Pagi hari aku bangun dengan wajah yang tetap cantik dengan rambut yang terurai acak adul dan segera mengambil handuk, aku sedikit gugup karena bangun terlambat.
Hari ini adalah hari spesial buatku dan semua temanku di sekolah, karena di sekolah ada acara tasyakuran kelulisan siswa-siswi kelas dua belas.
Aku harus tampil cantik dengan gaun kebaya berwarna merah hati dan pasangan rok bercorak batik yang sudah saya beli dua minggu yang lalu, tak lupa aku mempersiapkan sandal yang cantik bermanik.
Rasanya sudah tidak sabar untuk segera hadir dalam moment ini, pastikan hari ini aku dan semua temanku berbahagia.
Selesai sudah kegiatan pagi hari, saatnya aku berdandan ala-ala kartini modern dengan riasan make-up minimalis namun tetap elegan dan menarik perhatian, hiks hiks aku terlalu percaya diri untuk mengucapkan kalimat barusan.
Ah, takan ku buat pusing! optimis dan percaya diri itu penting walaupun terkadang hasil tidak sesuai harapanku. Tak apalah, yang penting jalani saja hidup ini dengan penuh rasa syukur.
"Kebaya dan setelan rok plisket, sudah aku kenakan! emmm berarti tinggal merias wajahku yang super duper cuby." ucapku di depan cermin yang setia menatapku.
"Tiwi! sudah selesaikah kamu berdandan?" terdengar teriakan, suara Ibuku yang begitu nyaring dan mengena di telinga.
"Iya, Ibuku sayang! ini juga lagi siap-siap" jawabku dengan suara mendayu.
"Oh, baiklah! Ibu pikir kamu ngantuk, karena semalaman begadang menyiapkan keperluan acara hari ini" sambung Ibu, merasa khawatir dengan anak gadisnya.
Tiwi masih memoles wajahnya menggunakan riasan make-up. Setelah memakai bedak yang tidak begitu tebal, Tiwi melapisi bibirnya menggunakan lipstik berwarna pink muda dan memberikan blus on pada pipinya. Tak lupa memberi riasa eye shadow agar mata terlihat lebih tajam, dan eye liner.
"Sempurna" ucap Tiwi lirih dan tersenyum.
Tiwi sudah siap berangkat menghadiri acara tasyakuran kelulusan kelas dua belas, yang dihadiri oleh tujuh kelas siswa.
"Taraaaaa" Tiwi memperlihatkan dandanannya kepada Ibu, penampilannya membuat Ibu takjub dan merasa pangling sama anak sendiri.
"Bagaimana penampilan aku hari ini, Bu?" tanya Tiwi sambil memutar tubuhnya yang mungil.
"Kamu sangat cantik! Ibu sampe pangling, nak!" puji Ibu sambil menatap Tiwi yang masih berputar-putar pelan di depan Ibu.
"Ah! Ibu bisa saja deh, membuat aku ge-er saja nih!" sahut Tiwi sambil cengar cengir.
"Kamu sudah siap berangkat?" tanya Ibu tersenyum.
"Sudah, Bu! aku sudah siap berangkat nih!" jawab Tiwi, penuh semangat.
"Dengan siapa kamu mau ke sekolah?" sambung Ibu, menautkan kedua alisnya.
"Aku mau diantar sama Bapak! tadi Bapak sudah bilang, saat aku baru selesai sholat subuh." terang Tiwi memberitahu kepada Ibunya
"Baiklah, good luck buat kamu, nak! doa Ibu selalu menyertaimu" ucap Ibu mengelus kepala Tiwi dengan lembut.
"Sudah siap berangkat, Nak" seru Bapak, yang baru saja mengeluarkan sepeda motor dari ruang tamu.
"Sudah dong, Pak! lihat nih, anak Bapak sudah cantik begini" sahut Tiwi memperlihatkan dandanannya yang anggun dan elegan.
"Anak Bapak memang cantik! seperti Ibumu" puji Bapak tersenyum.
Tiwi berangkat ke sekolah diantar Bapaknya, sesampainya di sekolah banyak temannya yang menyambut kedatangannya. Tiwi membalasnya dengan senyuman dan berjabat tangan, mereka menggandeng Tiwi dan berjalan menuju aula.
Acara tasyakuran kelas dua belas akan segera dimulai, semua siswa-siswi berkumpul di aula untuk mengikuti acara prosesi penyematan kalung tanda kelulusan yang disematkan oleh Bapak kepala sekolah.
Ternyata Tiwi meraih peringkat satu di kelasnya, dia pun bahagia mendengarnya. Tak sia-sia belajar selama tiga tahun di SMK, dia selalu memdapatkan pujian karena nilainya yang bagus.
Tiwi pulang membawa kabar gembira bahwa dia menjadi siswi terbaik di sekolahnya, Bapak Ibunya pun ikut bahagia.