Kehidupan di dunia sangatlah indah, janganlah kita terlena dengan gemerlapnya dunia seisinya. Dunia hanyalah sementara, janganlah kita sombong dengan apa yang kita miliki. Karena semuanya hanya titipan yang perlu kita jaga dengan sepenuh hati. Semuanya akan kembali kepada Sang Pencipta, jangan tertipu daya globalisasi dunia.
Suatu hari ada seseorang yang bernama Dita, dia sedang membutuhkan uang sejumlah tujuh puluh lima ribu rupiah untuk membayar buku.
Saat itu dia tidak memiliki uang sama sekali, karena belum mendapatkan gaji.
Dita mencoba memberanikan diri untuk meminjam kepada saudaranya yang terkenal dengan julukan saudagar kaya, hartanya berlimpah dan punya banyak karyawan dalam perusahaan yang dia miliki.
"Assalamualaikum" Dita mengucapkan salam lewat pesan whatsapp.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh" balas Rudi cepat.
"Lagi sibuk, apa tidak Rud?" tanya Dita ingin menyampaikan sesuatu kepada Rudi.
"Saya sedang sibuk, bagaimana? ada apa, ya Dit?" sahut Rudi ingin tahu maksud Dita menghubunginya.
"Sebelumnya saya minta maaf, karena sudah mengganggu aktifitas kamu hari ini. Langsung saja, saya mau pinjam uang nih!" jawab Dita mengatakan yang sejujurnya.
"Butuh uang berapa, Dit?" sambung Rudi bertanya. Sepertinya Rudi bersedia meminjamkan uang kepada Dita, Dita pun sudah merasa lega karena ada saudara yang mau membantunya.
"Saya butuh uang tujuh puluh lima ribu rupiah, buat membayar buku." terang Dita, memberitahu kepada Rudi.
"Hanya segitu?" tandas Rudi, bertanya lagi.
"Iya!" jawab Dita singkat.
"Bisa nggak, Rud? meminjamkan saya uang, sejumlah yang saya sebutkan tadi." sambung Dita, memastikan.
"Pinjam uang mau buat bayar buku? apa ngga salah tuh?" Pertanyaan Rudi membuat Dita mengerjabkan matanya berkali-kali. Dita merasa kalau dirinya salah baca, karena saat itu kacamatanya sedang kurang jelas.
"Iya, Rud! mau buat bayar buku." balas Dita cepat.
"Buku saja dibeli, itu! buku milik anak saya juga banyak dan tidak terpakai. Ambil saja kalau kamu mau!" jawaban Rudi membuat Dita terkejut dan sesak napas.
"Maksudnya apa, Rud?" Dita memastikan jawaban Rudi.
"Jaman sekarang, buku sudah tidak laku? Saya tidak bisa memberikan pinjaman uang!" seru Rudi mengakhiri percakapannya dengan Dita.
"Baiklah, kalau begitu terimakasih" balasan pesan terakhir dari Dita untuk Rudi telah terkirim.
Dita tak kuat lagi menahan bendungan air matanya, akhirnya bendungan itu meluap dengan derasnya mengalir melewati pipi mulusnya.
"Ya Allah, kenapa parasaan saya begitu hancur seperti ini?" isak tangis Dita tersedu-sedu di dalam kamarnya, membuat bantal guling dan sprei jadi basah.
"Semoga Allah Swt memberikan rejeki kepada saya, lewat jalur manapun. Aamiin yaa robbal alamin." Dita berdoa memohon kepada Allah Swt, agar dia diberikan rejeki sama Allah Swt.
Dita terus melanjutkan hobinya, yaitu dengan menulis Dia yakin akan mendapatkan keuntungan besar. Selain hobi menulis kita juga ingin membuktikan kepada Rudi atau orang lain bahwa yang namanya buku itu sangat penting karena dalam pepatah mengatakan bahwa buku adalah gudang ilmu. Maka dari itu jangan suka menghina buku.
Dalam beberapa bulan ini Dita mampu menghasilkan karya-karya yang baik dan bisa dikirim ke plafon agar karyanya bisa diminati banyak orang dan bisa menghasilkan uang, sedangkan Rudi dikabarkan lapaknya terbakar karena kelalaian anak buahnya yang membuang puntung rokok sembarangan dan membakar sampah.
Saat itu pula Rudi mengalami bangkrut dan sudah tidak mempunyai apa pun akhirnya Rudi kembali ke desanya untuk menjadi seorang petani lebih tepatnya Buruh Tani karena hartanya sudah lenyap di makan si jago merah di kota Tangerang, Rudi menangis meraung menangisi hartanya yang sudah lenyap dan sekarang dia sudah tidak memiliki apapun.
Saat Rudi membutuhkan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, dia datang kerumah Dita untuk meminjam uang sebanyak seratus lima puluh ribu rupiah kepada Dita untuk membayar obat istri dan anaknya yang sedang sakit.
Sengan nada terbata-bata Rudi mengucapkan bahwa dirinya ingin meminjam uang kepada Dita, sejenak Dita mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan namun kembali lagi Dita berpikir bahwa semuanya dalam milik Allah Swt. Kita sesama umat nya harus saling berbagi dan saling membatu.
"Berapa uang yang dibutuhkan saat ini. tanya Dita memastikan.
"hanya lima puluh ribu rupiah, untuk membeli lauk dan beras dua kilo." jawab Rudi dirinya merasa malu kepada Dita.
"Baiklah, saya ambil kan uangnya sebentar. Kamu tunggu di sini ya? jangan lupa itu cemilan dimakan dan ini air minumnya." Dita menyuguhkan air minum untuk Rudiyang terlihat kecapean.
"Terima kasih, Dit! jawab Rudi malu-malu.
Walaupun Dita sempat dihina sama Rudi. Namun Dita tidak pernah sedikitpun menaruh rasa dendam kepada Rudi bahkan Dia mau dengan senang hati meminjamkan uangnya kepada Rudi.
Dengan penuh rasa malu Rudi meminta maaf kepada Dita, karena sudah merepotkan dirinya dengan meminjam uang namun Dita meyakinkan kepada Rudi bahwa rezeki Tak Akan kemana.
Dan sebagai manusia kita harus saling tolong-menolong satu sama lain karena dalam kehidupan ini, roda akan terus berputar mengelilingi porosnya seperti halnya kehidupan seseorang. Adakalanya sedang di atas kadang juga di bawah namun ketika seseorang sedang berada di atas janganlah sombong dengan apa yang telah kita miliki karena semuanya titipan dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Ketika kita sedang berada di bawah maka kita harus terus berusaha dan berdoa mengharap rezeki datang dari Allah, dan tentunya kita tidak boleh putus asa tetap semangat menjalani hidup yang penuh dengan liku-liku dan sandiwara. Indahnya berbagi kepada sesama indahnya saling menolong sesama Insan