Senja. Adalah seorang wanita yang berprofesi sebagai dosen di sebuah universitas swasta. Suaminya seorang pengusaha terkenal namun karena kecintaannya menjadi seorang pengajar tidak membuatnya menyerah dan menggantungkan hidup pada suaminya, ia adalah wanita yang sangat mandiri sejak dulu.
Orang-orang selalu memuji sekaligus iri padanya. Sifatnya yang baik, kehidupan yang mapan dan bahkan memiliki suami tampan, kaya raya dan yang terpenting sangat mencintainya.
Namun semua itu tidak cukup bagi Senja. Kekosongan dan kehampaan dalam hatinya tidak pernah hilang.
Memasuki usia 5 tahun pernikahan Senja dan Kala mereka tidak dikaruniai seorang anak. Mengetahui dirinya tidak sempurna lambat laun Senja mulai meragukan keputusannya menikah dengan Kala.
Saat ini ia berdiri termenung memandang keluar jendela. Ia mengingat saat-saat pertama bertemu dengan Kala, suaminya.
Sedari kecil Senja tinggal di sebuah panti asuhan. Sedangkan Kala adalah anak dari donatur tetap panti asuhan itu. Cinta tumbuh dihati Kala karena kebersamaan mereka berdua, hingga saat Senja lulus sarjana Kala memberanikan diri untuk melamarnya.
Butuh waktu cukup lama bagi Senja menjawab ajakan menikah Kala, karena berbagai pertimbangan termasuk beasiswa yang ia terima untuk melanjutkan S2.
Kala bagi Senja adalah laki-laki yang baik yang ia kenal terlebih orang tuanya sudah sangat dekat dengannya. Hingga lulus S2 barulah Senja menerima lamaran Kala dan beruntung Kala mau menunggunya dengan sabar.
Grep. Sebuah tangan kekar melingkar diperut Senja membuatnya menyudahi lamunannya.
" Mas.." ucap Senja memastikan bahwa yang memeluknya adalah suaminya.
" Hhhm. Apa yang sedang kau pikirkan, sayang?."
Jawab Kala sambil mencium pundak Senja.
" Hanya.. Aku merasa iri pada temanku yang sekarang baru saja melahirkan anak ketiganya."
Kala tertegun oleh ucapan Senja. Selalu saja hal itu yang dibicarakannya. Senja lalu melepaskan pelukan suaminya dan berbalik menatap Kala.
" Kau mandilah, setelah itu kita makan. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu. "
Senja lalu mengambil jas dan tas ditangan Kala dan hendak membawanya ke kamar mereka. Baru selangkah ia maju, suara Kala menghentikannya.
" Kau tahu kan aku tidak pernah mempermasalahkannya. Aku merasa cukup dengan kau menjadi istriku."
Kala mulai lelah dengan sikap dingin istrinya semenjak ia divonis memiliki kanker rahim hingga ia tidak memiliki kesempatan untuk memiliki anak.
" Apa kau pernah berada diposisiku, hingga kau bisa berbicara seperti itu, mas. "
" Ayolah Senja.. Aku sudah lelah dengan perdebatan kita. Aku merindukan dirimu yang dulu yang selalu ceria."
" Aku yang tidak bisa memiliki anak dan sikapku yang berubah ini kenapa tidak kau jadikan alasan untuk meninggalkanku."
" Setiap orang pasti memiliki kekurangan baik itu kau maupun aku. Tapi yang membedakan aku selalu berusaha menyatukan hubungan dan kau selalu berbicara untuk memutuskan hubungan kita. "
Kala lalu pergi meninggalkan Senja yang masih berdiri mematung. Air mata Senja jatuh begitu saja mengingat semua perdebatan dan pertengkaran mereka selama ini. Kala yang selalu sabar akan sikapnya membuat Senja semakin merasa buruk dan berdosa pada suaminya.
Saat malam sudah larut, Senja baru memasuki kamar mereka. Dilihatnya Kala sudah tertidur dengan pulasnya. Ia lalu membaringkan diri disebelah suaminya dan memandangi wajah teduh itu.
" Benar kata ibumu, kau terlalu sempurna untukku yang penuh kekurangan ini. Kau harusnya bersanding dengan wanita yang pantas denganmu."
Ucapnya lirih dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Kala tidak tahu jika selama ini ibunya berubah menjadi memusuhi Senja. Ibunya berharap besar pada Senja untuk melahirkan penerus bisnis keluarganya.
Belum lagi perkataan menyakitkan dari orang-orang sekitarnya yang mencemooh dan menghina dirinya karena tidak bisa memiliki keturunan.
......
" Kau bilang apa?"
" Aku ingin kita bercerai."
Praaang.. Kala melempar vas bunga disampingnya hingga pecahan kacanya berserakan dan hampir mengenai Senja.
" Kenapa kau menikah denganku kalau kau ingin bercerai dariku. Apa kurangku Senja, katakan."
Senja tidak menjawab, ia tetap mempertahankan wajah dinginnya.
Kala yang sudah tidak bisa bersabar akhirnya mendekat lalu mencengkram kedua lengan Senja.
" Cepat katakan, kenapa kau ingin bercerai."
Senja sedikit meringis, pertama kalinya Kala bersikap kasar padanya dan Senja mulai ketakutan dengan air mata yang terus berlinang.
" Lepaskan, kau menyakitiku mas. Lepaskan..mas.. KALA. " Senja tidak sengaja berteriak.
Melihat istrinya yang berteriak kesakitan, Kala melepaskan cengkramannya. Ia lalu menangkup wajah Senja dan mendekatkan wajahnya hingga dahi mereka beradu. Air matanya pun keluar seolah memohon pada Senja.
" Aku mencintaimu, Senja. Aku sangat mencintaimu. Jangan lakukan ini padaku kumohon."
" Maaf aku tidak bisa. Aku tidak bisa lagi berpura-pura bahagia, semuanya sangat menyakitkan bahkan melihatmu hatiku seperti tercambuk karena aku tidak bisa memberikanmu kebahagiaan. "
" Sudah ku bilang aku tidak peduli hal itu."
" Lalu bagaimana denganku? Aku tidak bisa memberikanmu cinta dan kebahagiaan seperti yang kau beri padaku, bahkan aku tidak bisa memberikan seorang anak. Aku yang penuh kekurangan ini tidak pantas untukmu."
" Jangan.. Kumohon.. "
Kala tetap memohon dengan air mata yang tak berhenti jatuh.
" Keputusanku sudah bulat aku akan pergi sekarang.. Hiduplah dengan bahagia.. "
Senja lalu mengambil koper yang sudah ia persiapkan. Kala melihatnya pergi dan ia hanya bisa mematung memperhatikan punggung Senja yang bahkan tidak menoleh padanya.
Kala ambruk, ia duduk dilantai sambil menjambak rambutnya. Dilihatnya surat gugatan cerai dari Senja masih berada dimeja. Ia lalu mengambilnya dan merobeknya hingga tak berbentuk.
" Aku pastikan kau akan kembali padaku."
To Be Continue.