Namaku hotaro umurku 14 tahun
Aku tinggal bersama keluarga yang terdiri dari aku adikku dan ibu juga ayahku, di desa dekat pantai yang berada di bawah gunung kecil.
Aku menjalani hari seperti layaknya anak-anak pada umurku, setiap hari semuanya berjalan seperti biasa, aktifitas para penduduk di desa yang indah dan mama papaku yang mendirikan toko kelontong di depan rumah.
Hingga... pada hari itu.
...........
SENIN PUKUL 06:55
Cuit..., cuit..., cuit...,
Terdengar olehku suara burung-burung yang berkicau begitu merdu, membangunkanku dari lelapnya tidurku...
Didampingi sinar matahari yang menyorot kedalam kamar, sontak membuatku semangat memulai hariku yang baru..
Pagi yang yang cerah kuawali dengan merapikan tempat tidurku, serta membersihkan seluruh tubuhku (mandi).
"Hotaro..., cepat sini sarapan.."
Terdengar suara ibu menyuruhku untuk memakan sarapan, menu makanan hari ini adalah ikan goreng dan sayur sayuran yang ditambahkan mayones sebagai makanan pencuci mulut yang sederhana, ku'ucapkan "terimakasih makanannya" untuk tanda rasa syukurku atas makanan yang telah kumakan.
............
"Bang berangkat sekolah bareng yah..," ujar adiku..
"Ya abang siap-siap dulu. Kamu tunggu didepan sana,"...
Sesampainya disekolah, kuantar adikku memasuki kelasnya. Setelah itu aku menuju ke kelasku..
"Oi., teman teman, nanti sore gimana kalo kita main ke puncak gunung.,"..
"Ayo, aku ikut, kayanya bakalan seru.,"..
"Ya., aku juga ikut, bagaimana denganmu hotaro?.,"..
"Ahh.. ( mengusap kepala ), mau bagamana lagi aku ikut juga.,"..
Krekkk.. ( suara pintu terbuka )
"Oii., oii. Ada guru cepat kembali ke tempat duduk"
"Banguun... memberi salam!!.,"..
"Selamat pagi bu guru...," ujar semua murid.
...........
"Ringg... ring..,".
Suara bel berbunyi, pertanda kegiatan sekolah telah usai, semua orang merapikan buku dan alat alat tulisnya lalu pergi meninggalkan kelas.. begitu pula denganku. Kuhampiri adiku yang menunggu didepan kelas.
( Tersenyum ) "Ayo de, kita pulang.,".
Kugandeng tangan adikku dan berjalan menuju rumah.
Sesampainya dirumah..
"Akuu pulang..." ucap ku dan adiku
"Yaa selamat datang. Hotaro nanti belikan bahan
bahan buat makan malam ya.. ibu mau bersih bersih rumah dan ayah kamu lagi nungguin dagangan kita. Tolong yah..".
"Ya bu, aku beres beres dulu.,"...
............
SENIN PUKUL 14:00
"Tak.., tak.., tak.."
Suara hentakan sendalku yang menghantam tanah dengan keras, bersamaan dengan bisingnya suara orang orang berbincang di pasar.
Sampailah diriku di toko sayur, banyaknya pembeli membuatku menunggu lebih lama lagi.
"Menu untuk makan malam kali ini adalah kari
yang berbahan dasar kentang, memang cukup murah tetapi kari buatan ibuku tak kalah dari makanan di restoran bintang lima.."
............
"Baik semua sudah lengkap, sekarang waktunya pulang.," ( berjalan pulang )
Tak disangka sudah hampir setengah jam berlalu untukku membeli bahan makan malam di pasar.
Langkah demi langkah aku berjalan menuju rumah..
"oii hotaro nanti jangan lupa ya ke atas gunung!!"
"Oh.. iya Nanti kususul, aku harus memberikan belanjaan ini ke ibuku terlebihdahulu".
..............
SENIN PUKUL 15:25
Sesampainya di puncak gunung.
Ku lihat teman teman ku bergelayutan di pohon yang besar layaknya seekor monyet.
Duduklah diriku di batang pohon yang lumayan kuat.
Terlihat dari kejauhan, seluruh desa dan panjangnya garis pantai yang terlihat sangat cantik dari atas gunung.
"Oii hotaro sini, ada kumbang rusa ..",
"Oh ya?, mana coba kulihat"
Betapa senangnya diriku melihat dua kumbang besar ini yang sedang memperebutkan teritorinya di sore hari, karena pada umumnya kumbang ini beraktifitas di malam hari. Jadi jarang aku melihatnya di sore hari.
Setelah beberapa saat.
...............
Kulihat pohon pohon bergoyang, serta tanah yang bergetar terasa olehku.
"Hey teman teman, kalian ngerasain getaran ga?". tanyaku
"Eh iya,"
"Iya. iya. Aku juga merasakan"
Getaranpun semakin kuat, seakan akan bumi berguncang.
"Eh ehh... semua ayo ikuti aku ke tanah terbuka"
ujarku
"Loh. loh. Getarannya semakin kuat"
"Ayo semuanya kita diam di tanah terbuka itu dulu" { kuat sekali guncangannya untung aja gaada pohon tumbang}
"Gempa ini terasa aneh bagiku, ini berbeda dari yang pernah kualami. Aku yakin ini tanda tanda akan adanya tsunami. Seperti kata kakeku dulu."
"Hah??.. tsunami!, terus bagaimana orang-orang yang ada didesa? "
"Kalian cepat beritahu ke keluarga kalian agar cepat cepat naik ke gunung "
"Oke"
"Oke"...
.............
Sesampainya di desa kulihat semua penduduk berkumpul di tanah terbuka.
"Huuh huuh huuh"
Nafasku yang berat terdengar sangat keras ketika sudah sampai di desa. Tanpa bertele tele.
"Semuanya cepat naik ke gunung akan ada tsunami sebentar lagi" teriakku.
"Ha?? Tsunami?., memang baru saja terjadi gempa tapi alarm tsunami tidak berbunyi "
"Benar itu"
"Jangan buat panik para penduduk, bocah!"
{Percuma para penduduk tidak mempercayaiku, tidak. Tidak. Aku harus berhasil mengevakuasi penduduk ke gunung. Tapi bagaimana??, bahkan mereka tidak mau mendengarkanku} gumamku
...........
"Bagaimana ini para penduduk tidak percaya akan ucapan kita.,"
"Tapi emang benar yang dikatakan paman yang berbicara dengan kotaro alarmnya tidak berbunyi.,"
"Gimana kalo kita nyalain alarm itu secara manual?.,"
"Oh ya! ayo kita kemenara dan nyalakan alarmnya!.," teriakku sambil berlari menuju menara alarm.
............
Ngeeeeeeeeenggg...... ngengggg...... ( suara alarm)
"Bagus!!, kita berhasil nyalain alarm"
"Ya. Kalo begitu ayo kita naik ke gunung juga!!" teriakku dengan nada panik.
Mendengar suara alarm peringatan tsunami berbunyi kepanikan melanda penduduk desa, semua orang di desa berbondong bondong naik ke atas gunung.
"Abang ayo cepat kita naik ke gunung.." teriak adiku yang terengah engah
"Ayo hotaro" ujar ayah dan ibuku..
"Iya bu, ayo teman teman kita juga naik ke gunung!!"
"Huuh huuhh huuh.." akhirnya aku dan para penduduk sampai di puncak gunung.
"Hey semuaa liat itu!!"
Terlihat dari jauh gelombang air yang cukup besar menerjang masuk melewati garis pantai dan merubuhkan bangunan bangunan yang dilewatinya.
Terdengar olehku keluh kesah para penduduk yang menghawatirkan tempat tinggal mereka..
"Bagaimana ini kita sudah tidak punya tempat tinggal lagi!".
"Ueeek ueek ueek". Suara bayi yang menangis menambahkan suasana sedih.
Tiba tiba... dari belakang muncul tangan paman yang menghiraukan perkataanku, dia menepuk bahuku dan meminta maaf padaku karena telah meremehkan ucapanku. Dia berkata..
"Maaf nak karena tadi aku telah meremehkan dan membentakmu, serta kawan kawanmu. Terimakasih karena kau sudah menyelamatkan para penduduk desa ini. Kudengar dari paman yang di sebelah sana( sambil menunjuk ) katanya kamu berlari ke menara alarm dan menyalakan alarmnya secara manual. Kamu bisa saja hanya memberi tahu keluargamu untuk naik ke gunung dan pergi meninggalkan yang lain,. Tapi kamu malah memilih untuk menyelamatkan penduduk dengan menyalakan alarm itu. Aku bangga bisa kenal denganmu nak" ( sambil menepuk nempuk punggungku )
Di saat itu juga para penduduk baru mengingat, teriakan teriakan kekhawatiran dari para bocah seperti kami.
...............
Begitulah yang aku dan teman temanku ceritakan kepada media saat diundang ke acara tv. Kamipun mendapat julukan baru dari para penduduk desa dan para penonton, yaitu pahlawan muda desa singgar.
TAMAT.