"Naiklah" Perintah seorang pemuda kepada gadis yang tengah berjalan disamping mobilnya.
"Pergilah" Jawab sang Gadis.
"Ayolah. Kau akan membuat jalanan ini macet" Bujuk pemuda itu.
Tet...Tet...Tet... berkali-kali suara klakson berbunyi. Mobil-mobil terus bergantian membunyikan klakson sebagai penanda agar mobil pemuda itu lekas berjalan.
Tak ingin membuat keributan lebih lama akhirnya Gadis itu masuk ke mobil meski merasa enggan.
Di sepanjang perjalan suasana nampak sepi tak ada obrolan sedikitpun.
Mereka sama-sama menutup rapat bibirnya. Tak ada sepatah katapun yang terucap hingga ke tempat tujuan.
Sesampainya di sebuah taman mobil itu berhenti. Gadis yang terlihat kesal itu segera melangkahkan kakinya dan keluar dari mobil. Pemuda itu bergegas mengikutinya.
"Berhentilah." Perintah pemuda itu.
Gadis itupun berhenti. Namun ia tetap tak berbalik. Ia masih mengabaikan pemuda itu.
Pemuda itu menghampirinya dan berdiri di hadapannya.
"Apa kau benar-benar akan begini?" Tanya pemuda itu kesal.
Gadis itu masih terdiam ia menatap tajam pemuda dihadapannya.
"Katakanlah sesuatu." Teriak pemuda itu sambil memegang pundak sang gadis. Gadis itu melepaskan tangan pemuda itu dan segera pergi.
Namun pemuda itu mencegahnya. Ia meraih tangan sang gadis.
"Apa kau sudah gila?" Bentak pemuda itu.
Sang gadis menghempaskan tangannya dan berlalu.
"Apa kau ingin mati?" Pemuda itu berteriak kembali.
Kali ini Gadis itu berbalik dan menghampiri pemuda itu.
"Bagaimana kau akan membunuhku?" Gertak sang gadis.
Pemuda itu terkejut, ia perlahan-lahan mundur dan menjauh. Namun gadis itu terus mendekatinya.
"Ya aku ingin mati. Aku sudah muak dengan semua ini. Katakanlah bagaimana kau akan membunuhku?" Kata gadis itu sorot matanya menunjukkan keseriusan.
"Bunuhlah aku. Cekik saja aku atau pukul kepalaku" Kata Gadis itu.
Pemuda itu berhenti. Meski terkejut ia memberanikan diri.
"Bagaimana mungkin aku bisa membunuhmu?" Tanya pemuda itu.
Gadis itu mulai menurunkan emosinya.
"Sampai kapanpun aku tak mungkin bisa membunuhmu." Pemuda itu nampak serius.
Namun Sang gadis malah berbalik dan meninggalkannya.
"Karena kau berharga" Teriak pemuda itu.
Gadis itu berhenti. Ia terlihat terkejut dengan ucapan pemuda itu.
"Berharga? Kau hanya memanfaatkan aku" Jawab Gadis itu yg perlahan-lahan air mata turun membasahi pipinya.
"Tidak. Aku tidak pernah seperti itu. Kau hanya salah paham." Jelas pemuda itu sambil berusaha mendekati sang gadis.
"Diam. Jangan mendekat." Teriak gadis itu.
"Salah paham?Bagaimana mungkin? Itu bukan salah paham." Tegas gadis itu.
Ia berbalik dan berlari menghampiri pemuda itu.
"Bunuh aku. Bunuh saja aku. Aku tidak peduli." Desak sang gadis.
Pemuda itu bergidik. Gadis yang biasa ia lihat terasa berbeda. Kali ini gadis itu sangat serius. Pemuda itu merasa ngeri dengan apa yang ia lihat.
"Kenapa kau diam saja. Ayo bunuh aku! Cepatlah bunuh saja aku." Gadis itu terus mendekat ia terlihat tak takut sedikitpun.
"Kau sudah gila!!" Bentak pemuda itu.
"Iya. Cepatlah bunuh saja aku!" Gadis itu berteriak histeris.
Melihat gadis itu semakin aneh pemuda itu memutuskan untuk meninggalkannya. Karena tak mungkin ia mampu membunuh gadis itu.
Gadis itu pun jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu.
The End.