Hujan turun begitu deras malam itu. Mengingat rindu... Menghapus jejak. Seorang gadis berada di tengah jalanan sepi. Terguyur air hujan... Menitikkan air mata. Langit terasa menangis bersama gadis itu. Membendung berjuta butir air yang menjadi satu. Tidak ada harapan lagi untuknya berteduh. Kini tubuhnya sudah sangat basah kuyup.
"Hiks... Hiks... Aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!"
Teriakan panjang mulai keluar dari mulutnya, jantungnya berdegup kencang, nafasnya terlihat terengah-engah, matanya sudah merah sembab, dadanya terasa begitu sesak.
Apakah itu adalah sebuah penyesalan? Kenapa gadis itu berteriak? Apakah ia sedang putus asa? Atau hilang harapan?
Tak... Tak... Tak...
Sebuah payung berhasil mendarat di atas tubuh gadis itu, menghalang beberapa tetesan air yang menghujani punggungnya. Gadis itu tersadar ketika beberapa detik ia tak merasakan rintikan air mengenai punggungnya lagi. Ia berusaha mendongak melihat siapa atau apa yang telah melindunginya.
Seorang pria, baju di bagian bahunya nampak sudah basah akibat hujan. Ia memegang sebuah payung yang malah diberikan pada seorang gadis yang ia temui di jalan itu agar si gadis tak kedinginan karna hujan yang semakin lama semakin turun begitu deras. Angin pun tak tinggal diam, mereka berdua hampir kedinginan bersama.
Gadis itu menatapnya begitu dalam, namun si pria hanya tersenyum membalasnya.
Keesokan harinya~
Mata yang semula menutup kini mulai terbuka kemudian memerjapkannya perlahan. Mata itu terus bergerak liar mengelilingi semua sudut ruangan yang ia tempati.
"Di-dimana aku?"
Sebuah lirihan kecil berhasil keluar dari mulutnya. Seorang wanita dengan seragam putihnya itupun seketika berbalik menatap seorang gadis yang baru saja bangun. Wanita itu tersenyum sangat manis karna melihat pasiennya sudah siuman.
"Ini di rumah sakit. Syukurlah nona sudah siuman, kalau begitu saya akan pergi keluar sebentar untuk memanggilkan dokter. Tolong jangan banyak bergerak dulu ya, saya akan datang kesini lagi"
Suster itu segera pergi meninggalkan si gadis yang masih terpaku di ranjangnya. Ia lupa apa yang semalam terjadi padanya.
5 menit berlalu.. suster itu datang lagi bersama sang dokter kemudian memeriksa tubuh gadis itu.
Tak banyak informasi yang ia dapatkan mengenai siapa yang membawanya kesini. Sang suster hanya bilang padanya bahwa ada seorang pria yang semalam membawanya ke rumah sakit. Tapi sampai sekarang gadis itu tak tau siapa pria yang menolongnya, dan ia makin penasaran tentang pria itu.
Sebuah ingatan kecil kembali memutari otaknya. Dimana ia kehilangan seseorang yang ia cintai.
~*~*~
"Kau akan terus berada di sampingku kan?"
"Tentu saja, bahkan aku akan selalu ada di manapun kau berada"
Sang gadis tersenyum manis pada kekasihnya itu. Terlihat dari sorot matanya bahwa ia sangat mencintai pria yang berada disampingnya sekarang. Sang pria pun sama halnya, ia begitu mencintai kekasihnya ini.
Malam itu langit sedang mendung, bulan dan bintang tampak bersembunyi dibalik awan gelap yang memenuhi langit, terasa sangat gelap gulita.
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang menerjang jalan yang sedang dilanda hujan. Terdapat sepasang kekasih yang tengah duduk di kursi depan. Mereka berdua bergenggaman mesra sambil tersenyum hangat satu sama lain.
"Aku mencintaimu... Taehyung" ucap si gadis menatap kekasihnya begitu dalam.
"Aku juga mencintaimu Yn" balas sang kekasih yang melirik sekejap pada gadisnya, masih dengan fokus menyetir.
"Haish.. sepertinya hujan begitu deras malam ini. Membuatku kesulitan untuk berkendara" ucap si pria sedikit kesal pada hujan yang turun begitu lebat.
"Apa kita harus berhenti dulu dan menunggu sampai hujannya reda?"
"Tidak usah sayang, kalau kita menunggu hujannya reda pasti itu akan sangat lama. Aku ingin mengantarmu sampai ke rumah lebih awal agar kau bisa menghangatkan tubuhmu. Cuacanya kan sedang dingin sekarang, aku takut kau akan kedinginan nanti"
"Hmm.. baiklah kalau begitu. Tapi kau harus berhati-hati ya. Jalanan mungkin sedang licin saat ini"
"Iya baiklah, kau tidak usah khawatir okeh?"
"Hmmm..."
Gadis itu mengangguk yakin, ia percaya pada kekasihnya itu.
Benar! Jalanan begitu licin, sulit untuk Taehyung mengendarakan mobilnya supaya tetap stabil agar tidak terjadi kecelakaan ataupun semacamnya.
Meoong~
Seekor kucing mengeong kedinginan akibat bulunya yang sudah basah karna hujan. Tapi kucing itu masih bisa berjalan untuk mencari tempat yang hangat sebagai singgahannya.
Meong~
Sekali lagi kucing itu mengeong kemudian berlari menyebrang jalan dengan cepat.
Taehyung yang sedang berkendara di jalan itu pun terkejut ketika mendapati seekor kucing yang tiba-tiba muncul ke tengah jalan. Membuatnya kehilangan fokus menyetir.
"Taehyung awas!!!"
Taehyung pun membanting setir menghindari kucing itu, namun akibat dari hujan turun yang deras membuat jalanan menjadi licin dan Taehyung tak bisa mengendalikan kendaraannya tersebut. Alhasil mobil Taehyung pun hilang kendali dan menabrak sebuah pohon di pinggir jalan.
SREEETTTT
BRAKKK!!!!
Hantaman yang sangat keras membuat bagian depan mobilnya rusak parah. Yn terlempar keluar mobil sesaat sebelum mobil Taehyung menghantam pohon besar itu. Dirinya terlempar cukup jauh dari mobil itu, pengaman yang ia gunakan lepas dengan sendirinya membuat ia langsung terlempar keluar dan jatuh terguling ke jalan. Darah mulai keluar dari dahinya yang terhantuk aspal.
Taehyung masih berada didalam mobilnya, ia pingsan dengan kepala yang bercucuran darah di atas setir. Kepingan-kepingan kaca mobil berserakan kedalam dan itulah yang membuat kepala Taehyung berdarah.
Bagian depan mobil itu terbuka, asap mulai keluar dari dashboard mobilnya. Hujan yang terus turun membuat air merembes ke dalam mesin mobil. Percikan api pun mulai terlihat dari mesinnya yang terkena korsleting.
DUARRR
Mobil itu meledak seketika, api mulai membakar seluruh body mobil termasuk Taehyung yang masih berada didalam.
"T–tae..."
Lirihan kecil Yn yang melihat kejadian itu, matanya merah bercampur darah. Tangannya ia ulurkan kedepan seakan ingin menggapai tubuh Taehyung, berharap kekasihnya itu bisa membalas ulurannya. Tapi takdir berkata lain, keduanya tidak bisa bersama lagi. Yn menutup matanya lemas, ia membiarkan hujan turun semakin lebat hingga membasahi tubuh mungilnya. Taehyung sudah tewas didalam mobil yang masih terlahap api itu.
Setelah beberapa jam berlalu akhirnya ia pun membuka matanya perlahan. Yn mulai membiasakan cahaya memasuki matanya. Ia kembali tersadar setelah beberapa detik kemudian. Namun pikirannya malah mengingat sesuatu yang sangat berarti bagi hidupnya.
TAEHYUNG!!!
Yn menggerak liarkan matanya melihat seisi ruangan. Mencoba mencari sosok kekasihnya itu. Ia yakin pasti Taehyung masih hidup dan masih akan berada disampingnya. Yn pun melepas jarum infus itu dengan paksa, selimut ia lempar lalu berusaha turun dari ranjang. Namun tubuhnya masih terlalu lemah untuk berdiri, dan Yn terjatuh dengan gelas kaca yang pecah disampingnya. Ia tak sengaja menyenggol sebuah gelas diatas meja, alhasil gelas itu pun ikut terjatuh. Pecahan gelas itu juga menusuk telapak tangan Yn yang tak sengaja tertusuk saat terjatuh tadi.
Sebuah lirihan, isakan, juga darah yang keluar. Yn benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya saat ini. Hatinya sangat gusar dengan wajah yang pucat pasi. Tak berselang lama dua orang suster masuk kedalam dan menghampiri Yn.
"Nona, ada apa dengan anda? Kenapa nona bisa terjatuh seperti ini?"
"Mari kita bantu anda naik ke ranjang lagi nona"
"Tidak! Aku ingin bertemu kekasihku! Aku ingin bertemu Taehyung! Tolong antarkan aku padanya!!"
"Pasien atas nama Kim Taehyung? Korban kecelakaan mobil yang terbakar menabrak pohon itu?"
"Iya, itu adalah kekasihku. Aku bersamanya tadi, kita kecelakaan bersama. Jadi dimana Taehyung? Cepat antarkan aku pada dia, aku mohon..."
"Nona sebaiknya anda naik ke atas ranjang dulu"
"Tidak!!! Aku tidak mau!! Aku hanya ingin menemui Taehyung saja!! Aku mohon.."
"Tapi pasien atas nama Taehyung sudah tewas dalam kecelakaan itu nona"
"Apa? Tidak.. tidak... Tidak mungkin! Tidak mungkin!!! Hiks.. hiks... Tidak mungkin!!! Taehyung masih hidup!! Kekasihku masih hidup!!! Tidak.... Hiks..."
~*~*~
Tik tik tik tik tik tik
Hujan kembali turun di siang itu, Yn yang masih terduduk di ranjangnya pun hanya bisa melihat rintikan hujan dari jendela ruangannya.
"Semenjak kejadian itu.... Aku jadi benci dengan hujan. Karna hujan membuat kejadian itu terjadi. Hujan telah merenggut nyawa Taehyung. Aku benci sekali hujan!"
Seminggu kemudian~
Lagi-lagi rintik hujan turun ditempat dimana ia berada. Jalan dan hujan menjadi saksi bisu kerinduan yang selama ini ia rasakan. Berat baginya melupakan, tapi ia masih yakin dan percaya bahwa seseorang yang dicintainya itu selalu berada disampingnya dan dimana dia berada. Namun, kenapa hujan selalu mengiringinya? Tidak bisakah jika tanpa hujan sehari saja? Dia sangat membenci hujan. Ia tak ingin hujan datang karna itu hanya membuatnya sakit dengan rindu yang selalu terbesit.
Terduduk di kursi panjang di pinggir jalan yang sepi. Rambut yang sudah basah namun hanya bisa termenung. Ia tak tau harus melakukan apa, ia sudah kehilangan kekasihnya. Hidup seakan hampa baginya sendirian.
Tak... Tak...
Sebuah payung kembali mendarat di atas kepalanya. Perlahan mendongak dan melihat seorang pria yang tengah melindunginya dari hujan dengan payung itu. Seorang pria memberanikan dirinya untuk ikut duduk disebelah gadis itu, payungnya ia geser ke posisi tengah agar dia juga ikut terlindung dari hujan.
"Siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba datang dan memayungi ku?"
"Perkenalkan, namaku Park Jimin. Aku tak suka melihat seseorang kehujanan sendirian. Apalagi seorang wanita seperti dirimu"
Dia terdiam lalu mengalihkan pandangannya kebawah agar tidak bertatapan dengan sosok pria disampingnya.
"Aku belum tau namamu, siapa namamu?" Pria bernama Park Jimin itupun bertanya.
Dia menoleh kembali setelah pertanyaan dari pria itu, lalu menjawabnya dengan singkat.
"Namaku Kim Yn"
"Ouh Kim Yn, salam kenal" ucapnya dengan senyuman manis yang membuat matanya pun ikut tersenyum.
"Yah.. salam kenal" ucap Yn kembali menunduk.
"Kau tau tidak kalau aku sangat-sangat suka hujan?"
Pria itu kembali bersuara, ia sengaja menggantung ucapannya agar gadis yang berada disampingnya itu penasaran dan mau menatapnya. Benar, sang gadis kini beralih menatapnya dan mengerutkan kening untuk pertanyaannya itu
"Kenapa kau sangat suka hujan? Aku malah membenci hujan"
"Hujan itu indah, setiap rintikannya menciptakan sebuah melodi dan aroma khas yang tercampur dengan jalan membuatnya istimewa di mataku"
"Kalau hujan istimewa bagimu, maka hujan adalah bencana bagiku"
"Kenapa seperti itu?"
"Kekasihku. Aku punya seorang kekasih yang sangat mencintaiku, tapi hanya karna hujan membuat sosok yang kucintai itu tewas. Kecelakaan yang disebabkan oleh jalanan licin karna hujan membuat nyawanya lenyap. Hanya aku yang selamat dari kecelakaan itu, namun kekasihku tewas langsung dikejadian itu. Semenjak itulah aku membenci hujan, karna hujan telah merenggut nyawa seorang pria yang sangat-sangat aku cintai"
Bukannya sedih, pria yang duduk disebelahnya itu malah tersenyum. Membuat Yn kembali mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau malah tersenyum?"
"Kisah kita hampir sama ya?"
"Apanya yang sama?"
"Aku juga mempunyai kekasih... Dia kecelakaan saat tak sengaja dirinya terpeleset akibat genangan air ketika ia sedang menyebrang jalan. Ia tak menyangka bahwa ada sebuah mobil yang akan menabraknya. Dia masuk ke rumah sakit dan mengalami kritis. Tapi dia beruntung masih mempunyai aku untuk menjaganya. Suatu hari saat dia sudah siuman, hari itu malah hujan, karna ia sangat menyukai hujan jadi ia mau aku menemaninya keluar untuk bermain. Tapi aku menolaknya karna aku tau dia masih belum sembuh total. Namun aku berjanji padanya jika dia sudah sembuh nanti maka aku akan mengajaknya bermain hujan bersama. Esok harinya aku kembali menjenguk dia, tapi aku kebingungan saat tak melihatnya berada diatas ranjang. Aku berlari keliling rumah sakit untuk mencarinya, pagi itu hujan kembali turun, aku makin khawatir dengan keadaannya. Tepat di taman belakang rumah sakit aku berhenti dan melihatnya menari bahagia dibawah gerimis hujan. Sangat bahagia, ia bahkan sampai tertawa bermain hujan. Sampai dia tak sadar jika dirinya sedang sakit, seperti anak kecil. Tapi aku ikut senang melihatnya bahagia seperti itu. Namun kemudian lama-kelamaan aku melihat tubuhnya semakin melemas, aku segera berlari dan memapahnya kembali kedalam ruangan. Dia langsung terkena demam tinggi dan itu sangat-sangat berdampak buruk padanya. Makin lama kesehatannya makin menurun, dokter bilang dia terkena tifus dan ia mulai kritis lagi. Sampai.. tubuhnya tak lagi kuat untuk bertahan dan ia pun menghembuskan nafas terakhirnya..."
"Aku mungkin bisa saja membenci hujan, karna ialah yang membuat kekasihku sakit. Tapi aku selalu ingat bahwa kekasihku itu sangat suka hujan. Jadi jika hujan turun aku seperti sedang bersama dengannya lagi, seakan dia pun menari bersamaku dan hujan. Aku selalu berpikir positif tentang hujan, karna itulah aku menyukai hujan meskipun hujan juga telah melukaiku"
Jimin berbicara panjang lebar pada Yn, sementara gadis itu hanya diam dan mendengarkan. Ia mulai menyadari sesuatu bahwa pikiran lah yang membuat satu hal menjadi baik atau buruk. Terbukti dengan dia yang selalu berpikiran buruk pada hujan walaupun hujan tak salah, hujan hanya menjalankan tugasnya untuk turun tanpa tau itu adalah bencana atau sebuah keistimewaan bagi seseorang. Tapi Jimin, dia selalu berpikir positif pada hujan walaupun hujan juga yang telah membuat kekasihnya tiada. Jimin juga yakin bahwa hujan adalah pengganti kekasihnya, karna kekasihnya itu sangat menyukai hujan. Jadi, sebenci apapun dia dengan hujan dia tetap menyukai hujan karna kekasihnya.
"Lihat kan? Karna hujan lah kekasihmu juga meninggal. Sama seperti ku, tapi kenapa kau malah menyukai hujan?"
"Aku sudah bilang, jika kekasihku menyukai hujan. Jadi apa salahnya jika aku menyukainya juga. Anggap saja hujan itu kekasihmu, maka setiap kali kau melihat hujan itu berarti kau juga sedang melihat kekasihmu"
"Tapi hujan juga bisa berbahaya. Seperti sekarang ini"
"Tapi kau kan berada dibawah payungku, jadi kita masih bisa berlindung dengan payung ini bukan. Jangan terlalu berburuk sangka pada hujan. Suatu hari nanti juga kau akan membutuhkan hujan"
"Hey! Kita kebasahan dan kedinginan karna hujan disini, lalu apa yang akan ku butuhkan darinya?"
"Kau berada dibawah payungku Yn. Payung ini melindungi kau dan aku dari hujan. Jadi tenang saja... Selama kau.. masih berada dibawah payungku... Suatu saat nanti kau pun akan mengerti."
Jimin tersenyum menatap gadis itu, sedikit pertengkaran kecil membuat malam yang sedang diterjang hujan itupun terasa tak begitu mencekam. Yn mencoba sekali lagi untuk mencerna ucapan Jimin. Dia kembali menatap rintikan hujan di langit. Menutup matanya mencoba mendengarkan suara rintik itu menjadi sebuah melodi lagu yang bernada. Tenang... Itulah yang dirasakannya. Suasana ini juga membuatnya mengingat sosok kekasihnya yang pernah mengatakan bahwa ia akan selalu ada di manapun dia berada. Mungkin saat hujan pun ia akan tetap ada... Di hatinya...
~Tamat~