Aku duduk menunggu hujan reda, di halte, di depan sebuah toko buku ternama, dan sebuah areal pemakaman di belakangku. Hujan turun dengan begitu derasnya, berkawan angin kencang dan langit yang sesekali tampak membelah oleh karena kilatan-kilatan halilintar yang sambar menyambar dan diperparah dengan lengking suaranya yang lumayan membuat nyali gentar; Satu dua lampu jalanan padam, satu dua yang lainnya bersinar redup.
Pukul setengah tujuh malam, aku melirik jam yang ada di tangan. Berarti, tidak ada satu alasan pun yang bisa membuat aku takut pada sesuatu yang ada di belakangku, meski aku seorang diri--selain lengang, jalanan basah, tentu saja basah, tapi bukan cuma basah melainkan, tergenang, genangannya sudah melebihi semata kaki dan mungkin akan naik lagi.
Halte tempatku berteduh memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, kurang lebih cukup untuk lima orang dewasa saja, dan di sana-sini atapnya lumayan banyak yang bolong dan keropos. Maka tak ayal, selain tempias hujan yang datang dari arah depan dan samping kanan-kiri, dari atas kepala hujan pun bebas jatuh.
Duduk dengan bahu yang bersandar pada tiang halte, kubuka kantongan belanja, dari toko buku itu aku baru saja membeli dua buku novel yang sudah lama kuincar, dua seri terakhir, dari dua seri yang sudah kumiliki sebelumnya: Jejak Langkah, dan, Rumah Kaca. Buat orang yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih di satu perusahaan kecil, yang mana cuma memiliki gaji yang hanya bisa bertahan sampai pertengahan bulan, dan itu pun sesungguhnya sudah harap-harap cemas, kedua harga buku ini lumayan menguras kantong, tapi mau bagaimana lagi aku benar-benar dibuat penasaran dengan akhir cerita dari tokoh ini.
Satu dari kedua buku itu kutimang-timang, plastik yang melapisi sampul novel kubaui, dengan cara mengoyaknya sedikit, niatnya, aku ingin membaui aroma buku tersebut, aroma dari buku baru itu lumayan bisa melemahkan syaraf-syaraf kecemasanku perihal gaji tersebut.
Sedang enak-enaknya membaui aroma buku tersebut, seorang perempuan duduk di sampingku, tertawa kearahku, dan jelas tawanya itu tertuju kepadaku, aku kaget, sekonyong-konyong. Sedari kapan ia duduk di situ, dan sudah berapa lama ia memperhatikan gerak-gerikku, aku bertanya-tanya sendiri dalam hati, jelas aku malu.
Aku mengangguk kecil, dan ia tersenyum menyapa.
Aku sedikit mengambil jarak, menjauh dua jengkal ke samping kiri, tapi sialnya, atap yang menaungi tepat di atas kepalaku bocor, mau tak mau, aku balik ke posisi awal, aku tak enak hati juga untuk mengambil jarak yang jauh, bukan cuma tak enak hati tapi bisa dibilang bodoh.
Gimana nggak bodoh, lah ada cewek, parasnya lebih dari sekedar lumayan, dengan rambut panjang sebahu yang tergerai basah, mata coklat muda yang berbinar terang yang tak ayal kuibaratkan seperti pijar matahari, dan yang terlebih penting dari semua itu kedua kakinya masih menjejak di lantai, jelas, dia bukan penghuni kawasan belakang.
"Sendiri,"
Dia menyahut dengan anggukan dan senyuman.
"Turun dari angkot,"
Dia menyahut dengan gelengan kepala. Benar juga, sedari tadi mana ada angkot yang melintas di jalan ini. Iseng aku pun mencandai, "penghuni rumah yang mana?" Aku menunjuk ke arah belakang.
"Enak aja,"
"Oh bisa bersuara juga toh,"
"Emangnya,"
"Dari mana mau ke mana?"
"Dari situ, dan, mau balik."
" Rumahnya di mana?"
Dia mengucapkan nama satu jalan, yang aku tahu itu lumayan jauh dan kami berbeda jauh. "Untung kamu naik angkot, coba tidak, bisa-bisa kamu melebihi wonder woman." Aku pun berucap lagi, niatnya pengen bercanda lagi.
"Iya gak mungkinlah," Apa dia tahu kemana arah dan tujuan dari bercandaanku, tapi aku pura-pura bego aja. "Maksudnya?"
"Iya kan hujan begini." Dia menunjuk ke langit. Ternyata dia tidak tahu maksud bercandaanku.
"Lalu kalau gak hujan emang kamu bisa pulang dengan cara begitu?"
"Cara begitu bagaimana?"
"Berjalan kaki,"
"Sering."
Sontak aku bertepuk tangan. "aku saja belum pernah seperti kamu."
"Gak pernah jalan kaki? Masak sih?"
"Jalan kaki sih sering, tapi jalan kaki seperti kamu gak pernah tuh,"
"Maksudnya?"
"Iya jalan balik kayak begini," Aku bangkit berdiri, lalu berjalan mundur, tiga langkah. "Atau kayak begini." Aku melompat naik ke atas bangku halte, lalu berlagak mencontohkan orang yang sedang berguling sinonim dari bolak-balik, pas kayak adonan roti yang dibolak-balik.
"Ihhh bego iya nggaklah," Dia pun terkikik.
Maksud dan tujuan tercapai walaupun sebenarnya itu garing!
"Dari dalam beli buku apa?"
Aku menunjuk buku di tangan.
"Suka Pram juga?"
"Pram? Pram siapa?"
"Tuh. Pramoedya Ananta Toer."
"Gak."
"Lah terus?"
"Aku masih normal, Neng."
"Maksudnya?"
"Aku masih suka yang cantik-cantik."
"Kamu tuh garing tahu nggak,"
"Kan enak,"
"Beli dua seri terakhir?"
Aku mengangguk.
"Penasaran kan,"
"Gak. Takut aja bulan depan gak ke beli. Orang-orang kan sukanya pada latah, sekalinya heboh, tuh buku pada diborong semua. Terus di pampang noh di medsos, biar dibilang intelek aja, lah, gak sampai sejam pada dijual di market place. Di baca juga nggak."
"Sinis banget,"
"Lah kamu termasuk bagian dari mereka toh, maaf-maaf."
"Enak aja."
"Kamu dari situ beli apa?"
"Cuci mata aja,"
"Pake Rinso?"
"Garing ah."
"Gak beli. Berarti kamu nih...
"Apaa..."
"Tuh, yang suka koyak sampul plastik pembungkus, terus bukunya dibaca sampai lecek iyakan."
"Bisa ngomong berarti pernah melakukan iyakan,"
"Nehhy Kemi..."
Perempuan itu tertawa ngakak melihat aksiku. "Suka sinetron itu juga,"
"Saya tuh suka dengan tokoh Dadang Terpandang Kondang. Kalau dia kagak ada tuh cerita kagak ramai."
"Pantes kamu sama kayak dia, sinis,"
"Lah baru kenal sudah main ketok palu aja,"
"Ngomong-ngomong kenapa kamu masih beli buku, bukuannya sekarang ada e-book, audiobook, atau rewiew buku kayak yang ada di YouTube itu."
"Itu sejenis apa ya,"
"Selain sinis kamu idealis juga iya,"
"Lah main ketok palu lagi, bapaknya bekas tukang bangunan iya?"
"Kok tahu?"
"Karena kau telah mengetok-ngetokkan hatiku."
"Prett...!"
"Aku gak suka aja baca buku dengan cara seperti itu, kalau kamu?"
"Aku sih gak soal, terlebih kalau aku gak ada pilihan."
"Gak ada uang apa gak ada pilihan?"
"Sombong,"
"Lah bukan tapi..."
"Iya kamu tahulah harga buku kan semakin hari semakin mahal,"
"Mahal itu kan bagus,"
"Kok bagus?"
"Iya penulisnya kan bisa lebih terbantu,"
"Iya juga sih, tapi kalau ada yang lebih murah kenapa nggak, toh melalui itu penulisnya juga bisa terbantu."
"Sensasinya beda,"
"Maksudnya,"
"Satu, waktu kita membolak-balik halaman buku itu, selain tidak cuma menyentuh saja, kita juga bisa membaui aroma buku itu. Itu yang sangat aku tidak bisa tinggalkan."
"Mencium aroma buku seperti tadi?"
"Iya, enak banget. Kedua, kedua apa iya?"
"Iya kita bisa membaca ulang, terus bisa kita pajang, begitukan?"
Aku mengangguk mengiyakan.
"Sudah berapa koleksi buku kamu?"
"Gak banyak,"
"Iya berapa,"
"Takutnya dibilang sombong, sok intelek, gak ah."
"Tambah satu lagi, rendah hati."