"Jujur saja, Kak. Mungkin kakak merasa heran kalau selama ini Sesi bersikap mesra ama kakak. Maafin Sesi, Kak. Itu semua Sesi lakukan semata-mata pengen nguji sampai seberapa kuat cinta Bagus pada Sesi."
"Jad...jad...jadi..."
"Sekali lagi maafin Sesi, Kak. Bukan maksud Sesi hendak mempermainkan kakak. Sesi sadar, sikap Sesi selama ini, tentunya telah membuat Kakak berharap lebih pada Sesi. Tapi, sebenarnya bukannya Sesi enggak suka sama Kakak. Hanya saja, Sesi udah terlanjur lebih dulu bertemu dan kenal Bagus. Kalau saja kita bertemu lebih awal sebelum Sesi ketemu ama Bagus, mungkin kejadiannya akan berbeda..."
___________________________________________________
1
___________________________________________________
Dimana pun juga, yang namanya nge-jomblo emang kadang bikin bete ama minder. Udah kalau malam Minggu enggak bisa wakuncar, hari Seninnya, sementara yang lain bisa bercerita mengenai suka dan dukanya apel malam Minggu, kita cuma bisa jadi pendengar yang enggak ngerti apa-apa seperti kambing congek. Mau ikut ngumpul pun jadi enggak enak. Soalnya, apa yang mau di tuturkan, kalau enggak punya bahan untuk di ceritakan? Itulah yang di alami oleh Affandi selama ini.
Karena keadaan dirinya yang gagap, membuat cewek-cewek normal baik di lingkungan tempat tinggalnya maupun di sekolahnya, tak ada yang mau jadi pacarnya. Sehingga sampai kini, sampai kelas dua SMU, Affandi pun masih nge-jomblo.
Dengan keadaannya yang masih nge-jomblo, maka bagi Affandi, malam Minggu sama aja dengan malam-malam biasa. Dengan rutinitas juga sebagai mana hari-hari biasa. Selesai sholat Maghrib, dia akan buka Al-Qur'an. Ngebaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam hati. Soalnya, kalau di lafalkan lewat mulut, sebagaimana kalau ngomong, Affandi akan mengalami kesulitan. Nanti bisa-bisa salah artinya. Jadi, mending ngebacanya dalam hati aja.
Perlu elo tahu, man! Meski gagap, tentu Affandi udah khatam Qur'an beberapa kali, cing. Sehingga, dia bukan hanya tahu huruf aja, tetapi juga mengerti isi kandungan Al-Qur'an. Jadi, enggak perlu disangsikan lagi kalau dia bisa ngebaca ayat Al-Qur'an. Tapi ya itu tadi, karena dia gagap, enggak mungkin dong ngebacanya di lafalkan lewat mulut? Nanti jadi enggak karuan. Mau baca Bismillah hirohman nir rohim aja, jadi: "Bis... bis... bismillah... hir... hir... hirohman... nir... nir... nirohim..."
Itu baru satu ayat. Nah, kalau satu surat gimana jadinya? Wah, bisa-bisa nanti Tuhan malah tersenyum-senyum mendengarkan Affandi membaca Qalam-nya.
Biasanya selesai nyimak Al-Qur'an, sambil nunggu sholat Isya, Affandi akan duduk-duduk di ryang keluarga, nyetel televisi atau kalau enggak ya ngurung di dalam kamar sambil nyimak buku pelajaran. Atau corat-coret di buku, ngungkapin segala tetek bengek perasaannya lewat puisi, karena dia emang punya sedikit kemampuan nulis puisi.
Ya, begitulah hari-hari di lalui Affandi. Kegagapan yang udah di bawanya sejak lahir, membuatnya jadi rada minder dalam pergaulan, terlebih bila deket ama mahluk yang namanya cewek, penyakit gagapnya malah semakin bertambah menjadi-jadi. Apalagi kalau cewek yang ada di hadapannya cantiknya naudzubilah, seperti kharena Kapoor atau Prety Shinta, bukan hanya gagap saja yang dialami oleh Affandi, tetapi dia bakal enggak bisa ngomong barang sepatah kata pun.
Ada sih, seorang cewek yang naksir berat ama Affandi. Bahkan, meski Affandi enggak pernah mau nemuin itu cewek, tetapi itu cewek tetap saja nekad sering datang kerumah Affandi. Malah, itu cewek enggak sungkan-sungkannya ngebantuin nyokap Affandi beberes rumah, plus kadang nyuciin pakaian-nya Affamdi.
Itu Cewek namanya Rohimah, atau bisa akrab dipanggil Imah. Sebenarnya Imah enggak jelek. Bahkan bisa dikata lumayan oke. Wajah enggak jelek, tapi lumayan caem. Bahkan bodynya, man! Seksi banget. Tapi, kenapa Affandi enggak mau terima dijodohin ama si Imah? Padahal bokap ama nyokapnya Imah yang lumayan kaya dan punya banyak tanah dimana-mana, sangat setuju banget kalau putri mereka satu-satunya semata wayang itu dijodohin sama Affandi yang kelak bakal jadi pendamping hidup Affandi. Beberapa kali juga bokap ama nyokapnya si Imah datang berkunjung ke rumah keluarga Affandi. Katanya sih sekedar silaturahmi, tetapi ujung-ujungnya, mereka akan nanyain soal keinginan mereka untuk menjodohin putri mereka ama Affandi.
Ini malam adalah malam Minggu. Namun bagi Affandi, malam Minggu sama aja dengan malam-malam lainnya. Dia enggak keluar rumah, tetapi malah berkutat di dalam kamarnya. Ngebaca buku, atau merenungi kehidupan. Sementara bokap ama nyokapnya, duduk-duduk di ruang keluarga. Dari luar, terdengar suara orang memberi salam, "Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam...!" sahut bokap ama nyokap bareng. Kemudian keduanya bangun dari duduk, melangkah meninggalkan ruang keluarga, menuju ke ruang tamu untuk nyambut tamu mereka yang datang, yang enggak lain adalah bokap ama nyokapnya si Rohimah.
Ya, ini malam, kembali bokap ama nyokapnya Rohimah datang berkunjung ke rumah keluarga Affandi. Dan sebagaimana biasanya, kedua orang tua Affandi pun akan menyambut kedatangan mereka dengan ramah plus penuh kekeluargaan. Maklumlah, selama ini hubungan mereka udah terjalin baik.
"Eh, dik Asrul ama dik Irma. Mari silakan masuk," ajak bokap.
"Makasih, Bang."
Nyokap ama bokapnya Rohimah pun menurut masuk.
"Silahkan duduk," ajak bokap lagi.
Bokap ama nyokapnya si Rohimah pun menurut duduk.
kemudian sebagaimana kunjungan-kunjungan sebelumnya, setelah di persilakan duduk, mereka pun ngobrol, ngalor-ngidul, dengan sesekali diselingi gelak tawa bahagia. Nyokap kemudian ngebuatin minuman dan ngeluarin makanan kecil untuk cemilan. Setelah itu, nyokapnya si Imah yang rada-rada sok, suka bercerita muluk-muluk. Tentang inilah, tentang itulah. Ke Paris, ke Hongkong, ke Perth, Ke LA, ke Singapur, dan sebagainya dan sebagainya. Sementara nyokapnya Affandi cuma mendengarkan sambil melongo. Kagak tahu ngerti apa enggak akan omongan nyokapnya si Rohimah yang selangit.
"Gimana menurut Bang Zuki?" tanya bokapnya Rohimah.
"Maksud dik Asrul?" Marzuki, bokapnya Affandi balik nanya.
Itu, mengenai si Imah ama si Affandi..."
"Oh, itu toh?" bokapnya Affandi menggut-manggut paham.
"Iya, Gimana menurut abang?"
"Ya, gimana ya? Gue ama emaknya Fandi belum ngomongin soal itu sama itu anak. Lagi pula, Fandi, anak gue kan masih sekolah. Jadi, dik Asrul sabar deh..."
"Kami juga ngerti, Bang. Kami cums pengen mendapatkan kepastian aja, apakah Fandi mau sama anak kami, itu saja. Mengenai jadiannya sih, kapan aja. Malah kalau emang abang sama empok setuju kita besanan, mengenai semua biaya kuliah Fandi nanti, biar kami yang nanggung. Mau nerusin kuliah di mana? Di Australia, Inggris, Belanda, Amerika, Jepang? Tinggal ngomomg aja. Kami yang akan membiayainya. Abang ama empok enggak usah bingung mikirin biaya kuliah Fandi..."
"Iya, kami juga tahu kalau dik Asrul mampu ngebiayai semuanya. Tapi, dik Asrul sabar duly. Beri kami kesempatan ngomong sama Fandi, ya?"
"Iya, Bang..."
"Nanti kalau kami udah ngomong sama Fandi, akan kami kasih kabar, deh..."
"Ya, Bang. Semoga kabar yang bakal kami terima kabar baik, Bang."
"Ya, semoga aja..."
"Ya udah, Bang, Mpok, kami pamit dulu..."
"Lho, kok buru-buru?" tanya nyokap Affandi.
"Iya, Mpok. Kami mau pergi shopping," jawab nyokap si Imah.
"Kemana shoppingnya?"
"Ya, enggak jauh-jauh, Mpok. Masih seputar Jakarta. Maklum, minggu kemaren habis dari Singapur... Minggu sebelumnya, dari Hongkong..."
"Wuah, kok enggak bagi-bagi oleh-olehnya?" sindir nyokap Affandi.
"Waduh, iya, saya lupa, Mpok, Lain kali deh kalau saya ke luar Negeri lagi, bakal saya bawain oleh-oleh untuk Mpok."
"Bener nih?"
"Suer, Mpok. Saya janji..."
"Makasih deh kalau begitu..."
"Iya, Mpok. Udah dulu, kami pamit..."
"Ya, hati-hati..."
Dengan diantar oleh bokap ama nyokap Affandi sampai di teras rumah mereka, kedua ortua si Imah pun pergi meninggalkan rumah keluarga Affandi. Bokap ama nyokap Affandi baru masuk ke dalam rumah kembali setelah kedua ortua si Imah menghilang dari pandangan mereka, plus setelah terlebih dulu menghela napas panjang sembari geleng-geleng kepala.
"Si Irma, dari dulu enggak juga berubah, gumam nyokapnya Affandi.
"Kenapa emangnya?"
"Ya, omongannya itu loh, Pak. Sok luar negeri. Shoping di Hongkong, shopping di Singapur, shopping di LA, shopping di Perth... Huh, kaya gue enggak tahu aja siapa dia..."
"Ya, mungkin emang dari sana sifatnya begitu, Mak."
"Mungkin si Imah juga ketularan sama emaknya Pak."
"Maksud lo?"
Gue pikir-pikir, si Irma itu kayaknya kurang waras juga, Pak..."
"Hus! Jangan asal ngejeplak aja!"
"Yee... Gue kan tahu percis keluarganya si Irma. Pak. Kebetulan aja dia bernasib baik, diambil bini ama si asrul yang orang tuanya kaya raya."
"Enggak boleh ngomong begitu."
"Kenapa emangnya?"
"Itu namanya iri. Udah, enggak usah ngomongin orang. Lagi pula, si Irma kan masih saudara elo sendiri, Mak..."
"Iya juga ya, Pak. Dia anak bibi gue..."
"Makanya. Kalau elo ngomongin dia ama keluarganya, sama aja elo ngbuka keburukan keluarga elo semdiri," tutur bokap Affandi.
Nyokap Affandi cuma diam sembari mengangguk-anggukkan kepala plus ngikutin langkah suaminya.
Sampai di ruang keluarga, bokapnya Affandi menghempaskan pantat ama tubuhnya di sofa. Nyokap pun ngikut, duduk di samping suaminya yang mengambil remote control, lalu nekan tuts power dan mengarahkan remote ke televisi.
Televisi pun nyala, ngeluarin gambarnya.
"Mak..."
"Ya?"
"Kemana anak kita?"
"Paling di dalam kamarnya," jawab nyokap.
"Panggil gih. Kita perlu ngomong ama dia..."
Nyokap Affandi pun nurut, bagun dari duduk-nya, kemudian melangkah menungggalkan ruang keluarga dimana suaminya berada, menuju ke kamar anaknya. Begitu sampai di depan pintu kamar anaknya, perlahan nyokap ketuk pintu kamar itu sembari memanggil, "Fan..."
"I... i... iya, Mak."
"Sedang ngapain?"
"Be... be... belajar, Mak."
"Keluar gih sebentar, dipanggil bapak."
"Ba... ba... baik, Mak."
"Cepetan, ya?"
"I... i... iya, Mak."
Nyokap pun kembali pergi meninggalkan depan pintu kamar anaknya, yang tak lama kemudian terbuka. Dari dalam keluar Affandi. Kemudian tokoh kita yang gagap ini melangkah menuju ke ruang keluarga dimana bokap ama nyokapnya berada.
"Ba... ba... bapak, mem... mem... memanggil, sa... sa... saya?" tanya Affandi begitu sampai di ruang keluarga.
"Ya, duduklah."
Affandi menurut duduk.
"Ad... ad... ada ap... ap... apa, Pak?"
"Gini, Fan. Tadi barusan bapak ama ibunya si Imah kemari."
"La... la... lalu?"
"Ya, seperti biasa, mereka silaturahmi kemari, Tapi, mereka juga nanyain elo. Mereka juga kembali nanya mengenai keinginan mereka, men-jodohkan elo ama si Imah. Gimana menurut elo?" tanya bokap.
"Kalau elo mau ama si Imah, maka bapaknya si Imah mau ngebiayaiin sekolah ama kuliah elo. Elo mau kuliah dimana pun, akan dibiayai oleh bapaknya si Imah," timpal nyokap.
Affandi terdiam, enggak langsung memberi jawaban. Sepertinya dia tengah berusaha merenung dan memikirkan perkataan bokap ama nyokapnya.
"Gimana menurut elo, Fan?" tanya bokap lagi,
"Ka... ka... kalau, sa... sa... saya, sam... sam... sama, si Im... im... Imah. Gi... gi... gimana ja... ja... jedinya...?" jawab Affandi dengan mata masih tampak merenung, seakan dia tengah berusaha nebayangin gimana kalau dia benar-benar nyatu ama si Imah.
"Kenapa emangnya?" tanya nyokap. "Elo cakep. Gitu juga dengan si Imah. Dia juga cakep."
"Iya Fan..." timpal bokap. "Lagi pula, si Imah kan anak semata wayang. Orang tuanya kata, punya banyak tanah dimana-mana. kalau elo mau ama dia, elo bakal hidup enak. Elo bisa kuliah di luar negeri. Bisa mewarisi semua harta kekayaan orang tuanya si Imah..."
"Em... em... emang sih. Be... be... bener, yang ba... ba... bapak a... a...ama... em... em.. emak ka... ka... kata. Im... im... Imah em... em... emang. an
... an... anak or... or... orang ka... ka... kaya. Ta... ta... tapi, ka... ka... kalau sa... sa... saya, sam... sam... sama si Im... im... imah, gi... gi... gimana, nan... nan... nanti an... an... anak sa... sa... saya?"
"Kenapa emangnya anak elo nanti?" tanya bokap.
"Iya, Kenapa emangnya anak elo kalau elo sama si Imah?" timpal nyokap.
"Sa... sa... sa... saya, ga... ga.. gagap, Se... se... sedang Im... im... Imah, id... id... idiot. Ku... ku...kurang wa... wa... waras. Ap... ap... apa ba... ba... bapak am... am... ama em... em... emak ma... ma... mau, pu... pu... punya, cu.... cu... cucu ka... ka... kagak be... be... beres?"
"Kagak beres gimana?" tanya nyokap.
"Ud... ud... udah id... id... diot, ku... ku... kurang wa... wa... waras, ga... ga... gagap pu... pu... pula," tutur Affandi memberi alasan, kenapa dia enggak mau di jodohin ama Imah, yang meski anak tunggal orang kaya dan cantik, tetapi idiot dan rada kurang waras. Sehingga meski usianya sudah 17 tahun, namun sifat dan tingkah laku si Imah enggak jauh beda dengan anak belita yang masih ingusan. Soalnya, sampai kini pun dari kedua lubang hidung Imah masih keluar ingusnya.
Bokap ama nyokap Affandi termangu memdengar penuturan anaknya. Dipikir, bener juga apa yang dikatakan oleh anak mereka. Kalau Affandi yang gagap, disatuin ama si Imah yang idiot dan kurang waras, gimana jadinya cucu mereka nanti? Wuih, enggak bisa dibayangin.
Benar juga apa yang elo kata, Fan, gumam bokap dengan wajah masih tampak merenung, seakan tengah ngebayangin gimana nanti jadinya cucu-cucunya, yang tercipta dari bibit-bibit yang enggak beres. Affandi, anaknya masih mending, cuma gagap doang, sedang otangnya cerdas, karena dari SD sampai kini SMU, anaknya selalu masuk lima besar. Itu sebagai tanda kalau anaknya lumayan cerdas. Nah, si Imah, cuma menang wajah lumayan ama body oke. Tapi sifat ama otaknya? Idiot ama rada-rada kurang waras. Umur udah 17 tahun, masih ingusan dan tingkah lakunya seperti anak belita.
"Maksud bapak? tanya nyokap dengan wajah menunjukkan ketidakmengertian sembari memandang ke wajah suaminya.
"Ya, coba elo pikir dan bayangin. Kalau sampai anak kita disatuin ama si Imah, gimana jadinya cucu kita nanti, Mak," kata bokap dengan bibir senyum ama geleng-geleng kepala. "Udah gagap, idiot, kurang waras lagi. Itu sih bukannya memperbaiki keturunan, Mak. Tapi malah makin memperjelek keturunan aja..."
"Tapi si Imah kan cantik dan anak orang kaya, Pak?"
"Elo enggak malu kalau semua orang ngomongin kita? Biar kaya, tapi kalau nantinya bikin malu kita, buat apa? Lagi pula, elo enggak usah khawatir deh mengenai anak kita. Gue yakin, meski anak kita gagap, tapi kalau nanti jadi orang gede, pasti bakal mendapatkan cewek yang baek," tutur bokap. Lalu bokap ngomong sama Affandi. "Makanya, Fan, elo mesti belajar yang rajin. Masalah cewek, itu soal nanti. Kalau elo udah jadi orang gede, punya jabatan ama kedudukkan lumayan, elo pasti bisa mendapatkan cewek macam apapun..."
"I... i... iya , Pak."
"Elo enggak usah minder ama keadaan elo. Biarin aja orang mau ngomong apa soal elo. Biarin aja sekarang enggak ada cewek yang mau ama elo karena elo gagap. Elo enggak usah pikirin. Yang penting, elo belajar rajin ama tekun, agar kelak elo berhasil jadi orang. Kalau elo jadi orang gede, gue yakin cewek macam apapun bakal mau ama elo. Soalnya, jaman sekarang banyakan cewek ngeliat uang, bukan ngeliat orang. Elo ngerti, Fan?"
"Nger... nger... ngerti, Pak."
"Ya udah, elo enggak usah mikirin si Imah. Setelah dipikir ama direnungkan, bapak juga enggak sreg kalau elo ama si Imah. Soalnya, benar apa kata elo. Apa jadinya cucu bapak kalau elo ama si Imah?"
"Tapi kasihan si Imahnya, Pak," kata Nyokap.
"Kasihan kenapa?"
"Saban hari dia kemari, ngebantu beberes rumah. Bahkan mau nyuciin baju Fandi,"
"Siapa suruh? Emangnya kita yang minta? Enggak, kan? Dia sendiri yang maunya begitu. Ya, dasarnya dia emang rada kurang waras, dan kebetulan syetannya ada di sini, jadinya dia mau kesini."
"Iih, bapak... Ngaco aja kalau ngomong," sergah Nyokap. "Kalau orang tuanya si Imah dengar kan enggak enak, Pak."
"Elo lagi... Gimana orang tuanya si Imah mau dengar? Wong rumahnya aja agak jauh dari rumah kita. Udah, enggak usah ngomongin masalah si Imah lagi. Makan malam udah di siapin belum, Mak?"
"Udah dari tadi."
"Yuk kita makan. Cacing di perut gue udah nagih..."
Mereka kemudian bangun dari duduk, meninggalkan ruang keluarga, menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama. Dan emang, keluarga Affamdi bisa bareng makan kalau makan malan aja, atau kalau hari libur. Soalnya bokap Affandi kalau hari kerja Senin sampao Jum'at dari pagi hingga sore enggak di rumah. Biasa, orang kantoran. Pegawai pemerimtah. Kalau enggak ngobyek, mana cukup gajinya untuk kebutuhan hidup sehari-hari?
***