Horor..
"Horor? "
"Hahahahaha.. apanya sih yang horor Zun?" Suara tawa meremehkan keluar dari mulut seorang gadis berambut pirang.
Gadis yang bernama Zuna menunjuk sebuah meja yang ada di sudut ruangan tanpa bersuara.
"Apa sih?" Gadis pirang itu berjalan ke arah meja yang Zuna tunjuk, ia mendapati sesuatu seperti sebuah buku di atas meja usang tersebut.
Buku? Bukan. Itu adalah sebuah album foto, ya.. yang sudah usang karena di makan usia.
"Kenapa ada benda-benda usang di dalam rumah sebagus dan semewah ini?" Gumam si pirang.
Tangannya mulai membuka lembaran album foto tersebut, di halaman pertama, ia melihat foto seorang gadis kecil dengan rambut di kuncir dua. Anak itu sedang tertawa riang bermain ayunan, "ini.. kamu kan Zun? Waktu itu kita lagi mainan bareng di halaman belakang." Ia berucap tanoa mengalihkan pandangan dari album yang di pegangnya.
Kemudian ia kembali membuka halaman yang selanjutnya, ia melihat 2 gadis yang seumuran sedang beemain boneka di dalam sebuah kamar. Ya kamar itu adalah kamar yang saat ini merupakan tempatnya berpijak. Ia tersenyum simpul teringat kenangan dirinya dengan sahabatnya Zuna sepuluh tahun yang lalu.
Lembar demi lembar ia lihat, disana menunjukkan foto yang merupakan pertumbuhan Zuna dari waktu ke waktu. Dari mulai Zuna berusia dua tahun, ia sudah sering bermain dengan si pirang.
Zuna and Jessy
Nama yang tertera di sebuah foto yang menunjukkan gadis belia berusia 15 tahun.
"Kamu masih menyimpan semua foto ini Zun, ini kenang-kenangan kita, sebelum aku pindah ke luar negri."
"Maafin aku ya, aku harus pindah karena ikut mama papa pindah," ucapnya menoleh sekilas pada sahabatnya masih setia dengan kebisuannya.
"Kamu marah sama aku Zun? Kok kamu diem aja sih?" Mulut Jesy terus mengoceh dngan tangan yang masih terus membuka lembar demi lembar album foto yang ia pegang.
Hingga lama kelamaan ia merasakan hawa dingin dari angin yang entah darimana datangnya. Bersamaan dengan foto yang ia lihat yang juga menunjukkan suatu keanehan.
"Kok dingin ya," Jesy melirik ke bawah kaki sahabatnya yang tak mengenakan alas. Kaki itu tampak sangat pucat, dan dengan perlahan darah mengalir perlahan menuruni kaki pucat tersebut. Bau anyir mulai tercium di hidung Jesy.
"Kamu lagi datang bulan Zun, kok sampe tembus deres banget gitu sih?"
Matanya membelalak tak percaya kala ia mendapati sebuah foto yang menampakkan sahabatnya yang kini berdiri di sampingnya, terkapar dengan beraimbah darah. Sebuah pisau berukuran besar tertancap di perut gadis itu.
"Nggak, ini pasti prank. Kamu pinter banget sih bikin foto prank kayak gini Zun?"
Jesy menoleh pada Zuna, seketika ia syok dengan apa yang di lihatnya. Hampir saja ia terjungkal ke belakanga jika tak berpengangan pada meja. Sahabat cantiknya sudah berubah menjadi sosok yang menyeramkan, darah terys mengalir hingga menggenang di lantai yang berada di bawahnya.
Jesy menangis histeris, sambil berteriak.
"Apa yang terjadi sama kamu Zun? Kenapa jadi seperti ini?" Serunya di sela tamgis.
"Enggak.. ini pasti hanya prank. Aku yakin.." gadis itu mngedarkan pandangan pada seluruh ruangan yang kini tampak usang tak terurus, banyak debu dan sarang laba-laba disana. Padahal saat ia masuk tadi, semuanya masih tampak bersih dan mewah.
"Apa ini? Ada apa Zuna?" Jesy menangis sambil berjalan mundur karena Zuna mngulurkan tangannya yang berlumuran darah kearahnya dan terys mendekat padanya.
"Temani aku Jes, aku takut sendirian.." ucap Zuna lirih dengan tangis yang terdengar sangat memilukan.
Jesy sangat ketakutan melihat air mata darah yang keluar dari mata Zuna, ia mencoba membuka pintu kamar Zuna dengan sekuat tenaga.
"Ini nggak benar Zun, kita bersahabat tapi dunia kita sudah berbeda sekarang.." Jesy bwrkata dengan terus menangis.
"Aku mohon Zuna, biarkan aku keluar dari sini.."
Tiba-tiba pintu tersebut dapat di bukanya, gadis itu segera berlari keluar dengan tenaga yang tersisa. Tubuhnya terasa lemah karena ketakutan.
Ia yang berlari sambil terus meoleh kearah belakang, membuatnya tak memperhatikan jalan yang ada di hadapannya, dan...
"Aaaaaaaaa..."
"Sekarang kita akan menjadi sahabat selamanya Jesy.." lirih Zuna.
"Semua ini kehendak keluargamu,"