex sambil berjalan ke arah mobil.
"Bagi dulu uangnya, Lex! Kau pelit sekali!"
"Iya-iya, nanti dirumah kukasih." Setelah mengatakan itu secepat kilat Sam langsung berlari mengikuti Alex.
"Giliran uang kau langsung cepat bergerak."
"Tentu saja, lumayan untuk sewa jalang." Alex hanya menggelengkan kepalanya melihat perilaku sahabatnya itu.
***
5 bulan berlalu, Alex kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Hubungannya dengan Jay juga sudah mulai membaik seperti dulu. Mereka berjanji untuk melupakan kejadian 5 bulan yang lalu, tapi melupakan bukan berarti tidak dijadikan pelajaran bukan? Jay belajar dari kesalahannya dan dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Dan ya, saat ini Sandra tengah mengandung hasil dari percintaan mereka. Kandungannya sekarang menginjak 3 bulan. Masih ingat soal Alex tidak akan membunuh orang lagi disaat Sandra hamil? Dia benar-benar tidak melakukannya. Disaat dia ingin melakukannya, dia menyuruh Sam untuk membunuh orang itu dengan keji di hadapannya. Walaupun rasanya kurang memuaskan tapi demi janjinya sejauh ini dia tidak melakukannya.
"Aku tidak tahan Sam! Ini seperti mengutukku!" Sungut Alex.
"Tahanlah Lex, setelah Sandra melahirkan kau bebas ingin membunuh siapapun."
"Termasuk dirimu?"
"Ya tidak begitu juga! Masa kau membunuhku?"
Alex mendengus kesal, "Siapa target selanjutnya?"
"Namanya Nathan, kasusnya dia menipu kita."
"Menipu bagaimana?"
"Dia beli senjata Springfield Kaliber tapi jumlah uangnya tidak sesuai dengan kesepakatan."
"Kenapa itu bisa terjadi? Apa kau tidak menghitung uangnya dulu?!" Bentak Alex
"Kenapa jadi aku?! Anak baru itu yang melakukannya!"
"Aaarrrgghh dasar bodoh! Pecat saja dia! Kita rugi berapa?"
"300 juta, seharusnya 400 juta tapi dia hanya bayar 100 juta."
"Kau sudah lacak dimana keberadaannya?"
"Sudah, dia ada di apartemennya."
"Kita kesana sekarang." Alex bangkit dari duduknya dan berjalan keluar diikuti Sam.
Kini mereka sudah sampai di depan apartemen Nathan, Sam menekan bel dan terbukalah pintu menampilkan seorang pria.
"Siapa ya?" Tanya sang pemilik apartemen.
"Apa kau Nathan?" Tanya Sam.
"Benar, kau siapa? Bukannya menjawab, Alex dan Sam memaksa masuk ke dalam, mendorong Nathan hingga dia jatuh di lantai.
"Dasar keparat! Kalian siapa hah?! Berani-beraninya asal masuk ke rumah orang!"
Alex mendecih, "Kau yang keparat. Kau bermain dengan orang yang salah. Bayar 300 juta dan kami akan pergi dari sini atau kubunuh kau sekarang juga."
Nathan melotot, "Uang apa maksudmu? Aku tidak pernah berurusan dengan orang sepertimu!"
Alex berjalan menggitari seluruh apartemen dan kembali membawa senjata yang Nathan beli, "Barang ini kau beli dari kami bukan? Tidak usah mengelak."
Nathan menelan air liurnya dengan susah payah, "Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar kekurangannya, bisakah aku hutang dulu? Aku janji akan membayarnya."
"Tidak ada sistem hutang di setiap transaksi kami. Jika kau tidak ada uang, kau bisa membayarnya sekarang juga, kau mau tau caranya?"
Tanpa berfikir panjang Nathan mengangguk setuju, "Baiklah, aku mau. Bagaimana caranya?"
"Dengan menjual seluruh organ tubuhmu."
Tanpa menunggu jawaban Nathan, Alex segera menusuk perutnya dengan pisau yang dia bawa secara keji dan bertubi-tubi sampai seluruh darah keluar dari mulutnya. Mengoyakkan perutnya dan mengambil beberapa organ penting disana. Tak lupa juga dia mencongkel kedua bola matanya. Kembali menusuk tepat di bagian dada untuk mengambil jantungnya.
"Jangan berdiam diri begitu, cepat ambil plastik." Ucap Alex sambil melakukan kegiatannya.
"Kau gila?! Apa kau tidak ingat dengan janjimu dengan Sandra?"
"Haruskah kita membahas itu sekarang? Mana plastiknya?" Sam mendengus kesal dan pergi ke arah dapur mengambil plastik yang cukup besar kemudian memberikannya ke Alex.
"Hubungi mereka untuk membereskan sisanya."
Sam segera mengambil ponselnya dan menghubungi para bodyguard, "Datang kemari dan urus mayat ini. Ingat jangan sampai ada jejak yang tertinggal. Alamatnya akan kukirim lewat pesan." Setelah mengatakan itu, Sam mematikan panggilan secara sepihak dan langsung mengirimkan alamatnya.
"Ah, bajuku jadi kotor karenanya."
"Jadi kau bagaimana? Sandra bisa mengamuk melihatmu seperti ini."
"Jangan khawatir, aku bisa menyelesaikannya. Aahh.. Rasanya lega bisa membunuh lagi setelah hiatus 5 bulan." Sam hanya menggelengkan kepalanya.
"Ayo pulang, ini sudah larut, Sandra pasti menunggumu. Masalah organ ini serahkan padaku, biar aku yang mengurusnya."
"Dia bagaimana?" Tunjuknya ke arah pria yang sudah tergelatak mati tidak berdaya dan tidak berbentuk lagi.
"Sebentar lagi mereka akan datang, ayo kita pergi dari sini sebelum ada yang melihat." Alex mengangguk dan mereka berdua pergi dari tempat itu.
***
"Apa Alex sudah pulang?" Tanya Sandra ke pembantu yang mengantar susu ibu hamil kepadanya.
"Belum Nyonya."
"Baiklah, kau bisa pergi." Pembantu itu mengangguk dan pergi ke dapur.
"Kemana dia? Di hubungi ponselnya tidak aktif. Apa dia lupa kalau istrinya sedang hamil? Dasar suami tidak bertanggung jawab!" Sandra mendengus kesal dan meminum susunya dengan terburu-buru. Dia duduk menunggu Alex dengan raut wajah yang kesal.
Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil di luar sana. Ya, itu suara mobil Alex. Sandra berjalan ingin menemui Alex, tapi baru beberapa langkah dia terdiam kaku melihat kemeja suaminya berlumuran darah.
"Maaf sayang, aku pulang telat karena membunuh seseorang. Maaf aku melanggar janjiku kali ini." Katanya tanpa penyesalan.
"AAALLEEEXXXXXX!!!!!"
-THE END-