Berawal dari hujan tiba-tiba yang mengguyur kota. Di bawah pohon rindang, seseorang berteduh. Memandangi guyuran hujan yang sejuk. Dan secara nyata, bayang-bayang imajinasinya muncul tepat di hadapannya. Membawa payung, serta nama yang indah.
***
Seorang wanita terlihat berjalan keluar dari toko buku. Ia baru saja membeli beberapa buku untuk dibaca saat ini. Dilihatnya langit yang cerah, dengan sinar matahari memancar begitu terik.
"Huh, siapa bilang bakal hujan? Si Fina emang kagak bisa dipercaya. Jelas-jelas panas gini, awan aja kagak ada," gumamnya.
Wanita itu bernama Icha yang umurnya sudah 21 tahun. Semenjak ada libur panjang, dirinya yang begitu malas membaca tiba-tiba sangat suka dengan buku. Seminggu sekali ia akan pergi berjalan ke toko buku, kemudian mampir ke kafe dan langsung membacanya.
Icha berdiri di tepi jalan sembari menunggu lampu hijau. Ia terlihat memainkan ponsel dan sibuk berbicara sendiri. Ya... itulah Icha. Mau dibilang aneh, tapi dianya nggak mau. Gila? Nggak usah ditanya lagi, deh! Dia yang paling gila, apalagi imajinasinya yang suka ngadi-ngadi.
"Huft... nungguin author update kek nungguin do'i yang nggak dateng-dateng. Eh, gue kan nggak punya do'i. Ngenes amat dah. Apalagi bacain cerita novel yang romantis. Cuma bisa baper bawaannya," gumam Icha lagi.
Saat lampu hijau, Icha memasukkan ponselnya ke dalam tas selempangnya. Ia menengok ke kanan dan kiri, laku menyebrang di atas zebra cross.
Jaraknya antara toko buku dan kafe lumayan jauh. Ia harus berjalan terus di trotoar, sembari menikmati pemandangan kota yang ramai.
"Hm, pangeran berpayung ada nggak ya? Kalau ada keknya keren deh."
Saat Icha sibuk berbincang dengan dirinya sendiri, gemuruh petir terdengar bergelut di atas sana. Tiba saja gumpalan awan hitam memenuhi langit dan menutupi cahaya mentari.
DRASS!!!
Hujan deras berhasil membubarkan kerumunan orang yang sebelumnya berjalan di bawah teriknya matahari. Mereka semua segera mencari tempat untuk berteduh. Ya, Icha salah satu dari mereka.
"Lah.. lah.. lah.. anjir kok hujan? Mana gue nggak bawa payung lagi! Aelah neduh di bawah pohon situ aja deh. Mumpung sepi."
Icha menutupi pucuk kepalanya dengan tumpukan buku baru yang terbungkus plastik. Ia menepuk-nepuk lengan bajunya begitu sampai di bawah pohon yang rindang.
"NGERI!! Jangan-jangan si Fina... cenayang?"
Drrrtt... drttt...
Icha mengambil ponsel dan mengangkat teleponnya.
"HAHA, DIBILANGIN JUGA APA!!" Baru saja Icha menempelkan ponselnya ke telinga, suara menggelegar yang cempreng dan tak enak didengar menusuk sampai ke dalam telinga Icha.
"Si*lan lo! Mana gue tahu kalo bakal hujan. Kan tadi panas banget!"
"Makannya rajin-rajin liat ramalan cuaca. Mau gue jemput nggak? Mumpung temen lo yang cantik ini baik."
"Nyenye, nggak usah. Ntar gue bakal dijemput sama pangeran berpayung."
Fina yang mendengar itu langsung menggeleng-gelengkan kepala.
"Pangeran dari Hongkong. Yang ada lo dijemput ama ojek payung, bwahaha!!"
Icha mengepalkan tangannya.
"Beruntung lo ngga di sebelah gue. Kalo iya, udah remuk tuh tulang rusuk."
"Heh, iya-iya. Bye, gue mau bikin mi rebus pake telor setengah mateng, terus minum teh panas. Wuihh, seger."
Icha langsung mematikan teleponnya dengan Fina. Ia kembali menatap langit yang sepertinya hujan akan turun lebih lama.
"Gue emang harus sabar punya temen bangke kek Fina." Icha menggeleng sembari tersenyum. Se-bangke apapun temannya, Fina itu asik. Jujur deh, nyari temen yang kaya gitu langka. Bahkan Icha cuma punya Fina, satu-satunya teman.
"Hah... gue yakin beneran ada pangeran berpayung. Masa nggak ada yang percaya si!" ucap Icha dengan nada sedikit kencang.
"Pangeran berpayung?"
"Iya, pangeran berpa–"
Icha menghentikan perkataannya, dan langsung menoleh ke arah pemilik suara. Matanya membulat sempurna, begitu melihat lelaki gagah dengan memegang payung di tangannya.
"Pa-pa-pa-pa pangeran..."
"Kamu udah lama di sini? Nanti demam lho. Baju kamu juga basah kuyup gitu." Lelaki itu menutup payungnya dan berdiri tepat di samping Icha.
"L-lo siapa?"
"Aku? Namaku Delta. Kebetulan aku lagi lewat sini. Eh, nggak sengaja lihat kamu sendirian berteduh."
Icha mengangguk lalu memalingkan wajahnya.
"Wah gila sih! Gue beneran ketemu pangeran njir! Mana pake payung lagi," batin Icha.
"Ekhem, lo bukan ojek payung kan?"
"Pffftt, mana ada ojek payung pake baju kaya gini." Delta menahan tawa sembari menutupi mulutnya. Atasan hodie hitam dan celana jeans yang keren. Iya juga sih, ojek payung mana yang kerja pake style itu?
"Hahaha, iya juga ya." Icha ikut tertawa, namun tawanya terdengar garing. Membuat suasana canggung di antara keduanya.
***
5 jam kemudian...
"Duh Gusti, udah mau gelap, kok hujannya nggak berhenti..." Kedua kaki Icha mati rasa. Ia ingin sekali duduk, bahkan banjir sudah mengelilingi keduanya.
Iya, Delta masih setia menemani Icha.
"Lo kan bawa payung, kenapa nggak pulang?" tanya Icha setelah saling diam berjam-jam.
"Aku nggak punya rumah."
Deg!
"Ya ampun, terus lo tinggal di mana?"
"Apartemen."
"Sh*t."
Icha menekuk wajahnya. Ia ingin sekali menelepon Fina. Tapi, gemuruh petir masih ada di atas mereka. Itu akan bahaya jika Icha menyalakan telponnya.
"Nih."
Icha kembali memandang Delta.
"Bawa aja payungku. Nanti demam kalo ngga segera ganti baju," ucapnya sembari menyodorkan payung miliknya.
"Eh beneran nih? Ha-Hatchuuu!!"
"Tuhkan, iya beneran. Apartemen ku cuma di seberang situ. Nggak usah khawatir."
Icha memandang aneh Delta. "Lah, kenapa nggak langsung nyebrang dari tadi?!"
Delta hanya menggeleng lalu memegang pucuk kepala Icha.
"Aku mampir buat jadi pangeran berpayung. Hati-hati di jalan ya! Sampai jumpa!"
Drap
Drap
Delta memberikan payung suci itu kepada tangan yang penuh kapalan. Gemercik kilauan serasa mengikut di belakang Delta. Begitu tampan, ketika berlari sembari melindungi pandangannya dari deras hujan.
"Hum? Pangeran..." Icha membuka payung milik Delta, lalu berjalan menerjang hujan.
"Hatchuuu!!!"
Yah, 5 jam dia bersama pangeran, rasanya memang menyenangkan. Dia memberi payungnya, dan meninggalkan kenangan.
Apa... suatu hari Icha akan mengunjungi apartemen Delta?
"Fin! Gue beneran ketemu pangeran berpayung!!"
Dengan langkah ringan, Icha melangkah sembari melompat girang. Dia benar-benar bahagia. Walaupun...
SRUK!!
Dia harus menanggung malu karena terpeleset tepat di hadapan orang yang masih berteduh.
***
⛈️⛈️Tamat⛈️⛈️