brukk!!
tiba-tiba pintu kamar ku terbuka, saat aku sedang merana.
"arti, teminin aku jalan sama arno yuk" kata hana sahabatku.
"hach!! mentang- mentang aku baru putus, terus kamu mau pamer kemesraan dengan pacarmu di depan ku??" kata ku sambil melempar guling pada hana sahabat ku.
"bukan begitu maksud ku, kamu kan tau aku ini hanya setengah hati dengan arno. jadi aku males jalan berdua sama dia" kata hana sambil rebahan di ranjang ku.
aku tak menggubris ucapan hana, aku sedang melihat-lihat foto kenangan ku bersama mantan ku.
"daripada kamu meratapi masa lalu mu ayolah jalan, hitung-hitung reefresing" bujuk hana padaku.
aku diam sebentar, ada benar nya juga kata sahabat ku ini.
"oke kita jalan" kata ku sambil mengambil sisir merapikan rambut yang acak adul ini.
"nah gitu dong" hana langsung bangkit dan senyum-senyum.
aku dan hana langsung jalan menuju taman, katanya dia janjian disini sama arno pacarnya itu. dan ternyata arno dah sampai disana lebih dulu.
kulihat ada rasa sedikit kecewa dimuka arno, ya iya lah dia kan mau pacaran sama hana tapi aku malah ikut gabung.
"dah lama ya?" basa basi hana pada arno.
"belum kok, hey arti" arno juga menyapaku.
lalu kita duduk bertiga, kita duduk saling berhadapan. dasar hana aneh, dia malah sibuk dengan gawai nya, tak mempedulikan pacar yang mungkin merindukan nya.
mersasa tak di perhatikan hana, arno lalu membuka obrolan padaku, dia bertanya tentang hubungan ku dengan arif temanya yang baru saja kandas.
aku menjawab setiap pertanyaan arno, dan entah kenapa ada rasa lega dihatiku bisa mencurahkan perasaan ku yang sedang berduka ini.
rasanya seperti aku yang pacaran dengan arno dan hana sebagai obat nyamuk nya. karena dia tak mempedulikam obrolan ku dan arno dan berkutat pada gawai nya terus.
ketika hari mulai sore kita memutuskan untuk pulang, kulihat arno ingin mencium hana tapi hana menolak dengan alasan malu ada aku, heh dasar hana bisa aja buat alasan, emang dasar setengah hati.
malam hari ketika mau tidur, ponsel ku berbunyi, tertera nama arno di sana.
"ya, hallo" sapaku
"hallo juga, arti, hana sedang bersamamu tidak?" tanya arno.
"tidak, kenapa ga langsung hubungi dia saja" saran ku.
"sudah tapi tak di angkat, chat ku juga ta di balas, padahal dia sedang online" katanya sendu.
dari situ aku dan arno malah asyik ngobrol panjang lebar, dan tak terasa sampai larut malam.
" udah dulu ya,dah malem nih" kataku
"iya, bye bye sayang" ucapnya
" ech tunggu- tunggu, kamu bilang apa barusan" tanyaku tak jadi mematikan sambungan telfon.
"sayang, ga apa-apakan? pacar ku ga mau disayang jadi boleh kah aku panggil kamu sayang" jawab nya.
"terserah lah, udah ya" aku lalu menutup telfon dan langsung tidur.
dan semenjak malam itu juga aku dan arno lebih intens berkomunikasi. aku merasa nyaman dengan nya begitupun arno.
entah ini rasa sayang atau sekedar pelarian, aku dan arno merasa bahagia menjalani ini.
saat aku sedang asyik chatingan tiba- tiba hana masuk ke kamar ku tanpa permisi dan itu sudah menjadi kebiasaab nya.
"arti, ntar malem jalan yuk! ada pasar malem di kampung sebelah" terocos dia padaku.
"sama siapa?" tanya ku pura- pura bodoh, tadi arno juga sudah mengajak ku terlebih dulu.
"sama arno lah,aku males kalau ga ada kamu" kata hana.
"ya udah deh aku temenin" kata ku sok pasrah padahal aku juga mau bertemu arno.
aku dan hana lalu meluncur dengan sepeda motor, kita naik sepeda motor sendiri-sendiri padahal tujuan kita sama.
sampai disana kita jalan bertiga, melihat keramain pasar malam dan menikmati wahana yang ada disana.
hana di tengah- tengah aku dan arno, meskipun begitu tapi tangan arno menggandeng tangan ku selalu.
arno membelikan sebuah boneka untuk hana, ada rasa sedikit cemburu di hatiku. tapi tak apalah hana adalah pacar resmi arno.
saat mau pulang kulihat hana mencium pipi arno lalu dia bergegas pergi duluan, aku sedikit muak melihat pemandangan itu.
setelah hana pergi arno menghampiri ku, aku buang muka padanya dan sok sibuk ngobrol dengan tukang parkir yang sedang menyiapkan motor ku.
dia menarik tangan ku lalu memakaikan gelang di lengan ku, "ini untuk mu, tadi ga enak sama hana jadi aku kasih sekarang" kata arno menggoda ku.
"makasih ya, aku pulang dulu" pamit ku padanya.
"iya hati-hati sayang" arno mengacak-acak lembut rambut ku.
sudah hampir tiga bulan ini aku menjalani hubungan gelap ku dengan arno di belakang hana. meski jadi yang kedua tapi aku adalah prioritas utamanya karena hana juga tak pernah setulus hati mencintai arno. dan itu juga alasan ku tak merasa bersalah pada hana.
tapi entah kesambar petir dari mana si arno, tiba- tiba dia mengatakan kalau dia ingin jujur pada hana tentang hubungan ini.
aku bilang jangan sekarang karena itu akan merusak persahabatan ku dengan hana. biarlah nanti aku yang akan bicara sendiri pada hana, meskipun akan menyakiti hana tapi setidaknya aku mau jujur, dan hana mendengar ini dari mulutku sendiri.
tapi entah apa yang di pikirkan arno, dia malah sudah bilang terlebih dulu tanpa izinku.
hana kerumah ku dia memaki diriku, dia menangis tak percaya aku tega mengkhianati persahabatan kita.
"katanya sahabat tapi nusuk dari blakang!!" katanya mencaci diriku.
"han, kau juga setengah hati dengan arno. kau tak pernah ada waktu untuknya" aku membela diri.
"tapi aku sekarang mulai cinta sama dia, dan kau menghancurkan ini semua, bukan hanya hubungan ku dan arno, tapi persahabatan kita juga hancur" kata hana dengan nada tinggi.
"ini bukan sepenuhnya salah ku, jika saja kau meluangkan waktumu untuk arno, ini tak mungkin terjadi" aku tak mau disalahkan.
" acchh sudah lah" hana lalu pergi dari rumah ku dengan kesedihan nya.
aku juga tak kalah sedih nya, hana adalah sahabat baik ku. aku dan hana sering menghabiskan waktu bersama, berbagi suka duka dan canda tawa.
aku lalu pergi kerumah arno.
"hai sayang" sapa manis nya pada ku.
"kamu gimana sih aku kan sudah bilang biar aku yang bicara sama hana, tapi kau mengacaukan semuanya" aku memarahi arno.
" ini aku lakukan demi hubungan kita, sekarang kita bebas, tak perlu sembunyi- sembunyi" arno memegang tangan ku.
" lebih baik kita sampai disini" ucapku melepas genggaman arno.
" hana sudah memutuskan ku, dan sekarang kau juga mau meninggalkan ku?" arno mulai prustasi.
" maaf kan aku, aku lebih baik kehilangan mu daripada kehilangan sahabat ku" ucap ku lalu pergi.
arno geleng-geleng tak percaya, dalam sekejap dia kehilangan dua wanita yang dicintai nya.
dalam beberapa hari ini aku dan hana tak pernah bertegur sapa, padahal rumah kami dekat.
aku benar- benar merasa kehilangan sahabat ku ini, dunia ku terasa tak berwarna tanpa kehadiran nya.
aku tak sanggup tanpa hana, kuberanikan diri ini untuk kerumah nya, aku harus minta maaf.
di jalan hati ini merasa gundah " bagaimana jika hana tak mau memaafkan ku?? bagaimana jika dia tak lagi mau berteman dengan ku" pertanyaan- pertanyaan itu memenuhi otak ku.
dengan was-was dan hati gelisah kuberanikan tangan ini mengetuk pintu.
tiba- tiba . . .
hana lebih dulu memeluk ku, dia juga merindukan ku, aku dan hana menangis dalam tawa, kami saling memaafkan dan akan melanjutkan persahabatan ini.
selesai!!!