Terkadang sepi menjadi teman yang paling berarti karena mengerti tentang kesunyian, malam adalah selimut kesunyian untuk menghangatkan sisi kelam kejamnya dunia, kejamnya roda kehidupan karena malam yang sunyi adalah guru yang baik yang mampu mengajarkan berbicara pada diri sendiri saat perasaan sedang gundah gulana.
Malam yang masih sunyi menghadirkan namamu dalam ingatan, ingin rasanya merengkuh indahnya dunia bersamamu. Menikmati hari-hari bersamamu selama-lamanya tanpa adanya batas waktu, memadu cinta penuh dengan kasih sayang.
Teringat saat pertama kali berjumpa denganmu, kau begitu angkuh dan bisa dikatakan anti cewek.
Saat itu aku ingin melamar pekerjaan di suatu tempat, siang hari yang panas bersama kakak ku. Aku mencoba memberanikan diri melangkahkan kaki dan masuk ke sebuah ruangan yang begitu sepi. Di sana hanya ada satu orang pria tinggi berambut ikal yang terlihat sedang sibuk mengerjakan sesuatu, aku mengetuk pintu ruangan itu yang bertuliskan "Kantor Tata Usaha".
"Oh, ini kantor tata usaha? kenapa sangat sepi dan hanya ada satu orang di dalamnya, pada kemana yang lain? atau sedang mengajar?" batinku berkata seperti itu.
Tok, tok, tok "Assalamualaikum" aku menyapanya dengan mengucap salam. Pria itu menoleh hanya sebentar saja, dan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Waalaikumsalam" jawabnya, ketus. Ingin rasanya diriku menjitak kepalanya, biar tahu sakitnya diabaikan.
"Pak, boleh saya bertanya sesuatu?" niat diri ingin bertanya kepadanya namun dia begitu angkuh, tatapannya sinis dan amat menakutkan.
Aku mencobanya lagi, bertanya kepadanya.
"Apakah aku bisa bertemu dengan Bapak Kepala Sekolah?" pertanyaan pertama sudah tersampaikan.
"Kepsek sedang ada rapat!" jawabnya sedikit kasar, tanpa menatap diriku yang masih berdiri di depan pintu.
"Oh, sedang rapat!" jawabku pelan.
"Lantas, kepada siapa saya harus menyerahkan berkas persyaratan lamaran mengajar?" tanyaku, ingin tahu.
Dengan penuh harapan aku bisa bertemu langsung dengan Bapak Kepala Sekolah, namun saat itu Beliau sedang sibuk.
"Pak! kalau begitu saya titip berkas persyaratan ini saja ya, Pak? tolong sampaikan kepada Bapak Kepala Sekolah." kataku meminta tolong, agar pria itu menerima berkas persyaratan lamaran kerjaku.
"Itu! tuh! tuh! tuh! di sana! silakan bertemu dengan Pak Zaenul saja!" sahutnya suaranya lantang, hingga membuat kakiku gemetar.
"Emmm, Pak Zaenul yah! lya sudah terimakasih atas informasinya." jawabku, merasa sangat bete, sebal, dan kesal sama itu pria berambut ikal entah siapa namanya?.
Karena mwrasa dicuekin sama pria berambut ikal, akhirnya aku mengurungkan niat untuk melamar kerja disitu dan membawa pulang kembali berkas persyaratannya.
Dari pada nanti aku harus sakit hati, jika diterima ngajar disitu dan tiap hari bertemu dengan dirinya, baiknya aku cari tempat mengajar di sekolah lain dan berharap jangan bertemu lagi dengan orang-orang angkuh seperti dia.
"Ayo, Kak! kita pulang" aku mengajak Kakak pergi dari tempat itu.
"Pulang? bukankah kita belum bertemu dengan Bapak Kepala Sekolah?"
"Tidak jadi, orangnya pergi!"
"Pergi kemana?"
"Rapat!"
"Kamu ngga meninggalkan berkas persyaratan ini?" tanya Kakak, menautkan kedua alisnya.
"Tidak perlu!" jawabku kesal.
"Kamu kenapa, Dik? kok bete begitu?" Kakak menanyakan perubahan mood ku saat ini.
"Aku mau makan, lapar!" aku mengalihkan pembicaraan agar Kakak tidak menyerbuku dengan berbagai pertanyaan.
"Oh, kamu lapar! pengin makan? ayo! kita makan bakso" ajak Kakak penuh semangat.
"Bakso? dimana? aku juga ngga tahu daerah sini, belum hapal juga jalannya"
"Udah! kamu ikut saja sama Kakak"
"Hmmm, baiklah kalau begitu"
Akhirnya aku dan Kakak tidak jadi melamar pekerjaan tapi malahan makan bakso dekat jalan raya menuju jalan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku langsung ambil air wudu dan sholat duhur. Sesudahnya, aku berdoa dan segera tidur menenangkan pikiran sejenak.
Aku tidur sangat lelap karena kecapean, seharian muter-muter keliling Kota bersama Kakak. Aku terbangun jam empat sore dan langsung membersohkan diri mandi dengan air dingin yang keluar langsung dari peralon saluran sanyo.
Malam harinya aku tidur cepat, sekitar jam sembilan malam. Karena aku terbiasa bangun dimalam hari untuk mencurahkan segala isi hati, kepada Allah Swt dengan melaksanakan sholat sunah tahajud.
Renungan malam, selalu aku lakukan agar beban di hatiku bisa terkurangi setelah mencurahkannya kepada Sang Pencipta.
Sholat sunah tahajud sudah selesai aku laksanakan, saatnya aku berdoa dan memohon kepada Allah Swt.
Terutama aku berdoa untuk kedua orangtuaku, untuk diriku, dan untuk Kakak adikku. Agar selalu diberikan kesehatan jasmani dan rohani, panjang umur, dan selalu dilindungi sama Allah Swt dimana pun kami berada.
Kedua aku berdoa agar segera diberikan pekerjaan yang layak dan nyaman, mengalir rejeki yang barokah dan tercapai semua keinginan.
Masalah jodoh?
Aku juga berharap agar aku dipertemukan dengan calon imamku yang baik dan bertanggungjawab.