"Lia mau kah kau menjadi istriku" ucap seorang laki-laki tampan yang bernama fais, dia sudah mengeluarkan sebuah cin-cin putih dan sebuket bunga dari punggungnya.
sedangkan si cewe yang bernama lia hanya menganga tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh sahabat kecilnya itu.
"hahahaha" lia tertawa terbahak-bahak seakan yang di lakukan fais adalah sebuah hiburan, fais hanya mengernyitkan keningnya saat melihat tingkah wanita pujaannya.
"kenapa ketawa" tanya fais kesal, lia yang menyadari kalo fais merajuk langsung menutup mulutnya.
"pppttt maaf fais, bukan lia mau nolak fais kan tau lia udah punya pacar. tapi, kenapa malah ngajak menikah" ucap lia yang setengah mati menahan tawanya.
"terus?" kening fais berkerut.
"ya lia gak bisa lah fais, lagian lia hanya ingin menikah dengan rey saja gak mau sama fais" ucap lia mencoba bercanda, fais yang sedari tadi menatapnya tiba-tiba tertawa.
"hahaha kau terkena prank" gelak fais tertawa puas, lia sudah cemberut kesal pasalnya dia sudah sangat ke ge'er ran karena banyak yang menaksir padanyaa.
"gak lucu" ucap ketus lia, dia sudah mengerucutkan bibirnya.
"kau pikir hanya kau saja yang bisa ngprank orang? aku juga bisa lia" ucap fais yang masih dengan tawa renyahnya.
"awas aja fais, lia gak akan pernah mengampuni mu" ucap lia memukul-mukul pelan dadanya fais, fais hanya tertawa menahan geli, tak mau kalah akhirnya fais mengelitik tubuh lia, hingga mereka tertawa bersama seolah tidak mempunyai beban hidup. canda tawa mereka berhenti oleh sebuah notifikasi dari layar handphone nya lia.
"fais ganteng, lia harus pergi dulu ya. rey sudah datang menjemput ku" pamit lia sambil mencium punggung tangan milik fais. fais hanya tersenyum menatap kepergian sang pujaan.
"aku mengatakan semua itu tulus, lia. tapi, kamu tidak bisa melihat ke tulusanku dengan benar. tapi, tidak papa semoga kau bisa bahagia bersama pilihanmu, dan maaf kan aku yang tak bisa selamanya ada untukmu" ucap fais pelan.
"liaaaaa" teriak fais memanggil wanita pujaannya, lia menoleh dan tersenyum.
"ada apa ganteng?" ucap lia dengan senyuman khas nya. fais berlari menghampiri lia.
"ada apa?" tanya lia heran, bukannya menjawab fais malah mengecup kening lia dengan lama, lia hanya diam menerima perlakuan fais. tapi, tak lama kening nya bekerut karena merasakan ada air mata yang mentes di pipinya.
"fais apa kau menangis?" tanya Lia bingung. fais menggeleng dan tersenyum.
"lia ini buatmu, dan jaga dirimu baik-baik ya" ucap fais lembut sambil mengusap-usap pipi lia, lia hanya mengangguk patuh. dengan penuh keberanian fais mencium bibirnya lia dengan rakus, fais menekankan bibirnya dan bibir lia, lia yang mendapatkan perlakuan itu hanya diam mematung karena syok dengan apa yang fais lakuakan, lia ingin memberontak. tapi, fais mengunci tubuhnya, semakin lama fais melakukannya, lia malah terbawa sensasi hingga tanpa sadar lia membalas ciuman dalam fais.
fais yang merasa mendapat respon langsung memperdalam ciumannya, cukup lama mereka melakukannya, hingga sebuah panggilan menghentikan aksi mereka.
"maaf" ucap fais lembut, lia hanya mengangguk saja mau marah pun dia malu karena tadi sudah membalas ciuman fais.
"lain kali jangan gitu lagi ya" ucap lia sambil merapikan kembali bajunya.
"tapi enakkkan? buktinya kau membalas sentuhaku" ucap fais menggoda, lia sudah tersenyum malu pipinya merona bagaikan tomat.
"faisss" geram lia, saat lia memukul dada bidang milik fais, fais malah memeluknya dengan erat. tubuh lia, fais tekan hingga menyentuh tubuhnya.
"fais lepaskan" ucap lia merengek, karena pasalnya dia merasakan hal ganjil pada perutnya.
"mau lagi" goda fais, pipi lia kembali memerah.
" dasar mesum" ucap lia sambil berlari keluar, fais hanya terkekeh melihat tingkah lia.
"maaf kan aku lia, mungkin ciuman tadi hanyalah sebuah perpisahan terlahir untuk kita, aku harus pergi jauh dari mu dan untuk kembali lagi kesini, aku belum bisa memastikannya.
****
keesokan harinya fais sudah bersiap-siap membereskan pakaiannya, bajunya sudah di masukkan kedalam koper besar miliknya, dan sebuah pucuk surat sudah berada di atas meja, fais tidak bisa berpamitan langsung dengan lia, karena pesawat yang akan di tumpanginya akan lepas landas sekitar satu jam lagi.
"kalo lia datang kesini, berikan surat ini padanya dan jangan pernah katakan aku pergi kemana" ucap fais pada penjaga rumahnya, sedangkan si penjaga yang bernama Asep itu hanya mengangguk pelan.
taksi yang di pesan sudah datang, fais memasukan koper nya ke dalam bagasi, saat mobil akan melaju, lia datang dengan niatan akan mengajak fais joging bareng.
"fais kau mau kemana?" tanya lia sedikit berteriak.
"pergi dulu bentar" ucap fais lembut, wajah lia berubah masam dia merasa kecewa karena kedatangannya kemari menjadi cuma-cuma.
"sudah jangan cemberut seperti itu, apa kau ingin salam perpisahan" ucap fais sambil tersenyum.
"maksudmu apa?" tanya lia bingung, fais mengetuk bibirnya. lia yang mengerti langsung menggeram.
"dasar mesum" ucap lia beteraiak.
"ayolah lia, aku mohon sekali ini saja" ucap fais memelas, bisa saja fais melakukanya seperti kemarin. tapi, sekarang fais ingin lia lah yang memulainya.
"faissssss" geram lia.
"ayolah satu kali saja" rengek fais seperti anak kecil, dengan ragu lia mendekati fais dan mengecup sekilas bibir fais, baru saja lia akan menjauh darinya, lagi-lagi fais menahan kepala lia hingga kejadian kemarin terulang kembali.
"makasih lia sayang, suatu saat nanti aku akan melakukan lebih dari itu" ucap fais sambil mengedipkan sebelah matanya.
" faissss mesum" ucap lia dengan pipi memerah.
mobil yang di tumpangi fais sudah melaju dengan cepat, ntah kenapa lia merasa berat melepaskan fais sekarang, seakan kepergian fais akan terjadi sangat lama.
"neng lia, ini ada surat dari den fais" ucap mang Asep menyodorkan sebuah surat.
"surat apa?" tanyaku heran.
"tidak tahu neng" ucap mang asep.
"anak itu, seharusnya tadi bicara langsung saja" gurutu lia menatap surat bewarna biru kesukaannya.