Di suatu hari yang cerah, cahaya matahari menyinari bumi dan angin berhembus dengan kencang membuat daun-daun dari pepohonan berjatuhan. Lahirlah seekor anak Kucing betina yang dengan gemasnya, dia mencoba berjalan dengan keempat kakinya yang masih kecil layaknya seorang bayi.
Anak Kucing dengan bulu hitam mengkilap di sekujur tubuhnya, warna matanya yang gelap ke unguan, tubuhnya yang mungil nan lucu, juga ekornya yang panjang, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan merasa gemas.
Anak Kucing itu tinggal dengan seorang Biksu yang terkenal akan kekuatannya yang luar biasa. Kehidupan mereka selalu diselimuti dengan ketenangan dan kebahagiaan. Di samping itu juga, anak kucing yang tinggal bersama Biksu itu memiliki sifat yang ceria, penolong, juga ramah. Karena itulah sang Biksu memberinya nama
"Tenshi Nekonome (Kucing Malaikat),"
ucap Biksu sambil mengelus kepala Kucing itu.
Pada awalnya, Kucing itu hanyalah seekor Kucing biasa. Namun karena sang Biksu yang tidak pernah ingin menikah, tetapi beliau sangat ingin memiliki seorang anak perempuan yang selalu menerangi kehidupannya.
Kebetulan pada saat itu sang Biksu hanya memiliki seekor anak Kucing betina berbulu hitam mengkilap yang selalu bersama dan menemaninya kemana pun dia berada.
Tenshi adalah seekor anak Kucing itu. Tahun demi tahun berlalu, semakin tahun sang Biksu termakan usia hingga akhirnya beliau menjadi seorang Kakek tua yang tidak bisa lagi mendampingi atau pun bermain dengan Tenshi lagi.
Tetapi, berbanding terbalik dengan Tenshi yang semakin tahun usianya semakin dewasa dan tidak pernah menua. Tenshi tumbuh menjadi seorang gadis cantik rupawan, berambut hitam mengkilap, berkulit putih dan warna matanya hitam keunguan. Tidak ada satu pun gadis yang mampu menandingi kecantikan Tenshi di Desanya.
Namun sayangnya, kecantikannya itu membuat semua Pria di kampung halamannya itu memperebutkan dirinya. Bukan hanya di sekitar kampung halamannya saja, melainkan hampir para Pangeran Kerajaan juga tidak ingin kalah memperebutkan Tenshi.
Hingga pada suatu malam, kegaduhan terjadi di rumah sang Biksu. Banyak para Saudagar kaya raya, para Mafia dan orang kaya lainnya memperebutkan Tenshi agar menjadi Istri mereka. Biksu itu berusaha melindungi Tenshi, dari cengkeraman semua orang kaya raya itu. Namun semua keributan, termasuk kekacauan yang mereka lakukan berakhir sangat mengenaskan.
Sang Biksu yang sudah tua renta itu dipukul, diinjak, bahkan ditendang mati-matian tanpa ada rasa kasihan sedikit pun, Tenshi menangis tidak berdaya melawan semua orang kaya itu. Senjata tajam, sampai senjata api pun ditodongkan kepada Tenshi dan sang Biksu.
"Hentikan!! Hiks.. Tolong... Jangan sakiti dia.. bawa saja aku..," Tenshi tertunduk menangis.
"Bagus.. Akhirnya kamu mau.. Cepat bawa dia!," Salah satu orang kaya memerintah budaknya.
"Tidak! Dia milikku. Kau jangan macam-macam denganku!," Salah satu saudagar kaya menyentak.
"AHH!! Kau mengganggu! MENYINGKIRLAH!!," Sentak balik salah satu Mafia.
Akhirnya pertempuran pun tak terelakkan. Biksu yang kini tengah terkapar lemas, merintih kesakitan memanggil Tenshi yang sedang menangis.
"Te... Tens..shi..," Lirih lemah Biksu.
Mendengar Biksu itu memanggilnya, Sesegera mungkin Tenshi berlari mendekati sang Biksu. Tenshi memegang kedua pipi sang Biksu, berusaha membuatnya agar tetap tersadar.
"Ayah, bertahanlah Ayah. Aku akan mengobatimu sekarang!," Tenshi menghapus air matanya.
Di saat Tenshi ingin mengambil obat, sang Biksu menahan pergelangan tangan Tenshi. Biksu itu mendekati bibirnya ke telinga Tenshi, sembari perlahan mengusap kepala Tenshi.
"Carilah cinta sejati," Lirih Biksu
Biksu tersenyum tulus pada Tenshi lalu mencium kening Tenshi. Tidak lama setelah itu, perlahan Biksu mulai menutup matanya. Dan dengan luka parah di sekujur tubuhnya, akhirnya lengan Biksu itu terjatuh ke tanah.
*DUARRR!!*
Sekelibat petir, seketika menyambar dan meledakkan semua orang yang ada di tempat itu. Senyuman terakhir dari sang Biksu, tergambar dimata Tenshi sebelum semuanya berubah menjadi sangat putih dan menyilaukan mata semua orang.
Biksu dan semua orang yang ada disekitarnya tewas dalam sekejap akibat sambaran petir yang sangat keras.
Semuanya menjadi gelap, tidak ada seorang pun yang terlihat di mata tenshi. Namun, beberapa saat kemudian setitik cahaya mulai menyinari mata Tenshi. Perlahan cahaya itu mulai memunculkan sesosok bayangan hitam dan berkata pada Tenshi.
"Carilah cinta sejati..."
"Ayah," Perlahan Tenshi mulai membuka matanya.
Cuaca cerah dan langit biru disertai awan, juga angin yang berhembus kencang terlihat sangat memanjakan mata.
Setelah Tenshi membuka matanya, Tenshi merasa kebingungan. Tenshi akhirnya tersadar dari pingsannya. Tenshi terbangun di bawah pohon rindang di sebuah padang rumput yang sangat luas.
Sementara itu, tidak jauh dari tempat Tenshi berada. Seorang pria mengenakan jas hitam sedang membawa sebuah koper hitam di tangannya, sambil berjalan dengan kewibawaannya yang tinggi dan senyuman manis di mulutnya.
Pria itu terus berjalan, angin berhembus dengan kencangnya membuat rambut pria itu bergerak mengikuti arah angin. Sembari menatap birunya langit di pagi hari, dia perlahan memasukkan tangan kanan nya ke dalam saku celananya.
"Hmh... Hari ini saya pasti bisa..," Pria itu menatap langit sambil tersenyum membayangi wajah ibunya.
"Hiks... Hiks... Hiks..," Dari kejauhan terdengar suara seseorang sedang menangis.
Mendengar seseorang menangis, pria itu perlahan mengalihkan perhatiannya ke sebuah pohon besar yang ada di depannya. Dengan santainya, pria itu mendekati pohon tersebut.
Di saat pria itu menoleh di balik pohon, pria itu sedikit terlihat terkejut karena melihat seorang gadis yang sangat cantik sedang duduk menangis mengenakan kimono putih. Pria itu mendekati si gadis, lalu berdiri disebelahnya tanpa gadis itu sadari.
"Hey, anda kenapa?," Tanya pria itu tanpa menyentuh si gadis.
Terkejut, Tenshi mengesot menjauhi pria itu. Melihat tingkah aneh dari Tenshi, membuat si pria merasa tidak nyaman berdekatan dengan Tenshi. Tapi bagaimana pun juga, pria itu mencoba membuat Tenshi agar tidak takut kepadanya.
"Menjauh kau!! Jangan dekati aku!!!," Wajah Tenshi dipenuhi ketakutan dan matanya berkaca-kaca.
"Apa yang-"
"Menjauh!!," Sentak Tenshi.
Melihat reaksi Tenshi yang ketakutan, pria itu menghela nafas lalu mengambil sesuatu dari balik saku jasnya. Menyadari hal itu, membuat Tenshi semakin ketakutan.
"Apa yang ingin kamu lakukan padaku?!," Tenshi ketakutan.
"Ini, ambil," Pria itu memberikan permen.
"Apa itu?.. Racun?!!," Tenshi semakin menjauhi pria itu.
Perlahan, pria itu membuka bungkus permen nya. Sembari membuka bungkus permen itu, dia berjalan perlahan mendekati Tenshi. Tenshi semakin ketakutan lalu mulai berteriak.
"Tidak-tidak! Menjauh dariku!! Menjauh!!!!," Teriak Tenshi.
*GULPH!*
Pria itu langsung memasukkan permennya ke dalam mulut Teshi, saat itulah Tenshi berhenti menangis lalu terdiam seribu kata.
"Mmm.. Enak.. Apa ini?," Tanya Tenshi.
"Itu permen," Jawab si pria
"Aneh.. Perempuan dewasa sepertinya tidak tahu permen," Batin pria itu dengan heran
"Per..men?"
"Ya"
Setelah memberinya permen, pria itu menjauhi Tenshi lalu kembali melanjutkan perjalanannya ke tengah kota. Dimana di sana dia bekerja sebagai pegawai kantor, di sebuah perusahaan kecil.
"Tunggu!," Tenshi menarik jas pria itu.
Pria itu terdiam, lalu melirik Tenshi. Tenshi tertunduk malu, tangan nya terlihat bergetar ketakutan seolah ingin menanyakan sesuatu.
"Eum... Itu.. Boleh aku tanya?," Tertunduk malu ketakutan.
"Tentu, tapi tolong cepat. Saya tidak punya banyak waktu!," Jawab Pria itu.
"Aku ada dimana?," Tanya Tenshi.
"Di Indonesia," Jawab Pria itu singkat tanpa menjelaskan detailnya.
Sesudah menjawab pertanyaan itu, si pria kembali melanjutkan langkahnya dan menjauhi Tenshi. Kini Tenshi kembali ditinggal sendirian di padang rumput itu.
Tanpa ada rasa kasihan terhadap Tenshi, Pria itu akhirnya sampai di kantornya yang dimana disanalah setiap harinya dia bekerja.
Dari mulai pagi hingga sore hari, Pria itu terus menerus sibuk dengan pekerjaan nya yang sangat berat nan melelahkan.
Tapi semua itu hanya berlangsung hingga sore hari. Setelahnya, pria itu kembali ke rumahnya untuk beristirahat dan melanjutkan pekerjaannya di esok hari.
Tetapi, saat pria itu baru saja keluar dari kantornya dan hendak akan pulang ke rumah. Pria itu melihat Tenshi sedang berkeliaran di depan kantornya sambil menatap gedung-gedung yang ada di sekitarnya.
"... (itu.. Gadis yang waktu itu... Sedang apa dia disini?)," Pria itu memperhatikan Tenshi.
Tidak lama, Pria itu memalingkan wajahnya. Tanpa menghiraukan Tenshi, Pria itu kembali berjalan menyeberang melewati zebracross.
Tenshi yang terlalu serius menatap gedung-gedung di sekitarnya, tidak menyadari tempatnya menyeberang jalan dan juga tidak melihat lampu lalu lintas yang kini telah berubah menjadi hijau.
Semua kendaraan kembali melaju dengan cepat. Dari sinilah sebuah bus dengan kecepatan tinggi melaju dengan kencangnya ke arah Tenshi.
*TET! TET!*
"AWAS!," Pria itu berlari mendekati Tenshi.
Mendengar peringatan itu membuat Tenshi tersadar dan langsung menatap ke sampingnya, saat menatap ke samping Tenshi melihat mobil bus itu mulai mendekatinya. Mulut Tenshi kaku, seolah ia pasrah akan kematian dan kehidupan nasibnya saat ini.
*TAP! SREET!*
Pria itu menarik lengan Tenshi seperti layaknya pasangan sedang berdansa. Pria itu menatap Tenshi, terlihat kepanikan di matanya.
"Hei! Anda tidak apa-apa?," Tanya Pria itu.
"Y-ya..," Tenshi terkejut.
Perlahan pria itu melepas Tenshi dan mulai mengajaknya ke sebuah Cafe terdekat. Di Cafe tersebut, Tenshi dan Pria itu saling berbincang satu sama lain.
Meskipun wajahnya masih tertunduk malu-malu seperti seorang gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Tenshi terus mencoba untuk tetap natural seperti biasanya.
"Jadi, sebenarnya anda tinggal dimana?," Tanya pria itu.
"Di Kuil..," Jawabnya.
"Kuil? Kuil mana?," Pria itu kembali bertanya.
"Di kuil dekat pohon bambu," Jawab Tenshi
Meski jawaban yang di berikan Tenshi padanya tidak terlalu jelas, Pria itu tetap berusaha memahami semua perkataan Tenshi.
"Mmm, begitu... Sejak kapan anda tinggal disana?," Pria itu meminum kopinya.
"M-mungkin sejak 1 Masehi"
"Ukhuk-Ukhuk! Apa?!," Pria itu tersedak kopinya sendiri
Seolah benar-benar tidak percaya dengan perkataan Tenshi. Pria itu mengekspresikan jawabannya dengan tertawa.
"Ha ha ha! Yang benar saja..," Terlihat air mata keluar dari mata Pria itu.
"Aku serius!," Tertunduk malu.
"Ha ha! Ya~ ya~ kalau pun itu benar. Itu artinya anda itu Nenek Moyang saya ya?! Pft..," Pria itu terus tertawa.
"Aku tidak bohong!," Tenshi mulai berani mengangkat kepalanya.
"Yah.. sudahlah... Saya anggap anda tidak punya rumah. Ikuti saya, saya akan memberi anda tempat tinggal sementara," Pria itu mengulurkan tangannya.
Kebaikan hati pria itu telah mendorong naluri hati kecilnya untuk selalu bersama pria itu kemana pun dia berada.
"Ngomong-ngomong siapa nama kamu?," tanya Tenshi.
"Nama saya Yodi, bagaimana dengan mu?," Pria itu balik bertanya.
"Aku Tenshi," jawab Tenshi.
Inilah pertemuan pertama dimana saat manusia dan siluman saling berkenalan. Saat itu, keduanya masih belum memiliki rasa saling mencintai satu sama lain.
Beberapa bulan semenjak Siluman itu tinggal di rumah Yodi. Mereka berdua semakin akrab, Orang tua Yodi juga mengizinkan Yodi tinggal bersamaan dengan seorang perempuan. Yodi pun dianggap sudah mapan dan siap meminang keluarga, itulah yang ada di pikiran Ayah, Ibundanya Yodi.
Tetapi pemikiran Yodi belum sampai sejauh itu. Yodi masih terus fokus bekerja demi menghasilkan uang untuk dirinya sendiri dan keluarganya, termasuk Tenshi.
Tenshi yang tinggal di rumah Yodi mengaku bahwa dirinya sangatlah tidak berguna dalam hal pekerjaan. Setiap kali dirinya mencoba melamar kerja, tentunya di bantu dengan Yogi. Hasilnya selalu gagal.
Bukan hanya itu saja, Teshi juga tidak bisa berinteraksi dengan baik dan selalu mudah di bodohi. Itulah kenapa saat ini Yodi mencoba mencari cara bagaimana agar Tenshi bisa mendapat pekerjaan.
Setiap malam Jum'at, tepat pada jam sepuluh malam. Tenshi akan berubah kembali ke dalam bentuk asalnya yakni seekor kucing dengan mata ungu menyala.
Tenshi selalu berkeliaran di luar rumah. Melompat dari satu atap ke atap yang lain, berjalan dari satu jalan ke jalan yang lain, sampai melompat dari satu pohon ke pohon yang lain pun dilakukan Tenshi pada malam itu. Untungnya perwujudannya itu hanya berlaku selama dua jam, Tenshi akan kembali ke dalam bentuk manusianya setelah jam dua belas malam.
Selang beberapa hari kemudian, Yodi baru saja pulang dari kantornya. Wajahnya terlihat lesu, stress, lemah dan cukup depresi. Saking lelah dirinya, Yodi perlahan duduk di kursi dan menyimpan tasnya itu di samping kaki kirinya.
"Yodi, kamu kenapa?," tanya Tenshi.
"Saya habis meeting, dan setelah itu datang lagi tiga meeting susulan dan banyak dokumen yang harus saya antar. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan," Curhat Yodi.
Mendengar keluhan itu, Tenshi berdiri di belakang Yodi. Dengan kedua tangannya, Tenshi mulai memijat kedua pundak Yodi.
"Ayo... Kamu pasti bisa lebih dari ini kan? Biar aku pijat, supaya kamu tidak terlalu merasa lelah," Tenshi menyemangati Yodi.
"Terimakasih," Yodi mulai merilekskan tubuhnya.
Keseharian mereka sudah sangat terlihat jelas layaknya pasangan sejati, Keduanya saling mendukung dan melindungi. Cinta yang ada dalam diri Tenshi masih sangat setia kepada Yodi, namun sayangnya Yodi tidak menyadari hal itu.
Dimana Yodi sakit, Teshi selalu ada. Dimana Yodi terpuruk, Tenshi selalu ada. Dimana Yodi termenung, Tenshi selalu ada. Dimana Yodi patah hati, Tenshi selalu ada. Apapun yang terjadi pada Yodi, Tenshi pasti selalu ada.
Berkat perhatiannya kepada Yodi yang sangat dekat, Yodi menjadikan Tenshi sebagai pembantu pribadi di rumahnya. Tenshi diberi bayaran dengan uang hasil kerja Yodi sejumlah 30% dari 100%nya gajih Yodi yang hanya sebesar 8 juta.
Meskipun Yodi memberikan bayaran pada jasa Tenshi, Tenshi tetap menolaknya dengan alasan rela bekerja tanpa dibayar. Tenshi hanya mengharapkan cinta tulus dari Yodi kepada dirinya.
Di hari libur, mereka berdua pergi ke pegunungan yang dimana terdapat banyak tanaman liar dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Hingga sampai sejauh ini, penyamaran identitas asli dari Tenshi masih belum terungkap oleh siapapun termasuk Yodi sekalipun.
Setengah tahun sudah mereka berdua tinggal bersama. Yodi kembali bergegas mempersiapkan semua kelengkapannya untuk bekerja dan dengan tergesa-gesa pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan Tenshi.
"YODI! Ini aku udah buatin sarapan!" Teriak Tenshi memanggil Yodi.
Yodi tetap berlari, tidak memperdulikan panggilan Tenshi. Melihat panggilannya di acuhkan Yodi, membuat Tenshi memasang wajah cemberut pada Yodi.
Petang hari kemudian, Yodi tidak kunjung pulang dari pekerjaannya. Karena khawatir, akhirnya Tenshi pergi keluar mencari Yodi. Tenshi mulai berkeliling di sekitar rumahnya untuk mencari Yodi, namun hasilnya Yodi belum ditemukan.
Tidak berhasil menemukan Yodi di sekitaran rumahnya, Tenshi pergi ke kantor Yodi dan memeriksa masuk ke dalam kantornya.
"Mungkin dia masih kerja..," Ucap batin Tenshi.
Tetapi setelah memeriksa di dalam, bahkan sampai disekitar kantor tempat Yodi bekerja. Yodi masih tetap belum bisa di temukan. Karena bingung harus mencari Yodi kemana lagi, akhirnya Tenshi berjalan pulang ke rumahnya.
Di perjalannya Pulang, Tenshi secara tidak sengaja melihat Yodi sedang bergandengan dan berpelukan dengan gadis lain disebuah festival pawai kembang api.
Melihat itu, benar-benar membuat hati Tenshi terluka. Tapi Tenshi masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya itu, Tenshi masih menaruh kepercayaan kepada Yodi bahwa Yodi tidak mungkin mencintai gadis lain.
Akhirnya, Tenshi pulang tanpa menegur atau pun mendekati mereka berdua. Meski terasa sakit di dadanya, Tenshi tetap mencoba tegar dan berfikiran positif terhadap apa yang telah dilihatnya.
Sesampainya dirumah, Tenshi terlihat sedikit stress. Demi menghilangkan stressnya itu, Tenshi mulai membuatkan sesuatu untuk Yodi dan dirinya makan bersama-sama nanti malam.
*10 Menit kemudian*
"Fyuh... akhirnya selesai juga, semoga dia suka," Tenshi menatap semua makanan buatannya sambil memasang wajah senyum.
"Saya pulang..," Yodi pulang bersama dengan seorang wanita yang Tenshi lihat sebelumnya.
Gadis cantik, tinggi, berkulit putih dan berambut hitam panjang, merupakan ciri khas dari gadis itu. Hal yang semakin membuat Tenshi patah hati adalah saat melihat gadis itu merangkul pria yang di cintai Tenshi.
"Dia Siapa?," tanya Tenshi.
"Oh ya, kenalkan. Dia tunangan saya, Namanya Rena" jawab Yodi tersenyum bahagia pada Tenshi.
Hancur sudah harapan Tenshi mendekati Yodi, kini Tenshi benar-benar putus asa. Hatinya dipenuhi rasa kecewa. Dari saat itulah, setelah Tenshi membuatkan keduanya makanan. Tenshi menghilang tanpa jejak dan tertinggal lah sebuah pesan.
"Aku tidak ingin semua orang bersedih, menyendiri, tidak berguna sepertiku, dengan kemampuan ku, aku akan berusaha mendekati mereka yang akan pergi dari dunia ini (mati). Agar mereka mengetahui sisa hidup mereka dan memanfaat kan waktu yang ada untuk kebaikan dan dekat dengan orang lain," Tertanda Tenshi.
Semenjak hari itulah Tenshi menghilang seperti ditelan bumi, sekalipun Yodi pantang menyerah mencari Tenshi. Tetap saja, hasilnya Tenshi tidak berhasil ditemukan.
---TAMAT---