Dini masih terus memijit lengan Budenya yang sedang sakit, hingga dia menguap berkali-kali tanda ngantuk mulai menghampiri. Namun terlihat, Budenya sudah belum juga tertidur. Bude yang satunya sudah tertidur, sedangkan Dini masih menikmati rasa ngantuknya sambil sesekali melihat cairan infus yang mengalir masuk ke tubuh Bude Sinta.
“Din, jangan lupa makan malam!. Biar ada tenaga untuk jagain bude sampai besok pagi, jika kita bermalam di rumah sakit. Maka kondisi badan kita juga harus sehat.” Ucap Bude Suci, sembari memberikan nasi bungkus.
“Baiknya kamu makan dulu. Dari pada nasinya mubadzir, nanti Allah Swt marah sama kamu. Sahut Suci, memberkan nasi bungkus kepada Dini.
“Nah, itu kamu tahu. Nih, diminum.” Ujar Bude, sambil memberikan minuman kepada Suci.
“Terimakasih, Bude.” Jawab Suci, singkat. Suci tidak ingin berdebat dengan bude keduanya, karena Bude pertamanya sedang sakit dan sudah tidur.
Entah apa yang sedang Suci pikirkan, dia sampai ceroboh menumpahkan botol minuman yang baru saja dia terima dari Bude keduanya. Bude keduapun terkejut, karena kakinya basah terkena air yang tumpah dari botol.
Celana Suci pun basah, akhirnya dia segera berdiri dan membersihkan lantai yang penuh dengan air tumpahan. Setelahnya, Suci cepat-cepat keluar dari ruang rawap inap Bude pertamanya.
Dengan raut wajah panik, dia menengok kanan kiri dan melihat di sekitar rumah sakit yang sangat sepi.
Ternyata masih ada Pa Satpam yang sedang mondar mandir, keliling rumah sakit. Suci berteriak memanggil Pa satpam, sambil tepuk tangan.
Pa Satpam dengan membawa pistol yang menempel di sabuk sebelah kiri, menoleh ke arah Suci dan berjalan lantang menghampiri Suci.
"Ada apa, Dik?. Ada yang perlu saya banting, eh saya bantu." Tanya Pa Satpam, melucu.
Satpam dengan badan tinggi besar, bernama Budi berdiri di depan Suci. Penuh dengan rasa penasaran, dia bertanya kepada Suci.
"Ada apa sebenarnya?." Pa. Satpam menanyakan ulang, apa yang terjadi.
"Tunjukkan kepada saya, di mana ada tolilet?." Tanya Suci, sambil memegang celananya yang basah.
"Ha ha ha, kamu ngompol Dik?. Itu celana kamu basah." Tanya Pa Satpam, meledek Suci. Sembari menuding arah celana Suci, Pa Satpam menertawakan Suci.
"Diam! Diam kata saya!." Ucap Suci, sedikit membentak Pa Satpam dengan matanya yang melotot. Dengan sangat berani, Suci berbicara dengan nada tinggi.
'Waduh! galak bener nih cewek.' Gumam Pa Satpam, dalam hati sembari menggerutu.
"Cepat antar saya ke toilet, Mas Satpam!." Pinta Suci, memaksa.
"Iya, iya. Mari saya tunjukkan kamar toiletnya. Jangan marah-marah begitu. Cewek kok galak banget, Sih!." Ujar Pa Satpam, berjalan mengarahkan Suci ke toilet.
"Di sini, toilet nya." Ucap Pa Satpam, mempersilahkan Suci masuk.
"Mas Satpam, tungguin saya di situ dan jangan kemana-mana." Pinta Suci, agar Pa Satpam menunggu Suci depan pintu toilet.
'Sudah galak, seenaknya sendiri main perintah nih cewek. Kalau dia cabe, sudah saya tumbuk halus jadi sambel. Biar jadi sambel, kaya mulutnya yang pedas.' Sahut Pa Satpam, terus menggerutu.
Suci pun mendengar ucapan Pa Satpam, dan dia marah-marah lagi sama Pa Satpam setelah keluar dari toilet.
"Barusan Mas Satpam bilang apa?, jawab jujur." Desak Suci, meminta Pa Satpam untuk mengulang ucapannya saat Suci masih berada di dalam toilet.
Belum juga Pa Satpam menjawab pertanyaan Suci, Suci sudah meninggalkan Pa Satpam depan pintu masuk toilet. Suci berjalan kembali menuju ruang rawat inap Bude pertamanya, Suci ngomong sendiri sepanjang jalan dan disusul oleh Pa Satpam.
"Tunggu, Dik!. Saya minta maaf." Ujar Pa Satpam, meminta maaf karena sudah menyinggung hati Suci.
"Kalau membantu orang lain tuh yang ikhlas, jangan menggerutu terus. Nggak dapat pahala, malah daatnya dosa tahu." Sahut Suci, menatap tajam mata Pa Satpam.
Tatapan tajam mata Suci, ternyata mampu menggetarkan kaki Pa Satpam. Detak jantung Pa Satpam mulai tidak beraturan, seperti bertemu dengan setan di depannya.
Mimpi apa Pa Satpam semalam ya, bertemu dengan Suci yang seenaknya sendiri, galak dan angkuh.
"Iya, saya ikhlas Dik. Kalau saya tidak ikhlas, mana mau saya mengantarkan Adik ke toilet." Ujar Pa Satpam, dengan nada rendah.
Pertemuan singkat mereka, seperti orang yang sudah kenal lama. Mereka berantem, layaknya teman yang sudah kenal dekat. Bahkan bisa dibilang seperti orang yang sudah pacaran.
"Saya masuk dulu, terimakasih sudah menghantarkan saya." Ucap Suci, sembari membuka pintu ruang rawat inap Bude pertamanya.
"Kejadian macam apa, ini?. Rasanya kok aneh banget, ya?."
Pa Satpam mengepalkan tangan kanannya, dan menghantam pelan ke tembok. Diapun lanjut menendangkan kakinya ke arah depan dan sepatunya melayang mengenai pintu kamar rawat inap, perbuatannya nyaris membangunkan orang-orang yang sedang tidur.
Suci membuka pintu, dan melihat tingkah Pa Satpam. Dalam hatinya tertawa geli, bisa bertemu dengan orang yang aneh macam Pa Satpam.
Pa Satpam tertunduk malu, dan segera pergi meninggalkan Suci. Untuk melaksanakan tugas malamnya, berkeliling rumah sakit.
*
Waktu sudah menunjukkan pukul tida lebih lima belas menit dini hari, Bude Sinta dan Dini juga sudah tidur lelap. Tinggal Suci yang masih terjaga, dan bermain ponselnya.
Sama sekali tidak ada SMS masuk dari pacarnya, rasa rindu terlintas datang menemani malamnya di rumah sakit.
Suci membuka lagi, pesan SMS masuk dari Wida yang sudah dibaca. Disusul dengan pesan SMS masuk yang kedua, dari Yuda. Suci hanya membacanya, tanpa berniat untuk membalas.
Perasaan Suci telah terkunci untuk kekasihnya yang bernama Indra, yang hampir tiap hari bertemu.
Adzan subuh sudah berkumandang, Suci tidak tidur semalaman. Ketika Bude Yuni dan Bude Sinta terbangun, karena ada Suster mengecek tekanan darah. Suci berpamitan untuk pulang.
Suci mencium tangan Bude Yuni dan Bude Sinta, dan bergegas pulang.
Pukul lima pagi, Suci pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda motornya.
Dia berjalan menuju parkiran motor, depan rumah sakit saat embun menyelimuti pagi hari. Terdengar suara dari kejauhan, memanggil Suci dengan sebutan "Dik".
Ternyata Pa Satpam, yang memanggil Suci.
"Mau pulang, Dik?. Pulangnya ke mana?." Tanya Pa Satpam, ingin tahu rumah Suci.
"Iya, pastinya saya pulang ke rumah orangtu saya." Jawab Suci, ketus dan menaiki motornya.
"Bagi nomer ponselnya, Dik." Ucap Pa Satpam, menyodorkan ponselnya di tangan kanan Suci.
"Untuk apa, Mas?. Tanya Suci, menjalankan sepeda motornya.
Pa Satpam menahan laju sepeda motor Suci, dan dengan beraninya dia mematikan stop kontaknya.
"Kasih saya nomer ponselmu, Dik." Pinta Pa Satpam, memohon.
Suci menerima ponsel Pa Satpam, dan mengetik nomer ponsel Suci. Suci mengganti salah angkanya, dan mengembalikan ponsel Pa Satpam. Segera Suci melaju kencang, tanpa pamit. Suci tidak memperdulikan Satpam gokil itu, dan cepat-cepat pulang karena hari ini ada pertemuan dengan nasabahnya.
Dalam perjalanan pulang, Suci terasa ngantuk. Sulit mata Suci untuk terbuka lebar, diapun mengendarai sepeda motornya dengan sangat hati-hati.
Sejuk embun pagi menyapa kulit Suci, menambah rasa ngantuk dalam perjalanannya. Suci bersholawat sepanjang perjalanan pulang, berharap selalu dilindungi oleh Allah Swt sampai di tiba rumahnya.