Judul : Aconite a.k.a BACOT
Penulis : Tia Rismayanti
Seperti biasa Pak Pramono memberi kami tugas untuk berkelompok. Melakukan diskusi tentang topik yang sudah ditentukan dan mempresentasikannya pada pertemuan selanjutnya. Kelompok sudah ditentukan oleh ketua kelas dan aku berkelompok dengan Dono, Lina, Kunto, dan Karin. Perlu diceritakan karakteristik dari empat “teman” kelompokku ini sehingga aku harus medeklarasikan posisiku di kelompok ini sangat tidak menguntungkan, Aku biasa menyebut kelompok ini dengan sebutan kelompok aconite, sebagai tanda peringatan hati-hati terhadap hal yang penuh dengan racun, ini tidak mematikan hanya saja efeknya cukup mengerikan.
Dono, mahasiswa sepuh yang sangat betah di kampus alias langganan mengulang mata kuliah karena sering bolos. Prinsipnya adalah “yang penting lulus”, masuk kuliah pun hanya awal pertemuan saja saat pembagian kelompok agar namanya bisa bertengger manja dalam laporan atau makalah kelompok tanpa harus bersusah payah menggunakan otaknya. Sudah pasti mahkluk ini tidak bisa diandalkan dalam kelompok, kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya pun kebanyakan tidak berbobot dan sangat tidak membantu saat berdiskusi.
“Jadi teman-teman...?”
“Menurut gue ya Tih, corona vaires (corona virus) itu kita bisa membasminya kalau kita rajin makan bawang putih, gue rasa info ini credible sekali, which is gue baru dapet dari grup keluarga gue tadi pagi, kebetulan banget gak sih ? relate banget kan sama tema kali ini. Mamak gue lagi yang kirim, ini mamakku loh, emak gue! Gue gak mau jadi anak durhaka, So today is off, all it’s done. Corona vaires is gone and i’m go home.” Jelasnya dengan sangat yakin dengan gaya sok pintar, berbicara bak anak jaksel yang menurutku lebih mengarah pada Vicky Prasetyo.
Aku berusaha untuk menyanggahnya dengan menjelaskan info itu belum mempunyai kejelasan dan penelitian yang terbukti benar. Bukannya mengerti, Dono malah merasa tersinggung dengan penjelasanku dan merajuk.
“Wah parah sih! Lo gak percaya sama Mamak gue ? Lo menuduh Mamak gue menyebarkan kebohongan itu maksud lo ? Parah lo, Tih! Durhaka loh gak nurut apa kata orang tua! Ya udah, yang penting gue udah menyampaikan pendapat gue tapi nyatanya pendapat gue dianggap gak credible dan malah kaya gak dihargai banget. Mending gue pulang aja kalau kaya gini. Masih banyak urusan yang harus gue urus. Daripada gue disini gak di denger.” Rajuk Dono.
“Tapi...”
Dono langsung membereskan semua barangnya dan pergi begitu saja. Ingin rasanya langsung berkata kasar di depan matanya. Urusan maksudnya ? urusannya apalagi kalau bukan menggoda adik tingkat. Nongkrong tidak jelas di kantin bersama teman-teman sepuhnya dan bertindak layaknya parasit di kelompok ini atau memang jalan ninjanya adalah menjadi parasit ? tidak ada yang tahu kecuali dirinya dan Tuhan.
Selanjutnya Kunto dan Karin, mereka adalah sepasang kekasih. Sudah berpacaran sejak awal kuliah. Aku sebenarnya tidak terlalu dekat dengan ruang lingkup pertemanan mereka, namun cerita mereka sudah menjadi rahasia umum kampus ini, hingga membuatku cukup mengetahui gaya pacaran mereka. Mereka termasuk pasangan yang sangat sering bertengkar dan selalu membuat keributan karena pertengkaran mereka.
Sepertinya hari diskusi ini adalah hari sialku karena pada saat ini mereka berdua seperti sedang bertengkar, saling berdiam diri dan duduk berjauhan, awalnya kegiatan diskusi setelah kepergian mahasiswa sepuh itu berjalan dengan kondusif, Kunto sering bertukar pendapat denganku atau bisa ku bilang hanya Kunto saja yang berdiskusi denganku. Dua manekin wanita itu sedari tadi hanya diam saja, yang satu hanya untuk mengawasi lelakinya dan yang lainnya nama dirinya hanya akan menjadi hiasan pada laporan nanti.
Sepertinya karena melihat kedekatanku dengan lelaki miliknya saat diskusi membuat Karin terbakar cemburu. Terlihat dari raut mukanya yang sedari tadi sudah sangat tidak karuan. Aku memutuskan untuk bertanya bagaimana pendapatnya tentang pro dan kontra lockdown negara-negara tetangga agar diskusi ini berjalan tidak dua arah saja antara aku dengan Kunto. Aku rasa tindakanku untuk meminta pendapat Karin akan membuat Karin tidak merasa terabaikan dan mengurangi rasa cemburunya.
“Karin, menurut kamu gimana ?” Tanyaku dengan baik dan ramah dengan bonus senyumanku yang indah. Aku harap wanita ini akan menghargai bonus senyuman yang aku berikan.
“Terserah!” Jawabnya singkat dengan memutarkan bola matanya.
“Oke...” Setelah mendengar kata ajaib sejuta umat wanita itu, aku pikir telah memilih keputusan yang salah dan malah memercikkan api pada sumbu bom waktu yang akan segera meledak.
Sebelum terlambat aku segera mengakhiri kegiatan diskusi hari ini, sebelum bom waktu memancarkan sinarnya. Jujur saja aku takut disemprot amarahnya karena aku tahu bagaimana pedasnya mulut itu. Hariku sudah cukup sial dengan mendapatkan kelompok ini, serta mahasiswa sepuh itu, kumohon setidaknya Tuhan mengabulkan permohonanku untuk tidak melibatkanku pada pertengkaran sepasang kekasih ini yang akan meledak sebentar lagi.
“Sepertinya semua materinya udah selesai, deh. Terima kasih, ya! Sudah mau meluangkan waktunya.” Ucapku pada mereka. Aku ingin segera meninggalkan ruang kelas itu karena kurasa sumbu itu sudah mencapai ujungnya.
“Nanti kalau ada informasi terbaru lagi gue Whatsapp lo langsung ya.” Kunto mengatakannya dengan senyuman ramah, mata Kunto mengarah padaku yang artinya dia berbicara denganku.
Times it’s over!
Pernyataan itu yang membuat ledakan besar dari bom waktu. Karin yang aku tahu sudah sangat marah melihatku dengan Kunto saat berdiskusi langsung menggila dan menyambarku dengan kata-katanya yang pedas.
“Maksudnya apa nih sampai mau Whatsapp-an segala! Judulnya diskusi nanti lama-lama nanyain kabar, nanyain udah makan atau belum, terus nanyain lagi apa... bla.. bla.. bla.. BASI! Gue udah perhatiin lo ya dari awal diskusi, kegatelan! Gak tahu malu! Modus doang ngajak diskusi padahal mau deketin cowok gue kan! KAMPUNG! Kaya gak ada cowok lain aja, sukanya ngerebut cowok orang. Kayanya lo punya penyakit kleptomania, sukanya mencuri!” Karin Si singa betina.
Sumpah ya, hari ini orang-orang pada kenapa sih ? Niat gue Cuma diskusi tapi dibilang durhakalah, terus sekarang disangka mau merebut cowok oranglah. Hayati lelah!
“Udah Rin! Gue udah bener-bener capek ya sama sikap lo yang kaya gini! Selalu gue yang harus minta maaf dan ngalah dari lo, gue mau kita selesaikan semuanya disini.”
“Maksudnya kamu mutusin aku ? Gak! Gak boleh, Kunto! Kamu lagi bercanda kan. Hari ini kita masing-masing dulu, kita sama-sama harus mendinginkan kepala dulu, oke!”
“Mulai hari ini kita akan hidup masing-masing, sorry!”
Aku harus benar-benar pergi dari ruangan ini. Ini masalah rumah tangga mereka berdua dan aku benar-benar gak mau tahu masalah mereka.
“Lin! Yuk.” Ajakku tanpa bersuara hanya mengepakkan tanganku dan berjinjit untuk tidak menganggu “diskusi” sepasang kekasih ini.
“Kamu jahat, To! Kamu gak ingat minggu depan kita sudah tiga tahun tapi kamu putusin aku seperti ini!” Karin menangis, mengambil tasnya dan menarik tanganku dan Lina pergi dari ruangan kelas.
Hey! Bukannya tadi lo yang maki-maki gue dan sekarang lo menarik tangan gue ? Lo sehat ?
“Kunto jahat ya! Dia mutusin gue kaya gitu, harga diri kita sebagai cewek tuh kaya diinjek-injek! Fix sih, cowok memang sama ya. Sudah dapetin semuanya dia pergi gitu aja.” Curhat Karin di kantin. Tak tahu kenapa makhluk ini mengajak aku dan Lina ke kantin untuk mendengarkan semua curahannya yang sama sekali aku tidak ingin tahu dan tidak peduli.
“iya..” jawabku malas dan terus menyesap jus jambu yang sudah dipesan oleh makhluk ini sebagai sogokan untuk mendengarkan ceritanya, urat malu dari wanita ini sudah putus sepertinya.
“Padahal dulu dia yang ngejar-ngejar gue, awalnya gue gak mau sama dia karena dia bau ketek. Setiap dibonceng sama dia otomatis bakal selalu tercium bau-baunya tapi sekarang itu yang buat gue kangen. Gue gak bisa bayangin hidup tanpa bau keteknya Kunto!” Setelah mencaci makinya sekarang dia menangis karena rindu sama bau ketek cowok itu. No comment!
“Apa dia sudah punya yang baru ya jadi dia berani ngomong kaya gitu tadi ? Ratih ?......” Aku bertemu mata dengannya saat dia memanggil namaku tetapi tatapannya membuatku mencium bau-bau tidak enak, yang pasti tidak sebau keteknya Kunto.
“Jujur sama gue! Lo ada hubungan sama Kunto, kan! Sebelum diskusi ini lo udah rencanain semuanya sama Kunto, terus lo ajak gue ke kantin terus buat gue curhat semuanya sama lo, biar lo bisa tertawa di atas penderitaan gue, karena lo udah berhasil buat gue sama Kunto putus. Jujur aja gak usah bohong sama gue! Dasar pelakor!” tuduhnya yang membuatku benar-benar naik pitam.
“Psikopat lo!” ucapku dan pergi meninggalkannya.
Terakhir adalah Lina. Tampak luar Lina memang terlihat normal, pendiam dan polos. Tetapi kepolosanya ini yang harus menjadi kehati-hatian. Lina memang pasif saat tadi berdiskusi jadi aku menugaskannya untuk membuat laporan dari seluruh materi diskusi yang sudah didiskusikan tadi. Lina sudah menyanggupi karena aku lihat dia sudah menulis semua hasil diskusi tadi. Aku hanya berharap kepolosannya tidak menjerumuskan kelompok ini dan membuatku menyesal setelah memberikan seluruh kepercayaanku padanya.
Malam hari, aku iseng saja menanyakan tugas pada Lina. Ia bilang laptopnya sedang dipakai oleh ibunya yang sedang mengerjakan tugas kantor yang sangat penting. Aku memaklumi mungkin laptop itu milik bersama sehingga harus bergantian pemakaiannya. Malam itu aku membiarkannya, dua malam berikutnya aku menanyakan lagi untuk mengecek apakah tugas itu sudah mulai dikerjakan, Lina berdalih laptopnya hari ini dipakai oleh adiknya yang sedang mengerjakan tugas untuk dikumpulkan besok. Aku lagi-lagi membiarkan karena tugas kami akan dikumpulkan minggu depan.
Beberapa hari aku membiarkannya karena aku pun sedang sibuk dengan tugas dari mata kuliah lain. Malam sebelum tugas itu dikumpulkan aku menanyakan pada Lina karena sampai saat ini Lina belum membagikannya di grup obrolan kita atau memberi kabar apapun tentang kemajuan tugas itu. Sedikit curiga tetapi aku menyingkirkan semuanya, setidaknya aku harus memercayai teman kelompokku yang satu ini. Stay positive!
Tak ada jawaban sampai jam dua belas aku menunggunya, tetapi ada status online di kontaknya. Apa ini ? apakah dia sedang mengabaikanku ? karena kesal aku terus mengirim pesan “P” padanya tetapi ia malah menonaktifkan data selulernya dan menghilang. Tak ingin menyerah karena sekarang aku sedikit khawatir dengan tugasnya, untung saja aku masih memiliki gratis menelpon, tetapi tidak ada jawaban. Lina benar-benar membuatku gila, beberapa kali aku menghubungi tidak menjawab dan yang terakhir kali aku mencoba operator memberitahu bahwa jaringan sedang sibuk, mengartikan ia sekarang sedang berhubungan dengan seseorang.
Tak ingin stres sendiri aku memberitahu semua orang di grup obrolan untuk berusaha menghubungi Lina karena Lina adalah penanggung jawab laporan, tetapi responsnya tambah membuatku stress.
“Kalau lo gak bisa hubungi Lina artinya lo yang harus bikin laporannya. Lo ujung tombak kelompok ini. Gue percayakan semuanya padamu!” jelas Dono, makhluk yang tidak mengikuti diskusi sampai akhir dan hanya mengoceh tentang berita hoax dari grup keluarganya.
Aku tak ingin membalasnya, aku sangat ingin mengeluarkannya sekarang!
Sedangkan, Karin hanya menyimak saja. Apa dia masih marah padaku ? untuk kesalahan yang tidak pernah ku perbuat. Menuduhku tanpa alasan, bahkan masih giat menerorku di status-status Whatsapp nya, walaupun tidak menyebutkan nama, aku sangat tahu yang dia singgung adalah aku. Membuatku dengan sangat senang hati membisukan semua statusnya karena sangat tidak penting untuk dilihat.
Kunto tidak aktif malam itu, mungkin sudah tidur.
Tidak ada yang dapat diandalkan bahkan Kunto sekalipun, tetapi malam itu aku menanyakan Kunto melalui obrolan pribadi tentang pendapatku menghilangkan nama-nama orang yang tidak membantu sama sekali mengingat hanya kita berdua yang mengerjakan tugas ini, aku tahu tidak akan dibalas malam ini juga tetapi mungkin saat pagi hari Kunto akan membalas dan aku akan membuat keputusan atas pendapatnya.
Terpaksa, malam ini aku mengebut untuk mengerjakan semuanya. Untung saja aku juga mempunyai catatan diskusi saat itu. Nama anggota kelompok yang ku tuliskan hanya namaku dan Kunto, alasannya sudah jelas karena ketiganya tidak berkontribusi aktif dalam kerja kelompok alias tidak guna.
Jam tiga dini hari, semua tugas sudah selesai dan pada saat itu aku mendapatkan pesan dari Kunto. Kunto menjawab bahwa ia akan ikut saja keputusanku karena dia pun tahu bagaimana kondisi kelompok kami, tetapi ia memohon maaf karena hari ini ia tak dapat menghadiri perkuliahan karena ada sebuah urusan. Jika tidak ada Kunto siapa yang akan jadi backinganku untuk menjelaskan pada Pak Pramono yang sebenarnya terjadi ? akhirnya apakah aku harus tetap berjuang sendiri ?
Setelah ku menimbang-nimbang, aku sangat malas untuk membuat masalah tentang ini. Memikirkan Dono akan menyebutku durhaka, mulut pedas Karin yang pasti akan bilang “Lo Cuma manfaatin gue buat ngerebut cowok gue, kan ? masih dendam lo sama gue!” dan Lina ? Aku yang harusnya marah padanya karena aku baru mengenal sifatnya yang sangat menjengkelkan.
Mata kuliah Pak Pramono akan segera dimulai, Dono menghampiriku untuk menanyakan tugasnya aku hanya diam, aku membencinya sampai tujuh turunan. Karin hanya memandangku dari jauh, aku tahu dia gengsi untuk menanyakannya dan aku tidak peduli.
Sedangkan, Lina hanya diam saja tak ada prakata atau sepatah dua kata yang ingin ku dengarkan walaupun aku tahu dia sudah pasti berbohong tingkahnya seperti seorang yang tak punya beban dan salah, itu membuatku sangat kesal.
Kekesalanku bertambah setelah aku mendengar sayup-sayup rumor Lina sedang dekat dengan Kunto, kalau dipikir-pikir waktu tidak aktif Lina dan Kunto memang terlihat mirip-mirip tadi malam. Prasangka burukku mulai berkecamuk dalam hati, Kunto yang ku kenal, yang ku kira peduli dengan kelompok rupanya telah berkomplot dengan Lina dan bertingkah seolah-olah ia tidak tahu apa-apa saat aku chat tadi malam. Lebih parah lagi aku yang mendapatkan semprotan pedas Karin tapi Si kampret Lina yang senang-senang. Kuatkan hamba Ya Allah!
Sudah-sudah, aku harus mengosongkan pikiran, menenangkan hati, setelah presentasi berakhir aku akan memblok semua aconite ini. Cukup sampai disini, ini adalah terakhir kalinya aku mendapatkan kelompok aconite, aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi kelompok semacam ini.
“Bagus! Sangat bagus presentasi dari kelompok 8! Tetapi saya melihat hanya Ratih saja yang menjelaskan semuanya. Bagaimana dengan yang lain ?” tanya Pak Pramono saat selesai presentasi. Ingat! hanya aku saja yang presentasi.
“Kami sudah membagi tugas, Pak. Semuanya dikerjakan secara bersama-sama. Motto kita adalah silih asah, silih asih dan silih asuh. Jadi kita saling berkesinambungan, saling gotong royong dalam membuat tugas bapak dengan hati yang senang. Kami sangat berterimakasih pada Pak Pramono yang sudah menugaskan tugas ini pada kami.” Jelas Dono.
Satu kata yang terlintas dalam benakku “Bacot”