Lia hanya bisa termenung melihat anaknya menangis dan merengek meminta di belikan baju baru, sandal baru juga berbagai jajanan untuk mengisi toples. Anaknya masih berusia 6 tahun, belum bisa mengerti keadaannya juga ayahnya saat ini. Semenjak suaminya terkena phk karena tempatnya bekeeja mengalami kebangkrutan 2 bulan yang lalu, hidupnya menjadi sangat memprihatinkan. Itu karena hanya suaminyalah yang selama ini mencari nafkah, mereka hidup dengan menggantungkan hasil dari suaminya bekerja. Meskipun tidak seberapa, setidaknya itu cukup untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari dan sedikit menyisihkan untuk di tabung jika ada sesuatu keperluan yang mendesak.
Tapi kini, mereka hanya bisa mengandalkan hasil buruh Lia yang hanya menjajakan barang dagangan milik orang lain, yang hasilnya tak pasti, bisa makan saja sudah sangat bersyukur. Setidaknya masih bisa melanjutkan hidup.
Tapi esok hari raya sudah akan tiba, seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka mendapatkan THR dari tempat suaminya bekerja, lumayan bisa untuk membelikan satu stel pakaian untuk mereka masing-masing dan membeli astor untuk kudapan di hari raya. Tapi saat ini, boro-boro membeli baju, untuk bisa makan saja harus ngutang karena barang dagangan milik tetangganya tidak ada yang laku.
"Buk.. ayo beli baju baru.. beli jeli sama astor.." rengek si kecil Aca membuyarkan lamunan Lia. Ia menghapus lelehan bening yang entah sejak kapan membasahi pipinya.
"Sabar ya Ca, nanti kalau sandal dagangan bude Eli laku, baru Aca Ibu beliin baju sama astor. Aca yang sabar ya.." Lia memaksakan senyum di antara kepedihan hatinya. Di belainya lembut kepala putri kecilnya, berharap anak itu mau mengerti dan beehenti merengek.
"Tapi beneran ya, Ibu janji sama Aca.. nanti kalau dagangannya ada yang terjual, Ibu langsung beliin gamis baru buat Aca," tutur Aca sambil mengarahkan jari kelingking kecilnya ke arah sang ibu. Lia menerimanya dengan terpaksa supaya putrinya itu berhenti merengek.
"Insyaallah, Nak." Lia bersyukur, Aca adalah anak kecil yang pengertian. Tetapi dia tetaplah anak kecil yang mempunyai rasa ingin jika melihat teman-temannya memakai sesuatu yang baru.
"He'em. Kata Ibu kan, itu kado buat Aca karena gak pernah bolong puasanya.." ucapan polos yang terlontar dari bibir mungil itu membuat hati Lia mencelos. Sebulan lalu, saat mulai memasuki bulan ramadhan, dia memang mengatakan pada Aca akan memberikannya suatu hadiah jika gadis kecil itu mau berpuasa sehari penuh selama satu bulan full. Aca memang sudah belajar berpuasa sejak tahun lalu, dia anak yang kuat meski berpuasa sehari penuh seperti orang dewasa.
"Iya Aca cantik, Ibu ingat kok.. sekarang kamu main lagi ya, biar nggak kerasa puasanya. Oke?" Gadis kecil itu mengangguk dan tersenyum lebar menampilkan deretan gigi kecilnya yang tampak bersih dan rapi, karena ia jarang memakan permen ataupun jajanan yang lain.
Sepeninggal Aca, Lia menarik nafas dalam dan mengembusakannya kasar. Ia meremas dadanya yang terasa sesak akibat menahan tangis sejak tadi. Ia bukannya tidak bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan padanya, namun ia hanya seorang ibu yang tak kan tega melihat putri kecilnya menangis merengek meminta sesuatu yang lumrah, yang bahkan hanya satu tahun sekali ia memintanya.
Tak berselang lama, sang suami yang sejak pagi keluar rumah untuk mencari pekerjaan serabutan guna menyambung hidup. Ia pulang dengan berlari-lari kecil dengan menenteng kantong berukuran besar dan wajah yang sumringah.
"Buk.. Buk.. alhamdulillah Buk.." serunya dengan nafas terengah-engah karena berlari.
"Kenapa Pak?" Tanya Lia penasaran, "duduk dulu Pak, baru bicara.." ujar Lia sambil menyodorkan botol air mineral kepada suaminya.
Setelah meminum tiga teguk air mineral, Rio nama suami Lia, kembali berucap kepada sang istri, "alhamdulillah kita dapat rezeki Buk, tadi pas Bapak keliling nyari kerja, Bapak ketemu sama orang yang mobilnya lagi mogok, mobilnya itu bagus banget Buk. Ternyata mobil itu bannya kempes, dan Bapak menawarkan bantuan untuk menggantikan bannya."
"Terus Pak?"
"Sabar dong Buk.. terus Bapak gantikan bannya. Nah, pas udah selesai, tuan pemilik mobil itu ngasih bingkisan ini sama Bapak," ucap Rio menunjukkan sebuah kantong yang ada di hadapan mereka.
"Bapak sudah menolaknya karena Bapak ikhlas menolong, tapi beliau memaksa, ya sudah Bapak terima saja. Nggak sampai di situ Buk, beliau juga menawarkan pekerjaan sama Bapak. Bapak disuruh jadi supirnya mulai abis lebaran besok.." terangnya dengan senyum lebar.
"Alhamdulillah ya Allah.. Engkau memberikan jalan keluar dalam kesulitan kami. Sungguh Engkau Maha mengetahui segalanya, dan Maha Adil." Seru Lia penuh syukur dan langsung melakukan sujud syukur.
"Iya Buk, coba di buka bingkisannya.." titah Rio.
"Waah.. ini makanan yang di minta sama Aca tadi Pak, ada astor, jeli, wafer, cokelat, permen, snack.. semuanya kesukaan Aca," ucap Lia bahagia.
"Lhoh, kok ada amplopnya juga Pak?" Tanya Lia pada sang suami saat tangannya menemukan sebuah amplop coklat di dalam kantong tersebut.
"Rezeki Anda, mohon di terima. Dari Hamba Allah.." bacanya pada tulisan yang ada di amplop itu.
"Masyaallah Pak, sungguh mulia orang itu. Semoga Allah membalas kebaikan beliau ya Pak,"
"Iya Buk.."
"Banyak banget Pak isinya.." seru Lia lagi setelah membuka amplop yang isinya lembaran merah berjumlah banyak.
"Ini bisa buat beliin baju baru Aca, bahkan kita bisa mudik juga Pak.." lanjutnya dengan mata berkaca-kaca dan segera luruh membasahi pipi.
"Kita harus selalu bersyukur Buk," Rio mengelus pundak sang istri, lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi Lia.
Di ujung jalan, di sebalik tembok pos ronda, ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya penuh haru. "Semoga itu bermanfaat bagi keluarga kalian.." gumamnya dan segera berlalu dari sana.
Percayalah, di balik kesusahan pasti ada kemudahan. Dan di balik musibah pasti ada hikmah.