Pagi hari yang cerah dipenuhi dengan suara kicauan burung gereja, diiringi hembusan angin sepoi-sepoi yang menyapa kulit tubuh dengan lembut.
"Saya berangkat dulu ya, Dik?" ucap Akhmad berpamitan sama Dwi, istri dari Akhmad.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan, jangan lupa berdoa sebelum berangkat!" sahut Dwi sambil membawakan jaket milik suaminya yang hendak berangkat ke kantor.
"Ini, jaketnya!" Dwi memberikan jaket kepada Akhmad yang masih berdiri sambil menggunakan jam tangan di lengan kirinya.
"Terimakasih, jaketnya" kata Pa Akhmad tersenyum dan mendaratkan bibirnya di kening istrinya. Dwi pun tersenyum simpul, hatinya merasa tenang jika dekat dengan suaminya.
Akhmad berjalan masuk ke kamar untuk mengambil uang belanja buat Dwi hari ini, uang belanja sekitar lima ratus ribu rupiah.
"Ini, Dik! Saya dapat rejeki, silakan buat belanja sesuka hati kamu." Akhmad mengulurkan tangan kanannya dan memegang tangan kanan istrinya sambil memberikan uang belanja hari ini.
"Ini, uang lima ratus ribu buat kamu" kata Akhmad menatap wajah istrinya.
"Terimakasih, Mas!" sahut Dwi, menaikan kedua sudut bibirnya, dia merasa senang diberi uang belanja yang lebih banyak dari biasanya.
"Saya berangkat, Dik! jaga diri baik-baik di rumah dan jaga anak kita, jangan lupa penuhi asupan gizinya dan belikan dia baju juga yang bagus biar terlihat cantik seperti ibunya.
"Iya" Ucap Dwi, mengangguk pelan.
"Hati-hati di jalan, Mas! jangan ngelamun, sholawatan ya!" sambung Dwi memberikan amanat kepada suaminya yang hendak berangkat mencari nafkah.
"Ita, Dik! terimakasih sudah mengingatkan!" tandas Akhmad sambil menyetater sepeda motornya.
Akhmad pun tacap gas perlahan dan mempercepat laju sepeda motornya.
"Alhamdulillahirrobbil alamin, atas rejeki hari ini ya Allah" gumam Dwi di dalam hatinya sambil menggenggam erat uang belanja sejumlah lima ratus ribu dari suaminya barusan.
"Sedang apa yah, Risma? baiknya saya lihat dulu, deh! barangkali sudah bangun." seru Dwi, berjalan menuju kamar anaknya. Terlihat anaknya masih tidur nyenyak, segera Dia mengecek persediaan makanan di dapur yang sudah mulai habis.
"Bumbu dapur lima ribu, minyak satu liter lima belas ribu, telor satu kilo dua puluh lima ribu, sayur lima ribu, gas dua puluh ribu, emmm apalagi yah?" pikir Dwi sambil mengingat-ingat yang belum sempat terbeli.
"Oh, iya tempe lima ribu dan tahu lima ribu. Sepertinya sudah tercatat semua, kebutuhan di dapur." terang Dwi sambil membawa catatan daftar belanja hari ini.
Dwi melangkah melambai menuju kamar anaknya kembali, dan mengedarkan pandangannya mencari-cari perlengkapan anaknya perempuannya yang sudah habis.
"Pempers lima puluh ribu yang besar isi tiga puluh dua ukuran L, bedak tabur besar dua belas ribu, minyak telon tiga puluh tiga ribu, dan baju satu stel empat puluh lima ribu. Berapa jumlahnya pengeluarannya, ya?" tanya Suci sambil menghitung.
"Jumlah semuanya dua ratus dua puluh ribu, sisanya masih banyak nih!"
"Saya belikan celengan jago saja kali, ya? itu ide bagus." cetus Dwi menuangkan idenya.
Sebelum Dwi pergi ke pasar untuk membeli semua kebutuhan yang sudah tercatat dalam daftar belanja, Dwi menyempatkan mengecek keadaan anaknya. Memastika jika Risma masih tidur dan tidak nangis.
Setelah semuanya terlihat baik-baik saja, Dwi segera pergi ke pasar dan tak lupa dia mengenakan kerudung agar terlihat lebih rapi dan sopan.
Selama dua puluh lima menit, Dwi berhasil membeli semua kebutuhannya dan segera kembali ke rumahnya.
Tak ketinggalan dia membeli celengan jago di depot penjualan aksesoris, depan rumahnya sendiri.
"Sisa uang ada dua ratus tujuh puluh lima, saya masuka ke dalam celengan tujuh puluh lima saja! dua ratusnya, saya simpan dalam dompet buat pegangan sehari-hari barangkali ada kebutuhan mendadak.
Akhmad tidak mengetahui jika selama ini, istrinya mempunya celengan jago. Karena Dwi tidak pernah memperlihatkannya kepada Akhmad.
Setahun kemudian, celengan jago milik Dwi dibobok di depan Akhmad. Akhmad pun terkejut dibuatnya, melihat celengan jago yang sangat berat.
Saat itu Akhmad hanya mendapat sedikit rejeki dan belum bisa membelikan baju lebaran untuk istri dan anaknya.
Tapi berkat celengan jago milik Dwi, lebaran tahun ini Akhmad sekeluarga bisa membeli baju baru buat dipakai saat sholat idul fitri dan membeli hantaran lebaran, bahkan mereka bisa berbagi kepada saudara-saudaranya.
Akhmad sangat bahagia, mendapatkan istri yang sholekha dan pandai menabung uang sisa belanja.
"Terimakasih, sudah menjadi pendamping hidup saya dalam suka dan duka" ucap Akhmad sambil mengelus kepala istrinya.
"Iya! sama-sama, Mas! terimakasih juga, sudah menjadi imam yang baik buat saya dan Risma. Mereka bertiga berpelukan, saling menyayangi. Indahnya rumah tangga yang bisa saling melengkapi dan saling menghormati.