Ayah aku ingin mengenalmu, dekat denganmu, merasakan hangatnya dirimu, menunggumu pulang bekrja, meminta sesuatu darimu, bertamasya denganu, makan bersamamu, bercerita banyak hal denganmu, menjadikanmu cinta pertamaku, dibanggakan olehmu, diberi kasih sayangmu, namun semua itu hanya inginku saka, semua hanya angan belaka, aku hanya dapat untuk membayangkan dan merasa iri pada anak-anak lain bahkan saudari sepupu, kakak dan keponakanku yang sudah sempat merasakanya.
Aku melihat Album keluarga dimasa lalu, figur foto keluarga dimasa lalu, tiada aku disana, keluarga yang tampak bahagia dan hangat yang tak pernah kurasakan. Sejak awal pertemuan kita hanya sebatas mengenal status ayah dan anak tanpa saling mengenal satu sama lain, saling tak tahu bagaimana, apa, dan seperti apa karakter masing-masing.
Saat aku pertama kali menginap dirumahmu, tidur dikamarmu walau bukan satu ranjang, merasakan tanganmu mengelus keningku yang sakit terkena sesuatu akibat kenakan saudara tiriku,saat kau memuju tulisanku, saat kau datang menjengukku dikala sakit dirumah sakit, saat pertama kali kau mengajak kubermain di area bermain di mall bersama anak-anakmu, ada rasa hangat yang tak pernah dapat kurasakan sepenuhnya.
Saat-saat aku mulai membuat sesuatu untuk mengucapkan hari spesialmu entah foto atau vedio ucapan, semua itu adalah perwujudan cintaku. Walau kita tak banyak bertukar kata, aku yang tak suka menelphone dan kau yang hanya memanggil jikala perlu mencari orang-orang disekitarku, seperti hanya dikala penting jarang sekali kau menanyai kabarku, tak pernah kau bertanya apa yang kusuka, bagaimana hidupku.
Saat dimana seakan kau tak mempercayaiku lagi, saat kau tak pernah memberi apa yang benar-benar kuinginkan, saat hanya uang dan tanggung jawab nafkahmu datang padaku,saat engkau memuji apa yang anak-anakmu lakukan kini dan memamerkan didepanku aku, teramat sakit.
Saat pemberianmu semakin berkurang aku memahami mungkin memang awalnya aku paham mungkin memang bukan saatnya lagi aku bergantung padamu namun aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya berusaha sebisaku bahkan aku tak tahu apakah mereka mengingat apa yang kulakukan selama ini.
Aku meminta mainan padamu kau tak memberikanya, aku meminta handphone padamu kau pun tak pernah memberikanya, hanya uang yang terbatas, pernah sekali aku membeli sebuah boneka taddy coklat dari uang itu aku menganggapnya bahwa itu darimu namun pada akhirnya aku harus melepaskanya untuk membantu kehidupan kami.
Mungkin kau tak tahu, aku pernah hampir menggapai 10 besar itu namun berhenti di dua langkah dibawahnya, banyak orang disekolahku bergantung padaku bahkan guru senang meminjam spidol dan buku pelajaranku, pelajaran terendahku hanya agama dan penjas sedangkan lainya bisalah 70-90% kugapai sayangnya ketidak sempurnaan itu yang membuatku gagal.
Aku iri saat mendengar anak-anakmu memiliki sesuatu tanpa berusaha untuk menabung dan bersusah payah untuk punya sesuatu, tahukah kamu aku sudah berbisnis sejak kecil tiada yang mengajari hamya diriku sendiri yang memulainya dengan menjual hasil origamiku ludapatkan 500-2000 setiap harinya hanya membuat dompet,leranjang tas kertas kecil dengan kertas map bergambar yang konyol, lalu menjual lembaran-lembaran kertas itu dengan harga 500/per dua lembar hingga pernah aku kehilangan satu pack buku yang berisi lusinan motif kertas map yang harusnya jadi bahan jualanku.
Dari situ aku juga menjual aksesories pribadiku, itulah awal bisnisku pada masa Sd. Aku masih mengingat anak-anak sering meminjam padaku banyak hal entah alat tulis, buku, pr, menyalin tugas bahkan meminta contekan haha khas anak sekolah tentu aku juga pernah melakukan hal sama biasalah yakan.
Sepertinya aku terlalu banyak bercerita yah? Haha sudahlah lupakan saja. Walau kasihmu semakin terasa tipis, walau apa yang kulakukan bukan hal yang dapat kau banggakan aku senang saat melihatmu diam-diam melihat statusku, mengomentarinya, memuji tulisanku walau entah apakah kau membacanya atau tidak setidaknya mungkin itu bentuk kasih kecilmu.
Walau kadang kumerasa aku bukanlah sebuah kewajiban bagimu, bukanlah seseorang yang pantas untuk meminta lebih, seakan akulah yang memang bukan anakmu, aku tidaklah bodoh. Jika itu memang benar lantas mengapa? Aku tak akan membenci aku akan bersyukur dan berterima kasih karna kau dan ibu berjasa telah menghidupiku hutangku sangat banyak.
Bahkan aku berfikir jika suatu saat kau ditinggalkan oleh siapapun yang tak mencintaimu aku akan diam-diam menjadi pasakmu bersandar, aku yang akan merawat dan menjagamu.
Dan saat itulah kau akan mengenalku sesungguhnya.
Maafkan aku jika aku belum bisa jadi bintang yang dapat kau banggakan seperti yang lainya.
.....
By B Joy