Pada saat itu, saya masih duduk di bangku kelas 11 SMA. Saya mengagumi teman saya yang bernama Koko, dia dijuluki Pria berjamtangan karena dia hobi banget pakai jam tangan dan model jam tangannya juga ganti-ganti. Dia banyak yang suka, badannya tegap gagah dan sopan santun.
Saya dekat sekali dengan dia, sampai setiap ada tugas dari guru. Kami mengerjakan tugas bareng, dan seringnya dia nyontek pekerjaan saya. Karena saya merasa kasihan, akhirnya saya membolehkan dia mencoktek.
Suatu hari, saat bel istirahat berbunyi. Kami bertiga, yaitu saya, Koko, dan Yanto pergi ke kantin milik Pa Oki. Setiap istirahat pasti kami bertiga makan di sana, sambil cerita-cerita tentang kehidupan yang kami alami. Sesampainya di kantin, tiba-tiba ada teman kelas lain memanggil Koko.
“Koko, lagi apa?
Tanya Yuli, sambil melempar senyuman.
“Iya, Yul.”
Jawab Koko dengan wajah tegang.
“Ada apa, Yul?.”
Koko bertanya sambil membawa sepiring nasi yang dia pesan.
“Ada yang ingin saya sampaikan, nanti sepulang sekolah.”
Ujar Yuli, sambil memegang segelas es teh.
“Oh, ya nanti kita pulang bareng.” Jawab Koko, sambil tersenyum.
***
Tet, tet, tet. Bel masuk telah berbunyi, semua siswa memasuki kelas masing-masing.
“Ayo, Ci kita masuk kelas.” Ajak Koko, tergesa-gesa.
“Ayo!” Jawab Saya, mengiyakan ajakan Koko.
Kamipun segera masuk ke kelas 11 IPS 4, karna sebentar lagi ulangan harian Bahasa Inggris akan diadakan.
“Selamat siang, semuanya.” Ujar Bu Widia, memberi salam.
“Selamat siang juga, Bu.” Jawab semua siswa yang ada di kelas, kompak.
“Ulangan Bahasa Inggris segera dimulai, semuanya harus menyiapkan lembaran kertas. Jangan lupa diberi nama, dan kelas.”
Saya dan teman-teman menyiapkan lembaran kertas, untuk ulangan harian.
***
Ulangan harian sudah berlangsung dengan lancar, dan kamipun bergembira sambil sorak-sorak. Tiba-tiba ada teman satu kelas dengan saya, menghampiri Koko dan dia berkata.
“Koko, dapat salam dari Yuli.” Ujar Anggi, dengan nada keras.
“Yuli?.” Tanya Koko, penasaran.
Ternyata Yuli menaruh rasa kepada Koko, batin saya mengira begitu.
Entah kenapa mulai saat itu, saya mulai menjaga jarak dengan Koko. Saya tidak mau Yuli marah sama saya, karna saya juga dekat dengan Koko. Tapi kenapa saya harus menjauh dari Koko, padahal Koko juga biasa-biasa saja dan tidak mempermasalahkan kedekatan kami di kelas. Mungkin perasaan saya saja yang terlalu cemburu, dan tidak mau bersaing dengan Yuli.
Bukannya mau bersaing sih, tapi saya yang minder sendiri.
Yuli gadis yang cantik dan anggun, bahkan banyak cowok lain yang suka sama dia. Sedangkan saya, punya wajah pas-pasan. Tapi saya tetap bersyukur kepada Allah Swt, walaupun saya kurang cantik. Tapi setidaknya, saya berusaha baik dengan siapapun. Karna niat saya datang kemari, untuk sekolah dan mencari ilmu.
“Ci, kamu kenapa ngelamun?, dari tadi saya panggil tapi diam saja.”
Koko menyadarkan lamunan saya, saya kaget ketika melihatnya duduk depan saya.
“Oh, maaf.” Jawab saya, singkat. Sembari berpamitan, ma uke kamar mandi.
“Saya keluar dulu sebentar, mau membasuh wajah. Saya ngantuk, barusan.”
Saya langsung lari keluar dari kelas, menuju ke kamar mandi yang jaraknya sedikit jauh dari kelas kami.
“Hai, Ci. Mau ke mana?, kenapa lari-lari?.”
Tanya seorang teman, yang sekelas dengan Yuli. Sayapun tidak menghiraukan pertanyaannya, saya tetap lari menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, saya bercermin dan segera membasuh wajah saya.
‘Ya Allah, ada apa dengan saya?. Mengapa perasaan saya jadi tidak karuan, seperti ini.’ Gumun saya dalam hati, sambil mengeram dan menghela nafas panjang.
Saya selalu teringat ajakan Yuli terhadap Koko, ketika waktu istirahat. Sepertinya hati ini tidak rela mendengar Koko diajak pulang, bareng Yuli.
Tapi, siapalah saya?. Saya tak mungkin mencegah niat mereka. Kalau saya mencegah, nanti mereka malah menganggap saya orang aneh. Yang tidak suka melihat mereka pulang bareng.
Selesai membasuh wajah, saya segera kembali ke kelas. Saya berjalan perlahan melewati koridor, sepanjang jalan saya berfikir.
‘Bagaimana jika saya tidak usah mengikuti pelajaran jam terakhir, mata pelajaran TIK.’ Eram saya, menggerutu.
Tapi kalau saya tidak ikut pelajaran, nanti nilai praktik saya kosong. Saya pun mengurungkan niat saya untuk membolos, karna saya juga belum pernah mbolos sekolah. Saya tidak mau mengecewakan kedua orangtua saya, yang sudah susah payah membiayai sekolah saya. Apalagi jika membuat Bapak dan Ibu sedih, jangan sampai deh.
‘Em, ya sudahlah. Sebaiknya, saya kembali ke kelas saja.’ Ucap saya, dalam hati.
Bismillah, Insya Allah saya bisa melewati masa seperti ini. Masa di mana saya harus dilanda cemburu.
Saya ingat kembali pesan dari Bapak dan Ibu, bahwa saya tidak boleh pacaran atau mengenal cinta-cintaan yang hanya membuat saya lemah dan terpuruk.
Belum saatnya saya memikirkan hal-hal yang dianggap kurang penting, dalam hidup ini. Karna saya juga punya cita-cita yang harus saya capai, yaitu menjadi seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mudah-mudahan saya bisa menunjukan kepada Bapak dan Ibu, kalau saya bisa patuhi perintah beliau.
Cinta masa remaja sangat menyenangkan, namun apabila kita tidak bisa mengendalikan rasa yang menggebu, maka kita akan terjerumus dalam hal yang kurang baik. Maka kita harus menjaga diri kita sendiri, agar tidak ikut-ikutan hal yang hanya membuang waktu sia-sia. Apalagi saya masih muda, masa depan masih panjang.
Saya harus semangat demi masa depan yang cemerlang.
Sekarang saya sudah berada di kelas, pelajaran TIK segera dimulai.
Pa Nazar mempersilakan kami, untuk memasuki ruang leb komputer. Kamipun berjalan menuju ruang leb komputer, dengan berdesak-desakan.
Saya, Koko, dan Yanto jalan berjajar sambil bercanda, kami menceritakan tentang pelajaran TIK. Bahwa kami belum bisa mengoperasikan komputer dengan lancar, kami berniat nanti duduknya bersebelahan. Agar kami mudah untuk saling bertanya, apabila ada kesulitan dalam belajar Teknologi Ilmu Komputer.
Sudah saatnya kami berlatih mengoperasikan komputer, dengan langkah-langkah yang diberitahukan sama Pa Nazar. Semua siswa diberi tugas membuat tulisan melalui ketikan, yaitu menggunakan Microsoft Word. Kami ditugasi, menuliskan cerita pengalaman pribadi saat Study Tour ke Jakarta.
Di situ, saya bercerita. Pada saat saya mengikuti Study Tour, saya duduk bersebelahan dengan Koko dan Yanto. Karna kami selalu bertiga, sampai jalan-jalanpun bertiga. Di sana kami meras bahagia, melihat pemandangan yang sangat bagus dan menyenangkan.
Tet, tet, tet.
Terdengar suara bel pulang, saya dan teman-teman bersiap-siap untuk pulang. Namun, sebelum pulang kami menyimpan hasil ketikan kami yang barusan ditugasi oleh Pa Nazar guru TIK. Agar tugas bisa segera mendapat nilai, dari Pa Nazar selaku Guru TIK.
Semua siswa kembali ke kelas, untuk mengambil tas dan segera pulang. Saya pun menyiapkan diri, untuk semakin cemburu melihat Koko dan Yuli yang sudah janjian mau pulang bareng. Entahlah, tapi saya berusaha untuk bersikap biasa saja dan tidak akan memikirkan mereka lagi.
Saya berlari meninggalkan teman-teman yang lain, dengan segera saya mengambil tas dan kembali lari sampai depan gerbang masuk sekolah. Ketika ada angkutan umum datang, saya langsung naik. Saat itu, saya berusaha agar tidak melihat mereka pulang bareng.
Saya sudah berada di dalam angkutan umum, dan mobilnya segera meluncur. Hati ini terasa sedikit lebih tenang, karna tidak merasa cemburu melihat mereka pulang bersama.
Saya berjanji sama diri sendiri, tidak akan mengusik kedekatan mereka.
Saya akan fokus belajar, demi mencapai nilai yang baik. Saya ingin jadi orang sukses, dan bisa membahagiakan kedua orangtua saya. Saya yakin saya bisa, dengan memohon doa kepada Allah Swt. Agar saya diberi ketegaran, dalam mengahadapi semua rintangan yang ada. Insya Allah, sukses akan saya raih. Aamiin yaa robbal alamin. Tinggalkan pacaran, utamakan sekolah.