Cinta Sejati Buat Affandi
Author: Rahmavitasari Zulfahwati
__________________________________________________
2
__________________________________________________
Siang itu bener-bener sial buat Affandi. Gimana enggak? Udah Metromini yang dinaikinya di tengah jalan puter haluan, sehingga dia mesti turun di tengah jalan dan mesti cari angkutan lain untuk sampai ke rumahnya. Eh, belum juga dia berhasil mendapatkan angkutan yang akan membawanya ke wilayah dimana dia tinggal, hujan tiba-tiba turun, tercurah dari langit dengan derasnya. Mau enggak mau, terpaksa Affandi pun cari tempat untuk berteduh, kalau dia enggak kepengen diguyur air hujan, dan akhirnya sakit flu. Untungnya, enggak jauh dari tempat dia melangkah, ada sebuah halte. Maka tanpa banyak pikir lagi, ketimbang dia basah kuyup terguyur air hujan, Affandi pun berlari ke arah halte itu. Kemudian berteduh di bawah halte. Beruntung, halte itu sepi. Cuma dia seorang. Namun enggak lama kemudian, seorang cewek berseragam sebuah sekolah lanjutan atas, namun Affandi yakin itu cewek bukan dari SMU Nusantara, karena emang dia enggak pernah ngeliat itu cewek di SMU-nya, ikut berteduh di halte itu.
Melihat di halte itu ada orang lain, cowok, itu cewek senyum. Mau enggak mau, Affandi pun akhirnya balas senyum.
"Huh... Hujan turun mendadak sekali," gumam itu cewek seakan mengeluh, sembari memandang ke langit yang meski terang, namun dari atas sana hujan malah turun dengan derasnya.
"I... i... iya," timpal Affandi. Namun dia enggak balas memandang ke arah cewek itu. Pandangan mata Affandi justru di arahkan ke atas, menengadah ke langit, melihat langit yang sebenarnya lumayan cerah, enggak begitu banyak awan yang menghiasinya. Bahkan matahari pun masih bersinar dengan terangnya. Tapi entah mengapa, hujan malah turun dengan sangat derasnya.
Cewek manis itu kembali memandang ke wajah Affandi yang tampan. Namun kali ini keningnya agak mengerut. Mungkin dia heran, mendengar ucapan Affandi yang yang terbata-bata. Keren dan macho juga ini cowok, pikir si cewek saat ngeliat wajah Affandi yang emang ganteng. Dari omongannya yang gugup, kayaknya ini cowok belum pernah deket ama cewek.
"Pulang sekolah ya, Kak?"
"I... i... iya," jawab Affandi.
Ah, bener dugaan gue. Ternyata ini cowok emang masih bujang tulen, belum pernah deket ama cewek? Buktinya, baru ngadepin gue aja, ngomongnya gugup begitu. Atau, jangan-jangan ini cowok emang kuper. Tapi, wajah ama bodinya keren ama macho banger. Dan kayak-kayaknya, ini cowok mirip banget ama aktor India Rithik roshan. Ah, cowok seperti inilah yang gue demenin. Gue yakin, cowok macam ini, enggak bakal bertingkah sebagaimana cowok-cowok yang selama ini gue kenal. Kalau gue kasih dia cinta, pasti dia akan ngebalas cinta gue dengan sepenuh jiwa ama raganya. Gue juga yakin, dia pasti akan nurut ama gue.
"Sekolah di mana, Kak?"
"Nu... nu... nusan... ta... ta... tara," jawab Affandi.
"Oh, SMU Nusantara, toh?" gumam si cewek sambil senyum.
"I... i... iya..."
"Saya SMK Pertiwi," kata si gadis kasih tahu dimana dia bersekolah.
Affandi manggut-manggut.
"Kak..."
"Eh, i... i... ya?"
"Nama saya Sesilia, tetapi lebih akrab dipanggik Sesi. Nama kakak siapa?"
"Af... af... Affandi..."
Cewek kece yang mengaku bernama Sesilia atau biasa akrab dipanggil Sesi melongo dengan kening mengerut mendengar ucapan Affandi yang tetap saja terbata-bata, meski dia sudah berusaha bersikap akrab.
Affandi yang sepertinya memahami apa yang ada dalam pikiran Sesilia, dengan wajah menunjukkan kemurungan berkata, "Ma... ma... maaf. Sa... sa... saya me... me... memang, ga... ga... gagap,"
"Ah, tak apa. Sayalah yang semestinya minta maaf. Tapu sungguh, saya senang berkenalan dengan kakak..."
"Te... te... terima... ka... ka... kasih."
"Untuk apa?"
"Ka... ka... karena, kam... kam... kamu, ka... ka... kagak men... men... ter... ter... tawakan aku..."
"Kenapa saya harus tertawa?"
"Ka... ka.. karena... a... a... aku... ga... ga...gagap." jawab Affandi dengan wajah murung, setiap kali dia ingat akan kekurangannya yang selama ini senantiasa menjadi bahan olokan dan ejekan teman-temannya. Sehingga membuatnya jadi seperti mahluk asing aja.
"Ah, kak Fandi. Kakak jangan rendah diri begitu," kata Sesilia dengan wajah menunjukkan kesungguhan dan keseriausan, kalau dia bener-bener berharap kiranya Affandi yang menurut penilaiannya keren dan macho tidak minder plus rendah diri. Kagak cuma sekedar basa-basi, menyindir apalagi berolok-olok dengan maksud mengejek. "Kak Fandi harus optimis..."
"Ta... ta... tapi..."
"Masalah gagap?"
Affandi mengangguk.
"Itukan hanya masalah ucapan," Kata Sesilia sambil senyum dengan mata menatap lekat ke wajah Affandi. "Menurut saya, hal itu tidak terlalu utama dalam penampilan seseorang. Kecuali kalau kakak cacat fisik, bolehlah kakak rendah diri."
"Te... te... terima... ka... ka... kasih. Ka... ka... kamu, be... be... begitu... ba... ba... baik..."
"Ah, enggak. Aku cuma mengatakan apa yang semestinya kukatakan. Sebagai sesama manusia, semestinya kita tidak boleh mencela, merendahkan, apalagi menghina orang lain kan, Kak?"
"I... i... iya."
"Semestinya kita justru saling membantu kan, Kak?"
"I... i... iya," jawab Affandi.
Sejenak keduanya sama-sama diam.
"Se... se... Sesi..." panggil Affandi.
"Ya, Kak?"
"Ma... ma... maukah... ka... ka... kamu... ja... ja... jadi... te... te... temanku?"
"Kakak ingin jadi teman Sesi?"
"I... i... ya. I... i... itu pun ka... ka... kalau kam... kam... kamu ka... ka... kagak ke... ke... kebe... ra... ra... ratan..."
"Keberatan?" ulang Sesilia dengan kening mengerut, namun kemudian tersenyum dan berkata, "Enggak... Sesi enggak keberatan. Malah Sesi senang kok punya teman kak Fandi."
"Su... su... sung... guh?"
Sesilia mengangguk sambil tersenyum. Kemudian mengulurkan tangan kanannya ke depan, mengajak Affandi berkabat tangan sebagai tanda kalau mereka resmi menjalin persahabatan. Affandi pun menyambut uluran tangan itu cewek. Kemudian keduanya saling berjabat tangan dengan bibir sama-sama tersenyum.
Seiring dengan senyum mereka, hujan pun reda. Dan pada saat itu, sebuah angkutan umum berhenti.
"Kak, Sesi duluan, ya?"
"I... i... ya..."
"Sampai nanti."
"I... i... ya.
"Kak..."
"I... i... ya?"
"Kalau mau ketemu Sesi, besok siang kemari aja. Tiap pulang sekolah Sesi nunggu angkutan di sini, Kok."
"I... i... ya,"
"Oke. Sampai nanti, Kak."
"I... i... ya... ha... ha... hati... hati."
"Makasih," Sesilia tersenyum, kemudian cewek cantik dan baik hati yang mau menjadi teman Affandi itu pun naik ke dalam bus setelah terlebih dulu melambaikan tangan ke arah Affandi yang membalasnya dengan melambaikan tangan pula.
Begitu angkutan yang dinaiki Sesilia melaju, Affandi tertegun. Dia bagai terkesima dengan apa yang baru saja dialaminya. Hatinya bertanya, apakah yang baru saja di alaminya nyata, atau hanya halusinasinya semata? Atau barangkali dia sedang tidur dan bermimpi ketemu seorang bidadari?
Kagak puas dengan apa yang ada dalam pikirannya, Affandi pun berusaha ngebuktiin kalau apa yang baru saja di alaminya bukan mimpi, bukan ilusi, atau halusinasi semata. Maka dia pun menepuk pipinya sendiri keras-keras.
Untung aja di halte itu cuma ada dia seorang. Kalau ada orang lain, pasti itu orang akan nunjukkin rasa heran ngeliat ulah Affandi yang nampar pipinya sendiri dengan keras. Atau, bisa jadi itu orang bakal nyangka kalau Affandi sudah enggak waras lagi alias gila.
Plok!
"Aukh...!" Affandi ngejerit kesakitan. Dan itu sebagai tanda, kalau ia enggak sedang tidur apalagi bermimpi. Kalau apa yang di alaminya bukan ilusi atau halusinasi. Tapi nyata, senyata-nyatanya. Namun begitu, tetap saja Affandi masih enggak juga bisa percaya dan nerima kenyataan yang ada. Sebab, emang kalau dipikir rasanya emang kalau enggak masuk akal. Gimana mungkin cewek secantik Sesilia, mau nerima dirinya yang gagap sebagai teman? Sementara yang di alaminya selama ini, teman-temannya baik di sekolah maupun di kampung tempat tinggalnya aja, enggak bisa nerima kehadirannya tanpa disertai olok-olok dan ejekan. Apa mungkin, di kota Metropolitan seperti Jakarta ini, dimana orang memandang orang lain dari sisi luarnya aja, masih ada orang seperti yang ditunjukkin oleh Sesilia?
Entahlah, Affandi enggak ngerti. Dia cuma berharap, kiranya Sesilia bener-bener ada, bukan cuma bayangannya aja. Affandi juga berharap, kiranya kebaikan Sesilia pada dirinya yang mau nerima dirinya yang gagap sebagai teman muncul dari hati nurani yang tulus.
Sebuah Metromini yang menuju ke arah wilayah dimana Affandi tinggal berhenti di depan halte di mana Affandi berada. Dengan hati masih diliputi ketidak mengertian dengan apa yang baru saja dialaminya, Affandi pun naik. Tak lama kemudian, Metromini itu pun kembali melaju, membawa Affandi pergi meninggalkan halte yang menyimpan sebuah misteri
***
Affandi tengah makan siang, ketika dari luar terdengar suara seorang cewek memberi salam dengan suaranya yang khas, "As-sa-la-mu ala-iku'uuum-mmm..."
Siapa lagi yang punya suara manja sepeeti anak kecil, kalau bukan si Rohimah atau biasa di panggil Imah. Si cewek cantik, pemilik bodi aduhai bak biaola dari Spanyol, tetapi sanyangnya idiot dan rada kurang waras, yang selama ini nguber-nguber Affandi.
"Wah, si Imah datang," gumam nyokap. Kemudian menyahuti salam yang diserukan oleh Imah. "Wa 'alaikum salam...!"
Nyokap pun bangun dari duduknya, kemudian meninggalkan ruang makan dimana Affandi masih nyantap makan siangnya, melangkah menuju ke ruang tamu untuk nemuin si Imah yang datang. Sedangkan Affandi nerusin makan siangnya dengan wajah menunjukkan kurang suka.
Affandi bener-bener enggak habis pikir, mau ngapain si Imah terus datang ke rumahnya? Nge- bantuin emak beberes rumah, dan kadang nyuciin pakaian Affandi. Padahal, Affandi selama ini udah nunjukkin sikap enggak sukanya.
"Eh, Neng Imah..." sahut nyokap sambil senyum ramah.
"Iya, Makkk... Bang Fandinya, udah pulang, Mak?" tanya Imah dengan gaya kemayunya orang idiot dan agak kurang waras. Sementara jari-jemari kedua tangannya, sibuk mempermainkan ujung bawah bajunya, digulung-gulung tak karuan. Dan dari kedua lubang hidungnya, tampak mengalir ingus.
"Udah. Lagi makan. Baru aja pulang..."
"Boleh enggak Imaha nemuin Bang Fandi, Mak...?"
"Boleh. Tapi nanti aja, setelah Fandi selesai makan, ya?"
"Iya deh, Mak. Kalau begitu, Imah tunggu di sini dulu, deh..."
"Masuk aja. Tungguin di ruang keluarga atau ruang tamu aja, ya?"
"Atau, Imah beberes rumah deh, Mak. Misalnya nyapu, atau cuci-cuci apa aja deh, Mak..."
"Enggak usah. Kagak ada kok kerjaan yang mesti dikerjain. Mending Imah duduk aja di ruang tamu, nunggu sampai Fandi selesai makan," kata nyokap. "Ayo masuk..."
"Terimakasih, Makkk..."
"Sama-sama. Ayo..."
Dengan gayanya yang kemayu lenggat-langgot sebagaimana orang idiot dan agak kurang waras, Imah ngikutin nyokapnya Affandi masuk ke dalam rumah.
"Duduk deh," kata nyokap.
"Iya, Mak. Terimakasih..." Imah nurut duduk. Nyokap senyum.
"Bentar, ya, mak lihat Fandi dulu, apa dia udah selesai makannya atau belum."
"Iya, Mak."
"Imah mau minum apa?"
"Enggak usah repot-repot deh, Mak. Imah enggak haus air kok. Imah cuma haus pengen ketemu ama Bang Fandi..."
"Iya, emak ngerti. Bentar ya, duduk yang manis..."
"Ya, Mak..."
Nyokap pun meninggalkan ruang tamu dimana Imah duduk, melangkah masuk ke ruang makan dimana Affandi berada. Begitu sampai di ruang makan, nyokap ngeliat Affandi telah selesai makannya.
"Ngap... ngap... ngapain la... la... lagi di... di... dia kem... kem... kemari, Mak?"
"Biasa, main, pengen ketemu elo..."
"Bil... bil... bilangin... di... di... dia, Mak, Ka... ka... kalau, Fan... Fan... Fandi, ka... ka... kagak, su... su... suka..."
"Eh, enggak boleh begitu. Kalau dia kesal, lalu ngambek, gimana?" tanya nyokap.
"Bi... bi... biarin aja..."
"Biar aja dia main kemari. Toh begitu-begitu, dia masih ada hubungan saudara ama kita. Kakek elo, bapaknya emak, ama kakeknya Imah, bapaknya ibunya Imah, kakak adek. Jadi, elo ama Imah masih misanan..."
"Hab... hab... habisnya... nye... nye... nyebelin, sih."
"Ya, elo kan tahu sendiri kalau dia idiot dan kuranv waras. Ya, kita yang normal harus bisa ngertiin. Toh dia cuma mau main doang, enggak minta apa-apa. Cuma pengen ngeliat elo. Lagi pula, begitu-begitu si Imah kan suka ngebantu emak beberes rumah. Bahkan kadang nyuciin pakaian elo..."
"Si... si... siapa... su... su... suruh...? Fan... Fan... Fandi... ma... ma... malah... ka... ka... kagak... su... su... suka, kok."
"Ya, mau gimana lagi? Kagak mungkin emak ngusir dia, kan? Selain dia emang masih keponakan emak, dia juga enggak pernah berbuat yang enggak-enggak, seperti ngamuk sebagaimana di tempat lain. Udah, mending elo temuin aja dia sebentar. Mungkin kalau elo yang nyuruh dia pulang, Imah akan mau..."
Affandi sebenarnya segan nemuin si Imah. Namun kalau itu cewek cantik namun idiot dan rada-rada kurang waras belum dia temuin, itu cewek enggak bakal pulang-pulang. Bahkan pernah suatu hari, karena sampai malam Affandi enggak nemuin dia, Imah pun enggak pulang-pulang. Sampai kedua orang tuanya datang ngejemput. Namun tetap aja si Imah enggak mau pulang, meski udah hampir jam dua belas malam. Imah baru mau pulang, setelah Affandi keluar nemuin dia dan ngebujuk agar itu cewek pulang dulu.
"Im... Im... Imah... su... su... sudah... ma... ma... malam, ka... ka... kamu... pu... pu... pulang... du... du... dulu. Be... be... besok... ma... ma... main... la... la... lagi, ya?"
"Janji ya, besok Bang Fandi mau nemenin Imah main?" pinta Imah dengan gaya kemayu orang idiot dan kurang warasnya. Sementara kedua matanya menatap lekat ke wajah Affandi, kedua tangannya tiada henti mempermainkan ujung bawah bajunya.
"I... i... iya."
"Benar, ya?"
"I... i... iya."
"Bang Fandi enggak bo'ong, kan?"
"Ka... ka... kagak."
"Awas kalau bo'ong, ya? Imah akan nangis di sini. Biar semua orang tahu..."
"I... i... iya... bang... Fan... Fandi... jan... jan... janji."
Affandi emang gagap, tapi artinya enggak tegaan. Jadi meski dia sebenarnya enggak senang dengan kehadiran Imah di rumahnya, namun akhirnya Affandi pun nurut, nemuin Imah di ruang tamu.
"Eh, Bang Fandi. Maemnya udah ya, Bang?" sambut Imah dengan gaya kemayunya orang idiot, sembari jari-jemari kedua tangannya enggak henti-hentinya mainin ujung bawah bajunya.
"Su... su... sudah. Ad... ad... ada ap.. ap... apa?"
"Tidak ada apa-apa, Imah cuma mau main sekaligus pengen ngeliat Bang Fandi yang cakep. Soalnya... kalau sehari aja Imah enggak ngliat wajah Bang Fandi, Imah enggak bisa bobo."
Affandi narik napas panjang, berusaha nahan sabar. Sayang elo idiot ama kurang waras, Imah. Kalau aja elo normal, udah gue remes lo! Sungut Affandi dalam ati. Jujur aja, sebenernya Affandi juga kagum ngeliat kecantikan wajah dan kesintalan tubuh Imah. Gue yakin, kalau aja si Imah normal, pasti dia bakal jadi kembang kampung atau primadona yang bakal banyak ngundang para kumbang untuk berlomba ngeda-petin cintanya. Yang bikin jelek si Imah adalah gayanya yang kemayu ama ingusnya yang enggak berhenti-berhenti ngalir terus. Sehingga orang. melihatnya pun jadi jijik.
Padahal, enggak kurang-kurangnya kedua orang tua Imah berusaha ngobatin putri mereka agar bisa normal. Namun meski udah keluar banyak uang, si Imah tetap aja begitu-begitu aja, enggak ada perubahannya. Sehingga kedua orang tuanya pun akhirnya jenuh berusaha. Tapi menurut seorang dukun yang ditemuin oleh bokapnya di Imah, konon katanya si Imah bakal normal setelah dikawinkan. Mengenai bener kagaknya ramalan itu dukun, mana gue tahu? Soalnya gue bukan dukun.
"Im... Im... Imah..."
"Ya, Bang Fandi?"
"Se... se... seka... ka... karang... Im... Im... Imah, kan ud... ud... udah nge... nge... ngelihat, sa... sa.. saya. Ja... ja... jadi, men... men... mending... Im... Im... Imah, pul... pul... pulang. So... so... soalnya... sa... sa... saya, ca... ca... cape. Ma... ma... mau... is... is... isti... ra... ra... rahat, ya?"
"Kalau Bang Fandi cape, sini biar Imah pijit." Imah pun bangun dari duduknya sembari melangkah menghampiri Affandi, bermaksud memijit, Semua itu membuat Affandi jadi kelabakan sendiri.
"Ka... ka... kagak us... us... usah. Sa... sa... saya... ka... ka... kagak ma... ma... mau... di pi... pi... pijit."
"Katanya cape? Sini, biar Imah pijit ya, Bang, ya?"
"Eng... eng.. enggak... us... us... usah." Affandi bergegas menghindari dari kedua tangan Imah yang hendak menyentuh tubuhnya. "Sa... sa... saya, cu... cu... cuma... ma... ma... mau... is... is... isti... ra... ra... rahat. Bo... bo... bobo... si... si... siang..."
"Katanya bang Fandi mau nemenin Imah main," rungut Imah dengan wajah cemburut, sementara bibirnya mulai mewek mau nangis. "Bang Fandi bo'ong... Bang Fandi bo'ong... hu... hu... huuu..."
Imah menangis sembari jatuhin diri di lantai diteruskan dengan acara ngosek sambil terus menangis. Semua itu membuat Affandi dilanda kebingungan sendiri. Dia enggak tahu mesti gimana.
"Ud... ud... udah... jang... jang... jangan... nang... nang... nangis," bujuk Affandi berusaha menghentikan tangis Imah. Namun cewek idiot dan rada kurang waras itu bukannya diam, tetapi dia malah semakin menjadi-jadi tangisnya. Semua itu, semakin membuat Affandi kian bertambah bingung sendiri. Beruntung nyokap datang.
"Eh, kenapa, Imah? Kok nangis?" tanya nyokap.
"Bang Fandi bo'ong... Bang Fandi bo'ong..."
"Bang Fandi bo'ong kenapa?"
"Kemarin, Bang Fandi kan janji mau nemenin Imah main, Mak."
"Trus?"
"Nyatanya, sekarang bang Fandi enggak mau, Mak. Katanya cape mau bobo..."
"Iya, Imah. Abang lo emang cape. Kan baru pulang sekolah. Udah begitu, di jalan tadi kehujanan. Nah, apa Imah mau Bang Fandi sakit?" tanya nyokap.
Tangis Imah reda. Dengan wajah masih nunjukkin kemurungan. Imah menggelengkan kepala.
"Jangan... Bang Fandi jangan sakit... Kalau Bang Fandi sakit, nanti Imah sedih. Mak."
"Makanya, abangmu perlu istirahat. Imah main sama emak aja, ya?"
"Ogah ah... Imah pulang aja deh, Mak."
"Ya sudah, mending Imah pulang aja dulu. Nanti kalau abang lo udah istirahat, Imah boleh main kemari lagi."
"Iya, deh... Bang... Imah pulang dulu, ya...?"
Meski hatinya dongkol dan kesal ngelihat ulah tingkah Imah yang idiot dan rada kurang waras, namun Affandi mengangguk juga.
"As-sa-la-mu ala-ik-um..."
"Wa'alaikum salam," balas nyokap.
Sambil menari-nari disertai sennadung tak karuan, bagai tidak pernah terjadi apa-apa, Imah pun pergi meninggalkan rumah keluarga Affandi, dimana nyokap hanya bisa senyum sambil geleng-geleng kepala. Sementara Affandi, diam-diam ngeluyur pergi, masuk ke dalam kamarnya. Sehingga begitu nyokap nengok, dia enggak lagi nemuin anaknya.
***
Sore harinya, si Imah kembali datang. Itu cewek idiot ama rada-rada kurang waras, bikin Affandi bener-bener kesel setengah mati. Mau diacuhin, enggak enak. Kagak diacuhin, malah ngelunjak. Kalau enggak inget itu cewek masih kemenakan nyokapnya, pengen rasanya Affandi usir aja dari rumah.
"Bang Fandi udah istirahat, kan?" tanya Imah dengan gaya idiotnya, sembari tangannya mempermainkan ujung depan bajunya. Sepertinya dia udah mandi, sehingga pakaiannya udah ganti dan tubuhnya tampak rada bersihan, enggak seperti tadi siang.
"Su... su.. sudah..."
"Kalau begitu, kita main yok, Bang?"
"Ma... ma... main... ap... ap... apa?" tanya Affandi.
"Main petak umpet. Abang yang jaga, Imah yang ngumpet. Nanti Bang Fandi cari Imah, ya?"
Affandi hanya bisa menghela napas. Dia enggak punya pilihan lain, kecuali nurutin aja kemauan si Imah, kalau enggak mau itu cewek idiot ama rada-rada kurang waras bakal ngambek, bahkan nangis ama guling-gulingan di lantai.
"Abang tutup mata, dong. Sambil ngitung. Tapi jangan cepet-cepet ngitungnya, ya? Soalnya Imah kan mesti cari tempat untuk sembunyi dulu..."
Affandi cuma ngangguk. Lagian, gimana Affansi bisa ngitung cepet? Ngomong "satu" aja lama, perlu waktu hampir setengah menit, Sa... sa... satu. Nah, bayangin aja kalau ngitung sampai sepuluh, maka perlu waktu hampir sepuluh menit. Tapi dasarnya si Imah idiot dan rada-rada kurang waras, nyuruh Affandi jangan cepet-cepet ngitungnya.
"Nah, sekarang abang tutup mata, biar Imah ngumpet."
Affandi nurut. Dia tutup kedua matanya ama tangan. Sedangkan si Imah lari ngejauh, berusaha nyari tempat untuk sembunyi.
Begitu Imah ngilang, entah ngumpet dimana, Affandi pun cuma bisa kembali menghela napas sembari geleng-geleng kepala. Kalau gue ngikutin dia terus, bisa-bisa gue akan ketularan jadi orang idiot ama kurang waras, pikir Affandi. Tapi gimana caranya agar gue bisa terbebas dari si Imah?
Affandi termenung, berusaha mencari cara agar bisa terbebas dari si Imah. Namun pada saat itu, cewek cantik namun idiot dan rada kurang waras itu telah muncul, keluar dari persembunyiannya.
"Dor! Bang Fandi kena!" serunya, mengejutkan Affandi.
"Ad... ad.. aduh... Im... Im... Imah. Bi... bi... bikin... ka... ka... kaget... aj... aj... aja... ka... ka... kalau... jan... jan... jantung... sa... sa... saya... co... co... copot, bag... bag... bagaimana?"
"Ya, centelin lagi aja pada tempatnya, Bang," jawab Imah seenaknya dengan gaya idiotnya yang khas, sembari jari-jemari kedua tangannya memper- mainkan ujung bawah depan bajunya.
Affandi cuma bisa narik napas panjang mendengar ucapan Imah. Dasar idiot sinting. Emangnya pakaian, kalau lepas dari kapstor bisa dipungut ama dicentelin lagi! Sungut Affandi dalam hati.
"Nah, kini giliran Bang Fandi yang ngumpet, sementara Imah jaga."
"Ah, inj kesempatan baik buat gue untuk ngusir Imah dari rumah, pikir Affandi.
"Udah gih sana ngumpet."
"Im... Im... Imah... nya, tu... tu... tutup... ma... ma... mata, du... du...dulu, dong..."
"Iya, ini Imah tutup mata. Atu... Dua..."
Sementara Imah menghitung, Affandi pun bergegas pergi mencari tempat sembunyian. Dia menuju ke dapur. Begitu melewati ruang keluarga dimana nyokap berada, Affandi pun berpesan sama nyokap, "Mak... ka... ka... kalau si Im... Im... Imah... na... na... nanya... bi... bi... bilang... aja.... Fan... Fan... Fandi... per... per... pergi, ya?"
"Kenapa emangnya?"
"Ad... ad... aduh, Mak. Ka... ka.. kalau... be... be... begini... te... te... terus... bis... bis... bisa... bisa... Fan... Fan... Fandi... ik... ik... ikut... sin... sin... sinting."
Nyokap menarik napas panjang. Bener juga apa yang dikata anaknya. Kalau dituruti terus kemauan si Imah, bisa-bisa akan ikut sinting. Anaknya normal, cuma gagap doang. Jelas Affandi enggak suka main-main seperti anak kecil balita sebagaimana yang diinginkan oleh Imah yang emang idiot dan rada-rada kurang waras.
"Iya, deh. Nanti emak kasih tahu dia kalau elo pergi. Emak juga sebenernya enggak suka elo ngikutin kemauan si Imah. Tapi, emak mesti gimana? Kalau dilarang, salah-salah dia ngambek, nangis sambil guling-guling di lantai... bisa-bisa malah jadi makin ngerepotin ama nyusahin kita sendiri"
"I... i... iya, Mak."
"Ya udah, sana pergi ngumpet."
Bergegas Affandi pun pergi untuk nyari tempat persembunyian yang enggak bakal bisa di ketahui oleh Imah. Tapi, hampir seluruh ruangan di dalam rumahnya udah di ketahui oleh si Imah. Affandi pun jadi bingung sendiri, enggak tahu mesti kemana. Sehingga dia hanya berdiri sambil celingukan ama garuk-garuk kepala.
"Loh, kok malah bengong?" tanya nyokap.
"Fan.. Fan... Fandi... bing... bing... bingung... ha... ha.. harus... ngum... ngum... ngumpet... di... di... dimana? So... so... soalnya... Im... Im... Imah... sud... sud... sudah... ta... ta... tahu... sem... sem... semua... tem... tem... tempat... di... si... si... sini..."
"Iya, ya... Imah udah tahu semua tempat di rumah ini," gumam nyokap turut bingung. Kemudian nyokap terdiam berpikir. Begitu juga Affandi, cowok keren tapi gagap itu pun ikut merenung berpikir, berusaha nyari jalan keluar agar dia bisa terbebas dari Imah, yang kalau dituruti, bisa-bisa akan membuatnya ikut jadi idiot dan sinting. Tapi kalaiu kemaunnya enggak dituruti, itu cewek idiot ama rada-rada kurang waras bakal ngambek, trus nangis, ngosek ama guling-gulingan di lantai yang makin membuat dia ama nyokap malah tambah repot.
"Gim... gim... gimana, Mak?" tanya Affandi minta pendapat, karena dia sendiri enggak mendapatkan jalan keluar untuk ngebebasin diri dari si Imah.
"Gini aja, deh. Mending elo mandi, nanti biar emak yang ngomong sama Imah, kalau elo dapet telpon daei sekolah elo, kalau elo di suruh ke sekolah. Nah, dengan begitu Imah bakal mau di suruh pulang..."
"I... i... iya deh, Mak."
Affandi pun bergegas menuju ke kamarnya untuk ngambil handuk untuk mandi. Sementara nyokap segera nemuin Imah di ruang tamu.
"Imah..."
"Ya, Mak?"
"Bang Fandi disuruh ke sekolahan oleh gurunya. Jadi Bang Fandi enggak bisa nemenin Imah main. Nah, mending Imah pulang aja, ya?"
"Tapi, Mak. Imah kan masih pengen main..."
"Lain kali aja, ya? Kan bang Fandi mau ke sekolah."
"Iya, deh..."
Ah, lega rasanya hati nyokap begitu mendengar Imah mau nurutin bujukannya untuk pulang. Kalau sampai itu anak mokong enggak mau pulang, urusannya bisa tambah berabe.
"Kalau begitu, Imah pulang dulu ya, Mak. Assalamu alaikummmm...!"
"Wa'alaikum salam," sahut nyokap sembari menarik napas lega. Karena akhirnya mereka pun terbebas dari Imah yang idiot dan rada-rada kurang waras, yang kalau enggak dituruti kemauannya, akan nangis dan gegulingan di lantai sebagaimana anak balita. Padahal usia Imah udah 17 tahun.
***
__________________________________________________
3
__________________________________________________
Pagi ini, semangat Affandi pergi ke sekolah melebihi hari-hari sebelumnya. Kalau hari-hari sebelumnya Affandi berangkat ke sekolah karena pengen pintar, agar kelak bisa jadi orang sukses, sehingga mesti di sekolah teman-temannya mengolok-olokdan mengejeknya, dia tak ambil hati. Tetapi pagi ini, selain karena alasan diatas, Affandi juga pergi ke sekolah dengan membawa harapan, kiranya nanti sepulang sekolah, dia akan bisa bertemu kembali dengan Sesilia. Affandi pengen ngebuktiin, kalau apa yang kemarin dialaminya, bukan mimpi atau ilusi maupun halusinasi. Tetapi nyata. Dan untuk itu, sepulang sekolah nanti, dia akan singgah kembali di halte dimana kemarin dia bertemu dengan Sesilia. Sesilia yang baik hati. Sesilia yang meski cantik, namun enggak sombong. Sesilia yang walau tahu dirinya gagap, tetapi mau menerimanya sebagai teman, tanpa disertai olok-olok apa lagi hinaan sebagaimana cewek-cewek lain temannya, baik yang di sekolah maupun yang di lingkungan rumah.
Sampai di sekolah, kembali Affandi mesti nerima sikap ama perlakuan teman-temannya yang seakan menganggap dirinya makhluk asing. Terlebih si Daniel yang saban hari, enggak bosan-bosannya menggoda.
"Hai, Fan... ini ha... ha... hari... el... el... elo... la... la... lain... bang... bang... banget, man?" tegur Daniell sembari niruin kegagapan Affandi.
Sebagaimana hari-hari yang udah lewat. Affandi cuma diam, enggak nanggapin godaan Daniel.
Ngeliat Affandi cuma diam, Daniel pun senyum.
"Elo marah ya ama gue?"
"Ka... ka.. kagak," jawab Affandi.
"Yang bener?"
"Su... su... suer."
"Sorry, man, gue cuma bercanda. Gue harap elo bener-bener enggak marah ama gue lantaran hampir saban hari gue ngegodain elo dengan ngikutin cara elo bicara. Sungguh, gue enggak bermaksud menghina elo. Gue cuma pengen ngerasain gimana sih rasanya kalau ngomong kayak elo. Eh, enggak taunya cape jug, ya?" gumam Daniel sambil senyum. Entah itu senyum bener-bener tulus, atau cuma senyum mengejek atau olok-olok.
Affandi balas senyum.
"Ini hari, gue perhatiin elo lain banget, Fan. Boleh gue tahu ada apa?" tanya Daniel.
"Ka... ka... kagak... ad... ad... ada... apa... apa." jawab Affandi.
"Bener?"
"Su... su... suer."
"Tapi bener deh. Ini ari penampilan eli emang lain banget. man."
"La... la... lain... gim... gim... gimana...?"
"Ya lain. Biasanya, elo tampil murung, man. Tapi ini ari, semangat elo bak pejuang 45 yang mau berperang, man."
"Ah, el... el... elo... bi... bi... bisa... aj... aj... aja..."
"Gimana? Apa udah dapet gacoan?"
"Ce... ce... cewek... ma... ma... mana.. yang... ma... ma... mau, sam... sam... sama... gu... gu... gue?"
"Nah elo, gue combalangin ama Vivi, enggak mau..."
"Si... si... siapa... yang... ka... ka... kagak... ma... ma... mau? Gu... gu...guenya... ma... ma... mau. Ta... ta... tapi, Vi... Vi... Vivinya. Ma... ma... mana, ma... ma... mau... sam... sam... sama... gu... gu... gue?"
"Ye, cewek model Vivi, yanv penting jenisnya cowok ama punya napas juga pasti mau. Apa lagi elo yang keren ama macho, Man. Suer, sebenarnya elo keren, Fan. Gue yakin, kalau elo enggak gagap, elo bakal jadi Don Juan. Bakal banyak cewek yang suka ama elo..."
"Ah, el... el... elo."
"Jujur aja, man. Gue kadang iri ama ketampanan dan kemachoan elo. Gue sering mikir, andai aja gue punya tampang ama tubuh kayak elo, wah, gue pasti bisa jadi Don Juan di sekolah kita, man..."
"El... el... elo... jug... jug... juga... ker... ker.. keren. Buk... buk... buktinya... si... Hil... Hil... Hilda... suk... suk... suka, sam... sam... sama... el... el... elo."
"Kalau gue punya tampang ama body seperti elo, man. gue enggak bakal nerima si Hilda. Gue pasti cari cewek lain yang lebih oke, man. Bila perlu akan gue cari bidadari..."
"Apa lo bilang?!" tiba-tiba dari belakang tubuh Daniel. terdengar suara membentak, mengejutkan Daniel dan Affandi. Dan ketika keduanya memandang ke arah datangnya suara, Daniel pun dibuat kaget. Saking kagetnya, sampai-sampai Daniel pun harus gagap beneran seperti Affandi.
"Hil... Hilda...?!" desisnya.
"Ya, gue! Kenapa? Kaget?!" sentak Hilda dengan tangan berkacak pinggang dan kedua mata melotot garang ke arah Daniel. "Elo bilang, kalau elo mau cari cewek lain, ya?! Elo bilang, kalau gue kurang cakep, enggak ada apa-apanya, eh?!"
"Bu... bu... bukan... be... be... begitu... mak... mak... maksud gu... gu... gue, Hil... Hil... Hilda," kata Daniel dengan suara semakin bertambah terbata-bata. Bahkan gagapnya melebihi Affandi yang bener-bener udah gagap dari sononya.
"Lalu, apa maksud elo ngomong begitu, eh?!"
"Gu... gu... gue ta... ta... tadi cum... cum... cuma sed... sed... sedang be... be... bercanda ama... Fandi."
"Bohong! Gue kagak percaya ama elo lagi!"
tegas Hilda.
"Su... sungguh, Hilda. Gue tadi bener-bener cuma bercanda. Kalau elo enggak percaya, boleh elo tanya sama Fandi," kata Daniel terus berusaha membujuk pacarnya yang ngambek, enggak terima atas apa yang telah diucapkan olehnya tadi. Sungguh, Daniel enggak nyangka, kalau Hilda akan datang dan bahkan mendengar semua omongannya.
"Gimana gue mau tanya sama dia? Dia aja ngomongnya susah. Udah, gue enggak percaya lagi ama elo!" tegas Hilda sembari nambahin, "Kalau elo emang udah bosen ama gue dan mau cari cewek lain, silakan! Gue juga bisa cari cowok lain yang lebih keren ketimbang elo!"
Usai berkata begitu, tanpa nunggu jawaban dari Daniel, Hilda pun membalikan tubuh, bermaksud melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Namun dengan cepat Daniel segera menghadang.
"Hilda, please, gue mohon ama elo, jangan putusin cinta gue," rengek Daniel seperti anak kecil meminta permen.
Hilda tetap pasang muka acuh. Malah itu cewek tercantik nomor dua di SMU Nusantara setelah Yeni, buang muka. Emangnya itu muka bisa dicopot dari tempatnya apa, sehingga bisa dibuang? Bukan begitu, man. Yang di maksud buang muka itu, melengos, enggak mau ngeliat ke arah Daniel.
Karena Hilda tetap enggak mau ngacuhin dirinya, Daniel yang enggak mau di putusin cintanya ama cewek tercantik nomor dua di SMU Nusantara itu, segera berlutut di depan kaki Hilda. Dia pegangi kedua betis Hilda sembari merengek, "Please, Hilda, jangan elo putusin cinta gue. Kalau elo tetap mutusin cinta gue, maka gue akan bunuh diri!"
"Gombal! Mana berani elo bunuh diri?"cibir Hilda.
"Baik. Kalau elo mau bukti, sekarang juga gue akan bunuh diri."
"Apa yang hendak elo lakuin?"
"Akan gue benturin kepala gue di tembok sampai pecah!" usai berkata begitu, Daniel bergegas bangun dari berlututnya, lalu melangkah mendekati tembok sekolah untuk melaksanakan niatnya bunuh diri dengan cara membenturkan kepalanya ke tembok. Namun sebelum dia bener-bener melaksanakan niatnya, terlebih dulu Daniel nengok ke arah Hilda. Dia berharap Hilda akan melarang dan mencegah. Namun ternyata harapannya sia-sia. Cewek tercantik nomor dua di SMU Nusantara itu, jangankan mencegah sama tindakan, melarang dengan kata-kata aja enggak. Dan semua itu membuat Daniel semakin bertambah kesal, sehingga dia pun bener-bener mau membuktikan kesungguhannya.
Hampir aja Daniel bener-bener ngebenturin kepalanya pada tembok gedung sekolah, kalau Affandi enggak dengan sigap menangkap dan menarik tubuh Daniel menjauh dari tembok.
"Kenapa elo cegah gue?!" sentak Daniel.
"Kar... kar... karena, ap... ap... apa... yang... kam... kam... kamu... ma... ma... mau... la... la... lakuin, ber... ber... berba... ha... ha... haya..." jawab Affandi.
"Gue emang pengen mati, biar Hilda puas dan yakin, kalau gue lebih memilih mati ketimbang harus putus ama dia..."
"It... it... itu... ceng... ceng... cengeng... nam... nam... namanya."
"Makanya, kalau ngomong dipikir dulu! Jangan main ceplos seenaknya...!" sungut Hilda.
"Tapi gue cuma bercanda, Hilda. Gue enggak sungguh-sungguh, soalnya gue cinta berat ama elo..."
"Gue juga bercanda, kok."
"Ja... ja... jadi? tanya Daniel.
"Gue pengen nguji aja seberapa dalam cinta elo ama gue." jawab Hilda sambil senyum.
Daniel pun ikut senyum. Bahkan kemudian dengan penuh rasa suka cita dan gembira, Daniel langsung meluk tubuh Hilda. Mengangkatnya, lalu memutar-mutarkannya sambil tertawa.
Affandi cuma bisa narik napas panjang sembari geleng-geleng kepala. Dasar sinting! Sunggutnya dalam hati. Tadi pakai acara bunuh diri segala. Eh, sekarang malah tertawa-tawa. Begitukah rasanya jika orang sedang jatuh cinta? Kadang tertawa, kadang nangis, Bahkan kadang seperti orang gila.
***
Melihat Affandi yang enggak seperti hari biasanya, teman-teman sekelasnya pun jadi ikut bertanya-tanya, ada gerangan apa dengan si gagap? Kagak biasanya Affandi begitu. Selama ini, si gagap enggak pernah kena teguran dari guru. Jadi, apa yang terjadi ini pagi, bagi mereka adalah sesuatu hal yang aneh. Itu sebabnya, begitu istirahat tiba, Daniel langsung nyetusin rasa keheranannya.
"Ada apa ama elo, man? Kagak biasanya elo begini?" tanya Daniel sembari memandang lekat ke wajah Affandi, seakan berusaha nyelidik, pengen tahu apa yang membuat si gagap tapi keren dan macho yang selama ini banyak mendapatkan pujian dari para guru itu dapet terguran dari guru. Emang sih, teguran yang diterima oleh Affandi enggak ada artinya apa-apa, karena cuma teguran biasa. Mereka pun jadi bertanya-tanya, ada gerangan apa dengan si gagap Affandi? Sampai-sampai siswa kesayangan para guru itu dapet teguran?
"Ka... ka... kagak... ad... ad... ada... ap... ap... apa... apa," jawab Affandi.
"Jangan bohong ama gue, man. Gue tahu siapa elo, sebab kita dari kelas satu selalu bersama, man. Jadi gue tahu siapa elo, man. Selama ini, semua guru sayang sama elo, man. Dan selama ini, belum pernah sekali pun elo dapet teguran dari guru. Jadi, kalau elo sampai dapet teguran, meski halus sekali pun, bagi gue dan mungkin juga teman yang lain, itu merupakan hal yang aneh, man," tutur Daniel dengan mata terus memandang lekat ke wajah Affandi, terus berusaha nyelidik, pengen tahu alasan apa yang membuat si gagap sampai enggak bisa konsentrasi sehingga dapet teguran.
"Iya, Fan, kenapa sih sama elo?" timpal Erika dengan kening mengerut ama mata memandang lekat ke wajah Affandi. Sebagaimana Daniel dan lainnya, Erika pun berusaha nyelidik, pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi ama teman yang sekaligus juga rivalnya dalam setiap mata pelajaran. "Selama ini, gue salut ama elo karena enggak pernah kena teguran. Gue aja sudah berapa kali kena tegur, begitu juga Aji. Dari kita bertiga yang pegang ranking teratas di sekolah ini, cuma elo yang belum pernah kena teguran. Eh, kok sekarang elo kena teguran juga? Ada apa, sih?"
"Iya, Fan," timpal Aji Saka. "Apa elo ada masalah? Kalau emang elo punya masalah, ngomong aja sama kami. Siapa tahu kami bisa membantu..."
"Ka... ka... kagak... ad... ad... ada... mas... mas... masalah," jawab Affamdi.
"Ah, man, sebaiknya elo enggak usah nutupin, deh. Gue, Erika, dan juga Aji, dari kelas satu selalu bersama elo, man. Jadi, kami tahu bener siapa elo. Lagi pula, man. naluri gue selama ini banyak benernya. Dari pagi tadi pun, gue udah ngerasa kalau elo lain, man. Ayolah, ceritain sama kami apa masalah elo, man. Kami ini sahabat elo, man. Siapa tahu kami bisa kasih bantuan atau SOS ama elo, man."
"Su... su... suer... ka... ka... kagak... ad... ad... ada... ap... ap... apa... apa..."
"Bener enggak ada apa-apa?" tanya Erika ngemastiin.
"Be... be... bener."
"Apa mungkin teman kita sedang jatuh cinta?" goda Daniel sembari senyum dan mata mengerling ke arah Erika dan Aji Saka. Kedua orang yang dipandang pun turut senyum-senyum.
"El... el... elo, Niel. Sel... sel... selalu... sa... sa... saja... nge... nge... ngeledek... gu... gu... gue..." gumam Affandi sembari senyum, berusaha menyakinkan teman-temannya, kalau dia enggak ada masalah apa-apa. "Ma... ma... mana... ad... ad... ada... ce... ce... cewek... yang... yang... ma... ma... mau... sam.... sam... sama... gu... gu... gue?"
"Jee... elo enggak boleh pesimis begitu, man. Iya enggak, Rik, Ji?"
"Iya Fan. Gue yakin, Tuhan pasti udah nyiapin siapa cewek yang bakal ngedampingin elo," tutur Aji Saka. "Soalnya, kata ulama, dari sononya, sebelum kita dilahirkan ke dunia, roh-roh kita udah berpasang-pasangan..."
"Iya, gue juga pernah dengar mengenai hal itu." timpal Erika.
"Nah, dengar kan, man? Siapa tahu, pasangan elo justru malah bidadari, man," kata Daniel setengah berseloroh yang membuat Erika ama Aji Saka senyum-senyum. Tapi tunggu dulu, Affandi ternyata juga turut senyum sambil merenung. Tentunya Affandi sedang kembali mengingat seraut wajah jelita Sesilia yang meski cantik, namun enggak sombong, dan bahkan mau jadi temannya. Siapa lagi cewek cantik berhati baik, kalau bukan bidadari? Kan di cerita ama sinetron, bidadari digambarkan begitu. Cantik penuh pesona, dan baik hati.
"Hei, elo kenapa, Fan? Senyum-senyum tapi ngelamun? Sepertinya elo sedang ngebayangin sesuatu," tegur Erika dengan kening mengerut, begiti melihat Affandi sambil senyum tampak merenung. Seakan ada sesuatu yang dipikirkannya. "Apa yang sedang elo bayangin?"
Mendengar teguran Erika, Aji Saka ama Daniel pun seketika kembali memperhatikan ke wajah Affandi. Dan emang yang dikatakan oleh Erika bener adanya. Mereka ngelihat Affandi tersenyum dengan wajah tampak merenung, seakan tengah membayangkan sesuatu.
"Hei, man, apa yang sesang elo bayangin?" tegur Daniel.
"Oh, eh, gu... gu... gue, sed... sed... sedang... ngeb... ngeb... ngeba... yang... yang.... yangin, sep... sep... seperti... ap... ap... apa sih, bid... bid... bida... dari... it... it... itu?" jawab Affandi dengan bibir masih senyum dan wajah masih merenung.
Daniel, Erika, dan Aji Saka saling pandang. Kemudian ketiganya pun melongo bengong sembari memandang ke wajah Affandi.
"Ap... ap... apakah, bid... bid... bida... dari... it... it... itu... sep... sep... sep... seperti... Yen...Yen... Yeni... at... at... atau... Hil... Hil... Hilda? Prim... prima... don... don... dona... se... se... sekol... kol... kolah... kit... kit... kita?" tanya Affandi setengah menggumam dengan wajah tetap aja merenung, berusaha membayangkan seperti apa sosok bidadari.
Ketiga temannya masih diam, hanya memandang ke wajah Affandi dengan kening sama-sama mengerut, enggak nyangka kalau si gagap Affandi akan bertanya seperti itu. Bertanya mengenai sosok bidadari, bahkan berusaha menyamakan sosok figur seorang bidadari dengan Yeni atau Hilda, yang merupakan primadona di sekolah mereka.
Belum juga salah seorang dari ketiga temannya kasih komentar, Affandi telah melanjutkan gumamannya, "Ta... ta... tapi... bid... bid... bida... dari... yang... ser... ser... sering... di... gam... gam... gambarin... di... cer.... cer... cerita... at... at... atau... di... sin... sin... sinet... net... netron... sel... sel... selain... can... can... cantik... ju... ju... juga... ba... ba... baik... dan... suk... suk... suka... men... men... menolong. Ja... ja... jadi, Ye... Ye... Yeni... at... at... atau... Hil... Hil... Hilda, buk... buk... bukan... bid... bid... bida... dari. Ap... ap... apakah, bid... bid... bida... dari... it... it... itu... ad... ad... ada?"
"Gue rasa ada," sambut Daniel.
"Ya, gue juga yakin, kalau bidadari itu ada," timpal Erika.
"Bener, Fan. Gue juga percaya kalau bidadari itu emang ada," tambah Aji Saka.
"Ka... ka... kalau... em... em... emang... ad... ad... ada, bi... bi... bisakah... gu... gu... gue... ne... ne... nemuin... di... di... dia?" tanya Affandi sembari memandang ke arah ketiga temannya bergantian, seakan dia pengen minta kepastian pada ketiga temannya yang kembali saling pandang dengan wajah menunjukkan rasa kaget. Soalnya mereka enggak nyangka sama sekali, kalau Affandi akan berkata seperti itu. Mereka sendiri selama ini cuma dengar cerita, belum pernah ngeliat apalagi ketemu langsung dengan makhluk yang bernama bidadari. Gimana caranya mereka ngejelasin pada Affandi? Kalau mereka bilang enggak bisa, mereka udah terlanjur ngomong kalau bidadari itu ada. Tapi, kalau mereka ngomong bisa, kemana mereka akan mencari bidadari? Sehingga mereka bisa mempertemukan Affandi dengan bidadari itu?
Daniel, Aji Saka, ama Erika bener-bener nyesel, kenapa mereka tadi ngomong asal nyeplos aja, enggak pakai dipikir dulu. Sehingga kini mereka bagai ngadepin buah simalakama. Dibilang bisa, mereka enggak tahu mesti kemana nyari itu makhluk yang namanya bidadari. Tapi kalau bilang enggak bisa, mereka udah terlanjur ngomong kalau bidadari itu ada.
Mereka bener-bener mati kutu!
Beruntung bagi Daniel. Disaat sedang kritis ngadepin pertanyaan sekaligus permintaan Affandi, Hilda datang nemuin dia dan langsung mengajak pergi tanpa peduli gimana reaksi Aji Saka ama Erika serta Affandi. Dengan senyum lega, Daniel berkata pada Aji Saja ama Erika, "Sorry, gue tinggal dulu. Met mikir. Semiga aja kepala kalian enggak botak..."
"Kupret lo, Niel!" sungut Aji Saka. "Elo yang ngeduluin, eh kini malah enggak mau tanggung jawab!"
"Iya!" timpal Erika, "Elo yang ngomong duluan kalau bidadari itu ada, eh giliran diminta pertanggung jawaban, elo malah lepas tangan!"
"Ud... ud... udah, ka... ka.. kagak... us... us... usah... kal... kal... kalian... pik... pik... pikirin," kata Affandi sambil senyum ngeliat kebingungan kedua teman sekaligus rivalnya dalam meraih yang terbaik dalam bidang pelajaran. "Ka... ka.. kalau.. kal... kal.. kalian... ma... ma... mau... per... per... pergi, per... per... pergi... lah..."
"Bener, enggak ada yang bisa kami bantu?" tanya Erika.
"Be... be... bener. Gu... gu... gue, ka... ka... kagak... ap... pa... Ap... pa."
"Baiklah, kalau begitu kami cabut duluan,"
Affandi menganguk.
Dengan perasaan lega, karena akhirnya terbebas dari tanggung jawab untuk membuktikan omongan mereka mengenai adanya bidadari, Aji Saka ama Erika pun keluar kelas, meninggalkan Affandi yang kini tinggal seorang diri. Duduk merenung dengan hati diliputi sejuta tanya mengenai Sesilia.
***
___________________________________________________
4
___________________________________________________
Bel tanda berakhirnya jam sekolah berdering kencang. Begitu guru keluar dari kelas, seketika para siswa pun berhamburan bagai burung yang keluar dari sarangnya. Riuh rendah mengumandangkan kicauan. Namun lebih pas jika mereka disamain dengan para narapidana yang baru aja mendapatkan kebebasan, setelah sekian lamanya terkurung di dalam penjara. Ya, bagi mereka yang malas sekolah, atau enggak pengen pintar, belajar di dalam kelas bagai dalam sel tahanan aja. Tapi kebanyakan para siswa, terutama anak remaja seperti SMP ama SMU emang begitu. Mereka pengen sekolah, namun setiap kali ngikutin pelajaran, mereka merasa bagai dalam penjara.
Tapi ini hari emang lain dari hari biasanya. Ini hari, Affandi yang biasanya paling akhir keluarnya dari kelas, justru sebaliknya. Ia bergegas, buru-buru meninggalkan ruang kelas. Malahan dia pakai acara nyerobot teman-temannya yang ada di depan, sehingga membuat teman-temannya kaget, untuk kemudian terlolong bengong kayak sapi ompong dengan wajah nunjukkin rasa heran. Gimana mereka enggak heran? Kalau yang nyerobot Daniel, Aditio, Andrian atau Fery, itu udah biasa, karena mereka emang begitu. Nah kalau Affandi yang ngelakuin, jelas bagi mereka merupakan hal yang enggak biasa.
"Ada apa ama si gagap?" gumam seorang siswi dengan wajah nunjukkin rasa heran.
"Iya, enggak biasanya dia begitu," timpal siswi lain.
"Jangan-jangan dia kesurupan," Komentar siswi yang lainnya.
"Kesurupan gimana?"
"Ya kesurupan setan."
"Gimana elo bisa beranggapan begitu?"
"Soalnya, enggak biasanya dia berulah seperti itu. Biasanya, dia paling akhir keluar dari kelas. Eh, ini hari dia enggak, malah sepertinya pengen buru-bury meninggalkan kelas. Apa itu enggak aneh?"
"Ya, emang aneh. Tapi ada apa ya ama si gagap?"
"Ah, sudahlah. Ngapain kita ngomongin dia? Biar aja dia mau gimana, itu hak dia."
Ya, itu emang hak Affandi, enggak ada yang bisa ngelarang, selama haknya enggak ngerugiin orang lain.
Begitu tiba di jalan, Affandi buru-buru nyetop taksi yang akan ngebawa dia ke halte dimana kemarin dia bertemu dengan Sesilia. Sengaja Affandi naik taksi, karena dia pengen cepet-cepet sampai di halte kemarin. Kalau pakai angkutan umum biasa, dia khawatir akan terlambat, keburu Sesilia pulang. Sehingga dia enggak bisa bertemu dan ngebuktiin kalau Sesilia bener-bener nyata, bukan cuma sekedar ilusi ataupun halusinasi.
Betapa berbunganya hati Affandi, begitu ngeliat ternyata di halte itu ada. Setelah ngebayar ongkos taksi. Affandi pun segera turun dari taksi.
Ngeliat Affandi, Sesilia yang kebetulan sedang bersama dengan dua orang temannya langsung senyum.
"Kak Fandi...!" serunya.
"Se... se... Sesi," balas Affandi.
"Kak, kenalin ini teman-teman Sesi," kata Sesilia.
Dengan agak malu Affandi pun ngulurin tangannya untuk nyalamin keduan teman Sesilia yang dengan senyum nyambutin.
"Aff... Aff... Affandi."
"Diana..."
"April..."
"Kak Fandi enggak usah minder. Mereka udah tahu kok keadaan kakak," kata Sesilia berusaha menyakinkan Affandi yang dilihatnya tampak minder.
"Iya. Kak. Kami udah tahu dari Sesi mengenai kegagapan kakak," kata Diana.
"Dan kami rasa, apa yang ada ama kakak enggak masalah," timpal April.
"Iya, Kak. Kami senang kok bisa kenal apalagi bisa jadi teman kakak..."
"Sung... sung... sungguh?" tanya Affandi meminta kepastian sembari memandang ke arah Diana dan April secara bergantian.
Kedua cewek teman Sesilia mengangguk sembari tersenyum.
"Ter... ter.. terima... ka... ka... kasih..."
"Tak perlu, kak," kata Diana sembari senyum.
"Sesi..."
"Ya?"
"Kami jalan dulu, ya?"
"Kalian mau kemana?"
"Kan eli kini udah ada yang nemenin. Jadi kami pikir, dari pada ngeganggu, mending kami jalan dulu."
"Iih, kalian..."
"Oke, kami jalan dulu. Ayo Kak..."
"Sil... sil... silakan. Hat... hat... hati... hati..."
"Kak Fandi juga. Tolong jaga Sesi," balas April.
Sesilia melotot ke arah kedua temannya yang cuma tersenyum. Begitu juga Affandi, dia pun cuma senyum sembari menganggukan kepala dengan hati senang, karena selain ternyata Sesilia emang nyata, kedua teman Sesilia pun baik dan mau menerimanya sebagai teman, tanpa disertai olok-olok apalagi ejekan dan hinaan atas kegagapannya.
"Kak..."
"I... i... iya?"
"Sesi kira tadi kakak enggak kemari."
"Ken... ken... kenapa? Ka... ka... kamu... tid... tid... tidak... suk... suk... suka?"
"Suka. Malah Sesi senang, kok, bisa ketemu ama kakak lagi."
"Sung... sung... sungguh?"
Sesilia mengangguk sembari senyum.
"Ak... ak... aku... jug... jug... juga... sen... sen... senang."
"Benarkah?"
Kini giliran Affandi mengangguk sambil senyum, kemudian katanya, "Ak... ak... aku... jus... jus... justru... kha... kha... khawa... wa... wa... watir... kal... kal... kalau... kam... kam... kamu... tid... tid... tidak... ma... ma... mau... ket... ket... ketemu... ak... ak... aku... la... la... lagi."
"Kenapa emangnya?"
"Kar... kar... karena... kam... kam... kamu... can... can... cantik... sed... sed... sedang... kan... ak... ak... aku... ga... ga... gagap."
"Kenapa kakak berpikiran seperti itu?" tanya Sesilia.
"Kar... kar... karena... sel... sel... selama... in... in... ini... ka... ka... kagak... ad... ad... ada... or... or... orang... yang... ma... ma... mau... jad... jad... jadi... tem... tem... temanku. Ap... ap... apa... la... la... lagi... ce... ce... cewek... can... can... cantik... sep... sep... seperti... kam... kam... kamu. Mer... mer... mereka... sel... sel... sela.... la... lalu... meng... meng... mengolok... olok... ak... ak... aku."
"Karena kakak gagap?" tanya Sesilia.
Affandi mengangguk dengan wajah murung jika ingat bagaimana perlakuan teman-teman sekolah serta teman-teman sekolah serta teman-teman sekampunya selama ini terhadap dirinya. Terutama yang cewek.
Dengan lembut Sesilia memegang pundak Affandi. "Sudahlah, Bang, jangan terlalu abang pikirkan. Biarkan aja mereka menilai dan menghina kakak. Yang penting Sesi enggak. Sesi justru senang bisa menjadi teman abang," katanya sembari senyum menyakinkan, sehingga membuat Affandi pun akhirnya turut tersenyum.
"Se... Se... Sesi..."
"Ya?"
"Kam... kam... kamu... ta... ta... tahu?"
"Apa?"
"Ak... ak... aku... tad... tad... tadinya... ka... ka... kagak... yak.. yak... yakin... kal... kal... kalau... kam... kam... kamu... em... em... emang... ad... ad... ada..."
"Maksud kakak?"
"Sem... sem... semul... mula... ak... ak... aku... sang... sang... sangka... per... per... pertemu... muan... kem... kem... kemarin... cum... cum... cuma... mim... mim... mimpi. Ak... ak... aku... kir... kir... kira.. kam... kam... kamu... han... han... hanya... bid... bid... bida... dari... dal... dal... dalam... mim... mim... mimpiku... sa...sa... saja," tutur Affandi dengan mata lekat memandangi wajah Sesilia. Seakan dia masih berusaha menyakinkan dirinya, kalau apa yang tengah dialaminya ini, bukan mimpi, tetapi kenyataan.
"Kakak menganggapku bidadari?" Sesilia tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Kam... kam... kamu... em... em... emang... bid... bid... bida... dari."
"Kenapa kakak berpikir begitu?"
"Kar... kar... karena... han... han... hanya... bid... bid... bida... dari... aj... aj... aja... yang... sel... sel... sela... lain... can... can... cantik... ju... ju... juga... ba... ba... baik. Dan... it... it... itu... sem... sem... semua... kam... kam... kamu... mil... mil... miliki," tutur Affandi membuat Sesilia makin ngelebarin senyum.
"Ah, kakak bisa aja..." Sesilia tersipu. "Kita jalan yuk, Kak," ajak Sesilia kemudian.
"A... a... ayo," sambut Affandi dengan hati berbunga penuh rasa suka cita, karena Sesilia yang cantik jelita penuh pesona, bener-bener mau nerima dirinya apa adanya. Buktinya, Sesilia enggak malu mengajak dia jalan bareng. Affandi pun kembali di buat bertanya-tanya dalam hati, apakah yang kini dialaminya nyata, atau dia masih bermimpi?
Untuk ngebuktiin kalau dia tidak tengah bermimpi, Affandi pun menepuk pipinya sendiri, Ah, ternyata sakit. Itu berarti kalau dia tidak sedang bermimpi. Namun, apa yang kini dialaminya bener-bener nyata.
"Ada apa, Kak?" tanya Sesilia, ngeliat Affandi menampar pipinya sendiri.
"Tid... tid... tidak... Tid... tid... tidak... ap... apa... ap... apa..."
"Kakak masih enggak percaya, kalau apa yang kini kakak alami nyata? Bukan mimpi?" terta Sesilia dengan bibir tersenyum yang semakin membuat cantik dan mempesona wajahnya, sembari memandang lekat ke wajah Affandi, membuat cowok tampan namun gagap itu jadi malu sendiri.
"Ses... ses... Sesi..."
"Ya?"
"Ap... ap... apa... kam... kam... kamu... ka... ka... kagak... mal... mal... malu... jal... jal... jalan... sam... sam... sama... ak... ak... aku?"
"Malu kenapa?" Sesilia balik nanya dengan mata masih memandang lekat ke wajah Affandi. "Jujur aja Sesi katakan, Kakak keren, kok. Penampilan kakak enggak ngecewain. Munurut penilaian Sesi, kakak enggak kalah keren dibanding cowok-cowok yang selama ini Sesi kenal..."
"Tap... tap... tapi...?"
"Gagap?:
Affandi menganguk.
Sesilia tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Kak... kak... kagagapan yang kakak alami, jangan terlalu dipersoalkan. Sebagaimana yang pernah Sesi katakan, kakak harus optimis. Lagi pula, Kak, bagi Sesi, dalam mencari teman bukan dilihat dari keadaan lahiriah seseorang. Namun dari hati dan sifatnya, Kak. Buat apa di luarnya bagus, sedang hatinya jahat, kelakuannya buruk? Orang lain boleh aja mengolok dan menghina kakak. Tetapi bagi Sesi, kakak baik dan pantas untuk dijadiin teman..."
Berlinang air mata Affandi mendengar penuturan Sesilia.
"Kakak nangis. Kenapa?"
"Sa... sa... saya... ter... ter... terhar... haru... deng... deng... dengan... pen... pen... penuturan... kam... kam... kamu, Ses... ses... Sesi. Sung... sung... sungguh... sel... sel... selama... in... in... ini... bel... bel... belum... ad... ad... ada... or... or... orang... seb... seb... sebaik... kam... kam... kamu... pad... pad... pada... sa... sa... saya," tutur Affandi dengan suara bergetar menahan keharuan yang begitu dalam.
Untuk ngebuktiin kesungguhannya kalau dia enggak cuma berusaha menghibur hati Affandi, Sesilia memegang lengan Affandi, kemudian menggandengnya. Ah, ini hari ini hati Affandi bener-bener bahagia.
***
___________________________________________________
5
___________________________________________________
Nyokap harus kembali dibuat heran sembari ngerutin kening, melihat Affandi pulang sore dengan wajah menggambarkan keceriaan. Hati nyokap sebenernya turut senang, ngeliat anak semata wayangnya ceria. Meski begitu, hati nyokap juga bertanya-tanya, ada apa dengan anak semata wayangnya? Munngkinkah anaknya udah ketemu ama cewek normal yang enggak ngolok-olok apalagi menghina, bahkan mau jadi temannya?
"Ada apa lagi hari ini?" tanya nyokap berseloroh menggoda sembari nyiapin makan.
"Mak... mak... maksud, Em... Em... Emak?" Affandi balik nanya.
"Ini hari elo tampak ceria banget, Fan. Emak yakin, ini hari hati elo sedang gembira, kan?" tanya nyokap sembari memandang lekat ke wajah Affandi, seakan berusaha nyelidik.
"Ah, em... em... emak..."
"Ya, kan?"
Affandi cuma senyum sembari nundukkin kepala. Dan semua itu membuat emak makin tambah yakin, kalau apa yang diduganya enggak keliru. Tapi emak pun juga bertanya dalam hati, cewek mana garangan yang begitu baik, mau nerima anaknya yang gagap dan selama ini kehadirannya senantiasa jadi bahan olok-olok ama hinaan orang jadi temannya?
"Fan..."
"I... i... iya, Mak."
"Emak senang kalau ngeliat elo senang."
"I... i... iya, Mak."
"Boleh emak tanya?"
"Em... em... emak.... ma... ma... mau... tan... tan... tanya... ap... ap... apa?"
"Apa bener dugaan emak?"
"Dug... dug... dugaan... ap... ap... apa, Mak?"
"Bener ada cewek yang mau nerima elo jadi temannya?"
Affandi terdiam, namun bibirnya tersenyum. Dan itu membuat emak jadi ikut senyum.
"Bener?" tanya nyokap negesin sembari senyum dengan kedua mata memandang lekat ke wajah Affandi.
"I... i... iya, Mak."
"Siapa namanya?"
"Se... se... sesi... li... li... lia."
"Sesilia?" ulang nyokap.
Affandi mengangguk.
"Dari namanya, tentu itu cewek cantik," gumam nyokap.
"I... i... iya, Mak. Mal... mal... malah... sa... sa... saking... can... can... cantiknya... Fan... Fan... Fandi... sem... sem... semula... men... men... mendug... dug.. duga... kal... kal... kalau... di... di... dia... bid... bid... bida... dari..."
Nyokap terdiam sembari memandang lekat ke wajah Affandi. Meski belum bertemu ama itu cewek, tetapi dari penuturan anaknya, nyokap sudah bisa ngebayangin seperti apa itu cewek. Tentunya cewek yang bernama Sesilia itu sangat cantik. Dan itu semakin membuat nyokap kian bertambah heran sekaligus juga enggak ngerti. Gimana mungkin cewek secantik bidadari mau berteman dengan anaknya yang gagap? Sementara orang lain saja, senantiasa mengolok-olok dan mengejek anaknya? Benarkah cewek yang kata anaknya bernama Sesilia bener-bener ada? Atau cuma khayalan anaknya semata? Nyokap jadi penasaran, pengen ngeliat dan ngebuktiin kebenaran cerita anaknya. Tapi, kalau itu diutarain sama anaknya, jelas Affandi akan merasa malu. Jadi, gimana caranya agar gue bisa ngebuktiin kalau apa yang dituturkan Fandi bener? Apa gue mesti diam-diam nguntit Fandi? Ah, itu malah tambah enggak mungkin. Juga konyol. Ngapain gue mesti nguntit anak gue? Kalau orang tahu, pasti akan ngetawain gue. Ah, bialah Fandi dengan kebahagiaannya. Kagak semestinya gue ngerecokin atau ngeganggu kebahagiaannya.
Nyokap pun akhirnya cuma diam, membiarkan Affandi ngisi perutnya dengan tenang. Nyokap justru kemudian bangun dari duduknya, lalu meninggalkan ruang makan dimana Affandi tengah makan, menuju ke ruang keluarga.
Nyokap baru mau duduk di sofa ruang keluarga, ketika dari luar terdengar suara khas Rohimah memberi salam, "As-sa-lamu-ala-ikummm..."
"Wa'alaikum salam...!" sahut nyokap, Kemudian bergegas melangkah ke ruang tamu untuk nyambut kedatangan Imah. "Eh, Imah..."
"Iya, Mak... Bang Fandinya udah pulang, Mak?" tanya Rohimah dengab gaya idiot dan rada kurang warasnya. Jari-jemari tangannya, tak henti-hentinya mempermainkan ujung bawah bajunya. Sementara dari kedua lubang hidungnya, tampak mengalir ingus.
"Udah. Ada apa emangnya?" tanya nyokap.
"Enggak ada apa-apa. Imah cuma mau main aja, kok. Imah pengen ketemu bang Fandi," jawab Rohimah.
"Tapi Imah jangan mengajak main bang Fandi ya?"
"Kenapa emangnya, Mak?"
"Bang Fandinya cape."
"Bang Fandi cape ya, Mak?"
"Iya."
"Kalau begitu, biar Imah pijitin deh..."
"Enggak usah. Kalau Imah cuma mau ketemu dan ngobrol aja ama bang Fandi, enggak apa-apa. Tapi nanti ya? Soalnya bang Fandinya sedang maem dulu..."
"Kalau begitu, biar Imah cuci piring deh. Mak."
"Enggak usah. Semua udah emak bersiin, kok. Paling cuma piring ama gelas bekas Fandi,"
"Pakaian bang Fandi, Mak. Apa ada yang kotor? Biar Imah cuciin..."
"Udah dicuci ama Bi Marni."
"Jadi, apa yang mesti Imah kerjain, Mak?"
"Enggak ada. Imah duduk aja dulu. Nanti kalau bang Fandi udah selesai makannya, biar emak panggilin..."
"Iya deh, Mak."
"Sebentar ya, emak lihat dulu, apa bang Fandi udah selesai makannya atau belum," kata nyokap.
"Iya deh, Mak."
Sementara Rohimah duduk di kursi ruang tamu, nyokap pun masuk ke dalam, menuju ke ruang makan dimana tadi Affandi masih makan. Namun ternyata setelah nyokap sampai di ruang makan, Affandi sudah enggak ada di ruang makan. Yang ada di meja makan cuma piring, sendok, garpu ama gelas bekas Affandi makan dan minum. Tentunya Affandi berada di kamarnya. Maka nyokap pun bergegas menuju ke kamar anaknya.
Bener juga dugaan nyokap. Tenyata Affandi emang berada di kamar. Itu anak sedang mempersiapkan sesuatu. Tengah mengambil pakaian karatenya dari lemari. kemudian memasukkannya ke dalam tas kain yang bergambar simbol perguruan karate Go Ju Kai.
"Fan..."
"I... i... iya, Mak?"
"Ada Imah."
"Ad... ad... aduh, Mak. Fan... Fan... Fandi... ma... ma... mau... per... per... pergi. Har... har... hari... in... in... ini kan... lat... lat... latihan..."
"Iya, ya. Tapi, mending elo temuin dia dulu dan kasih tahu ama dia, kalau elo mau pergi latihan karate," saran nyokap.
"Ad... ad... aduh, Mak. Ken... ken... kenapa... sih... di... di... dia... meng... meng... menggang... gang... ganggu... Fan... Fan... Fandi... mel... mel... melulu? Ap... ap.. apa... sih... ma... ma... ma... maunya?" keluh Affandi dengan wajah nunjukkin rasa tak suka.
"Eh, elo jangan begitu, dong? Mentang-mentang sekarang elo udah nemuin teman cewek yang normal dan cantik, lalu elo mau nyingkirin si Imah. Enggak boleh begitu, Fan. Gimana juga, sebelum elo punya teman, kan si Imah yang mau jadi teman elo. Lagi pula, Fan, gimana juga si Imah masih saudara elo juga."
"I... i.. iya... deh, Mak. I... I... iys. Fan... Fan... Fandi... nger... nger... ngerti. Tap... tap... tapi... sek... sek... sekar... kar... kar... karang... Fan... Fan... Fandi... ma... ma... mau... per... per... pergi. So... so... soalnya... tem... tem... taman... teman.... pas... pas... pasti... sud... sud... sudah.... nung.... nung... nunggu."
"Iya, emak juga tahu. Tapu mending elo nemuin Imah, dan kasih tahu ama dia, kalau elo mau latihan Karate. Emak yakin, mesti idiot ama kurang waras, si Imah juga mau ngerti, kok."
Affandi oun akhirnya nurut. Setelah ngerapiin pakaian karatenya dan memasukkannya ke dalam tas berlogo tangan ngepal dengan tulisan Go Ju Kai, sembari nenteng tas berisi pakaian karatenya, Affandi pun keluar dari kamarnya diikuti nyokap. Melangkah menuju ke ruang tamu dimana Rohimah berada.
Ngeliat Affandi muncul, Rohimah dengan wajah gembira segera bagun dan langsung menghampiri Affandi.
"Eh, bang Fandi... Imah kangennn... deh sama bang Fandi. Sehari aja Imah enggak ketemu sama bang Fandi, Imah enggak betah. Bang Fandi mau kemana?" tanya Imah dengan gaya idiot dan rada-rada kurang warasnya sembari tangannya mempermainkan ujung bajunya. Sementara mata memandangi tas yang dibawa oleh Affandi.
"Bang Fandi mau latihan Karate," tutur nyokap,
"Jadi, bang Fandi mau pergi, ya?" tanya Imah dengan wajah nunjukkin rasa kecewa. Bahkan kedua matanya menggerabak, mau nangis.
"Iya.. "
"Jadi... Imah enggak bisa main sama bang Fandi?"
"Kan masih ada hari lain," kata nyokap berusaha membujuk Rohimah, agar cewek cantik namun idiot dan kurang waras itu tidak jadi nangis. Soalnya kalau Rohimah sampai nangis, nyokap bisa repot dibuatnya. Sebab cewek idiot dan rada kurang waras itu kalau nangis pakai acara guling-gulingan di lantai. Udah begitu pakai acara jejeritan lagi nangisnya, yang bakal membuat semua tetangga ngedengar dan tahu.
"Im... Im... Imah... pul... pul... pulang... aj... aj... aja... dul... dul... dulu, ya? Affandi ikut ngebujuk. "So... so... soalnya... sa... sa... saya... sam... sam... sampai... mal... mal... malam."
"Bang Fandi mau kemana, sih?"
"Ma... ma... mau... lat... lat... latihan... kar... kar... karate."
"Biar sehat ya, Bang?"
"I... i... iya."
"Nah, Imah pulang aja, ya?" bujuk nyokap.
"Iya, deh..."
Lega rasanya perasaan nyokap ama Affandi mendengar Rohimah mau mendengar usulan mereka untuk pulang dulu.
"Kalau begitu Imah pulang dulu ya mak, ya bang?"
"Ya."
"As-sa-la-mu-ala-ikummm...!" seru Rohimah memberi salam.
"Wa'alaikum salam," balas nyokap.
Sambil bersenandung kecil, dengan kedua jari-jemari tangan terus mempermainkan ujung pakaiannya, dan dengan diikuti pandangan mata nyokap ama Affandi yang tampak menghela napas panjang dan lega, Rohimah yang idiot dan rada-rada kurang waras, pergi meninggalkan rumah Affandi.
"Mak... Fan... Fan... Fandi... per... per.. pergi... dul... dul... dulu," pamit Affandi sembari menyalami dan mencium punggung tangan nyokap.
"Hati-hati," pesan nyokap.
"I... i... iya, Mak. As... as... asal... sal... sal... salamu... mu... mu... al... al... alaik... ik... ik... ikum..."
"Wa'alaikum salam."
Sambil mencangklongkan tas berlogo perguruan karate yang di dalamnya berisikan pakaian karatenya. Affandi melangkah meninggalkan rumah dimana nyokap berada dan masih berdiri di teras rumahnya memandangi kepergiannya. Nyokap baru masuk ke dalam rumah, setelah Affandi ngilang dari pendangannya.
***
___________________________________________________
6
___________________________________________________
Affandi tengah membimbing adik-adik seperguruan karatenya melakukan pemanasan, sebelum latihan dimulai, ketika dari luar gedung dimana mereka berlatih karate, masuk seorang cewek keren yang membuat semua mata kaum cowok didalam gedung itu membuka lebar, enggak berkedip barang sekejap pun. Dan Affandi pun tertegun, begitu tahu apa yang membuat adik-adik seperguruannya terperangah. Namun bukan Affandi aja yang tertegun. Tapi cewek keren yang menjadi perhatian semua mata cowok yang ada di dalam gedung itu, yang baru masuk ke dalam gedung tempat latihan itu pun turut tertegun, begitu sepasang matanya yang bulat bening dengan dihiasi bulu mata letik, beradu pandang dengan sepasang mata Affandi.
"Kak Fandi...!" desis itu cewek.
"Se... se... Sesi," balas Affandi. "Kal... kal... kalian... ter... ter... teruskan... lat... lat... taihannya," perintah Affandi pada adik-adik seperguruannya. Meski gagap, namun Affandu mampu juga nunjukkin sikap tegas dan berwibawa. Buktinya, adik-adik seperguruannya tak seorang pun yang berani ngebantah, apalagi menentang perintahnya.
"Baik, Kak...!"
"Sal... Sal... Salim..."
"Ya, Kak?"
"Kam... kam... kamu... pim... pim... pimpin... lat... lat.. latihannya."
"Ya, Kak."
Seorang cowok yang make sabuk warna biru atau Q-3, yang berarti masih di bawah Affandi, berumur sekitar lima tahun lebih tua ketimbang Affandi, bergegas maju ke depan dimana Affandi berada.
Begitu cowok bernama Salimudin maju, Affandi pun meninggalkan temoatnya memimpin latihan pemanasan, melangkah menghampiri Sesilia.
Ngeliat penampilan Affandi dengan pakaian karatenya membuat Sesilia makin tambah kagum aja. Gimana enggak? Meski Affandi gagap dan bertampang bloon (tablo), namun ternyata itu cowok macho juga. Bahkan Affandi yang selama ini bertampang bloon, ternyata di depan adik-adik perguruannya mampu nunjukkin ketegasan ama kewibawaan.
Sesilia bener-bener enggak nyangka kalau ternyata itu cowok jadi simpe.
"Kak Fandi simpe di sini?" tanya Sesilia.
"I... i... iya," jawab Affandi sembari senyum, namun kemudian dia nundukkin kepala, seakan dia enggak berani beradu pandang sama sepasang mata Sesilia yang bening, yang memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seakan itu cewek seperti belum yakin dengan apa yang kini dilihatnya. Sesilia bener-bener enggak nyangka, kalau Affandi yang tablo dan gagap ternyata pemegang sabuk item, juga seorang simpe.
Sesilia kemudian tertawa, membuat Affandi jadi ngerutin kening.
"Ken... ken... kenapa... ter... ter... tertawa?" tanya Affandi dengan kening mengerut dan mata kini balas memandang ke wajah cantik Sesilia. Dia enggak ngerti, kenapa si bidadari tiba-tiba tertawa. Affandi pun berusaha mencari di sekujur tubuhnya, apakah ada yang tampak lucu, yang membuat Sesilia tertawa. Namun dia enggak nemuin kelucuan pada dirinya. Dan itu membuatnya makin tambah enggak ngerti kenapa itu bidadari ketawa." "Ken... ken... kenapa... kam... kam... kamu... ter... ter... tertawa? Ap.. ap... apa... ad... ad... ada... yang... lu... lu.. lucu?" tanya Affandi masih dengan kening mengerut dan mata memandang heran bercampur enggak ngerti ke wajah Sesilia.
"Enggak... enggak ada yang lucu, kok," jawab Sesilia.
"La... la... lalu, ken... ken... kenapa... kam... kam... kamu... ter... ter... tertawa?"
"Sesi cuma enggak nyangka," kata Sesilia.
"Kag... kag... kagak... nyang... nyang... nyangka... bag... bag... bagai... ma... mana?"
"Sesi enggak nyangka kalau kakak seorang karateka. Udah sabuj item lagi. Itu yang ngebuat Sesi kerawa," tutur Sesilia sembari senyum.
"Kar... kar... karena... tam... tam... tampang... sa... sa... saya... blo.. blo... bloon?"
"Siapa bilang? Sesi enggak ngomong begitu, kok..."
"Kam... kam... kamu... mem... mem... memang... ka... ka... kagak... ngom.. ngom... ngomong.... tap... tap.. tapi... or... or... orang... la... la.. lain... men... men... menil... nilai... ak... ak.. aku... be... be... begi... begitu..."
"Udahlah, Kak. Kakak enggak perlu minder ama rendah diri. Kakak tahu, ngeliat kakak pakai pakaian karate gini, Sesi makin tambah kagum aja deh ama kakak," kata Sesilia jujur dengan mata memandang ke wajah Affandi dengan pandangan kagum yang bener-bener kagum, bukan kagum-kaguman. Kemudian kembali bibirnya yang mungil tapi sensual senyum. Lalu dengan lembut jari-jemarinya yang lentik, megang pergelangan tangan Affandi. "Kak..."
"I... i... iya?"
"Om Bambang ada?"
"Pak... Bam... Bam... Bambang?" Sesilia menganggguk.
"Bel... bel... beliau... Om... Kam... kam... kamu?"
Kembali Sesilia ngangguk.
"Ad... ad... ada..."
"Dimana?"
"Di... ru... ru... ruang... ker.... ker... kerja..."
"Dimana ruang kerjanya?"
"Di... lan... lan... lantai... du... du... dua..."
"Kalau begitu, Sesi temui Om dulu, ya?"
Affandi mengangguk.
Sesilia pun melangkah menuju ke tangga yang ada di sisi ujung sebelah kanan. Sehingga untuk sampai kesana, dia harus melewati tempat latihan. Dan hal itu membuat orang-orang yang sedang latihan jadi buyar konsentrasi mereka, karena perhatian mereka tertuju ke arah Sesilia. Sehingga Salimudin harus membentak mereka.
"Hei! Apa kalian belum pernah ngeliat cewek!" bentak Salimudin. Dan kepada adik seperguruannya yang dirasa enggak ngindahin omongannya, Salimudin pun menyuruhnya push-up sebanyak seratus kali. "Itu sebagai contoh bagi kalian semua. Pada saat latihan, kalian tidak boleh terpengaruh pada apa saja yang ada di sekeliling kalian. Kalian harus konsentrasi."
Adik-adik seperguruannya pun menurut. Mereka pun tidak lagi mengarahkan pandangan ke Sesilia, berusaha untuk konsentrasi penuh. Apalagi setelah Affandi sebagai simpe mereka kembali memimpin latihan, tak seorang pun yang berani untuk bersikap seenaknya.
Emang, di mata orang lain. Affandi hanya seorang pemuda gagap dan tablo. Maklum, mereka enggak tahu siapa sebenarnya si Gagap ini. Tapi bagi adik-adik dan teman-teman seperguruannya, Affandi sangatlah disegani. Sebab, selain dia pemegang sabuk hitam yang sekaligus juga seorang simpe, Affandi juga dikenal sangat tegas. Tapi yang lebih membuat adik-adik dan teman seperguruannya segen kepadanya, karena selama inj belum ada yang mampu ngalahin Affandi pada setiap komite atau pertarungan. Dan prestasi Affandi pun sangat menonjol. Di usianya yang baru 17 tahun dia udah megang sabuk hitam dan dipercaya menjadi simpe atau kakak pelatih, itu karena Affandi selalu mampu nunjukkin prestasi yang gemilang. Setiap kali kenaikan tingkat, Affandi bukan cuma naik satu tingkat, tetapi langsung dua, bahkan tiga tingkatan.
Affandi dan adik-adik seperguruannya baru memperagakan jurus-jurus dasar seperti 'Juki' atau pukulan dan 'Giri' atau tendangan, ketika dari lantai dua Sesilia ama pamannya turun.
"Fandi...!" seru seorang lelaki setelangah baya yang tak lain Om Bambang memanggil.
Affandi menghentikan latihannya dan menyerahkan kembali tugas membimbing pada Salimudin. Kemudian dia bergegas nemuin Om Bambang yang bersama Sesilia.
"Kenalkan, inj kemenakan saya..."
Belum selesai Om Bambang ngomong, Sesilia telah memotong. "Kami udah kenal Kok, Om."
"Benarkah?"
"I... i... iya, Pak," jawab Affandi.
"Kapan dan dimana?"
"Mengenai kapan dan dimana, itu urusan kami, Om. Yang jelas, Sesi ama bang Fandi udah kenal sebelumnya," jawab Sesilia.
"Hm... Baguslah kalau begitu," gumam Om Bambang.
"Bagus kenapa, Om?"
"Ya, bagus. Jadi Om enggak usah ngenalin kalian lagi. Dan perlu kamu tahu, Fandi-lah yang jadi pembina karate di sini. Dengan kata lain, dialah yang akan menjadi pelatihmu," tutur Om Bambang.
"Benarkah?"
"Begitulah. Tapi ingat, kalau kamu pengen jadi seorang karaktekawati yang baik, kamu harus disiplin dan mematuhi semua peraturan yang berlaku. Jangan mentang-mentang kamu teman Fandi, lalu kamu seenaknya aja berlatih..."
"Iya deh, iya, Sesi tahu..."
"Dan kamu, Fan..."
"I... i... iya, Pak."
"Meski Sesi teman kamu, tapi disaat latihan kamu harus memperlakukan dia sebagaimana yang lain."
"I... i... iya, Pak," jawab Affandi sembari memandang ke wajah Sesilia. Sementara yang dipandang cuma senyum.
"Kok senyum?" tanya Om Bambang.
"Emangnya ada larangan disini orang enggak boleh senyum?" balik Sesilia.
"Bukan begitu. Om ngerasa senyum dan pandanganmu terhadap Fandi mengandung sesuatu makna."
"Makna apaan, Om?"
"Sepertinya ada sesuatu antara kamu ama Fandi."
"Sesuatu apa?" Sesilia mengernyitkan kedua alis matanya.
"Wah, kalau itu mana Om tahu? Hanya kamu ama Famdi aja yang tentunya tahu, kan?" goda Om Bambang sembari mengerutkan kening ama ngangkat kedua pundaknya "Yang jelas, apapun hubunganmu dengan Fandi, Om minta kalau sedang latihan kamu mesti sungguh-sungguh. Kagak boleh main-main, kalau kamu pengen jadi karatekawati yang baik..."
"Iya, Om, Sesi ngerti..."
"Kamu udah siap ikut latihan?
"Sudah."
"Bawa pakaian karate?"
Sesilia angkat kedua pundaknya sembari mengernyitkan kedua alis matanya Dan itu cukup buat Om Bambang mengerti, kalau kemenakannya enggak bawa pakaian karate.
"Ya udah, biar Om pinjamin. Ayo ikut Om ambil pakaian," ajak Om Bambang sembari melangkah menuju ke sebuah ruangan yang ada di sisi kanan tempat latihan. Sesilia pun ngikutin pemannya, setelah terlebih dulu memandang kearah Affandi sambil senyum yang dibalas oleh si Gagap dengan senyuman pula.
Begitu Sesilia dan Om Bambang ngilang dari pendangan matanya. Affandi pun kembali ke tempatnya memimpin latihan bersama Salimudin yang jadi asistennya, sekaligus juga sabagai juru bicaranya. Sebab kalau Affandi yang kasih aba-aba, bisa repot jadinya. Mau ngomong 'Kei' atau 'Ajume' aja, bisa lama keluarnya, keburu yang ikut latihan karate enggak sabar nunggunya. Makanya Om Bambang selaku pemilik sekaligus juru bicara Affandi dalam memberikan aba-aba saat latihan.
Kagak begitu lama kemudian, Sesilia telah kembali ke tempat latihan dengan mengenakan pakaian karate. Sebagaimana yang disarankan oleh Om Bambang, Sesilia pun menghadap Affandi.
"Kak, saya mau bergabung."
"Sal... Sal... Salim..."
"Ya, Kak?"
"Tol... tol... tolong... kam... kam... kamu... aj... aj... ajarkan... sum... sum... sumpah... dan... jan... jan... janji... kar... kar... karate... dan... kam... kam... kamu... Ses... Ses... Sesi... ik... ik... ikuti... ap... ap... apa... yang... yang... di... uc... uc... ucapkan... kak... Sal... Sal... Salim..."
"Baik, Kak."
Salimudin pun mengucapkan sumpah dan janji karate yang diikuti oleh Sesilia, karena emang begitu aturannya. Setiap calon karateka, bahkan setelah jadi seorang karateka, mesti ngucapin sumpah dan janji sebelum memulai latihan. Bahkan itu ikrar, akan senantiasa dikumandangkan sebelum latihan dimulai.
Setelah ngucapin ikrar sumpah dan janji karate, Sesilia pun gabung dengan yang lainnya, ngikutin latihan yang dipimpin oleh Affandi dan Salimudin.
Sesilia makin tambah kagum, ketika Affandi nunjukkin ama meragain sebuah 'Katta' atau jurus pada adik-adik seperguruannya termasuk Sesilia yang sejak ini telah resmi bergabung dalam sasana Go Ju Kai Do. Begitu lincah dan mantapnya Affandi menggerakkan tubuh, melakukan gerakan-gerakan jurus yang diperagakannya. Sampai-sampai Sesilia dibuat melongo dengan pandangan mata penuh rasa kagum dan terpesona. Ah, sungguh Sesilia bener-bener enggak nyangka, kalau Affandi yang gagap dan bertampang seperti cowok kuper dan tablo, ternyata seorang karateka yang hebat. Yang mampu membuatnya terpesona.
Seketika Sesilia pun jadi ingat, ketika ia pertama kali ngungkapin keinginannya belajar ilmu bela diri pada Omnya.
***
Selesai latihan ama ganti pakaian, Sesilia kembali nemuin Affandi yang juga sepertinya tengah nunggu dirinya. Buktinya, meski yang lainnya udah pada pulang, tetapi Affandu masih duduk di bangku yang ada di ruangan itu dekat pintu keluar gedung.
"Nunggu seseorang?" tanya Sesilia.
"I... i... iya," jawab Affandi.
"Siapa?"
"Kam... kam.. kamu."
"Ada apa?"
"Ka... ka... kagak... ad... ad... ada... ap... ap.. apa... apa. Cum... cum... cuma... ma... ma... mau... jal... jal... jalan... bar... bar... bareng... aj... aj... aja... Kam... kam... kamu... ka... ka... kagak... keb... keb... keber... ber... beratan.... kan?" tanya Affandi dengan wajah nunjukkin keraguan.
Sesilia senyum. "Kenapa harus keberatan? Malah Sesi senang kok ada yang nemenin jalan..."
"Bag... bag... bagai... ma... ma... mana... deng... deng... dengan... pak... Bam... Bam... Bambang?"
"Kalau begitu, Sesi ngomong Om dulu, ya? Kak Fandi mau tunggu sebentar, kan?"
Affandi mengangguk.
Sesilia pun bergegas meninggalkan Affandi untuk nemuin pamannya. Tentunya untuk ngasih tahu sama sang paman, kalau dia akan pulang bareng Affandi, sehingga sang paman enggak perlu repot-repot nganter dia pulang ke rumah.
Om Bambang sedang bersiap untuk pulang, ketika Sesilia masuk ke ruang kerjanya.
"Eh, Sesi... Ayo Om antar pulang."
"Enggak perlu, Om."
"Lho, kenapa?"
"Sesi mau sama teman."
"Fandi tentunya, kan?" terka Om Bambang sambil senyum.
"Om keberatan kalau Sesi jalan sama Kak... Fandi?"
"Tidak..."
"Kok Om senyum?"
"Apa ada larangan orang tersenyun?" balik om Bambang.
"Ya enggak. Tapu Om senyum pasti punya makna, kan?"
Om Bambang kembali tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Kamu emang kemenakan Om yang pintar..."
"Kalau Sesi pintar, tak semestinya Sesi mau jalan sama kak Fandi, kan Om?"
"Justru karena kamu bisa menerima Affandi yang oleh orang lain kehadirannya senantiasa dijadikan bahan olokan, om anggap kamu pintar..." Om Bambang menghela napas panjang. "Ya udah kalau begitu. Tapi Om ingatkan, jangan malam-malam. Nanti Om lagi yang bakal kena sasaran..."
"Iya, Sesi juga ngerti, Om... Sesi jalan dulh ya, Om. Fandi udah nunggu..."
"Ya udah, pergilah..."
"Thanks Om..."
Om Bambang cuma senyum sembari menganggukkan kepala.
Dengan ceria dan hati berbunga, Sesilia pun meninggalkan ruang kerja pamannya. Turun ke lantai dasar dimana tempat latihan berada, dimana Affandi menunggu dirinya. Dan begitu sampai di ruang latihan, Sesilia pun mengajak Affandi jalan.
Om Bambang yang juga udah turun dari lantai dua dan ngeliat kemenakannya jalan bareng dengan Affandi cuma senyum sembari geleng-geleng kepala. Dia tahu persisi siapa Affandi. Cowok itu dapat dipercaya, sehingga dia enggak perlu khawatir apalagi mencemaskan keselamatan kemenakannya. Sayang Affandi gagap. Kalai tidak, Om Bambang yakin bakal banyak cewek yang suka padanya. Wajah Affandi ganteng. Tubuhnya pun atletis. Sosok cowok seperti Affandi banyak disukai oleh kaum cewek. Apalagi kalau itu cewek tahu, kalau Affandi seorang karateka yang hebat. Sekali lagi sayang, Affandi gagap. Dan Om Bambang pung ngerti gimana perasaan kemenakannya. Om Bambang merasa kalau kemenakannya yang cantik, yang ceria dan lincah, diam-diam juga mengagumi bahkab mungkin suka sama Affandi. Om Bambang enggak nyalahin kemenakannya. Dia justru merasa senang dan bangga pada sifat kemenakannya yang enggak merendahkan apalagu menghina orang seperti Affandi.
Sementaraitu, Affandi ama Sesilia udah meninggalkan lingkungan gedung sasana. Keduanya melangkah beriringan menyusuri trotoar jalan.
"Kak..."
"I... i... iya."
"Kakak hebat!" puji Sesilia.
Affandi tersenyum sembari menggelengkan kepala.
"Ap... ap... apanya... yang... heb... heb... hebat? Sa... sa... saya... cu... cu... cuma... man... man... manu... si... sia... bi... bi... biasa. Bah... bah... bahkan... sa... sa... saya... or... or... orang... yang... ban.... ban... banyak... ke... ke... kekur... kurangan... nya..."
"Orang lain boleh nilai kakak apa saja, tetapu tidak bagi Seai. Di mata Sesi, kakak hebat. Dan Sesi senang bisa menegnal kakak," tutur Sesilia dengan wajah nunjukkin kesungguhan.
"Ter... ter... terim... rim... rima... kas... kas.. kasih. Sa... sa... saya... sen... sen... senang... kar... kar... karena... Se... Se... Sesi... ma... ma... mau... men... mener... nerima.... sa... sa... saya... seb... seb... sebagai... tem... tem... teman?" tutur Affandi.
"Sesi juga senang punya teman kakak."
"Ben... ben... benar... kah?"
Sesilia mengangguk sembari tersenyum.
Keduanya terus melangkah, semakin bertambah jauh meninggalkan gedung sasana Go Ju Kai Do dimana mereka tadi latihan karate.
***